Oleh Jro Gde Sudibya
Pengoperasian cruise di Danau Batur, yang telah dipasarkan secara global, kembali membuktikan prinsip dasar Pariwisata Budaya diingkari, kapitalisme pariwisata yang "memuja" laba dimenangkan.
Prinsip dasar pengaturan ruang Tri Mandala, Danau sebagai kawasan hutama mandala yang seharusnya disucikan, kembali diingkari.
Danau Batur terus mengalami tekanan, lingkungan alam dan rasa kesucian, mirip dengan danau lainnya, Beratan, Buyan, Tamblingan.
Dalam perspektif lingkungan, tekanan terhadap Danau Batur: banjir dari arah Timur Tukad Balingkang yang lumpurnya masuk ke Danau, pendangkalan terus berlangsung, budi daya perikanan yang tidak terkendali, usaha wisata di sekitar danau yang "sekali tiga uang" tidak terkontrol.
Usaha pertanian yang tidak ramah lingkungan, penggunaan pupuk kimia dan pestisida sudah melewati takaran. Akibatnya, air danau Batur, di beberapa tempat, konon tidak lagi layak dikonsumsi secara langsung.
Tantangan bagi Desa Lintang Danu: Songan, Trunyan, Buahan, Kedisan, Batur, menyusun program aksi untuk menyelamatkan danau, yang dalam prasasti disebut "segara danu tan metepi" sebutan lain dari Tuhan itu sendiri.
Tempat yang secara berkala dikunjungi, tempat "metirtha yatra" raja besar Bali Ida Dalem Waturenggong. Sekadar berbagi, Bali akan terus berubah, karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Yang sepatutnya dijaga termasuk oleh semeton ring Desa Pakraman Lintang Danu, perubahan yang tetap dalam poros Catur Purusa Artha: Dharma, Artha, Kama, Moksha.
Kearifan Lokal dalam menjaga Alam yang ada, menyebut beberapa: ring Bubung Songan, "bentang alas" ring Trunyan, Kearifan pengaturan ruang ring Buahan dan Kedisan, kekayaan sastra ring Toya Mampeh (bagian dari palebahan Desa Batur), hubungan "simetri" Danau Batur - Gunung Batur yang "terwadahi" ring Pura Jati dan Pura-Pura lainnya, tetap dijaga kelestariannya.
Dengan berat hati harus dikatakan, sudah tentu tidak diinginkan Danau Batur mengalami kehancuran kembali, seperti kehancuran di masa lalu, dalam sebuah kepemimpinan, yang dalam bahasa kultur Jawa "mikul duhur, mendem jero". Tidak bermaksud untuk mengungkapkan aib lama, sekadar "pewungu" untuk sejarah tidak kembali terulang.
Kita sudah terlalu banyak bicara "Ajeg Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali", termasuk Danu Kertih, sekarang tantangannya, bagaimana eksekutif dan legislatif Bangli, Bali dan semua "stake holders" pariwisata yang memperoleh manfaat dari pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur, bahu membahas "ngerombo" Desa Lintang Danu, dalam penyelamatan dan pelestarian Danau Batur.
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun, di Kaja Kangin Bukit Sinunggal.