Banner Bawah

Bali dalam Ancaman: Peningkatan Wisatawan Mancanegara versus Penurunan Tingkat Penghunian Kamar Hotel Berbintang

Admin - atnews

2025-03-25
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bali dalam Ancaman: Peningkatan Wisatawan Mancanegara versus Penurunan Tingkat Penghunian Kamar Hotel Berbintang
Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama (ist/Atnews)


Oleh Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., Dosen Bidang Manajemen Bisnis Pariwisata, dan Rektor Universitas Dhyana Pura, Badung, Bali

Fenomena peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada tahun 2024, yang disertai penurunan rata-rata Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang, mencerminkan dinamika yang kompleks dalam sektor pariwisata Bali. Data menunjukkan bahwa Bali telah menyambut lebih dari 6,3 juta wisatawan asing sepanjang tahun ini, meningkat sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya (Detik, 2024). Meskipun jumlah kunjungan meningkat, TPK hotel berbintang justru mengalami penurunan. 

Wakil Gubernur Bali Periode 2018-2023 dan Bupati Badung 2024-2029 dalam MUSRENBANG RKPD Badung tahun 2026 juga menyampaikan hal yang senada, pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan ini dan dampaknya terhadap ekonomi daerah Bali maupun Kabupaten Badung yang merupakan Sentrum ekonomi Provinsi Bali serta keberlanjutan pariwisata di Bali.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan TPK hotel berbintang diduga karena perubahan preferensi terhadap pilihan akomodasi di kalangan wisatawan. 

Mereka kini lebih memilih akomodasi alternatif seperti villa, guesthouse, atau homestay yang semakin menjamur seiring berkembang pesatnya desa wisata di Bali. Pilihan ini mungkin tidak hanya menawarkan pengalaman yang lebih privat dan autentik, tetapi juga sering kali lebih ekonomis atau murah atau mungkin murahan. Bali telah menjadi tujuan favorit bagi digital nomad dan wisatawan yang mencari pengalaman berkelanjutan, sehingga mereka cenderung memilih tempat menginap yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Berbagai pilihan akomodasi yang beragam, akibatnya hotel berbintang harus bersaing lebih keras untuk menarik perhatian wisatawan tersebut.

Selain itu, ada fenomena lainnya yakni overkapasitas hotel di Bali juga berkontribusi pada penurunan TPK. 

Meskipun terdapat moratorium pembangunan hotel baru di beberapa wilayah Bali, jumlah hotel berbintang yang ada tetap tinggi. Situasi ini menciptakan persaingan ketat pada pasar akomodasi, di mana banyak hotel mengalami kesulitan untuk mempertahankan tingkat hunian yang menguntungkan. Banyaknya pilihan yang tersedia bagi wisatawan, hotel berbintang harus berinovasi dan meningkatkan layanan mereka agar tetap menarik di mata konsumen.

Fenomena lainnya, durasi tinggal wisatawan juga menjadi faktor penting dalam fenomena ini. Wisatawan yang tinggal lebih lama, terutama digital nomad, cenderung memilih akomodasi non-hotel karena lebih ekonomis untuk jangka panjang. Mereka sering kali mencari tempat tinggal yang dapat memenuhi kebutuhan kerja dan gaya hidup mereka. Hal ini menyebabkan penurunan tingkat hunian di hotel berbintang, karena banyak dari mereka memilih untuk tidak menginap di fasilitas tersebut.

Pertanyaannya, di mana para wisatawan ini menginap? Diduga, banyak dari mereka memilih villa, homestay atau akomodasi lainnya yang memberikan privasi serta fasilitas seperti kolam renang pribadi. Coliving spaces (sebuah konsep tinggal di sebuah hunian bersama orang lain sebagai satu komunitas) juga menjadi pilihan populer bagi digital nomad yang membutuhkan fasilitas kerja jarak jauh. Guesthouse menawarkan pengalaman lokal dan ramah lingkungan yang semakin diminati oleh wisatawan modern. Kawasan seperti Ubud dan Canggu bahkan secara terang-terangan menyebut Coliving spacesnya sebagai Kampus Rusia dan menjadi favorit karena menawarkan pengalaman budaya dan alam yang berbeda dari kawasan wisata massal seperti Kuta atau Seminyak.

Dampak dari fenomena ini terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga cukup signifikan. Penurunan TPK hotel berbintang berarti kontribusi pajak dari sektor ini terhadap PAD cenderung berkurang. Meskipun ada peningkatan dalam akomodasi alternatif yang dapat meningkatkan pendapatan dari pajak lainnya seperti pajak rumah sewa atau villa, pengawasan terhadap akomodasi informal sering kali kurang optimal sehingga potensi pendapatan tidak maksimal. Namun demikian, wisatawan yang tinggal di akomodasi alternatif tetap berkontribusi pada ekonomi lokal melalui belanja makanan, transportasi, dan aktivitas wisata lainnya.

Meskipun terdapat tantangan dalam sektor pariwisata Bali akibat fenomena ini, ada sisi positif yang dapat dilihat dari pergeseran preferensi akomodasi ini.

Pertama, diversifikasi ekonomi pariwisata dapat terjadi ketika pergeseran ke akomodasi alternatif mendorong pertumbuhan sektor lain seperti properti dan layanan berbasis komunitas. Ini memberikan peluang bagi pengusaha lokal untuk berkembang dan berinovasi dalam menawarkan produk dan layanan kepada wisatawan. 

Kedua, tren homestay dan guesthouse berbasis komunitas mendukung pelestarian budaya dan lingkungan Bali. Wisatawan semakin sadar akan pentingnya keberlanjutan dan lebih memilih akomodasi yang sejalan dengan nilai-nilai tersebut. Hal ini mendorong pengelola akomodasi untuk menerapkan praktik ramah lingkungan dan mendukung komunitas lokal. 

Ketiga, permintaan tinggi untuk villa dan properti mewah menciptakan peluang investasi baru di sektor real estate. Dengan meningkatnya minat terhadap properti di Bali, investor dapat melihat potensi keuntungan jangka panjang dalam sektor ini. Namun demikian, tantangan tetap ada dalam mengelola pertumbuhan pariwisata agar tidak menyebabkan overtourism yang merusak lingkungan dan budaya lokal. Pemerintah perlu memastikan bahwa pertumbuhan pariwisata dikelola secara berkelanjutan dengan regulasi yang tepat untuk mengoptimalkan pajak dari akomodasi alternatif serta menjaga kualitas pengalaman wisata bagi pengunjung.

Bagi Pengelola Hotel Berbintang, Fenomena ini dapat dijadikan pijakan untuk menciptakan Strategi baru yang menggunakan prinsif (MVC) Marketing Value Creation. Promosi hotel berbintang mesti dilakukan dengan strategi pemasaran berbasis Value Creation yang lebih inovatif untuk menarik kembali wisatawan. Hotel harus menawarkan pengalaman unik atau paket kompetitif agar dapat bersaing dengan akomodasi alternatif.

Fenomena peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali paradoks dengan penurunan TPK hotel berbintang menunjukkan perlunya pendekatan holistik dalam mengelola pariwisata di pulau ini. Belajar memahami perubahan preferensi wisatawan dan menyesuaikan strategi pengelolaan pariwisata adalah menjadi keharusan, Harapannya, Bali dapat terus menjadi destinasi unggulan tanpa mengorbankan keberlanjutan ekonomi maupun sosial-budaya. Adaptasi terhadap perubahan tren akan menjadi kunci bagi masa depan pariwisata Bali agar tetap relevan dan menarik bagi generasi mendatang (*).

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sekda Bali Minta INTI Perkuat Kebersamaan

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng