Fenomena Bunuh Diri Menjelang Purnama Siddhi, Ada Apa dengan Masyarakat Bali?
Admin - atnews
2025-04-05
Bagikan :
Gede Pasek Suardika (kiri), Jro Gde Sudibya (kanan)
Denpasar (Atnews) - Intelektual Bali Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Kebudayaan dan Kecenderungan Masa Depan mengatakan, satu minggu menjelang Purnama di bulan "bersih" sasih Kedasa, 12 April 2025, Purnama Siddhi.
Purnama yang bermakna penuh kelimpahan lahir batin, "sekala - niskala", yang lazimnya telah menjadi tradisi, dengan nuansa, suasana ketenangan, harmoni dalam batin, melahirkan relasi yang "menyembuhkan" dalam hubungan antar manusia.
"Dauh ayu" bagi krama, dimana Alam Raya, menjadi tempat terbaik untuk "mesayuban", keteguhan dan ketenangan pikiran, layaknya sorga di dunia yang maya, dengan segala suka dan dukanya, dalam mengarungi "lautan" hukum Rwa Bhineda.
Tetapi realitasnya, "jauh panggang dari api", kehidupan yang penuh sesak secara sosial, melahirkan tekanan dan ketegangan batin bagi banyak manusia, yang kurang berdisiplin diri, ditundukkan oleh keinginan yang nyaris tanpa batas, bahkan melakukan pamer keserakahan.
Di sisi lain, ada bagian masyarakat, yang terpinggirkan, merasa kalah, merasa menjadi korban keadaan, mengalami rasa putus asa, dicampakkan oleh lingkungan kehidupan individu, yang memuja benda, dan bahkan "memuja" ketamakan.
Realitas Sosial yang menyesakkan ini, melahirkan fenomena menyedihkan, perbuatan "Ulah Pati" atau bunuh diri tidak adanya lagi harapan, tamsilnya "terowongan gelap tanpa sinar lilin kecil di ujung trowongan".
Bagaimana fenomena menyedihkan ini, diurai dari perspektif ilmu sosial?. Jawaban tentatifnya, menyebut beberapa, masyarakat yang orientasinya patriomonial, vertikal, kehilangan panutan, suri teladan dalam melakoni kehidupan.
Akibatnya terjadi anomie, ketidak-jelaskan peran kehidupan, yang menimbulkan anomali, kekacauan sosial. Profesi bukannya dimulyakan, tetapi justru dinafikan dan bahkan dikhianati.
Kedua, tradisi yang merupakan kesepakatan sosial, untuk menjawab tantangan zamannya, terlambat diperbaharui, sejalan dengan perubahan "Desa, Kala, Patra".
Akibatnya, bisa terjadi tradisi menjadi beban berlebihan, menekan, bukan membebaskan manusia (libereting people) dalam merespons tantangan zaman.
Tradisi dalam masyarakat agararis pertanian, tidak dilakukan perubahan yang berarti dalam masyarakat dengan dominasi industri jasa pariwisata, yang membuat pertemuan budaya, "cultural encounter"nyaris tak terhindarkan.
Ketiga, masyarakat mengalami kegugupan budaya, cultural shock, tamsilnya satu kaki masih menginjak tradisi agraris pertanian, kaki lainnya telah melangkah di industri jasa, lengkap dengan kecerdasan buatan.
Keempat, dalam masa transisi, proses transformasi sosial, sistem nilai baru belum seluruh terbentuk, nilai lama sebagian mesti ditinggalkan, akibatnya masyarakat gamang merespons disrupsi perubahan.
Kelima, kalangan intelektual yang semestinya membawa obor nurani perubahan, mengalami kegamangan yang sama, sehingga ikut terkooptasi dalam anomali sosial yang berlangsung.
Sebelumnya, Warga Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Bali kembali digegerkan dengan penemuan jasad seorang wanita di bawah Jembatan Tukad Bangkung, Kamis (3/4) malam.
Hal itu mendapatkan respon Advokat Gede Pasek Suardika, S.H., M.H., dikenal GPS mengatakan, fenomena bunuh diri (bundir) di Bali semestinya menjadi perhatian serius.
Dirinya tidak bermaksud untuk memojokkan pemerintah daerah, tetapi untuk memposisikan dimana posisi ideal pemerintah atas fenomena bundir di Bali.
Tukad Bangkung memang kembali menelan nyawa Bundir. Kali ini remaja asal Tamblang Kubutambahan Buleleng.
Peristiwa itu menambah deret panjang posisi Bali sebagai penyuplai prosentase tertinggi bunuh diri di Indonesia.
Sebelumnya terjadi di Padanggalak. Lainnya ada di kebun, di rumah dan lainnya. "Ironisnya sampai saat ini tidak ada satupun program untuk mengatasi fenomena sosial ini dari pemerintah daerah yang saya ketahui," ujarnya.
Khusus untuk Tukad Bangkung, pemerintah harus segera membangun upaya preventif dengan memperbaiki desain jembatan.
Ada beberapa yang bisa dilakukan. Misalnya meninggikan tembok pagar agar sulit dipanjat, atau membuat bentangan besi yang kuat mirip aviary yang sulit dilewati.
"Lalu dibawah perlu juga diisi jaring pengaman untuk mencegah orang melompat. Atau jalan lain menurut ahlinya, ide yang saya lintarkan adalah ide spontan yang perlu kajian teknis. Intinya pemerintah jangan gabeng. Lakukan sesuatu. Ahli ada, uang ada. Tinggal kemauan dan kepedulian saja. Titik," harapnya.
Bundir sendiri adalah solusi kejiwaan pintas atas kemelut hati yang tidak mendapatkan jalan keluar oleh mereka yang terbebani masalah.
Pilihan sesat karena tidak menemukan lorong solusi lainnya dalam kepanikan dan kekalutan. Masalah tertinggi bundir di Bali adalah masalah ekonomi dan masalah asmara. Menyusul masalah sakit berkepanjangan dan konflik sosial akibat di lingkungan, tempat kerja ataupun masalah dalam keluarga.
Sekali lagi, pemerintah harus memiliki program nyata untuk menurunkan angka bundir agar jangan lagi Bali memegang rekor tertinggi secara Nasional. Apalagi alasan tertinggi adalah faktor ekonomi.
"Soal ekonomi ya solusinya hanya satu. Lapangan kerja dan keterampilan kerja. Masalah kedua soal asmara dan ini bisa program masuk lewat sekolah atau lembaga konseling. Dulu saya pernah mendengar ada program Kisara..Kita Sayang Remaja tetapi sprtnya sdh tidak terdengar lagi," beber GPS di Denpasar, Jumat (4/6).
Berdasarkan pengalaman, khusus masalah asmara sangat diperlukan konseling. Seberat apapun madalah yang terjadi. Putus cinta dan lelaki tidak bertanggungjawab atas kehamilan pacarnya cukup tinggi sebagai pemicunya.
GPS pun mengaku pernah memotivasi remaja yang hamil dan lelakinya tidak bertanggung jawab untuk tetap merawat bayinya dengan keyakinan Sang bayi itulah kelak nanti akan menjadi penyelamat hidupnya.
"Bukan beban masalahnya. Sugesti itu kita yakinkan hingga akhirnya yang bersangkutan dengan bangga memelihara bayi tersebut tanpa bapak," ujarnya.
Keduanya selamat dari kekalutan masalah. Bahkan istrinta menemani proses persalinannya untuk memastikan berjalan lancar. Si ibu dan bayinya kini tumbuh bersama dengan sehat. "Masalah psikososial kita bareng-bareng temani dan hadapi," ujarnya.
Pemerintah harus menjadi ayah bagi para remaja yang menghadapi masalah. Jangan terlalu kaku formalitas saja atas masalah sosial seperti ini. Remaja saat ini disebut generasi strawberry yang indah diluar lembek didalam. Perlu ada orangtua berwujud pemerintah menemani.
Lakukan program, kebijakan dan keputusan yang tearah dan terukur. Mari sayangi satu nyawa manusia Bali setinggi mungkin karena jumlahnya sangat terbatas.
"Semoga saja program yang keluar bukan lagi dengan surat himbauan. Tapi aksi nyata," pungkasnya. (GAB/001)