Banner Bawah

Promosikan Ekowisata; Jatiluwih Eco Farm Anggota Terbaru PUTRI, Kerjasama SGi Air Bali Layani Helikopter Tarik Wisatawan Luxury

Admin - atnews

2025-04-24
Bagikan :
Dokumentasi dari - Promosikan Ekowisata; Jatiluwih Eco Farm Anggota Terbaru PUTRI, Kerjasama SGi Air Bali Layani Helikopter Tarik Wisatawan Luxury
Owner Jatiluwih Eco Farm John K. Purna (Artaya/Atnews)

Tabanan (Atnews) - Jatiluwih Eco Farm menjadi anggota terbaru Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Bali promosikan ekowisata.

Destinasi tersebut mampu menyatukan pariwisata dan pertanian serta mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Kawasan Jatiluwih.

Istimewanya juga Jatiluwih Eco Farm dan SGi Air Bali umumkan kerja sama untuk promosikan ekowisata untuk menarik wisatawan luxury (mewah).

Wisatawan bisa naik helikopter menuju Jatiluwih sembari melihat pemandangan Bali dari udara, khususnya persawahan Jatiluwih yang terdaftar di UNESCO, untuk menawarkan pengalaman ekowisata yang unik di Bali. 

SGi Air Bali, pemimpin dalam layanan helikopter, telah bermitra dengan Jatiluwih Eco Farm. Diharapkan mampu memberikan layanan yang terbaik bagi wisatawan memiliki waktu singkat ke Bali.

Untuk itu, Jatiluwih Eco Farm melakukan soft launching melibatkan masyarakat lokal di Jalan Batuluwih Kawan, kawasan Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Kamis, 17 April 2025.

Acara itu dihadiri Kapolda Bali, Irjen. Pol. Daniel Adityajaya, S.H., S.IK., M.Si., Ketua PUTRI Bali I Gusti Ayu Inda Trimafo Yudha dikenal Gek Inda, Owner Jatiluwih Eco Farm John K. Purna yang juga Manajer Pengelola Desa Jatiluwih, General Manager SGi Air Bali Sripurnama Yanti.

Kolaborasi itu menyoroti komitmen bersama mereka terhadap pariwisata berkelanjutan dan pelestarian warisan pertanian Bali. 

Pengalaman yang unik dan berkelanjutan melalui kemitraan ini, SGi Air Bali akan memberikan para tamu pemandangan udara yang menakjubkan dari persawahan Jatiluwih yang ikonik. 

Pada gilirannya, Jatiluwih Eco Farm menawarkan pengunjung kesempatan untuk merasakan pertanian tradisional secara langsung, mulai dari menanam padi hingga kelas memasak organik menggunakan bahan-bahan segar yang ditanam di rumah. 

Perpaduan pengalaman udara dan darat ini memungkinkan para wisatawan untuk membenamkan diri dalam budaya Bali sambil mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. 

SGi Air Bali dan Jatiluwih Eco Farm sama-sama berdedikasi untuk mempromosikan pariwisata yang bertanggung jawab, yang menghargai lingkungan dan mendukung masyarakat setempat. 

Pengunjung dapat menjelajahi metode pertanian berkelanjutan di pertanian ini dan berpartisipasi dalam lokakarya budaya, memastikan bahwa perjalanan mereka memberikan dampak positif pada masyarakat dan lanskap Bali. Visi bersama untuk pariwisata ramah lingkungan.

"Kemitraan ini merupakan kelanjutan alami dari komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan dan warisan budaya," kata Sripurnama Yanti didampingi Kapten Pilot Munawar Fatoni pensunan Penerbad.

 "Kami gembira dapat menawarkan kepada klien kami cara unik dan ramah lingkungan untuk menikmati Bali, baik dari udara maupun melalui pendalaman budaya yang autentik," ujarnya.

Dimana SGi Air Bali Air Bali menawarkan layanan helikopter untuk transportasi pribadi dan tur udara yang indah. Dengan fokus pada ekowisata, SGi Air Bali menyediakan pengalaman unik dan berkelanjutan yang menonjolkan keindahan alam Bali dan mendukung inisiatif lokal. 

Layanan helikopter itu mampu menjawab tantangan terhadap kemacetan yang terjadi di Bali. Karena jarak Jati Luwih dengan Nusa Dua, Jimbaran dan Uluwatu.

Pilot Fatoni menambahkan, langkah panjang yang ditempuh sampai bisa mendaratkan helikopter di Jatiluwih Eco Farm.

Dengan mencoba jarak tempuh darat dari Denpasar, keamanan penerbangan kondisi cuaca, proses sudah dilalukan sejak pertengahan tahun 2024.

SGi Air Bali sudah biasa melayani helikopter tujuan areal Bali, Lombok, Nusa Penida maupun Nusa Lembongan.

Sedangkan Jatiluwih Eco Farm didirikan oleh I Ketut Purna, Jatiluwih Eco Farm menawarkan pengalaman mendalam dan ramah lingkungan yang terletak di persawahan Jatiluwih yang dilindungi UNESCO di Bali. 

Pengunjung dapat berpartisipasi dalam kegiatan pertanian tradisional, menghadiri lokakarya budaya, dan menikmati hidangan dari pertanian ke meja makan, sambil mendukung keberlanjutan.

John K. Purna, mengatakan, Jatiluwih Eco Farm sebagai “adik” dari lanskap sawah ikonik Jatiluwih.

Meski lebih muda, kehadirannya tak kalah potensial untuk mendongkrak perekonomian warga sekitar.

“Hal ini bagian dari pemerataan manfaat ekonomi pariwisata. Semua kegiatan di sini berbasis masyarakat lokal mulai dari makanan, aktivitas wisata, sampai hasil pertanian,” kata John K. Purna.

Menurutnya, Eco Farm ini mengusung konsep wisata berbasis pertanian organik dan pengalaman langsung di alam terbuka. Wisatawan diajak merasakan kehidupan desa secara otentik melalui berbagai aktivitas, seperti membajak sawah, menanam padi, mandi lumpur, memancing, yoga hingga membuat kopi, canang sari, dan minyak kelapa secara tradisional.

Tak hanya dibuka di siang hari, Jatiluwih Eco Farm juga melayani wisatawan hingga malam hari untuk menjangkau pasar wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa, yang mencari suasana alam dan budaya yang lebih mendalam.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, John Purna menyisihkan 10 persen dari seluruh pendapatan usahanya untuk masyarakat dan Desa Adat Jatiluwih.
Untuk meningkatkan aksesibilitas bagi wisatawan VIP, Jatiluwih Eco Farm telah membangun helipad yang memungkinkan pendaratan helikopter langsung di area tersebut.

“Langkah ini sejalan dengan upaya menjadikan kawasan ini sebagai tujuan wisata berkelas, namun tetap berakar pada kearifan lokal,” terangnya.

Patut diketahui, Desa Jatiluwih sendiri dikenal karena sistem irigasi subak-nya yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO sejak 2012. Bahkan, pada tahun 2024, Desa Jatiluwih juga terpilih sebagai salah satu dari 55 Desa Wisata Terbaik Dunia versi UNWTO.

“Dengan perpaduan antara keindahan alam, edukasi pertanian, kearifan lokal dan fasilitas modern, seperti helipad, Jatiluwih Eco Farm diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara serta memperkuat posisi Jatiluwih sebagai ikon pariwisata berkelanjutan Bali," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPD PUTRI Bali Gek Inda yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) Bali menyambut baik Jatiluwih Eco Farm yang menjadi contoh nyata ketahanan pangan dan pariwisata disatukan.

Jatiluwih memang warisan leluhur terkait ketahanan pangan memiliki Subak yang menerapkan teknologi pengairan yang teruji.

"Sudah sepantasnya Jatiluwih diakui UNESCO, dihargai dunia," bebernya.

Maka dari itu, pemerintah agar tetap melalukan kontrol dan penegakkan hukum agar tidak terjadi kebablasan pembangunan yang bisa merusak alam, budaya dan lingkungan Jatiluwih.

"Cegah alih fungsi lahan seperti yang terjadi daerah premium di Canggu maupun Ubud dan sekitarnya. Jika kebablasan alih fungsi lahan bisa merusak alam dan budaya Bali," pungkasnya. (GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kemendagri Gelar KMF Cegah Ancaman Pemilu 2019

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng