Denpasar (Atnews) - Sarasehan (Loka Wacana) New Music for Gamelan (Mi-Reng) dilaksanakan di Museum Wiswakarma, Batubulan-Gianyar, selama dua hari, 9-10 Mei 2025.
Acara itu dibuka oleh Kurator Mi-Reng: New Music for Gamelan Wayan Gde Yudana. Sarasehan Mi-Reng menghadirkan Narasumber Etnomusikolog Christopher J. Miller, Komponis Gema Swaratyagita yang juga performer, Akademisi Prof. Dr. I Wayan Bandem M.A yang juga Budayawan, Kurator Mi-Reng: New Music for Gamelan Warih Wisatsana. Dipandu oleh Galuh Praba.
Narasumber Dosen Senior Musik sekaligus Pengarah Ansambel Gamelan di Cornell University Christopher J. Miller dengan membawakan materi Penelitiannya berfokus pada musik kontemporer Indonesia.
Ia meraih gelar Ph.D. dalam bidang etnomusikologi dari Wesleyan University pada 2014, dengan disertasi yang mengeksplorasi perkembangan sejarah dan dinamika budaya musik Indonesia yang menggabungkan tradisi dan pengaruh Barat. Selain aktif menulis, Ia juga turut menyunting buku Sounding Out the State of Indonesian Music (Cornell University Press, 2022) bersama Andrew McGraw, serta edisi khusus Global Musical Modernisms untuk jurnal Twentieth-Century Music bersama Gavin Lee.
Keterlibatannya di dunia gamelan tak hanya sebagai peneliti, tetapi juga sebagai pemain dan komponis. Ia telah bekerja sama dengan sejumlah tokoh penting, seperti AL Suwardi, Pande Made Sukerta, I Wayan Sadra, Michael Asmara, dan Peni Candra Rini. Saat ini, Christopher tengah mengajar di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai penerima beasiswa Fulbright.
Sedangkan Sub bahasan yakni Kajian Musik Gamelan Baru. Landasan estetika-stilistika, berikut galian tematika yang mewarnai penciptaan musik gamelan baru, di mana tradisi bertemu inovasi dalam kreasi yang lintas masa. Pendekatan inovatif dengan kebaruan dan kekinian ditelisik selaras dinamika New Music for Gamelan di Bali maupun global.
Dengan menghadirkan Narasumber Komponis Gema Swaratyagita yang juga performer, dan pendidik musik yang mengeksplorasi tubuh, bunyi, dan kata sebagai metode sekaligus konsep kekaryaan.
Ia kerap menciptakan ruang pertemuan antara musik kontemporer, seni interdisipliner, dan eksplorasi vokal. Karyanya telah dipentaskan di Holland Festival, Yogyakarta Contemporary Music Festival, Pekan Komponis Indonesia, dan Musim Seni Salihara. Karya Da-Dha-Dah pernah dimainkan oleh Ensemble Modern (Frankfurt), sementara karya orkestranya Te-Tabu(h) dibawakan oleh Yong Siew Toh Conservatory Orchestra (Singapura). Ia mendirikan Laring Kolektif sebagai ruang eksplorasi bunyi dan turut menggagas Perempuan Komponis Forum dan Lab.
Melalui Bumi Bunyi Creative Music Education, Gema mengembangkan pendekatan belajar musik yang kreatif dan membebaskan untuk anak-anak, menekankan eksplorasi sebagai inti dari proses artistik dan pendidikan.
Sub bahasan: Melacak Elemen Kebaruan dalam Musik Baru di Indonesia. Membahas elemen-elemen kebaruan—konsep, teknik, medium, dan pendekatan estetika—yang muncul dan berkembang dalam musik baru di Indonesia. Diskusi menelusuri bagaimana para komponis menciptakan bahasa musikal segar yang relevan dengan dinamika kekinian tanpa tercerabut dari akar tradisinya.
Begitu juga, Prof. Dr. I Made Bandem, MA adalah salah satu pemikir kebudayaan Bali terkemuka, penari mumpuni, dan cendekiawan yang melahirkan sejumlah buku babon tentang seni tari dan karawitan Bali.
Sembari mengayomi kampus TIK dan ITB STIKOM Bali, Bandem aktif menulis, yang terkini tentang empu karawitan Bali, I Gusti Putu Made Geria dan Wimba Tembang Macapát Bali.
Prof Bandem juga dikenal sebagai sutradara teater dan koreografer, dengan karya-karya seperti The Conquest of Bali, Shackled Spirits, Derap Persada Nusantara, Kang Ching Wie, Baris Matrayudha, dan Abimanyu Antaka.
Ia menerima berbagai penghargaan prestisius dari dalam dan luar negeri, termasuk International UNESCO Music Council Award, Habibie Award, Koizumi Fumio Prize, dan Lencana Kebudayaan Republik Indonesia. Ia juga dikenal memelopori dialog lintas budaya dan diplomasi kebudayaan, tercermin dari penghargaan The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Kaisar Jepang (2019) dan Bali Jani Nugraha (2022).
Sub bahasan: Kebijakan Seni Kini dan Ekosistem Musik Gamelan. Dialog mengenai kebijakan seni budaya di era digital ini, menegaskan pentingnya peran pengambil kebijakan berikut stakeholder yang sigap tanggap dalam menjaga dinamika penciptaan serta ekosistem seni budaya yang tumbuh berkelanjutan secara sehat. Tertaut pula di dalamnya kebijakan ruang publik, lembaga kesenian, hingga media massa.
Sedangkan, Narasumber Warih Wisatsana adalah penyair, esais, editor, dan kurator seni yang telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Taraju Award, Borobudur Award, Bung Hatta Award, Kelautan Award, SIH Award, Bali Jani Nugraha (2020), Bali-Dwipantara Nata Kerthi Nugraha (2022), dan World Peace Artist Award (2023). Ia menjadi kurator seni di tingkat nasional dan internasional, di antaranya Bali International Literary Symposium (2019), Festival Seni Bali Jani (2021–2024), serta Pameran Internasional Bali Bhuwana Rupa bersama Dr. Setiawan Sabana, Seno Djoko Suyono, Wicaksono Adi, Dr. Jean Couteau; Bali Megarupa bersama Jang Shin Jeung (Korea Selatan), dan Pameran Fotografi Internasional Bali Bhuwana Rupa, bersama Jeon Dongsu (Korea Selatan). Ia pernah berkolaborasi dengan perupa Made Wianta, Nyoman Erawan, koreografer Nyoman Sura, Miroto, serta menyutradarai Odipus Sang Raja bersama Nyoman Cerita dan Nyoman Wenten.
Pernah menjadi koordinator budaya Alliance Française Denpasar dan selama 11 tahun menjadi kurator Bentara Budaya Bali. Kini, ia redaktur di Katarupa.id dan halaman puisi harian Nusa Bali.
Sub bahasan: Kuratorial dan Festival Mi-Reng. Penegasan pentingnya peran kurator dan kebijakan kuratorial yang visioner serta sumbangsihnya dalam turut menjaga ekosistem seni budaya yang tumbuh berkelanjutan secara dinamis. Mengurai kehadiran Mi-Reng sebagai agenda bersama merayakan penciptaan yang mengedepan Kebaruan dalam Kekinian.
Prof Bandem mengatakan perkembangan New Music for Gamelan sudah berkembang sejak lama. Ia menyambut acara itu dalam mmebangun wadah dan menambah literasi bagi generasi muda yang ingin menekuni bidang musik baru dari gamelan.
Diharapkan masyarakat mampu memberikan apresiasi terhadao gamelan klasik hingga kotemporer (New Music for Gamelan). "Masyarakat bisa apresiasi gamelan klasik hingga kotemporer. Bangun ekosistem berkesenian," harapnya.
Pada kesempatan itu, Prof Bandem menjelaskan mengenai kebijakan seni dan ekosistem musik gamelan dimulai dengan membahas secara singkat mengenai: 1) Sejarah New Music for Gamelan, 2) Kebijkan dan Ekosistem Seni, 3) Landasan Hukum, 4) Festival Seni dan Manfaatnya.l, 5) Jenis-jenis Festival Seni, 6) Kuratorial, 7) Manajemen dan Tata Kelola.
Sejak zamannya Claude Debussy (1862-1918) banyak karya-karya para komponis besar terpengaruh oleh bunyi dan warna nada gamelan.
Generasi yang lebih tua seperti Colin McPhee, Ernst Eichheim, dan Lou Harrison diikuti oleh komponis muda lainnya yang kebetulan mendapat kesempatan untuk belajar ke Indonesia atau di kampus-kampus Universitas di Amerika Serikat, diantara mereka termasuk Ton de Leeuw, Richard Felciano, Philip Glass, Steve Reich, Douglas Young, Jose Evangelista, Inggram Marshall, Daniel Schmidt, Jack Body, Dieter Mack, Andrew Toth, Edward Herbst, Shin Nakagawa, Michael Tenzer, Evan Ziporyn, dan Andrew McGraw terus menyusun komposisi baru dengan memasukkan berbagai elemen gamelan ke dalam karya mereka. Ciptaan semacam ini disebut gamelan Kontemporer.
Dikatakan, Colin McPhee (1900-64), seorang komposer Amerika Serikat kelahiran Kanada, termasyur namanya karena ketertarikannya dengan gamelan Bali. Dia datang dan menetap di Bali dari tahun 1931-1938.
Berbekal sekeping piringan hitam gamelan Bali yang berjudul kebyar ding yang dibelinya di USA tahun 1929, Colin McPhee memutuskan untuk membawa sebuah grand piano ke Bali dan selama di Bali dia menetap di desa Sayan, Kecamatan Ubud.
Dengan bermodal sebuah grand piano itu, dia berhasil mengundang dan berkenalan dengan para komposer Bali antara lain I Made Regog, I Nyoman Kaler, I Made Lebah, I Lunyuh, I Gede Manik, dan I Wayan Lotring.
Dari tokoh-tokoh itu, Colin McPhee mempelajari gamelan Gong Gede, Gambuh, Angklung, Semar Pagulingan, Gong Kebyar, Gender Wayang dan lain-lainnya.
Sebanyak 15 jenis ansambel yang dipelajari sebagai landasan berkarya, dan akhirnya dia mampu menciptakan sebuah komposisi untuk orkestra Barat yang dinamakan Tabuh-Tabuhan.
Komposisi yang dimainkan dalam berbagai instrumen seperti piano, violin, klarinet, trompet, dan perkusi lainnya memenangkan penghargaan American Academy of Arts and Letters tahun 1954, dan Tabuh-Tabuhan dinyatakan sebagai komposisi musik Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya, sangat orisinal, menggabungkan antara musik Barat dan Bali. Bentuk komposisi Tabuh-Tabuhan terdiri dari tiga bagian yaitu bangian pertama disebut Ostinato, bagian kedua dinamakan Nocturne, dan bagian ketiga disebut Finale.
Dalam metode penciptaan komposisi yang disebut sebagai peminjaman teknik, menciptakan kembali, efek musikalitas, dan interpretasi terhadap gamelan Bali yang bernada pelog dan slendro, Colin McPhee menggunakan tabuh pamungkah angklung, gandrangan, pangecet playon, gambang palugon, pangecet jobog, garuda, sisya pacalonarangan, pangipuk jobog, gagaboran, genggongan, gending arja, kebyar curik ngaras, bapang, gilak, dan gender wayang, merangsang para komponis lainnya mempelajari gamelan Bali.
Selain menciptakan komposisi untuk orkestra besar, McPhee juga mentransposisikan lagu gender wayang yang dipelajarinya dari I Wayan Lotring untuk dimainkan pada dua buah piano.
Piano yang memiliki standar nada yang pasti kini dirubah nadanya menjadi slendro saih gender wayang. Lagu-lagu Bali yang memiliki elemen musikal seperti pengulangan melodi, struktur kolotomik, irama bebas, dan kotekan dimainkan dengan sempurna dalam kedua piano tersebut.
Kotekan dan irama bebas 'kebyar' dalam gamelan Bali dianggap suatu hal yang rumit bahkan tidak dimiliki oleh musik lain di dunia.
Dalam meduniakan gamelan Bali, McPhee tidak hanya mencipta komposisi musik, karya-karya yang dianggap tidak bisa menghidupi dirinya, tetapi dia juga menulis berbagai artikel mengenai gamelan Bali, dan salah satu bukunya yang terkenal adalah Music in Bali.
Dari kemampuannya untuk menulis magnum opus itu, akhirnya menjadi Colin McPhee sebagai profesor etnomusikologi di UCLA dan berhasil menamatkan sejumlah mahasiswa yang mampu menyebarluaskan gamelan Bali ke seantero jagat.
Selain itu, lahirnya gamelan Kontemporer Bali tidak dapat dipisahkan dari adanya Festival Komponis Muda di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada dekade 1980-an yang melahirkan komponis kontemporer gamelan Bali seperti I Wayan Dibia (Kendang Sangkep), I Nyoman Astita (Eka Dasa Ludra), I Ketut Gde Asnawa (Kosong), I Wayan Rai S., (Trompong Beruk), I Nyoman Windha (Sumpah Pelapa), I Wayan Sadra (Beringin Kurung), dan I Gde Yudana (Laya).
Bahkan The First International Gamelan Festival dan Symposium di Van Cover Canada 1986 mencatat ada 6 (enam) kelompok gamelan yang berkembang di USA, Kanada, Eropa, Japan, dan Australia. Kelompok-kelompok itu meliputi jenis dan bentuk sebagai berikut.
1. Kelompok yang menggunakan gamelan tradisional guna memainkan lagu-lagu gamelan tradisional dan kelompok ini tertarik untuk mempelajari filosofi, etika, dan estetika gamelan, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kelompok ini diwakili oleh gamelan Sekarjaya di Berkeley; gamelan Universitas Hawaii, gamelan California Institute of Arts, gamelan Gita Sari, Holy Cross, gamelan Giri Mekar, Bard College, gamelan Dharma Swara di New York, dan lain-lain.
2. Kelompok yang menggunakan gamelan tradisional untuk memainkan komposisi baru yang berdasarkan musik kontemporer Barat dengan mengambil ciri khas dari pola-pola gamelan seperti konsep struktur kolotomik. Kelompok ini diwakili oleh Dharma Budaya, Osaka, gamelan Son of Lion, New York, dan Galak Tika, MIT, Boston.
3. Kelompok yang menggunakan instrumen baru yang diadaptasi dari gamelan untuk memainkan komposisi musik kontemporer berdasarkan pola-pola gamelan tradisional seperti gamelan Si Betty dari San Jose State University.
4. Kelompok yang menggunakan instrumen baru yang meniru gamelan untuk memainkan komposisi kontemporer berdasarkan musik kontemporer Barat seperti gamelan Pacifica of Seatle, the Berkeley Gamelan, dan the Bay Area New Gamelan.
5. Kelompok yang menggunakan segala instrumen penghasil bunyi untuk memainkan musik avangarde seperti Banjar Grupe dari Berlin, Jerman.
6. Kelompok yang menggunakan alat-alat musik Barat (Symphony Orchestra) untuk memainkan komposisi yang berdasarkan bentuk dan warna gamelan seperti ditunjukkan oleh Claude Debussy, Colin McPhee, dan Jose Evangelista.
Konser Internasional Musik Gamelan Baru
A TRIBUTE TO GONG KEBYAR. Sebuah konser musik gamelan baru (A New Music for Gamelan) kembali digelar di Bentara Budaya Bali, 17 Mei 2014, menghadirkan tiga komposer bereputasi internasional bersama sekaa masing-masing, yakni I Wayan Gde Yudane dari Sekaa Gamelan Wrdhi Cwaram, Dewa Alit dari Sekaa Gamelan Salukat dan I Wayan Sudirana dari Sanggar Cenik Wayah.
Ketiga komposer terkemuka ini berulang diundang pada pagelaran internasional di banyak negara, serta dipujikan karena karya masing-masing dinilai memiliki capaian yang orisinil dan mempribadi, ditandai keberanian mereka untuk merambah wilayah penciptaan baru, memperkaya musik gamelan dengan kemungkinan-kemungkinan kreatif dan kreasi-kreasi segar yang memikat.
Tidak heran bila pengamat dan publik musik dunia memberikan sebutan “maverick” atau sang pemberani, lantaran totalitas dan keteguhan mereka dalam melakukan eksplorasi atas perangkat gamelan yang memang memiliki sejarah panjang dan bahkan terdepankan sebagai sebentuk musik yang telah mentradisi.
Adapun repertoar dari Konser Internasional Musik Gamelan Baru itu menampilkan: Kasus Tiga karya I Wayan Sudirana dari Sanggar Cenik Wayah, Water 6 Ephemeral, Water 5 Spring karya Wayan Gde Yudane, Gamelan Wrdhi Cwaram, Karya terbaru “ TANAH SEDANG BICARA” karya Dewa Ketut Alit, Gamelan Salukat. (GAB/001)