Banner Bawah

Bagaimana Demam Babi Afrika (AAF) Buat Peternak Merana?

Admin - atnews

2025-05-25
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bagaimana Demam Babi Afrika (AAF) Buat Peternak Merana?
Babi (ist/Atnews)

Oleh Drh. Soeharsono DTVS, PhD
Masyarakat Bali umumnya menggemari kuliner berbahan daging babi. Pada hari raya tertentu kuliner tersebut selalu hadir. Untuk kebutuhan kuliner, sebagian masyarakat yang punya lahan terbatas memelihara babi dalam skala rumah tangga. Yang memiliki lahan cukup luas, beternak babi skala usaha. Bisnis ternak babi di tempat tertentu memang sangat menguntungkan.

Sisa makanan hotel, restoran, kapal laut, pesawat terbang, diberikan sebagai makanan utama ternak babi (swill feeding). Peternak akan mengambil sisa makanan menggunakan tempat / kontener khusus, kemudian diangkut dengan pick up. 

Pengusaha kuliner diuntungkan, tidak perlu ongkos membuang sisa makanan, sedangkan peternak diuntungkan mendapat makanan babi bergizi tinggi secara gratis. “Simbiosis mutualisme” ini telah berlangsung lama, memberi keuntungan besar bagi peternak, tidak hanya di Indonesia, namun juga di luar negeri.

Tanpa diduga, tahun 2019 awalnya ternak babi di Bali dan Medan diserang prahara penyakit baru, menimbulkan kematian sangat banyak, sulit diobati atau dicegah. Banyak peternak tidak mendugaa penyakit bisa timbul dari makanan sisa.

Penyakit ini dikenal sebagai African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika). ASF termasuk penyakit babi paling ganas di dunia. 

Para ahli di Bali mencoba membuat vaksin ASF, namun efektifitasnya masih rendah, sehingga dihentikan. Belum ada vaksin ASF yang benar-benar efektif di seluruh dunia.

Setelah Medan dan Bali, penyakit serupa ditemukan di tempat lain yang mempunyai ternak babi cukup tinggi seperti SULUT, NTT, Kalimantan. Pada 19 Desember 2024, Balai Veteriner Subang menyebut ASF telah merebak di 32 provinsi di Indonesia. Dapat dibayangkan kerugian ekonomi yang diderita peternak. Akibatnya banyak peternakan babi tidak mampu menanggung kerugian, sehingga menutup usahanya.

ASF pernah menyerang Portugal, Spanyol, Perancis dan Italia (1960), kemudian diberantas melalui eliminasi lewat pemotongan sejumlah besar babi. Setelah reda selama beberapa dekade, muncul lagi di Georgia, Armenia, Azerbaijan (2007), Ukraina (2013), Rusia (2017), China (2018), kemudian Asia Tenggara. Saat ASF masuk China, sekitar 30.000 babi di eliminasi untuk menghentikan penyebaran (The Telegraph 5/9/2018).

Mungkin banyak pembaca lupa, setahun sebelum ASF sampai di Bali, penulis telah memprediksi Bali akan tertular ASF (Bali Tribun 9/9/2018 “Waspadai penyakit ASF dari Tiongkok masuk Bali”).
Bagi yang belum memahami ada baiknya kita mengenal singkat ASF.

Apa itu ASF?
Dari namanya kita bisa tebak asal penyakit ini dari Afrika. Kehebatan virus ASF dibanding virus lain adalah ketahanan terhadap: pemanasan (dibakar, diasap dsb.), pemberian garam, sehingga sisa makanan hotel, restoran, kapal laut, pesawat, menjadi sumber penular antar negara. Virus pada umumnya tidak tahan panas, kecuali ASF.

Belum tersedianya vaksin yang efektif membuat peternak sulit menghindari penularan ASF.
Bagaimana mengenali ASF dan mencegahnya?
Kematian babi mendadak dalam jumlah besar dengan tanda perdarahan di berbagai organ tubuh patut dicurigai sebagai ASF. Diagnosis lapangan perlu dikonfirmasi laboratorium. 

Ada penyakit dengan gejala klinis mirip ASF, tetapi kematiannya lebih rendah, yakni Hog Cholera atau Classical Swine Fever (CSF). Untungnya, CSF bisa dicegah lewat vaksinasi.

Penularan ASF di tempat baru umumnya terjadi lewat swill feeding. Babi tertular akan mengeluarkan virus ASF lewat tinja, urine, ingus, dll. sehingga menulari babi di sekitarnya. Alas kaki pekerja kandang  atau petugas kesehatan hewan, bila tidak diganti atau didesinfeksi, juga bisa membawa virus ASF, kemudian menularkan pada peternakan lain.

Pencegahan terbaik dilakukan lewat biosecurity, antara lain tidak memberikan makanan sisa restoran , hotel dll., melarang orang lain masuk kandang (keculai petugas kandang), mendesinfeksi kandang dan peralatannya secara teratur, tidak memasukkan babi baru ke dalam kandang, dll. Petugas kandang dan kesehatan hewan perlu memakai pakaian dan alas kaki khusus saat masuk kandang.
Meskipun sangat ganas pada babi, ASF tidak menular ke manusia.
 
*) Drh. Soeharsono DTVS, PhD, Mantan Penyidik Penyakit Hewan.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ketum Dharma Pertiwi Kunjungi Museum Mahatma Gandhi di India

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali