Refleksi Raina Buda Kliwon Matal,
TRI SIDA, Ancaman Bali Kini dan di Masa Depan
Refleksi Raina Buda Kliwon Matal,
TRI SIDA, Ancaman Bali Kini dan di Masa Depan
Admin -
atnews
2025-07-02
Bagikan :
Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)
Oleh Jro Gde Sudibya Hari, Rabu, 2 Juli 2025, nemu raina Buda Kliwon Matal, sasih Kasa, Icaka 1947. Dalam perspektif kearifan waktu Tri Semaya, Atitha, masa lalu, Nagatha, masa depan, Wartamana, hari-hari ini, pantas Kita berefleksi ke kinian dan dampaknya terhadap masa depan.
Seorang sejarahwan membuat kategori tentang risiko yang dihadapi masyarakat dalam masa transisi demokrasi, transisi demokrasi yang cendrung gagal, akibat para politisi tidak mampu menjalankan amanah publiknya, partai gagal melakukan modernisasi dalam perspektif demokrasi, salah guna kekuasaan yang dashyat, yang mencapai puncaknya, hukum dipergunakan sebagai alat pemukul lawan politik, untuk pelanggengan kekuasaan dengan terang-terangan melanggar etika dan moral publik.
Dalam fenomena demokrasi yang merosot, kecacatan demokrasi, "authocratic legalism", pemerintahan otoriter yang dicoba "dijustifikasi" melalui aturan formal, krama Bali dihadapkan kepada TRI SIDA, Eko Sida, Histori SIDA dan Kultur SIDA.Eko SIDA, proses penggerusan dan penghancuran alam.
Alam diperlakukan semena-mena, dengan "dasa muka" penyebabnya, menyebut beberapa: kapitalisme pariwisata yang tidak terkendali yang "lapar" tanah, keserakahan yang ditimbulkannya, pendekatan pembangunan "kuno" yang memuja pertumbuhan ekonomi, merusak lingkungan, mendegradasi budaya, meminggirkan masyarakat lokal secara ekonomi politik, moral hazard dari sementara pengambil kebijakan publik.
Kedua, Histori SIDA, proses penggerusan catatan, nilai, spirit kesejarahan krama Bali, sebut saja melalui pemaksaan terselubung penerapan ekonomi Sari'ah, lengkap dengan pemakaian label produk haram - halal, dengan dalih aturan nasional dengan menafikan, "memanfaatkan" toleransi krama Bali. Pemaksaan terselubung ini, punya potensi menimbulkan gesekan dan bahkan konflik terbuka di masa depan.
Eko SIDA, menjadi tantangan dan bahkan ancaman nyata, Bali yang berpenduduk 4,5 juta, tahun 2024 dikunjungi turis mancanegara negara 6,3 juta wisatawan, 22 juta wisatawan lokal melintasi Bali.
Ketiga, Kultur SIDA, proses penggerusan, pemerosotan dan penghancuran nilai-nilai lokal kultural, akibat sejumlah isme: materialisme, industrialisme, globalisme, misi agama terbuka dan terselubung, invasi sistem keyakinan lintas negara, yang menyelinap, menggerus dan kemudian bisa merobohkan bangun budaya krama Bali.
Fenomena ini sangat tampak nyata di lapangan, kehidupan yang semakin permisif, serba boleh: perjudian, "perjamuan" minuman keras, pelanggaran massif etika susila. Sikap menutup diri untuk perbaikan, menyalahkan orang lain, membangun stigma yang rentan menimbulkan konflik dan pengepingin sosial. Sisi buruk peradaban masa lalu dipertontokan, mengklaim benar dan kemudian menghakimi orang lain. Proses kebodohan dan pembodohan yang tidak disadari, yang dengan mudah membawa krama Bali ke tepi jurang kehancuran.
Tri Sida telah meluluh-lantakkan Tri Hita, kekuatan Tri Datu tidak mampu menahannya, karena sebagian besar telah mentransformasi diri menjadi Bhuta, Manusia Utama semakin terbatas dan semakin "kesepian", "boro-boro" mencapai kualifikasi Dewa. Simbol Tri Datu sebatas wacana, tidak lagi "metaksu", dan kemudian menjadi ilusi nyaris tanpa makna.
*) Jro Gde Sudibya, Bentara Budaya Bali, pembawa "berita" budaya Bali.