Banner Bawah

Dokter Dukung Perda Yoga; Yoga sebagai Lifestyle, Bukan Sekadar Olahraga, Promosi Kesehatan

Admin - atnews

2025-07-06
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dokter Dukung Perda Yoga; Yoga sebagai Lifestyle, Bukan Sekadar Olahraga, Promosi Kesehatan
Yoga (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Bidang kesehatan telah menjadi perhatian dunia, apalagi pasca adanya pandemi Covid-19.

Sekarang ini rumah sakit makin banyak, tapi isinya juga makin penuh. Obat makin canggih, tetapi penyakit pun makin beragam. 

Kondisi itu menunjukkan bahwa gaya hidup masyarakat belum benar-benar sehat. Menurut pendekatan medis yang ideal, mestinya promosi kesehatan dan upaya pencegahan menjadi prioritas utama, barulah kemudian pengobatan dan pemulihan. Dan salah satu cara sederhana namun mendasar untuk memulai hidup sehat adalah melalui Yoga.

Yoga bukan sekadar gerakan fisik atau kelenturan tubuh. Bagi sebagian orang, termasuk tenaga medis yang telah mempraktikkannya, yoga adalah bagian dari jalan hidup sehat yang menyeluruh menyentuh fisik, pikiran, dan juga jiwa. 

Di Bali sendiri, yoga sebenarnya bukan hal baru. Ia merupakan bagian dari warisan leluhur, namun ironisnya tidak benar-benar menjadi tradisi hidup masyarakat lokal. Yoga justru lebih banyak dikembangkan dan dinikmati oleh warga asing dan wisatawan. Sedangkan, masyarakat lokal masih menjadikan yoga sebagai sesuatu yang asing.

Untuk itulah, wacana Peraturan Daerah (Perda) tentang yoga di Provinsi Bali dinilai penting. Bukan hanya untuk menjaga nilai kearifan lokal, tetapi juga agar masyarakat Bali sendiri menjadi pelaku utama dari manfaat besar yoga baik untuk kesehatan, spiritualitas, maupun peluang ekonomi.

Wacana itupun direspon HRD Manager dan General Affairs Penta Medica, dr Made Yasa yang juga Guru Yoga di Denpasar, Sabtu (5/7).

Dukungan juga datang dari Dharma Adhyaksa Sabha Pandita PHDI Pusat Ida Pedanda Nabe Gde Bang Buruan Manuaba, Sulinggih Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Agni Yogananda dari Griya Santabana Payuk, Akademisi Prof. I Gede Sutarya, Ketua PHDI Bali I Nyoman Kenak, Guru Besar Prof. Dr. IB Raka Suardana, SE.,MM, yang juga Kelompok Ahli Percepatan Program Pembangunan Bali dan Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar, Direktur Utama PT Pak Oles Tockcer, Dr Gede Ngurah Wididana, Ketua Harian Monuken Perjuangan Bangsal (MBP) Bagus Ngurah Rai, Pengamat Kebijakan Publik Putu Suasta yang juga Pendiri LSM JARRAK dan Forum Merah Putih, Pengamat Sosial Budaya, Peminat Yoga Asana dan Meditasi I Wayan Gede Suacana

Ia mengaku sangat mendukung. Menurutnya, kebijakan seperti ini bisa menjadi pemicu lahirnya gerakan kolektif untuk memperkuat yoga sebagai warisan nilai dan sistem pembinaan kesehatan di masyarakat 

Dalam praktik medis, dr Yasa mengamati banyak penyakit modern yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini jika masyarakat menerapkan pola hidup yang sehat dan seimbang. “Saya mengamati kesehatan itu sebenarnya holistik. Jangan hanya mengandalkan pada pengobatan obat-obat saja,” ujarnya saat ditemui di kliniknya di Jalan Mahendradatta Selatan No. 88, Pemecutan Klod, Denpasar.

Sebagai instruktur yang telah menekuni dunia yoga sejak tahun 2009, ia menyadari banyak masyarakat belum benar-benar memahami yoga sebagai ilmu yang utuh. Lebih jauh, ia menjelaskan yoga sesungguhnya bukan sekadar gerakan. Filosofinya sangat dalam. Ia menyebut Yoga Sutra Patanjali yang memuat delapan tahapan yoga, mulai dari Yama (pengendalian diri), Niyama (disiplin diri), Asana (postur tubuh), Pranayama (pengendalian napas), Pratyahara (penarikan indra), Dharana (konsentrasi), Dhyana (meditasi), dan puncaknya adalah samadhi sebuah kondisi pikiran yang tenang dan sadar sepenuhnya.

Sayangnya, di tengah gencarnya promosi yoga oleh wisatawan asing, masyarakat Bali sepenuhnya justru belum menjadikan yoga sebagai kebiasaan sehari-hari atau lifestyle maupun way of life.

“Di Bali memang sering dipakai sebagai tempat yoga oleh wisatawan internasional karena alamnya sangat mendukung dan spiritual, tapi sayangnya yang menjadi aktornya itu bukan orang kita,” katanya.

Ia berharap Bali tidak hanya bisa sekedar menjadi tempat praktik yoga, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan pengajarannya. 

Apalagi secara sejarah, Bali mengenal istilah-istilah lokal seperti ‘payogan’ yang merujuk pada tempat bertapa atau menyatu dengan ketenangan batin, yang dalam konsep spiritual Hindu tidak jauh dari semangat yoga itu sendiri.

Karena itu, dr Yasa menyambut baik wacana regulasi atau perda terkait penyelenggaraan yoga. Menurutnya, regulasi sangat penting agar masyarakat memiliki acuan dan motivasi untuk ikut serta. 

Bahkan dirinya pun sudah menerapkan kepada masyarakat yang mengalami penyakit kronis. Program itu sempat berhenti karena kendala pandemi Covid-19, diharapkan bisa segera aktif kembali.

“Kalau memang sudah diatur dan sudah diberikan contoh seperti itu, sehingga mereka bisa melihat dan juga melakukan yoga dengan baik,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan, saat ini sudah ada institusi pendidikan tinggi di Bali yang membuka program studi yoga dan meluluskan tenaga pengajar terlatih.

“Jangan sampai peluang sebagai instruktur yoga atau yoga itu sendiri ini diambil oleh orang luar, yang hanya mengambil tempat di Bali, namun mereka mengambil keuntungannya. Ini sangat disayangkan. Kita seolah-olah tidak mampu memproduksi, padahal SDM dan institusi pendidikan kita sudah ada,” tuturnya. 

Untuk itu, ia berharap regulasi bisa menjadi jembatan agar lulusan pendidikan yoga di Bali terserap oleh pasar kerja di daerah sendiri. Ia juga mendorong agar instansi pemerintah dan swasta di Bali maupun sekolah-sekolah mulai memberi ruang bagi praktik yoga sebagai bagian dari pembinaan kesehatan pegawai dan para murid. 

“Kalau instansi-instansi itu membuat grup-grup yoga, ini akan menjadi contoh buat masyarakat. Masyarakat juga akan lebih semangat bahwa memang yoga itu benar-benar bermanfaat,” tandasnya.

Terlebih, regulasi bukan semata untuk mengatur, tetapi membuka jalan agar Bali tidak hanya menjadi tempat orang luar mempraktikkan yoga, melainkan pusat pembelajaran dan pelestarian yoga yang otentik. Bali, kata dia, harus menjadi tuan rumah yang sejati bagi tradisi yang sudah hidup sejak masa leluhur. 

“Harus ada suatu kepeloporan. Harus ada motivasi dan role model. Kalau sekarang dibangkitkan lagi dengan regulasi yang bagus, masyarakat tidak takut lagi melakukannya,” pungkasnya. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : ORI Bali Apresiasi Sikap Koster Memberantas Pemungutan Liar

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sorotan Restaurant Dharma Uluwatu, PHK Sepihak hingga Dugaan Pelecehan Simbol Agama

Sorotan Restaurant Dharma Uluwatu, PHK Sepihak hingga Dugaan Pelecehan Simbol Agama