Banner Bawah

Bharatyatra Perjalanan India ke Seluruh Pelosok Dunia dan Membekas Paling Luas di Nusantara

Admin - atnews

2025-08-13
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bharatyatra Perjalanan India ke Seluruh Pelosok Dunia dan Membekas Paling Luas di Nusantara
Buku Transformasi Kebudayaan dan Spiritual Universal (ist/Atnews)

Oleh I Ketut Donder, Dosen Teologi Hindu, Fakultas Brahma Widya, Universitas I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Bali, Indonesia

Banyak orang berpikir tentang India (nama aslinya adalah Bharatavarsa) atau wilayah kerajaan keturunan Bharata yang sangat luas dan pengaruhnya pernah meliputi seluruh dunia. 

Pernyataan ini bagi orang yang tidak mengetahui atau tidak memahami pengaruh India pada jutaan tahun yang lalu, maka pernyataan ini akan dianggap kata-kata bualan anak kecil. 

Tetapi, bagi orang Indonesia yang belajar sejarah dari catatan sejarawah yang jujur dan objektif akan menyadari bahwa nama negaranya baik disebut Nusantara atau Indonesia adalah nama lain dari India atau Bharatavarsa.

Ada 431 orang pandangan para tokoh dunia dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, terlalu panjang untuk dikutip, oleh sebab itu hanya dipetik secara sangat singkat bagian-bagian yang sangat dekat hubungan dengan judul di atas. Hindu dengan kitab sucinya adalah Veda sebagai agama tertua dari semua agama-agama, sehingga banyak kesulitan untuk mengungkapnya.

Ketika saya ujian Disertasi tahun 2013 di Department Sanskrit, Faculty of Art, Rabindra Bharati University, Calcutta (Kolkata), West Bengal, India. Judul Disertasi saya Logical Interpretation of Some Performing Hindu Rituals, saya ujian jantung saya sempat bergetar karena dari 7 (tujuh) orang penguji, ada satu orang penguji luar yang didatang secara khusus (sebagaimana juga tradisi kita di Indonesia), bahwa ujian Disertasi ada penguji dari luar kampus tempat mahasiswa S3 kuliah. 

Satu orang itu adalah seorang professor paling senior ahli Indology dan Sanskerta mantan promotor dari promotor saya. Jika diumpamakan dalam keluarga, saya diuji oleh bapaknya bapak alias kakek. Saya sudah mempersiapkan beberapa catatan yang saya perkirakan akan dipertanyakan pada ujian Disertasi saya. 

Pertanyaan paling awal professor senior itu yang membuat jantung berdebar adalah pertanyaan yang sama sekali tidak ada di dalam Disertasi saya, beliau bertanya Are Indonesian, but I do not belief that you are Indonesian if you do not know what the meaning of Indonesia? Do you know it? Untung sekali ingat pelajaran SD selama 2 tahun mendapat mata pelajaran Sejarah Dunia tentang asal mula penduduk Indonesia dan nama Indonesia. 

Kemudian, saya jawab, Namaskar Sir, yes, I know, I read it when I was student of Elementary, that Indonesia come from the root of Indo means India and nesos means archipelago. So, the origin of Indonesia word means 'archipelago of India. Beliau acungkan dua jempol. Jawaban itu, saya pernah baca dalam mata pelajaran Sejarah Dunia tahun 1973 saat saya Sekolah Dasar kelas IV sd VI di Sekolah Dasar Negeri Desa Kembang Mertha, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Definisi Indonesia berasal dari kata INDO dan NESOS yang say abaca tahun 1973 (sejak 52 tahun yang lalu) sampai saat zaman literasi saat ini jika dibaca di internet, Google, AI, dan sebagainya, masih tetap, tidak berubah sama sekali. Orang tidak berani mengubahnya karena tidak berani membohongi kebenaran sejarah. 

Walaupun demikian, belakangan ini ada juga orang Indonesia bahkan orang Bali yang beragama Hindu tidak mau menyatakan bahwa leluhur bangsa Indonesia dan leluhur orang Bali berasal dari India. 

Sikap mangkir dari kebenaran Sejarah Indonesia seperti ini sesungguhnya dimulai dari tokoh besar pujangga Indonesia, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana (STA) sebagaimana termuat dalam buku kompilasi berjudul Polemik Kebudayaan disunting oleh Achdiat Karta Mihardja (Cetakan Pertama …? Cetakan Kedua tahun 1950; Cetakan Ketiga tahun 1998). Jadi, sudah selama 75 tahun STA sudah berupaya keras untuk membuang Sejarah Hubungan Indonesia dan India.

Adanya Upaya Secara Sengaja untuk Melupakan Hubungan India dan Indonesia 
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) beranggapan bahwa kemunduran ilmu dan teknologi bangsa Indonesia disebabkan karena bangsa Indonesia telah terlalu dalam dipengaruhi oleh filsafat India atau agama Hindu. Karena filsafat India atau ajaran agama Hindu mengajarkan agar manusia harmoni dengan alam. Selama sikap harmoni dengan alam itu ditumbuh- kembangkan, maka selama itu pula bangsa Indonesia tidak akan memiliki teknologi yang tinggi. 

Agar bangsa Indonesia memiliki teknologi yang tinggi, maka bangsa Indonesia harus melepaskan diri dari pengaruh filsafat India dan mengambil filsafat Barat, sebab filsafat Barat mengajarkan kepada seseorang untuk menundukkan dan menguasai alam (STA dalam Mihardja, 1998: 103). 

Lanjut STA menyatakan bahwa agama Hindu yang datang dari India telah terlampau dalam meresap di kalbu bangsa Indonesia. 

Sedangkan agama Islam yang lain sekali hakikatnya dibandingkan dengan agama Hindu, tidak juga membuang filsafat India yang telah beruratakar di kalangan bangsa Indonesia. 

Hanya satu jalan yang terbuka bagi bangsa Indonesia untuk maju ke depan, yaitu harus lepas dari konsep filsafat India yang menumbuhan jiwa nerimo. Seharusnya bukannya harmoni dengan alam, atau bukannya melebur diri ke dalam jiwa alam yang harus menjadi tujuan. 

Bangsa Indonesia harus mengambil semangat baru; yaitu menguasai alam, berjuang dengan alam. Tujuan itu dapat diwujudkan dengan cara menghidupkan agama Islam yang ilmiah atau dengan mengambil prinsip Barat yang pada hakikatnya bersaudara dengan prinsip Islam (STA dalam Mihardja, 1998 : 110). Pernyataan Sutan Takdir Alisyahbana itu tercantum juga dalam buku Brahmavidya-Teologi Kasih Semesta karya Ketut Donder (2006: 24-25).

Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari pendahuluan di atas adalah bahwa jika belakangan ini ada kelompok orang Indonesia termasuk kelompok orang Bali atau pihak-pihak tidak mengharapkan dirinya atau bangsanya dihubungkan sejarahnya dengan bangsa India, maka hal itu memang sudah diupayakan oleh orang-orang tertentu seperti Sutan Takdir Alisyahbana yang kemudian pandangannya merambat ke beberapa orang bahkan hampir sebagian penulis sejarah Indonesia belakangan ini.

Termasuk banyak orang Hindu yang menganggap dirinya intelektual, bahkan pandita bicaranya sangat sengit jika orang menghubungkan India dan Hindu Bali. Ini sebuah anomaly, sebab Hindu yang datang dari India tidak bermasuk untuk meng-India-kan dunia, tetapi berbagi Sanatana Dharma yaitu ‘Kebenaran Abadi’, yaitu “Kesatuan Umat Manusia” karena Tuhan adalah Ayah dan juga Ibu Alam Semesta beserta isinya. Dewasa ini masusia mengalami krisis kemanusiaan karena hilangnya nilai-nilai “Kesatuan Manusia”. Apakah krisis nilai kemanusiaan harus dilangsungkan atau dihentikan? Jawabannya di hati manusia masing-masing.

Masyarakat Indonesia terlalu jauh melupakan hubungan sejarahnya dengan India atau Bharatavarsa, paling tidak sejak tahun 1478 M, ketika Kerajaan Majapahit runtuh, maka saat itu secara sengaja bangsa Indonesia harus melupakan hubungan sejarahnya dengan India. 

Sebab sejak itu, warisan peradaban Indonesia yang dibangun oleh nilai-nailai ajaran Hindu yang disesuaikan dengan konsep universalitas ajaran Veda, yaitu konsep deśa (tempat, ruang atauwilayah), kāla (waktu), nimitta (keadaan), konsep universalitas Hindu yang bersumber dari Veda melahirkan keragaman atau kebinekaan (Swami Mukhyananda, 2000: 35). Nilai universal Veda ini oleh para pioneer Hindu di Bali pada masa lampau disadur menjadi konsep desa, kala, patra (artinya silahkan periksa di Kamus Besar Sanskrit-English yang tulis oleh beberapa ahli Sanskerta).

Karena nilai-nilai universal dari bangunan peradaban yang didasari oleh ajaran Veda di Nusantara ini kemudian menghasilkan pandangan pluraslisme atau kebhinenekaan yang akhirnya dijadikan sebagai dasar Negara Pancasila yang memiliki spirit Bhineka Tunggal Ika. Nilai spirit Bhineka Tunggal Ika itu jauh dari “klaim kebenaran” dan juga jauh dari kalim “bangsa pilihan”. 

Demikian fundamental kebajikan universal ditanamkan oleh nilai-nilai ajaran Hindu yang bersumber dari Veda dalam peradaban Nusantara atau Indonesia. Saat ini di era teknologi informasi digital yang luar biasa canggihnya, mampu mengungkap berbagai sejarah yang disembunyikan oleh para penguasa atau pihak hegemonis yang tidak mau sejarah bangsanya sendiri ketahuan lebih rendah. 

Pentingnya Mengetahui Jejak Hubungan India Indonesia yang Sengaja Dilupakan
Untuk mengetahui bagaimana ras Bharata yang kemudian wilayahnya dikenal sebagai Bharatavarsa (saat ini sebagiannya disebut India) merupakan ras bangsa yang pernah berkuasa meliputi wilayah yang sangat luas meliputi seluruh Benua Asia dan pengaruhnya hampir seluruh dunia. 

Kebenaran akan sejarah tersebut dapat dibaca dalam buku yang cukup tebal berjudul Voice of the Guru Pujyasri Candrasekharendra Saraswati: Hindu Dharma Way of Life ditranslit oleh (Chinnavan, 1995). 

Juga dapat dibaca pada buku yang sangat tebal karya (Londhe, 2008) berjudul A Tribute to the Hinduism – Thoughts and Wisdom spanning continents and time about India and her Culture; buku karya Raje, 2012) berjudul. The Global Story of Hindu Civilization; buku karya (Mukhyananda, (rept. 2000), berjudul Hinduism The Eternal Dharma – An Evolutionary and Historical Perspective; buku karya (Saraswati, Swami Prakashananda (2007) berjudul The True History and the Religion of India – A Concise Encyclopedia of Authentic Hinduism, dan buku karya (Sivananda, Swami, 1997) berjudul  All About Hinduism; dan buku karya (Mihardja, Achdiat, 1998) berjudul . Polemik Kebudayaan – Pokok Pikiran Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Dr. Purba-tjaraka, Dr. Sutomo, Tjindrabumi, Adinegoro, Dr. M. Amir, dan Ki Hajar Dewantara, dan sebagainya.

Masih banyak lagi sumber lainnya yang menyimpan dokumen sejarah Hindu masa yang sangat silam tetapi sengaja tidak boleh dipublikasikan karena itu ilmu pengetahuan dari Hindu (Timur). Sebagaimana satu temuan oleh Dr. Jagadhis Chandra Bose alhi Fisika dan Biologi, Botani dan Arkeologi. Ia mengalami diskriminasi pada era penjajahan Inggris, dan kemudian pada ulang tahun ke-100 setelah kematiannya para ilmuwan Rusia memberikan penghargaan atas temuannya di bidang radio dan tumbuhan. 

Begitulah cara-cara Barat menenggelamkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Timur, tujuannya agar tidak ada ilmu pengetahuan dan kebudayaan lebih tinggi dari Barat. Walaupun Barat banyak merampok ilmu pengetahuan dan kebudayaan dari Hindu, terlalu banyak ilmu pengetahuan dan kebudayaan Hindu yang dirampok oleh bangsa Barat yang colonial itu.  

Swami Candrasekharendra (dalam Chinnavan, 1995) menyatakan bahwa pada zaman dahulu kala, pada masa yang sangat silam, dunia ini seluruhnya telah diliputi oleh peradaban Veda. Untuk membuktikan hal itu, maka galilah tanah di manapun di pelosok dunia, akan ditemukan jejak-jejak peninggalan Veda. 

Berbagai belahan dunia Barat akhir-akhir ini, ketika melakukan penggalian tanah untuk suatu bangunan, pada galain beberapa meter ditemukan pantung Dewa Ganesha besar dan tingginya mencapai lebih dari tiga meter. Pertanyaannya siapa yang membawa patung Ganesha sebesar itu? Kapan dibawa kesana? Swami Candrasekharenda juga menyatakan bahwa ceritera-cerita Purana memiliki banyak kesamaan dengan ceriter-ceritera di berbagai negara.

Kebudayaan Suku Maya di Amerika sangat mirip dengan kebudayaan India. Swami Candrasekharendra juga menyatakan bahwa ada kebiasaan suku Amborigin Australia yang menari di dalam hutan dan menggunakan tilaka atau tanda di antara kedua keningnya. Tariannya mirip dengan tarian Sivanataraja atau Tandava.     

Beberapa sejarawan berusaha untuk menjelaskan bukti yang menunjukkan kewajaran di seluruh dunia tentang agama Hindu di masa lalu pada pertukaran gagasan budaya dan agama antara India dan negara-negara lain melalui perjalanan.

Saya sendiri percaya bahwa ada satu agama umum atau dharma menyeluruh dan bahwa lambang dan tanda yang kita temukan hari ini adalah ciptaan penduduk asli negeri terkait. Pandangan yang dikemukakan oleh beberapa mahasiswa sejarah tentang penemuan sisa-sisa agama Hindu di negara-negara lain. Hal ini berkenaan dengan apa yang dipertimbangkan sebagai periode historis dari masa lampau yang terjadi sekitar dua atau tiga ribu tahun, yaitu orang-orang India pergi ke berbagai negeri.

Kemudian terjadi pertukaran peradaban India dengan peradaban asli di berbagai negeri yang didatangi itu, sehingga terjadi pembumian budaya Hindu di tempat tersebut. Akhirnya, orang-orang India memasukkan kultur mereka kepada penduduk asli, sehingga budaya India terserap pada mereka. 

Faktanya, terkait dengan hal itu adalah ditemukannya di banyak negara bukti-bukti yang berhubungan dengan Veda dengan berbagai negeri yang diperkirakan terjadi sekitar 4.000 tahun yang lalu atau lebih. Hal itu terjadi pada awal peradaban itu sendiri, aspek-aspek Veda dharma hidup pada saat itu di negeri Bharatavarsa ini (Chandarasekharendra Saraswati dalam Chinnavan, 2008: 33).

Menurut para ahli antropologi, agama dalam bentuknya yang asli hanya ada di arca seperti di dalam hutan Afrika. Tetapi keyakinan zaman kuno ini berisi unsur-unsur ajaran Veda. Di antara daerah yang mengembangkan kontak seperti itu, Asia Tenggara adalah yang paling utama. 

Pulau seperti Bali di kepulauan Indonesia adalah Hindu secara keseluruhan. Orang-orang dari Siam (Thailand), Indochina dan Philipina tergolong dibawah pengaruh budaya Hindu. Srivijaya adalah sebuah kerajaan besar di Asia Tenggara (di sini Paramaguru dengan singkat menyentuhkan langkah-langkah yang mewakili kemunculan berbagai agama.) Pada zaman permulaannya atau tahap pertama, agama Veda adalah umum ada di mana-mana: bagaikan keinginan semesta atau kehendak zaman. 

Pada tahap kedua agama baru yang berbeda dengan Veda muncul di berbagai bagian-bagian dunia. Dalam tahap ketiga agama baru ini hancur dan tempat mereka diambil oleh Buddha, Kristen, atau Islam. Di dalam tahap berikutnya peradaban Hindu menjadi suatu kekuatan hidup di luar India terutama di Asia Tenggara. Ini adalah periode selama kuil besar yang mana mengingatkan kita pada munculnya Tamil Nadu dengan menyebarnya agama dan budaya Veda: Angkor-Vat di Kamboja; Borobudur di Pulau Java, Indonesia; Prambanan, juga di Pulau Java. Sekarang Tiruppaavai dan Tiruvembaavai kita membuat jalan mereka ke Thailand (Chandarasekharendra  Saraswati dalam Chinnavan, 2008: 36).

Para pemenang dari negara-negara lain senang sekali membakar perpustakaan, dan merebut negeri yang dikenal maju budayanya, seperti India. Mereka melakukan kekejaman tanpa bercermin pada fakta bahwa pengetahuan adalah untuk semua bangsa manusia, bahkan pengetahuan itu diinginkan oleh musuh. Banyak bangsa asing menyebabkan kesedihan yang mendalam terhadap orang-orang pandai dengan cara membinasakan buku-buku mereka.

Sebagai salah satu contoh sepanjang penyerbuan Muslim pada abad ke 15-16 menyerbu, membakar perpustakaan Alexandria di Mesir (berisi buku-buku yang telah dikumpulkan pada waktu Alexander) dan buku-buku perpustakaan di Constantinople (Istanbul) yang telah dibangun berabad-abad oleh orang Yunani dan Romawi.

Suatu ketika Samgam tua ditenggelamkan lautan– itu adalah suatu kejadian alami. Dalam keterbelakangan budaya mereka, orang asing memaksa membinasakan perpustakaan dari negeri yang mereka serbu.

Sarasvati Mahal Tanjavur suatu ketika di bawah ancaman kekuatan Muslim yang telah menyebar di mana-mana di India Selatan dan Nawab dari Carnatic. Bagi penyerbu Muslim, membakar perpustakaan Sarasvati Mahal sampai habis adalah setara dengan mem-binasakan kuil  Tanjavur yang agung.

Pada waktu itu ada seorang Brahmin Maharastrian bernama Dabir Pant seorang menteri Raja Maratha (Maratha penguasa pengikut keluarga Sivaji). Suatu gagasan ada padanya tepat pada waktunya untuk menyelamatkan perpustakaan tersebut. Ia berkata kepada para perusak: “Perpustakaan ini tentu saja menyimpan buku-buku Hindu, tetapi perlu juga kalian ketahui bahwa perpustakaan ini juga mempunyai banyak salinan Qur’àn.” Mendengar kata-kata itu penyerbu yang Muslim itu, berkata “Apa? Qur’àn juga?” Kemudian para Muslim penyerbu itu berteriak. 

“Kami tidak akan membakar perpus-takaan di tempat ini,” kata mereka sambil meninggalkan tempat itu.
Kemudian orang Inggris, Perancis dan orang yang lain datang ke India. 

Mereka haus dengan pengetahuan, kemudian melakukan penelitian dan tertarik untuk belajar bahkan dari sumber literatur asing. Orang Jerman juga datang ke negeri India dan mencari rontal untuk dibawa ke negerinya. Kita harus berterima kasih kepada sebagian orang asing ini, melalui usahanya sejumlah sastra India ditemukan kembali. Sebagai contoh, Mackenzie mentri pertanahan India. Ia dari satu tempat ke tempat lain mengumpulkan rontal. Itu dilakukan ketika tidak ada departemen khusus yang berhubungan dengannya, tetapi Mackenzie dengan bantuan tenaga ahli bertindak untuk merawatnya. 

Orang-orang Mackenzie datang bahkan ke Matha kita di Kumbhakonam untuk mengumpulkan informasi. Dipercaya bahwa orang Barat membawa sebagian dari naskah ilmu pengetahuan India dari Sarasvati Mahal, terutama yang memuat seni peperangan. 

Dinyatakan lebih lanjut bahwa Hitler membuat beberapa bentuk pesawat terbang dan senjata atas dasar pengetahuan yang terdapat dalam teks ini. Ada rontal yang masih tersimpan di sini seperti Samaranggana Bhojaraja Sutra. Dari sini kita belajar bahwa kita mempunyai tidak hanya  sastra untuk diterapkan dengan mantra, tetapi juga sastra itu adalah produk ilmu pengetahuan. 

Seperti Brhatsamhita Varahamihira yang menyatukan berbagai macam disiplin ilmu. Sebagian dari rontal kuno kita berisi teks yang tidak hanya berisi sistem religius, tetapi juga berbagai ilmu pengetahuan dan seni. Juga Puràóa. Tetapi, India sudah banyak kehilangan Sthala Purana. Kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk merawat yang tersisa dan, pada waktu yang sama, melanjutkan pencarian naskah lebih lanjut.

Purana memberi kita petunjuk, dalam wujud cerita yang memikat, pada kebenaran Paramaatman yang dinyatakan oleh Veda, dharma, moral dan kode etik. 

Ajaran mereka tanamkan hingga menyentuh hati kita. Pelajaran dari Purana, cerita dari manusia mulia dan perempuan mulia terkandung di dalamnya. Purana menjadi sumber inspirasi untuk orang-orang kita dari dahulu kala. Kita jangan lagi bersikap masa bodoh kepadanya dan harus melakukan suatu usaha untuk merawatnya sebagai harta karun. Mari kita melakukan suatu studi perbandingan dari literatur purana dan mempunyai suatu pandangan yang terintegrasi. Ini akan bermanfaat bagi kita sendiri dan bagi semua umat manusia (Chandarasekharendra  Saraswati dalam Chinnavan, 2008: 525-256).

Bukti-bukti Penghancuran India sebagai Tanah Leluhur Hindu 
Tentang penghancuran peradaban Veda di India dapat dibaca pada buku yang ditulis bersama Londhe dkk (2024). Ada seorang bernama Rizwan Salim, ia seorang reviewer untuk New York Tribune, wartawan di Capitol Hill (Gedung DPR AS), Engineering Times, asistan editor American Sentinel, diterbitkan di Hindustan Times. Ia dengan bijaksana merenungkan bahwa: “Dengan realitas bahwa Hindustan sebagai peradaban kuno yang hidup terlama dan orang-orang Hindu untuk keuntungan mereka memiliki begitu banyak pencapaian dan prestasi-prestasi menakjubkan di bidang arsitektur dan lukisan, musik dan tarian, puisi dan drama, epik dan sistem naratif, intelektual dan doktrin-doktrin filosofis, kedokteran dan disiplin badan-pikiran (mind-body), orang-orang Hindu dari tiap klas dewasa ini mestinya telah memiliki kebanggaan kultural, dibangun dengan baik dan berpengetahuan luas, dan mendalam, yang disadari sepenuhnya.” 

“Tetapi salah satu tragedi pokok India zaman ini adalah bahwa mayoritas dari bahkan orang-orang Hindu yang terdidik dan makmur tidak miliki suatu kedalaman dan pengetahuan luas tentang budaya mereka dan tidak memberi bukti tentang satu kebanggaan budaya yang dirasakan dengan sungguh-sungguh.” “Kekurangan pengetahuan budaya mendalam dan kebanggaan budaya sungguh-sungguh, kaum intelektual India Bicara Tentang Kemuliaan Hindu menghargai gagasan-gagasan dan ideologi-ideologi modern dari Eropa dan Amerika seperti tak perlu dipertanyakan lebih tinggi daripada budaya dan kebijaksanaan India yang telah ribuan tahun usianya.” 

“Tidak banyak sarjana dengan kemampuan tinggi dan reputasi internasional di India dewasa ini yang menerangi budaya Hindu dan prestasi-prestasi besar Hindu di masa lampau. Adalah kebenaran yang mempermalukan bahwa Indologis terbaik ditemukan di Belanda dan Swedia, Jerman dan Prancis, Jepang dan Italia – tidak di Delhi dan Ujjain, Varanasi dan Puri, Madurai dan Mysore.”“Jelas sekali bahwa ketika penyerbu-penyerbu Muslim menyerang India (abad 8 - 11), India adalah daerah paling kaya di bumi dengan batu-batu mulia, emas dan perak; agama dan kultur; seni rupa dan sastranya. India abad kesepuluh juga sangat maju dibanding negeri-negeri sezaman di Timur dan Barat untuk prestasi-prestasinya di dunia filsafat dan teori ilmiah, matematika dan pengetahuan tentang ilmu alam. Orang-orang Hindu dari awal periode pertengahan tak perlu dipertanyakan lagi lebih superior di dalam banyak hal dibanding China, Persia (termasuk Sassanians), Roma dan Byzantines dari abad-abad sebelumnya yang dekat. Para pengikut Siva dan Vishnu di anak benua ini telah menciptakan bagi diri mereka suatu masyarakat yang secara mental lebih berkembang - makmur dan bahagia – dibanding yang telah dialami oleh orang Yahudi, orang Kristen, dan Muslim, para monotheis dari zaman itu.

“India abad pertengahan, sampai penyerbu-penyerbu Islam menghancurkannya, adalah budaya sejarah yang paling imajinatif secara mewah dan salah satu dari lima peradaban paling maju di segala zaman.” Penulis ‘Para keturunan penyerbu ini yang membangun kuil hebat di Bhojpur dan Thanjavur, Konark dan Kailas, menemukan matematika dan bedah perkotaan (urban surgery), menciptakan disiplin pikiran-badan (yoga) dengan kekuatan yang mengagumkan, dan membangun kerajaankerajaan perkasa yang bisa dipastikan telah mencapai keunggulan teknologi lebih tinggi dari Eropa.” Dalam tulisannya yang diterbitkan di “Hindustan Times” tahun 2007 dengan judul “What the invaders really did” ia menulis: “Kuil-kuil Kekaisaran Vijayanagar, Maratha, Cholas, Rajasthan, Madhya Pradesh diserang dan dihancurkan berkeping-keping. Untuk membangun kendali atas India dan menghapus sejarah agung umat Hindu, penjajah Islam membangun masjid dan mengubah setiap kuil Hindu menjadi masjid. 

Rizawan Salim sendiri mengutip bahwa “Saya telah melihat batu dan pilar kuil Hindu dimasukkan ke dalam arsitektur beberapa masjid, termasuk Masjid Jama dan Masjid Ahmed Shah di Ahmedabad; masjid di benteng Uparkot Junagadh (Gujarat) dan di Vidisha (dekat Bhopal); Adhai Din Ka Jhonpra tepat di sebelah dargah (tempat suci islam) terkenal di Ajmer - dan “masjid” Bhojshala yang saat ini kontroversial di Dhar (dekat Indore).”Penjajah Islam tidak hanya menghancurkan kuil-kuil, tetapi menghentikan praktik budaya dan agama Hindu. Mereka menghentikan intensifikasi budaya, menghentikan penyebaran kebijaksanaan melalui seni, musik, tradisi dan sastra. 

Mereka merusak kebanggaan budaya umat Hindu, mencegah transmisi pengetahuan kuno dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka menghancurkan naskah Veda, teknik pengobatan ayurvedic, literatur yang dilindungi dari berabad-abad. Mereka menciptakan situasi di mana umat Hindu takut mengikuti budaya mereka sendiri. Umat Hindu sebenarnya Bicara Tentang Kemuliaan Hindu menderita kerusakan fisik. Para penguasa Islam merampas kekayaan luar biasa dari India dan membuat orang-orang Hindu memohon segala sesuatu yang pada gilirannya menghancurkan kemakmuran orang-orang Hindustan. 

Orang dapat melihat ukiran yang luar biasa di Kailas Mandir dari gua Ellora yang membutuhkan hampir 200 tahun kerja keras. Kuil yang dibangun oleh raja-raja Rashtrakuta memberikan bukti semangat keagamaan Hindu kuno. Tidak banyak orang yang tahu bahwa keturunan orang-orang yang membangun Bhojpur dan Thanjavur, Konark dan Kailas, adalah orang-orang yang menemukan matematika dan pembedahan otak, menciptakan disiplin tubuh pikiran (yoga) dengan kekuatan yang menakjubkan, dan membangun kerajaan yang kuat. 

Bukti-bukti ini memberi tahu kita bahwa orang India kuno sangat maju daripada apa yang kita anggap bahwa orang Eropalah yang maju! Saat ini jika banyak orang berjuang untuk membangun sebuah kuil di Ayodhya, masjid Gyanvapi di Varanasi, dan idgah Mathura itu bukan karena mereka ingin berperang secara politis tetapi perjuangan untuk merebut kembali budaya agung yang dihancurkan seribu tahun yang lalu oleh Islam. 

Serangan terus-menerus terhadap orang-orang Hindu dari setiap penguasa, setiap penjajah asing, dan gelar komunal yang dicap atas orang-orang Hindu oleh para politisi secara bertahap membuat orang-orang Hindu melupakan masa lalu mereka sendiri dan meyakini ide-ide dan praktik-praktik Barat yang materialistis yang hanya membuat mereka lebih lemah dan rentan di dunia nyata. Tetapi tulisan ini beberapa tahun lalu dihapus oleh redaksi Hindustan Times karena takut serangan kaum sekuler (Londhe dkk, 2024: 40-43).

Penghargaan Para pakar Dunia terhadap Hindu
Sebagaimana sudah disitir di atas, bahwa ada sumber dalam bentuk buku yang mengu-raikan tentang 431 orang tokoh caliber dunia dalam berbagai ilmu pengetahuan; seperti filasafat, sains, seniman, guru, dsb., hanya dikutip sedikit saja, di antaranya, J. Donald Walters (Swami Kriyananda, 1926 -) mentakan: “Para Maharesi membuat pernyataan-pernyataan yang bersifat demikian semesta sehingga bahkan ilmu fisika modern nampak hanya dapat mengejar mereka dan menyadari setelah setiap terobosan ilmiah, bahwa pengetahuan ini sudah ada jauh sebelum mereka! Bahkan belum seabad yang lalu, Barat masih terhuyung-huyung di bawah dampak dari penemuan para geolog bahwa bumi dibentuk beribu-ribu tahun yang lalu, dan bukan dalam 4004 BCE sebagaimana ditentukan oleh ahli teologia mereka.” (Putra, 2020: 82). “Satu daya tarik khusus mempelajari filsafat India dewasa ini adalah bahwa ia adalah lebih serius dan lebih dalam, dalam arti modern, ilmiah,  dibanding sistim filsafat manapun yang telah dihasilkan Barat. Sedangkan rasionalisme Barat telah pecah di bawah dampak dari penemuan-penemuan ilmiah, pemikiran India (Hindu) dengan gembira menunggang puncak gelombang, dan diangkat lebih tinggi oleh setiap temuan ilmiah baru.” (J. Donald Walters dalam Putra, 2020:84) 

Jeffrey Armstrong: Pendiri satu institut kependidikan disebut Vedic Academy of Science and Arts (VASA, Akademi Ilmu Pengetahuan dan Seni Veda) Ia menyatakan bahwa: “Mahabharata, epos besar Sansekerta dari India kuno, merekam sejarah Bharata (India). Di dalamnya ada Bhagavad-Gita, yang menguraikan kejadian dari lima ribu tahun yang lalu ketika Krishna nampak dan berkata kepada Arjuna di medan perang Kurukshetra, yang melihat kemenangan dari para Pandava atas Kaurava, kemenangan dari kebaikan atas kejahatan. Peristiwa itu menandai permulaan Kali Yuga. 

Maka: bahasa Sansekerta dari Veda merujuk satu zaman sebelumnya waktu itu dan kepada Keberadaan suatu kolam dari pengetahuan yang tetap  hidup selama ribuan tahun. Itulah sebabnya India dan kultur   India adalah ibu dari semua peradaban modern.” (Putra, 2020: 85)

Amstrong lebih lanjut merinci bahwa:“Bahasa Sansekerta adalah bahasa sempurna sehingga NASA, badan ruang angkasa Amerika, memikirkan untuk menggunakannya sebagai suatu bahasa program. Aku akan memberi kepada anda perbandingan sehingga anda memahami betapa bahasa Sansekerta adalah sempurna! Bayangkan Bill Gates keluar dengan suatu versi Windows yang sangat baik sehingga ia tidak perlu diupgrade selama 2,500 tahun! Ia akan menciptakan suatu monopoli. Bahasa Sansekerta mempunyai monopoli atas bahasa-bahasa, karena bahasa Sansekerta adalah suatu bahasa yang sempurna. Ia tidak memerlukan perbaikan lagi.” Armstrong adalah seorang pembicara internasional karismatik, penulis dan tamu ahli di TV dan pembicara radio. Ia adalah seorang sarjana dari ajaran-ajaran termasuk Vedanta, Raja Yoga, Tantra, Mantra, dan Seni Militer. (Putra, 2020: 86) 

Amstrong telah mempraktekkan Astrologi Ayurvedic selama 25 tahun. Ia meramalkan lebih dari 20 tahun yang lalu bahwa pembaharu-penemu dan insinyur-insinyur India akan membanjiri lembah Silikon. Tidak seorang pun mempercayai dia. Dewasa ini, ramalannya menjadi kenyataan berlipatganda. Ramalan berikutnya sama-sama menarik: “India akan menjadi Negara adikuasa dalam 20 tahun ke depan. Orangorang lndia akan menyebarkan kultur dan warisan mereka secara efektif di Barat.” Pembicara motivasional, yang meninggalkan Pekerjaan perseroannya tujuh tahun yang lalu untuk Menyuburkan menyebarnya Hindu Dharma dan Veda di Barat, Kelihatan seperti tipikal seorang Amerika hingga Amstrong membuka mulutnya yang mengungkapkan dirinya adalah seorang Hindu sejati (Putra, 2020: 86). 

Michel Danino dilahirkan tahun 1956 di Honfleur (Prancis) dalam suatu keluarga Yahudi yang pindah dari Moroko. Sejak usia lima belas tahun Michel Danino tertarik pada India, beberapa dari yoginya yang besar, dan terutama kepada Sri Aurobindo dan Bunda dan pandangan mereka tentang evolusi yang memberikan suatu arti yang baru kepada keberadaan kita di bumi ini. Ia menetap di Tamil Nadu selama 25 tahun dan telah memberi banyak ceramah atau kuliah di India. Ia menulis beberapa buku, yaitu: The Invasion That Never Was (Invasi yang tidak pernah terjadi, 1996), The Indian Mind Then and Now and Kali Yuga or The Age of Confusion (Pikiran India di Masa lalu dan Kini dan Kaliyuga atau Abad Kebingungan) dan Indian Culture Obsolete? (Apakah Budaya India Usang? 2002). 

Ia juga convener (yang menyelenggarakan rapat) dari Forum Internasional untuk Warisan India (International Forum for India’s Heritage). Ia berbicara tentang budaya India: “Yang disebut “Gerakan Zaman Baru” kecenderungan “New Age” (Gerakan Zaman Baru) dari 1960an berhutang sebanyak kepada India seperti juga kepada Amerika; sejumlah universitas Barat menawarkan kursus sempurna di berbagai aspek dari peradaban India, dan jika anda ingin menghadiri beberapa simposiun utama mengenai budaya India atau sejarah kuno India, anda mungkin harus pergi ke AS; beberapa ahli ilmu fisika tidak malu menunjukkan parallel antara mekanika kwantum dan ilmu yoga; ahli ilmu lingkungan hidup meminta suatu pengakuan dari hubungan kita yang lebih dalam dengan Alam seperti kita temukan di dalam pandangan dunia atau falsafat India; beberapa psikolog ingin belajar dari kedalaman pengertian orang India ke dalam hakikat manusia; hatha yoga telah menjadi sangat populer.” (Danino dalam Putra, 123-124).
 
Stephen Knapp (Sri Nandanandana Dasa) adalah seorang Amerika penulis dari beberapa buku termasuk The Secret Teachings of the Vedas: The Eastern Answers to the Mysteries of Life (Ajaran-Ajaran Rahasia Veda: Jawaban Timur Kepada Misteri Kehidupan, 1993) dan Proof of VedicCulture’s Global Existence (Bukti Keberadaan Global dari Budaya Weda, 2000). Ia mengatakan mengenai kebebasan total di dalam Agama Hindu sebagai berikut: “Salah satu hal unik mengenai filsafat Veda adalah di dalam banyak teks yang dikandungnya, ia berhubungan dengan semua variasi sudut pandang, dari ateisme impersonalistik, materialisme tegas, kepada cinta kasih bhakti kepada Tuhan. Dan anda mempunyai ruang untuk menemukan dan mewujudkan pengetahuan sesuai tingkat kemampuan anda sendiri, apakah itu dalam hitungan bulan, tahun, atau bahkan beberapa masa hidup. Dengan kata lain, anda boleh pada mula-nya seorang pengikut impersonalis (nirguna) dan percaya Yang Tertinggi hanyalah suatu kekuatan besar tidak berbentuk. Atau anda bisa percaya bahwa Tuhan adalah satu peribadi (saguna) (Knapp dalam Putra, 125-126).

Knapp mengkontraskan Agama-agama Veda dengan iman agama-agama Rumpun Yahudi demikian: “Dalam kenyataannya, sejarah menunjukkan bahwa tiga tradisi Judaisme, Kekristenan, dan Islam sudah, di dalam teologi monoteistik mereka mengembangkan pola-pola dan ciri-ciri dari prasangka, ketiadaan toleransi, kekerasan/kekejaman dan perang melawan semua agama dan budaya yang lain. “Dalam kenyataannya, sejarah dari tiga agama ini mununjukkan bahwa mereka telah menyebar terutama karena ketiadaan toleransi politis atas agama-agama yang lain, semangat militan, dan melalui ketakutan akan penganiayaan, dari pada oleh kemurnian jiwani.  

“Filsafat Veda mengandung teks-teks spiritual paling tua tentang segala agama di dunia, dan konsep-konsepnya yang lebih maju dapat menyulitkan bahkan para sarjana terbesar dari Barat untuk mengukur kedalamannya.” Veda bukanlah baru bagi dunia Barat. Ada pencari-pencari, penulis, penyair, ahli filsafat, dan orang-orang dari semua tingkatan yang telah menghargai kedalaman, inspirasi, dan wawasan dari filsafat Veda selama bertahuntahun.” (Knapp dalm Putra, 2022: 127) 

Christian Fabre aka Swami Pranavananda Brahmendra Avadhuta (1942 - ) dilahirkan di Prancis selatan . Ia tumbuh dewasa dalam suatu keluarga dengan ikatan kepada industri pakaian. Ia adalah penulis dari Swami: PDG et Moine Hindou. Ia adalah seorang suci Hindu, yang telah meninggalkan dunia material namun ia juga seorang pengusaha besar yang mempekerjakan ribuan orang. Ia menjadi seorang suci Hindu, atau pertapa Hindu, beberapa tahun yang lalu. Sekarang ia menjalankan satu ashram atau suatu pertapaan untuk orang-orang suci, di Barat Daya Negara Bagian Tamil Nadu, sekitar 400 KMr dari Madras, ibu kota Negara Bagian ini. Ia datang untuk bekerja di India pada tahun 1970an, dan jatuh cinta kepada negeri ini. “Aku sangat tertarik dengan kultur India, agama dan orang-orangnya sehingga aku sama sekali tak Memikirkan untuk kembali kepada Prancis,” katanya. 

Pada waktu itu, rumahnya berseberangan dengan rumah suatu Keluarga Brahmin. Perkenalannya yang pertama kepada Hindu Dharma datang dari tangan mereka. Seorang wanita dari rumah itu memper-kenalkan dia kepada seorang suci Hindu, atau Swami. Dewasa ini, perusahaannya, Fashion Interna-tional, mempunyai 35 pabrik, yang mempekerjakan 60,000 orang (Putra, 2020: 162-163).

Christian Fabre aka Swami Pranavananda Brahmendra Avadhuta. Orang suci Hindu asal Prancis, ia pemiliki Ashram dan juga pabrik pakaian. Pakaian yang mereka buat diekspor ke Eropa dan negara lainnya. Dan ketika bisnisnya berkembang pesat, keyakinan Mr Fabre tumbuh lebih kuat. Ia tidak berhenti mengambil pelajaran dari gurunya, dan terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Gurunya pada akhirnya mengundang dia untuk menjadi sanyasi meninggalkan semua ikatan duniawi seperti keluarga dan uang, dan berfokus pada pencarian pencerahan. 

Mr Fabre sekarang tinggal di ashram seperti seorang pertapa Hindu yang lain di dalam ordonya yang suci. Ia juga memakai jubah kuning jingga (saffron) pertapa Hindu pada rapat-rapat bisnisnya. Bagi Mr Fabre, tidak ada pertentangan kepentingan antara bisnis dan hidupnya sebagai seorang suci Hindu. Industriawan orang suci ini sungguh giat - untuk orang desa yang hidup dekat ashramnya, ia menyediakan air mengalir dan memperbaiki fasilitas-fasilitas kesehatan publik (Londhe, Ed. Putra, 2020: 163).

Keene, Michael (2006), World Religions (Agama-Agama Dunia) , Yogyakarta: Kanisius Hindu isme berkembang sejak ribuan tahun lalu dan merupakan agama paling tua di dunia yang masih hidup sampai sekarang. Ada jutaan dewa-dewi dalam kepercayaan agama Hindu dan semua itu merupakan refleksi dari Brahman, roh paling tinggi. 

Dewa paling populer  adalah Shiva dewa pelebur alam, dan Vishnu dewa Pemelihara alam. Ada ratusan kuil dipersembahkan untuk mereka. Semua orang Hindu memiliki tempat pemujaan dalam rumah masing- masing, tempat melakukan ibadat harian, dan bersama dengan perayaan lainnya membentuk iman mereka. Inti iman mereka berada dalam suatu lingkaran tidak pernah berakhir dari lahir, hidup, mati dan lahir kembali, dan setiap orang  mengalami reinkarnasi dengan tingkat yang ditemukan oleh apa yang yang mereka perbuat dalam kehidupan sebelumnya. Jangan kaulakukan kepada orang hal-hal yang engkau sendiri tidak suka, itulah hukum utama sedangkan hukum yang lain-lain dapat berubah-ubah (Keene, 2006: 9)     

Kesatuan dengan segalanya dalam Hindu Agama (Keene, 2006) Hinduisme adalah agama monotheisme yang pengikut-pengikutnya percaya pada satu Tuhan, yaitu Brahman (Roh yang mutlak) yang tidak dapat dibayangkan dan tidak dapat dimengerti oleh manusia. Ada berjuta-juta gambar yang membuat Brahman bisa dilihat dan dikenal oleh para pemuja-Nya. Tampaknya, yang pasti adalah bahwa di dalam Hinduisme hanya ada satu Tuhan yang dipuja melalui berbagai bentuk dan cara.  Tuhan yang satu itu disebut Brahman.  Brahman adalah Roh Yang Paling Tinggi, di luar jangkauan manusia, tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Brahman dapat dijumpai di seluruh alam semesta, Dia di atas segalanya. Dia adalah asal dari segala ciptaan, Dia adalah hakikat rahasia, hakikat sukacita, dan Sang Sejati. Brahman adalah seluruh dunia yang mengelilingi kita, namun Dia adalah dunia yang juga berada di dalam diri kita. Dunia yang berada di dalam diri kita itu disebut Atman, Jiwa, dan baik Brahman maupun Atman adalah satu (Keene, 2006: 14-15)

Anie Besant (1847-1933)  Pemimpin Teosofi Inggris menyatakan bahwa:“Setelah mempelajari selama 40 tahun lebih tentang agama-agama besar dunia, saya menemukan tidak ada yang begitu sempurna, tidak ada yang  begitu ilmiah, tidak ada yang begitu filosofis, dan tidak ada yang begitu spiritual sebagai agama besar, kecuali Agama Hindu. Semakin Anda mengetahuinya, semakin Anda menyukainya; semakin Anda mencoba memahaminya, maka semakin dalam Anda akan menghargainya”. (Londhe, 2011: 58)

Kejahatan Fisik dan Intelektual Inggris terhadap Hindu
Para penggemar baca buku akan merasa tercengan dan menangis jika membaca buku sangat tebal karya Swami Prakashananda Saraswati (2007) berjudul The True History and the Religion of India – A Concise Encyclopedia of Authentic Hinduism. 

Melalui buku ini akan dikdetahui bagaimana kejahatan penjajah Inggris di India, kejahatannya bukan hanya menjajah untuk menguasai kekayaan, tetapi juga menghancurkan Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu. Melalui program-program orientalisme atas nama studi tentang Timur yang kemudian disebut Indology telah memporak-porandakan ajaran Hindu. Dr. William Jones sebagai Ketua Hakim Agung Kerajaan Inggris di India yang merangkap menjadi Direktur Asiatic Society yang membangun studi Oriental (Timur) yang bertujuan menomorduakan atau merendahkan bangsa Timur melakukan riset-riset Orientalis yang hasilnya dipublikasikan di Barat dan Timur untuk mempublikasikan sisi-sisi negatif bangsa India sebagai tanah kelahiran Hindu. 

Entah baik apalagi buruk, maka India harus lebih rendah dan buruk dari Barat di mata orang Barat. William Jones yang ahli 27 bahasa negara telah menghancurkan sejarah Hindu.

Karya-karya Orientalis Barat sebagaimana dilakukan oleh William Jones itulah yang dibaca oleh sebagian pembaca sejarah Hindu atau sejarah India, sehingga sebagian besar orang termasuk orang Indonesia dan juga umat Hindu Bali pengetahuannya lebih banyak diserap dari karya-karya Orientalis. 

William Jones menghancurkan kisah sejarah dalam Ramayana dan Mahabharata melalui interpretasinya mitologinya. Bukan hanya itu, William Jones banyak memberikan hukuman mati kepada para sarjana India yang pakar dalam Sanskerta tetapi tidak mau memanipulasi terjemanan Sanskerta ke Bahasa Inggris. 

Merasa sangat mengerikan dan menegangkan saat membaca buku The True History and the Religion of India – A Concise Encyclopedia of Authentic Hinduism itu.

Jika India tidak dijajah oleh beberapa bangsa, maka seluruh pengetahuannya entah seperti apa saat ini dan bagaimana orang menilai ajaran Hindu yang disebut sebagai Sanatana Dharma,         
Jika tidak memiliki wawasan yang luas dari berbagai bacaan yang komprehensif, maka orang Hindu sendiri bisa terkecoh bahkan bisa sesat pemikirannya ketika membaca tentang Hindu, apalagi orang non-Hindu pasti negatif pikirannya. 

Bahkan Sutan Takdir Alisyahbana yang pujangga Indonesia yang juga belajar Gurindam 12 dari India mengajak bangsa Indonesia melupakan dan membuang pengaruh India yang Hindu itu. Agama Hindu sebagai agama tertua yang ada di muka bumi dan sebagai ibu agama-agama memang benar-benar menunjukkan sifat ketuaannya, digempur, diserang dan dihancurkan oleh agama-agama yang lebih muda, namun tetap menghargai agama-agama lebih muda tanpa membalas dengan perbuatan yang sama. Hindu sebagai agama tertua atau ibu semua agama yakin, bahwa ketika anak-anak (agama yang belakangan) menderita kehausan karena kekeringan Roh Agamanya, maka mereka akan datang kepangkuan ibu Hindu.         

Berdasarkan uraian singkat di atas yang dirujuk dari sumber-sumber komprehensif, maka tampaknya judul Bharatayatra Perjalan India ke Seluruh Pelosok Dunia dan Membekas Paling Luas Di Nusantara adalah realitas. Hubungan India dan Nusantara dapat dilihat secara nyataan saat ini dalam bentuk ajaran Hindu dan bangunan-bangunan candi. Merupakan suatu sikap yang kekanak-kanakan jika warga bangsa Indonesia tidak mengakui sejarah dan fakta hubungan antara India dan Indonesia. 

Walaupun dapat dimaklumi adanya penyangkalan yang menyatakan tidak ada hubungan sejarah antara India dan Indonesia, sebab memang ada upaya warga bangsa Indonesia bahkan tokoh dengan sengaja mengajak warga bangsa Indonesia untuk melupakan warisan India di Nusantara. (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sertijab, Kabasarnas Launching Buku  "Bekerja dengan Hati"

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif