Oleh Ashwini Guruji Apakah Anda sedang depresi? Apakah karena gaji Anda tidak cukup? Atau karena pasangan dan anak-anak Anda tidak mendengarkan Anda? Atau karena bakat Anda tidak terlihat orang yang lain dan Anda merasa kurang dihargai? Atau karena penampilan fisik Anda yang makin hari makin menurun? Anda tidak sendiri. Jika Anda melihat di sekeliling, Anda akan menemukan bahwa setiap individu terjerat dalam empat kekhawatiran yang sama: kesehatan, keuangan, hubungan, dan/atau status. Dalam dunia fisik, akar dari semua permasalah ini adalah ekspektasi yang tidak terpenuhi. Sementara alasan yang sebenarnya adalah sifat dasar jiwa yang tidak mampu menemukan ketenangan.
Harapan yang tidak terpenuhi perlahan-lahan dapat menyeret seseorang ke dalam depresi. Orang terus berharap dan berusaha memenuhi ekspektasinya, dan saat harapan itu tak kunjung tercapai, tubuh pun menua... rambut memutih, kulit keriput, indera menumpul, hingga suatu hari napas terhenti. Karena harapan-harapan tersebut masih belum terpenuhi, akhirnya ia terlahir kembali untuk mewujudkannya.
Harapan berbanding lurus dengan ego seseorang. Semakin tinggi ego, semakin banyak yang diharapkan dari diri sendiri dan juga dari sesuatu/orang di sekeliling. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, seseorang akan masuk ke dalam depresi. Secara medis, depresi dilihat sebagai ketidakseimbangan hormon tertentu dalam tubuh yang biasanya dipicu oleh faktor psikologis, perubahan terkait usia, dan dalam beberapa kasus karena ketidakstabilan mental. Yoga mengatakan, ini terjadi karena avidya, yaitu kurangnya pengetahuan tentang realitas. Segala sesuatu di dunia fisik ini tidak nyata dan hanya bersifat sementara. Sifat dasar dunia yang terwujud secara fisik adalah kehancuran. Setiap detik, semua yang ada di sekeliling kita senantiasa mengalami kehancuran. Sebenarnya, hal yang membuat kita depresi itu tidak nyata.
Fakta menarik dari ekspektasi adalah ia tidak ada batasnya. Raja Yayati menikmati masa muda dan segala kesenangannya selama seribu tahun, namun hasrat serta harapannya masih belum terpenuhi. Dia menyadari tidak mungkin mereka dapat dipenuhi dengan kesenangan lebih lanjut. Oleh karena itu, ia mengembalikan masa muda tersebut kepada putranya, lalu pergi mencari sesuatu yang permanen, nyata, dan tidak akan mengecewakan, karena hanya itulah kunci menuju kebahagiaan sejati. Dan kenyataan itu, hanya dapat ditunjukkan oleh seorang Guru kepada Anda melalui pengalaman yang Anda dambakan, sekaligus secara bertahap mengubah keinginan-keinginan tersebut, dan di saat yang sama menurunkan ego, sehingga ekspektasi pun perlahan menghilang.
Ekspektasi tidak akan pernah bisa terpenuhi. Semakin banyak yang Anda miliki, semakin banyak pula yang Anda harapkan. Dan ironisnya, apa pun yang Anda miliki di dunia fisik—entah itu kesehatan, kekayaan, hubungan, atau kekuasaan—suatu hari nanti juga akan meninggalkan Anda. Ketika hal itu pergi, kekecewaan yang dirasakan akan sebanding dengan kebahagiaan yang pernah dibawanya. Semua ini terjadi karena avidya. Sebagai contoh, saya mengenal seorang pria yang memiliki istri yang sangat penyayang. Istrinya selalu merawat dan membahagiakannya. Di usia enam puluh tahun, ketika sang istri meninggal dunia, suaminya menjadi depresi berat. Pria yang tadinya sehat itu akhirnya meninggal karena serangan jantung dalam waktu sebulan.
Di sini saya merincikan sebuah kriya sederhana yang bila dilakukan dengan kehadiran Guru Anda, seketika dapat meredakan segala jenis depresi, memberikan Anda pengalaman kebahagiaan, dengan bonus tambahan bercahaya instan. Duduklah dalam posisi nyaman dengan tulang punggung tegak. Pejamkan mata Anda dan, dengan penuh penghormatan pada energi Guru, bawa kesadaran Anda ke tengah rongga dada. Sadari adanya teratai merah muda terang di titik ini, dan cahaya merah muda lembut yang memancar darinya dan mengisi seluruh tubuh Anda. Secara bertahap, biarkan cahaya ini meluas hingga mengisi lingkungan terdekat Anda, planet, dan seluruh ciptaan. Sekarang, sadari kehadiran Guru Anda dan terhubunglah dengan beliau dalam cahaya merah muda terang ini. (Jika Anda tidak memiliki Guru, Anda bisa melihat gambar di www.dhyanfoundation.com). Perlahan peganglah tangan Guru tersebut, lepaskan semua kesadaran, biarkan saja. Jangan ada pikiran atau gerakan apapun saat ini. Kapan pun Anda merasa ingin kembali, bukalah mata Anda, dengan lihat terlebih dahulu ke bagian tengah telapak tangan. Tuliskan pengalaman Anda kepada saya.
*) Yogi Ashwini adalah Cahaya Penuntun Dhyan Foundation dan pakar ilmu-ilmu Weda. Bukunya, 'Sanatan Kriya, The Ageless Dimension' adalah tesis tentang anti-penuaan yang telah diakui. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.dhyanfoundation.com