Oleh dr. Ni Putu Sri Indrani Remitha, S.Ked
Hepatitis adalah penyakit yang berkaitan dengan peradangan pada hati, baik yang terjadi secara akut (jangka pendek) maupun kronis (jangka panjang). Hepatitis dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, seperti: infeksi (virus, bakteri, parasit), konsumsi alkohol, lemak yang berlebih, obat-obatan (termasuk obat tradisional), dan penyakit autoimun.
Infeksi dilaporkan menjadi penyebab tertinggi dari kasus hepatitis di masyarakat. Hepatitis virus dapat disebabkan oleh beberapa jenis virus hepatitis, seperti: hepatitis A (HAV), hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), hepatitis D (HDV), dan hepatitis E (HEV). Berkaitan dengan hal tersebut, hepatitis dikelompokkan menjadi 5 jenis, yaitu: A, B, C, D dan E (Feliansyah, 2024).
Gejala hepatitis meliputi demam, nyeri, gangguan pencernaan, muntah, diare, sakit perut, mual (Riyanto, 2021). Gejala lainnya yakni mata dan kulit yang menguning, urin berwarna gelap seperti teh, gangguan pembekuan darah, feses berwarna pucat, kehilangan kesadaran.
Upaya pencegahan hepatitis dapat dilakukan dengan cara ‘VASIH’ yang merupakan singkatan dari :
1. Vaksinasi
2. Skrining
3. Hidup Sehat
Vaksinasi hepatitis adalah upaya memberikan kekebalan tubuh secara inaktif dengan menyuntikkan vaksin yang dibuat dari virus yang telah dimatikan. Vaksin hepatitis dilaporkan aman dan belum ada laporan tentang efek samping yang berbahaya dari vaksin. Keluhan efek samping hanya berupa nyeri yang berlokasi di tempat suntikan.
Skrining diperlukan dengan tujuan untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis atau antibodi dalam tubuh seseorang. Skrining sebaiknya dilakukan pada ibu hamil trimester pertama, bayi yang lahir dari ibu yang positif hepatitis B, dan seseorang dewasa dengan usia di atas 18 tahun setidaknya menjalani tes hepatitis B sekali seumur hidup.
Hidup sehat dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencuci tangan, penyediaan air bersih, serta mencegah penularan dari penyakit hepatitis. Maka dari itu, penting untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi pada penularan penyakit ini. Hepatitis A dapat menular melalui makanan yang terkontaminasi dari lingkungan, serta melalui tinja dan mulut (anus/mulut). Hepatitis B menular melalui cairan tubuh meliputi darah, vagina, air liur, dan alat kelamin (Annisa, 2019).
Hepatitis C menular melalui darah, contohnya transfusi darah, dan dapat berkembang menjadi kondisi kronis (jangka panjang). Penyakit hepatitis D hanya terjadi pada pasien yang menderita penyakit hepatitis B, namun dapat menunjukkan gejala yang lebih parah. Hepatitis E menular melalui minuman dan makanan yang terkontaminasi feses (Feliansyah, 2024). (*)