Oleh Dian Dewi Reich
Di jantung Kota Denpasar berdiri Rumah Berdaya, sebuah pusat rehabilitasi bagi penyintas skizofrenia. Di sini, pendidikan keterampilan hidup dilakukan secara bertahap untuk memberdayakan para peserta agar dapat lebih mandiri, terintegrasi secara sosial, dan produktif — baik dalam kehidupan sehari-hari maupun melalui karya kreatif.
Dalam ruang ini, Bali Five — sebuah kolektif seniman yang didukung oleh Chataka Foundation — menemukan titik temu. Dikenal dengan komitmennya terhadap isu-isu kemanusiaan, kondisi sosial, dan kesadaran lingkungan, Bali Five kerap menciptakan apa yang mereka sebut sebagai “anomali kolaboratif”, di mana proses kreatif itu sendiri menjadi jembatan filantropis. Proyek-proyek mereka tidak terbatas pada ruang galeri, melainkan lahir secara spontan melalui hubungan manusia, seringkali dengan hasil yang mengejutkan sekaligus penuh makna.
Konsep Kebahagiaan
Di inti kolaborasi ini terdapat satu gagasan penting: kebahagiaan. Bagi Bali Five, kebahagiaan lebih dari sekadar sukacita; ia adalah ketahanan hidup, kesejahteraan, dan shanti — kedamaian, rasa aman, dan kepuasan batin.
“Dalam filsafat Bali, Moksartham Jagadhita berarti tujuan utama hidup manusia adalah bersatu dengan Tuhan, untuk mencapai kebahagiaan sejati. Saat kita merasa dekat dengan Tuhan, beban hidup menjadi lebih ringan, dan kita bisa berserah sepenuhnya. Seni membantu kita bergerak menuju rasa damai itu,” ujar Loka Suara, Pendiri Bali Five.
Dengan demikian, seni tidak hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga jalan untuk melupakan kesedihan, menemukan kembali kebahagiaan, dan mengingatkan kita akan keterhubungan mendasar dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta.
Visi yang Dibagi Bersama
Prinsip Bali Five — membangun harmoni dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta — secara alami sejalan dengan misi Rumah Berdaya. Filsafat ini dilambangkan dengan Tapak Dara, yang merepresentasikan dimensi vertikal (hubungan spiritual dengan Tuhan) dan dimensi horizontal (hubungan sosial dengan sesama dan lingkungan).
Keselarasan ini juga tercermin dalam berdirinya Chataka Foundation, yang mendukung Bali Five dan menekankan pentingnya menyeimbangkan aspek sosial dan ekonomi dalam proses pemulihan. Bersama-sama, nilai-nilai ini menciptakan landasan di mana seni dapat berkembang sebagai terapi, pengembangan diri, sekaligus sumber inspirasi yang lebih dalam.
Pertemuan Awal
Kolaborasi ini dimulai dari sebuah undangan sederhana. Gus Moyo dari Rumah Berdaya mengajak Loka Suaraberkunjung, di mana kegiatan melukis telah dimulai melalui Ketemu Project. Dari pertemuan itu, percakapan dan kolaborasi berkembang secara alami.
“Awalnya saya tidak tahu banyak tentang skizofrenia,” kenang salah satu seniman. “Saya hanya melihat betapa berbeda kehidupan mereka dengan kehidupan saya. Tetapi setelah berbicara, saya menyadari banyak dari mereka berasal dari latar belakang yang sangat sederhana, tanpa dukungan sosial atau ekonomi yang kuat. Dari situlah tumbuh niat sederhana: berbagi energi positif, menciptakan cara agar komunitas ini bisa lebih bahagia. Itulah tema kami.”
Seni Melampaui Galeri
Berbeda dengan pameran tradisional, karya Bali Five di Rumah Berdaya menjadikan tempat itu sendiri sebagai kanvas penyembuhan.
“Saat saya datang untuk memotret sesi melukis, rasa bahagia dan kebersamaan begitu jelas terasa,” ujar ManButur Suantara dari Chataka Foundation. “Antusiasme mereka unik. Rumah Berdaya bukan hanya fasilitas medis, tetapi juga rumah aman yang bisa menjadi katalisator sesuatu yang lebih besar. Penyembuhan melalui seni bisa terjadi di mana saja, dan di sini seni menjadi sekaligus terapi dan inspirasi.”
Bagi para peserta, nilai karya mereka tidak diukur dari pasar seni atau kolektor. “Hanya dengan karya mereka dipotret saja sudah cukup membawa kebahagiaan. Itulah peran kami — membawa cahaya dan menunjukkan bahwa seni dan hubungan manusia itu sendiri bisa menjadi penyembuhan.” ~ L
Loka Suara
Pameran Ekspresi Kebahagiaan
Tema kebahagiaan lahir dari kesederhanaan niat untuk mengangkat dan menumbuhkan kekuatan ikatan penuh kasih melalui ekspresi kreatif. Namun interaksi ini sama sekali tidak bersifat satu arah. Bagi para seniman Bali Five, kolaborasi dengan mereka yang berjuang menghadapi skizofrenia, serta menyaksikan kebahagiaan mereka, justru menjadi inspirasi. Sukacita tulus mereka dalam kolaborasi ini sungguh menggetarkan hati — mengajarkan kembali semangat syukur yang sesungguhnya.
Kebahagiaan bukan sesuatu yang otomatis hadir; ia bukan sesuatu yang dituntut. Bagi banyak penyandang disabilitas mental, kebahagiaan harus diperjuangkan. Ia adalah hadiah yang seringkali tak terpikirkan setelah pertempuran batin yang begitu berat. Bahkan upaya untuk meraihnya membutuhkan keberanian luar biasa.
Kolaborasi ini mewujud dalam sebuah pameran berjudul Ekspresi Kebahagiaan (Expression of Happiness), yang resmi dibuka pada 27 September oleh Putu Suasta, dengan pembacaan puisi oleh penulis dan jurnalis Angga Wijaya, serta penampilan musik oleh anggota Rumah Berdaya.
Seniman Bali Five yang berpartisipasi antara lain:
● Nyoman Loka Suara ● Gede Sukana
● Agus Kama Loedin ● Ni Wayan Sutariyani ● Dian Dewi Reich
● Made Subrata
Mereka bergabung dengan sejumlah anggota komunitas Rumah Berdaya, menjadikan pameran ini titik temu unik antara seni, penyembuhan, dan kebahagiaan.
Seruan Dukungan
Inisiatif seperti ini tidak bisa berkembang sendiri. Mereka membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah maupun sektor swasta, yang memiliki kekuatan ekonomi untuk memberi kontribusi nyata bagi ranah sosial. Dengan dukungan semacam itu, gerakan seperti ini — di mana seni menjadi sarana penyembuhan — dapat terus membawa manfaat yang lebih luas, bukan hanya bagi penyintas skizofrenia, tetapi juga bagi masyarakat dan dunia seni secara keseluruhan. (*)