Buleleng (Atnews) - Menyemarakan Peringatan HUT Partai NasDem yang tahun ini genap berusia 14 tahun pada tanggal 11 November, DPD Partai Nasdem Buleleng, menggelar "Turnamen Catur NasDem Cup 2025".
Turnamen Catur yang diselenggarakan sehari penuh, berlangsung di kantor DPD Partai NasDem Kabupaten Buleleng di Jalan Kamboja No. 2, Banyuasri, Singaraja, pada hari Sabtu(8/11/2025).
Kejuaraan yang menggunakan sistem Swiss 6 babak ini akhirnya memunculkan I Gede Wahyu Adi Putra, pecatur dari desa Kubutambahan sebagai juara pertama, diikuti Gusti Ngurah Hari Permadi dari desa Banjar sebagai pemenang kedua dan Gede Arya Badra Suta asal desa Bungkulan menempati juara ketiga. Sedangkan Putu Amodini Putri pecatur dari desa Sari Mekar berhasil menyabet gelar sebagai pecatur terbaik puteri.
Ketua DPD partai NasDem Kabupaten Buleleng, Made Jayadi Asmara ditemui Atnews, seusai turnamen mengatakan bahwa turnamen catur ini dipilih dalam menyemarakkan perayaan HUT partai NasDem ke-14 ini, bukan disebabkan karena kejuaraan catur relatif mudah pengorganisasian penyelenggaraannya tetapi karena permainan catur identik sekali dengan pertarungan politik.
"Papan catur seperti arena politik itu sendiri", sambung Jayadi.
"Permainan catur memerlukan strategi dan taktik yang matang, beberapa langkah harus dipertimbangkan dengan terencana hampir sama seperti pertarungan dalam dunia politik yang menuntut analisa mendalam seperti diajarkan oleh Sun Tzu dalam bukunya The Art of War 'kenali dirimu kenali musuhmu 100 pertempuran akan berakhir dengan 100 kemenangan ", tambah Jayadi.
"Dalam catur sering dikenal langkah pengorbanan untuk mendapatkan bidak atau posisi yang lebih baik, pun demikian dalam pertarungan politik diperlukan pengorbanan mulai dari tenaga, pemikiran, materi bahkan harga diri untuk mendapatkan simpati, dukungan dan kemenangan," imbuh Jayadi.
Jayadi menjelaskan bahwa seorang pecatur harus memahami peran setiap bidak mulai dari raja, menteri, sampai pion. Pion meskipun kecil, bergerak per lahan langkah demi langkah memiliki peran tersendiri untuk membantu kemenangan.
"Belajar filosofi dari pion bahwa pion itu ketika sudah di medan laga tidak pernah bergerak mundur bahkan ketika sebuah pion mampu merangsek maju ke jantung pertahanan lawan sampai ke baris terakhir lawan bisa promosi menjadi menteri sebagai penentu kemenangan dalam pertarungan. Identik dengan seorang politisi pendatang baru (new comer) yang diawal kemunculannya dipandang sebelah mata namun pada akhirnya sering kali bisa mengalahkan petahana (incumbent) karena kegigihan dan keuletannya," tandasnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik sepanjang mau bertarung secara gigih dan spartan, "stay hungry, stay foolish", tetap merasa bodoh sehingga senantiasa berusaha mengupgrade diri, mau belajar di manapun dan dari siapapun dan tatkala banyak pihak yang meremehkan bahwa kita tak akan mampu menyelesaikan pertarungan akhirnya kita bisa menyentuh garis finish dan mempersembahkan kemenangan dengan penuh kebanggaan", pungkas Jayadi. (WAN)