Oleh Jro Gde Sudibya
Dari berbagai sumber diperkirakan berlangsung sekitar abad ke tujuh, ketika pelayaran dan juga perdagangan ramai ke Bumi Nusantara, dari Bhartiya (India) menuju ke Bumi Sriwijaya yang kemudian lebih dikenal sebagai Bumi Nusantara.
Kemudian perjalanan Sang Rsi yang menyejarah dan kemudian melegenda. Perjalanan dari Adi Hyang - Tuhan yang Utama- yang kemudian dikenal sebagai Gunung Dieng menuju ke Timur sampai ke Gunung Raung.
Tercerahkan, menyeberang dari Tanah Jawa menuju Bali Dwipa dan kemudian melakukan "Tirtha Yatra"yang menyejarah itu. Mendem "Panca Datu" di sebuah tempat yang kemudian disebut "ring ambal-ambal" Basukuan. "Titik" tertepat dalam memuja Tuhan "ring pucaking Giri Toh Langkir".
Dalam perjalanan "membelah" Tanah Bali menuju Giri Toh Langkir dan menuju ke "Titik Tengah" Pulau Bali -yang kemudian disebut Desa Taro, tempat yang memenuhi persyaratan "mulih ke Sonya Loka", mewariskan ethos kerja sistem kehidupan nan kaya: Sistem Subak yang menggambarkan sistem kehidupan, bagaimana semestinya manusia Bali berelasi dengan alam, mengelolanya secara berkelanjutan, bertanggung-jawab dengan "sesuduk kayun", keyakinan memuja Tuhan "sane melinggih ring Giri Toh Langkir".
Timbul pertanyaan reflektif, kalau di Odhisa India (Bali Jatra) dilakukan perayaan begitu meriah dan gembira terhadap perjalanan Sang Rsi, di sini timbul pertanyaan: bagaimana sistem Subak semestinya dilestarikan lengkap dengan sistem keyakinan Tuhan yang melandasinya?. Pertanyaan yang sangat relevan dalam kondisi Alam Bali yang sedang mengalami darurat lingkungan dan prahara sosial yang datang silih berganti.
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu.