Jadikan Alam, Budaya dan Manusia Bali sebagai Modal Sosial yang Unggul untuk Membangun Kepariwisataan Bali
Admin 2 - atnews
2025-11-24
Bagikan :
Gede Sedana, Rektor, Dwijendra University (its/Atnews)
Oleh Prof Gede Sedana
Langkah Gubernur Bali Wayan Koster yang membatalkan proyek lift kaca di Pantai Kelingking, Nusa Penida, Klungkung merupakan upaya ketegasan dalam menjaga alam dan budaya Bali. Tidak hanya yang di Pantai Kelingking tetapi juga pada Kawasan lainnya yang jelas-jelas melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan. Investasi memang dibutuhkan dalam Pembangunan Bali tetapi wajib untuk mengikuti seluruh prosedur dan memenuhi ketentuan perijinan yang berlaku terutama ketentua-ketentuan yang telah ditetapkan di Bali.
Visi dan misi Gubernur Bali yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru memberikan makna yang luhur yaitu menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sakala-niskala menuju kehidupan krama dan gumi Bali sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah, dan terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.”
Secara budaya Bali, Pembangunan fisik dan non-fisik di Bali harus mengacu pada nilai-nilai yang telah terbentuk dan tumbuh berkembang di Bali, sehingga pembangunan tersebut dapat memperkuat nilai-nilai budaya tersebut dan memberikan manfaat bagi warga masyarakat Bali secara berkelanjutan. Konsep pariwisata budaya Bali mendorong adanya kreatifitas dan inovasi produktif bagi pelaku usaha bersama-sama dengan masyarakat Bali dalam membangun daerahnya sesuai dengan keunikan budaya lokal.
Keunikan budaya Bali sangat mendukung pembangunan pariwisata karena mengandung berbagai kekayaan seni dan tradisi yang bertumbuh, seperti tari, musik, upacara ritual keagamaan, kegiatan spiritual, dan arsitektur tradisional Bali. Selain itu, Bali memiliki nilai-nilai budaya yang dilandasi oleh filosofi Tri Hita Karana yang menekankan pada konsep keseimbangan dan harmoni (parhyangan, pawongan dan palemahan).
Budaya lain yang dimiliki oleh Bali dan tetap tumbuh adalah keunikan desa adat yang berbeda-beda dan pola interaksi warga masyarakatnya yang memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Oleh karena itu, investasi dalam pembangunan kepariwisataan di Bali wajib untuk menjaga kelangsungan nilai-nilai budaya tersebut. Atau dengan kata lain tidak ada mencederai keunikan budaya Bali termasuk alam Bali.
Keunikan alam Bali harus disadari sebagai suatu perpaduan yang harmonis antara keindahan alam secara fisik yang beragam (seperti gunung, perbukitan, danau, sungai dengan air terjunnya, sawah terasering, pantai dengan pasirnya serta deburan ombaknya) dengan kebudayaan lokalnya (yaitu aktivitas sosial dan adat warga, kegiatan ritual keagamaan, seni dan tradisi, dan lain sebagainya) memberikan nuansa yang unik juga sebagai destinasi wisata.
Dengan demikian, pembangunan kepariwisataan di Bali tidak dapat dilepaskan dengan alam Bali beserta isinya, budaya Bali dan manusia Bali yang merupakan satu kesatuan utuh. Pariwisata yang bernuansa budaya Bali agar dimaknai sebagai suatu kegiatan wisata yang memanfaatkan kebudayaan Bali dengan penuh kecintaan serta merawat keberlangsungan alam Bali guna memberikan kemanfaatan bagi manusia Bali. Jadikanlah alam, budaya dan manusia Bali sebagai modal sosial yang unggul untuk membangun kepariwisataan Bali dan memberikan kesejahteraan yang berkelanjutan, yaitu ekosistem alam, sosial-budaya dan kearifan lokal Bali terawat serta terjaga dengan baik dan dinamis.
*) Gede Sedana, Rektor, Dwijendra University, Ketua DPD HKTI Bali