Banner Bawah

Mitologi Mayadanawa, Peringatan Indra dan Renungan bagi Pemimpin

Admin - atnews

2025-12-15
Bagikan :
Dokumentasi dari - Mitologi Mayadanawa, Peringatan Indra dan Renungan bagi Pemimpin
Oleh I Gede Sutarya (ist/Atnews)

Oleh I Gede Sutarya
 
Banjir kembali lagi menerjang Bali pada 14 Desember 2025. Banjir ini terjadi setelah umat Hindu di Bali, merayakan Galungan dan Kuningan, hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Hari kemenangan ini lahir dari mitologi Mayadanawa, raja raksasa jahat yang berkuasa di Bali.

Kejahatannya ini mengundang Dewa Indra turun untuk memeranginya. Kekalahan Mayadanawa ini dirayakan sebagai Hari Raya Galungan dan Kuningan. Perayaan ini tentu saja tidak mengakhiri perang melawan kejahatan. Kejahatan terus ada, dan menusia harus siap memeranginya sebagai Dewa Indra yang hadir setiap hari.

Kejahatan yang terjadi belakangan ini adalah kejahatan lingkungan dan sosial budaya, sehingga menyebabkan masalah-masalah lingkungan dan sosial budaya. Kejahatan lingkungan contohnya menyebabkan bencana alam seperti banjir.

Kejahatan sosial budaya menyebabkan munculnya kemiskinan dan kebodohan. Kejahatan-kejahatan ini menimbulkan bencana lingkungan dan sosial yang berakibat pada penderitaan masyarakat.

Karena itu, penderitaan masyarakat adalah hal-hal nyata yang bisa diamati sebagai hasil dari kejahatan lingkungan dan sosial. Veda-veda mengajarkan Lokasamgraha, yaitu pembangunan kesejahteraan bersama. Hal itu dijelaskan dalam Bhagavad Gita, yang kemudian dijelaskan lagi dalam Kakawin Ramayana sebagai “ksayanikang papa nahan prayojana”, yang artinya melenyapkan penderitaan masyarakat.

Hal ini diterjemahkan dalam kitab-kitab hukum Hindu seperti Manawa Dharmasastra dalam bentuk perlindungan terhadap sungai, hutan, pantai, dan danau. Aturan-aturan ini diterjemahkan dalam bentuk konsep keseharian hidup orang Bali yang disebut Tri Hita Karana. Karena itu, nilai kesejahteraan bersama telah menjadi nilai hidup seluruh umat Hindu.

Nilai-nilai tersebut mulai dilupakan, terutama ketika industri pariwisata mengalami peningkatan di Bali, sebab industri ini memberikan harapan besar bagi kesejahteraan yang lebih baik. Eforia pariwisata ini mulai terlihat pada tahun 1980-1990, dengan munculnya orang-orang Bali yang bergaji besar pada sektor ini. Tahun 1990 – 2000, dampak pariwisata ini mulai kelihatan.

Tahun 2000 -an, ketersesakan ruang mulai kelihatan sehingga memasuki tahun 2025 ini, Bali mengalami banyak masalah seperti lingkungan yang kotor, kriminalitas, dan keterdesakan budaya. Hal itu terjadi karena nilai-nilai luhur yang tertulis tidak dilaksanakan dengan baik.

Ketika hal itu terjadi maka alam memberikan peringatan kepada Bali, sebab telah terjadi banyak pelanggaran nilai. Hujan pada 10 September 2025 dan 14 Desember 2025 merupakan bukti dari peringatan ini, sebab banjir terjadi di mana-mana. Banjir ini telah memakan korban jiwa sebanyak 17 orang pada 10 September 2025 dan tercatat satu wisman pada 14 Desember 2025.

Banjir juga membawa korban arta benda yang tidak terhitung, seperti mobil dan barang-barang lainnya. Hal ini merupakan peringatan kepada para penguasa yang tidak menjalankan nilai-nilai luhur tersebut.

Peringatan-peringatan ini telah tertulis dalam Lontar Rogo Sanghara Bhumi. Lontar ini memberikan peringatan tentang bencana alam yang berhubungan dengan prilaku pemimpin. Lontar ini mengajarkan pemimpin untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakannya jika terjadi berbagai bencana. Apabila tidak, hal ini akan berhubungan dengan peristiwa politik yang akan terjadi berikutnya.

Contoh pada zaman kerajaan, banyak dinasti diceritakan jatuh setelah tanda-tanda munculnya berbagai bencana. Hal ini menunjukkan bahwa bencana merupakan peingatan kepada semua pihak yang berhubungan dengan lingkungan alam dan masyarakat.

Hal-hal ini mengingatkan kita pada mitologi Mayadanawa, sebab di dalamnya ada cerita kehancuran pemimpin yang jahat. Pemimpin yang jahat ini dihancurkan Dewa Indra yang merupakan dewa hujan. Karena itu, dewa hujan sebenarnya telah memberikan peringatan kepada pemimpin sebelum bencana-bencana yang lebih besar terjadi. Peringatan tersebut adalah terjadinya banjir yang menerjang wilayah Bali. Hal ini merupakan tanda-tanda yang telah diberikan Dewa Indra.

Tanda-tanda ini bila diabaikan akan menimbulkan serangan yang lebih besar, sebab bencana kecil diabaikan akan menjadi bencana besar. Bencana ini bisa melebar pada bencana-bencana lainnya seperti bencana sosial. Bencana sosial itu bisa menuju pada perubahan politik.

Kecenderungan bencana ini sesuai dengan tanda-tanda yang diberikan Lontar Rogo Sanghara Bhumi, bahwa bencana berdampak kepada eksistensi pemimpin. Karena itu, tanda-tanda bencana ini akan menimbulkan serangan bencana yang lebih besar bila diabaikan.

Tanda-tanda ini menjadi pelajaran bagi kita untuk menjadikan Mitologi Mayadanawa sebagai pelajaran, sebab di dalamnya ada pelajaran bagi pemimpin. Pemimpin yang baik, harus berlaku seperti Dewa Indra dalam menangani bencana ini. Dewa Indra dalam mengalahkan Mayadana, membangun sumber-sumber air untuk mengaliri sungai-sungai di Bali.

Membangun sumber air artinya menjaga hutan-hutan kita. Setelah itu, Dewa Indra membangun saluran irigasi sehingga air menjadi “amerta” bukan menjadi bencana. Karena itu, pemimpin Bali harus meniru ini dengan mulai menata air sehingga tidak menjadi air mata.

Galungan-Kuningan, masih dalam proses penyempurnaan sampai Buda Kliwon Pahang, sebab menurut kepercayaan para leluhur masih beranjangsana sampai waktu itu. Rentang waktu ini memberikan ruang kepada seluruh orang Bali untuk berdialog dengan dirinya sendiri (leluhur) dan luar diri (alam).

Karena itu, waktu ini harus digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan untuk melakukan perubahan yang besar. Tanpa itu, Bali akan menghadapi bencana yang lebih besar.

*) Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par adalah Guru Besar UHN IGB Sugriwa Denpasar

Baca Artikel Menarik Lainnya : Cok Ace: Bali Perlu Generasi Muda Kreatif

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif