Banner Bawah

Tattwa Jagad; Tawur di Tilem, Penyepian di Penanggal, Menjaga Kosmologi, Menata Kesadaran Umat

Admin 2 - atnews

2026-01-10
Bagikan :
Dokumentasi dari - Tattwa Jagad; Tawur di Tilem, Penyepian di Penanggal, Menjaga Kosmologi, Menata Kesadaran Umat
. I Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H. M.Ag (ist/Atnews)

Oleh Dr. I Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H. M.Ag
 
1. Nyepi sebagai Peristiwa Kosmologis, Bukan Sekadar Kalender Ritual

Nyepi dalam tradisi Hindu Bali merupakan peristiwa kosmologis yang menandai transisi sakral Tahun Saka, sehingga tidak tepat direduksi sebagai penanda tanggal dalam kalender ritual semata. Dalam kerangka ilmu Wariga, waktu (kāla) dipahami sebagai struktur hidup berlapis yang mencakup tithi, sasih, dewasa, wuku, serta relasi kosmik Surya Candra.

Keseluruhan lapisan ini bekerja secara simultan membentuk ritme sakral kehidupan religius. Oleh karena itu, perubahan tegak Nyepi tidak bersifat administratif, melainkan menyentuh fondasi nalar kosmologi Hindu Bali.

Tradisi sastra dan praktik ritual secara konsisten menempatkan Tilem Kesanga sebagai momentum pralina melalui Tawur Kesanga, sementara Penanggal Apisan Sasih Kedasa dipahami sebagai hari Brata Penyepian, awal Suklapaksa, sekaligus wiwitan Tahun Baru Saka. Pola ini lahir dari internalisasi panjang antara sastra, ritus, dan pengalaman religius kolektif lintas generasi, bukan dari kesepakatan sosial sesaat.

2. Problem Teologis Nyepi Jika Ditegakkan pada Tilem Kesanga

Secara teologis dan tattwika, Tilem merupakan puncak dominasi energi bhūta dan kāla. Dalam logika Bhūta Yadnya, Tilem adalah saat energi pralina aktif, ketika bhūta kāla “dibuka” untuk disomya melalui caru dan tawur. Karena itu, Tawur Kesanga secara kosmologis ditempatkan pada Tilem, bukan sebaliknya.

Menjadikan Tilem Kesanga sebagai Nyepi melahirkan kontradiksi serius: Bhūta Yadnya dan Brata Penyepian bertabrakan dalam satu waktu; energi kosmik yang belum distabilkan justru ditinggalkan dalam kondisi hening total; serta Nyepi kehilangan makna utamanya sebagai fase pasca-penyucian, bukan fase pralina itu sendiri. Dalam perspektif tattwa, hening tanpa proses somya lebih dahulu bukan kesucian, melainkan kekosongan yang berisiko bagi keseimbangan sekala niskala.

3. Sejarah Kekeliruan Tafsir Pesamuan Agung II Tahun 1960

Secara historis, Pesamuan Agung II pada 9 Maret 1960 memang pernah menetapkan Nyepi pada Tilem Kesanga dengan merujuk pada lontar Sundarigama. Namun, dari sudut akademik dan metodologi keilmuan, keputusan tersebut bermasalah karena bertumpu pada satu teks tunggal, sementara Sundarigama tergolong sastra relatif muda dan tidak menjadi pedoman utama tawur di pusat tradisi jagat seperti Parahyangan Besakih.

Kekeliruan ini kemudian dikoreksi secara resmi melalui Seminar Kesatuan Tafsir Denpasar pada 13 Januari 1983, yang dihimpun dalam Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir I IX (27 Januari 1983).

Keputusan tersebut mengembalikan Nyepi pada tradisi kuno: Tawur di Tilem Kesanga dan Nyepi di Penanggal Apisan Sasih Kedasa. Dengan demikian, wacana “mengembalikan Nyepi ke Tilem Kesanga” justru berarti menghidupkan kembali tafsir yang telah dikoreksi secara institusional.

4. Kedudukan Negara Kertagama sebagai Babon

Tattwa Negara Dalam konteks tattwa negara dan kosmologi Hindu Nusantara, Negara Kertagama menempati posisi fundamental sebagai babon hubungan agama negara jagat. Sejak 1953, teks ini diakui sebagai rujukan utama penataan ritual skala jagat Bali.

Struktur ritual yang termuat di dalamnya secara tegas menempatkan tawur pada Tilem sebagai fase pralina, serta Brata Penyepian pada Penanggal Apisan sebagai wiwitan Tahun Saka. Karena bekerja pada level tattwa jagat, rujukan ini menutup ruang spekulasi tafsir parsial yang berbasis adat lokal sempit maupun kepentingan sektoral, dan menegaskan kesatuan kosmologi dalam praktik keagamaan Bali.

5. Masalah Filologis: Sundarigama dan Bahaya Kutip-Sepihak

Polemik Nyepi juga menyingkap problem serius dalam pendekatan filologis. Sundarigama bukan satu naskah tunggal, melainkan jaringan teks dengan banyak varian yang tersimpan di Gedong Kirtya, koleksi keluarga Brahmana, arsip daerah seperti Buleleng, Tabanan, dan Karangasem, serta versi digital dengan redaksi yang tidak selalu identik.

Dalam kaidah filologi, teks tidak pernah berdiri sendiri; terjemahan tanpa kolasi naskah merupakan reduksi makna; dan mengutip satu versi untuk mengubah ritus jagat adalah kesalahan akademik serius. Oleh karena itu, kritik terhadap debat yang hanya bertumpu pada kutipan terjemahan sepihak tanpa kemampuan membaca aksara sumber dan tanpa pemetaan varian sangat sah secara ilmiah.

6. Sebagai dosen Wariga dan akademisi, penolakan terhadap wacana Nyepi pada Tilem Kesanga berdiri di atas landasan yang kokoh: konsistensi kosmologi Hindu Bali, keputusan institusional sah tahun 1983, rujukan tattwa Negara Kertagama, tradisi Parahyangan Besakih, pendekatan filologi yang bertanggung jawab, serta suara kawikuan dan otoritas spiritual.

Menggeser Nyepi ke Tilem Kesanga bukan kemajuan, melainkan regresi epistemologis yang berpotensi merusak nalar Wariga, menyalahi tattwa Hindu, serta menimbulkan kegaduhan dan fragmentasi umat. Dalam konteks ini, menjaga tradisi bukan anti-perubahan, melainkan tindakan rasional untuk menjaga keberlanjutan kosmologi Hindu Bali.

8. Kajian Astronomi: Nyepi, Bajeging Surya, dan Ketepatan Kosmik

a. Bajeging Surya sebagai Titik Keseimbangan Alam. Tilem Kesanga berada di sekitar bulan Maret dan berdekatan dengan ekuinoks Maret (±21 Maret), saat Matahari berada di garis khatulistiwa, siang dan malam sama panjang, serta gerak Surya berada pada titik seimbang Utara Selatan. Dalam Wariga Bali, kondisi ini disebut Bajeging Surya. Tidak kebetulan jika Tawur Kesanga ditempatkan pada Tilem Kesanga sebagai fase pralina, dan Nyepi jatuh sehari setelahnya ketika alam memasuki keseimbangan baru.

b. Tilem sebagai Fase Astronomis Gelap Total. Secara astronomis, Tilem adalah saat Bulan berada di antara Matahari dan Bumi sehingga tidak memantulkan cahaya. Ia merupakan simbol pralina kosmik titik nol destruktif yang tepat untuk Bhūta Yadnya, tetapi tidak untuk wiwitan. Menjadikan Tilem sebagai Nyepi berarti menjadikan fase “mati cahaya” sebagai awal kehidupan, bertentangan dengan logika alam.

c. Sistem Surya Candra dalam Kalender Caka Bali. Kalender Caka Bali bersifat Surya Candra: Candra mengatur tithi dan sasih, Surya mengatur keseimbangan tahunan. Dengan sistem pengerepeting sasih, Tilem Kesanga terkunci di bulan Maret dan Nyepi selalu dekat ekuinoks, menjadikannya sistem kalender tradisional yang presisi secara astronomis. Menggeser Nyepi ke Tilem memutus sinkronisasi
Surya Candra yang telah dibangun berabad-abad.

9. Kajian Filosofis: Pralina, Sunya, dan Wiwitan dalam Tattwa Hindu

a. Distingsi Filosofis: Pralina ≠ Wiwitan. Dalam kerangka Tri Kona (utpatti sthiti pralina), Tilem berada pada fase pralina, sedangkan Penanggal Apisan menandai utpatti. Nyepi adalah ambang transisi dari peleburuan menuju kelahiran kembali. Menegakkan Nyepi pada Tilem memaksakan pralina menjadi utpatti dan mengacaukan struktur ontologis siklus kosmik.

b. Sunya dalam Nyepi: Sunya Sadar. Sunya Nyepi adalah śūnya-jñāna, hening penuh kesadaran yang hanya mungkin setelah bhūta kāla disomya dan energi kasar dilebur. Tilem adalah sunya alamiah yang belum disadari; Nyepi adalah sunya spiritual yang disengaja. Menyatukan keduanya berarti reduksi makna filosofis.

c. Nyepi sebagai Etika Kosmik. Nyepi merupakan etika kosmik latihan kolektif untuk menyesuaikan diri dengan ritme alam dan menghormati hukum ṛta. Etika ini sah jika manusia mengikuti siklus kosmos, bukan memaksanya. Memindahkan Nyepi ke Tilem berarti menundukkan kosmos pada tafsir manusia.

10. Sintesis Astronomi Filosofis Sintesis menunjukkan bahwa astronomi menegaskan Tilem sebagai fase gelap dan ekuinoks sebagai titik seimbang; Wariga menempatkan Tawur pada Tilem dan Nyepi pasca-Tilem; sementara filsafat Hindu membedakan tegas antara pralina dan wiwitan. Dengan demikian, Nyepi bukan perayaan kegelapan, melainkan perayaan kesadaran setelah kegelapan.

*) Dr. I Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H. M.Ag
Banner Bawah

Baca Artikel Menarik Lainnya : Mandirikan Ekonomi Daerah, Bangkitkan Semua Inovasi

Terpopuler

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2026

Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2026

Penny, Kita dan Sang Waktu

Penny, Kita dan Sang Waktu

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem