Banner Bawah

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Admin 2 - atnews

2026-01-11
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia
Lingga Dharmananda Siana (ist/Atnews)

Oleh Lingga Dharmananda Siana

Hindu Indonesia bertumbuh dari kearifan lokal yang beragam dan hidup dalam ruang sosial yang majemuk. Fondasi etiknya berpijak pada sanātana dharma sebagai prinsip hidup yang universal, yang tidak dibatasi oleh golongan, bangsa, atau identitas politik. Dalam pemahaman ini, Hindu di Indonesia tidak hadir sebagai sistem kepercayaan yang tertutup, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang menekankan kesadaran diri, tanggung jawab moral, serta relasi harmonis antara manusia, alam, dan semesta.

Kearifan lokal tersebut tidak hanya hidup dalam praktik ritual, tetapi juga terwujud dalam ekspresi peradaban yang matang. Candi Prambanan, misalnya, tidak sekadar berdiri sebagai monumen keagamaan, tetapi sebagai penanda bahwa ajaran Hindu di Indonesia pernah diolah secara kreatif dan mandiri dalam konteks kebudayaan Nusantara.

Pembangunan Prambanan berpedoman pada Kitab Manasara Silpasastra, sebuah rujukan arsitektural yang memuat prinsip dasar pembangunan candi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah lama terhubung dalam jejaring pengetahuan lintas wilayah, sembari tetap menerjemahkannya secara kontekstual melalui material, bentuk, dan estetika lokal.

Relief, tata ruang, dan narasi kosmologis Prambanan memperlihatkan bagaimana prinsip prinsip dalam Shilpa Shastra sebagai ilmu seni dan kerajinan diolah menjadi pedoman ikonografi, proporsi, dan komposisi arsitektur yang khas. Demikian pula prinsip Vastu Shastra yang menekankan keselarasan ruang, lingkungan, dan unsur alam diterapkan secara adaptif sesuai kondisi geografis Nusantara.

Kesamaan metode pengukuran dan prinsip dasar dengan bangunan suci di wilayah lain menunjukkan bahwa hubungan peradaban Hindu lintas kawasan telah terjalin sejak lama. Perbedaannya terletak pada kreativitas lokal, bukan pada ketiadaan dialog. Relasi ini bukan hal baru, hanya sempat terputus oleh waktu, perubahan politik, dan bencana komunikasi sejarah.

Posisi ini menempatkan Hindu Indonesia secara unik dalam percakapan global. Nilai nilai seperti ahimsa, pelayanan tanpa pamrih, penghormatan terhadap pengetahuan, serta prinsip Vasudhaiva Kutumbakam yang memandang dunia sebagai satu keluarga bukan sekadar doktrin normatif, melainkan etika yang telah dijalani dalam konteks masyarakat plural.

Pengalaman hidup sebagai komunitas minoritas dalam negara bangsa yang demokratis menjadikan nilai nilai tersebut bukan hanya ideal, tetapi praktik yang terus diuji dan disempurnakan.

Namun hingga kini, nilai dan pengalaman Hindu Indonesia lebih sering tampil sebagai identitas kultural dan belum sepenuhnya diolah menjadi kekuatan wacana lintas negara. Percakapan internasional tentang spiritualitas, pluralisme, dan etika hidup bersama masih kerap didominasi oleh narasi besar yang tidak selalu merepresentasikan pengalaman hidup umat Hindu di ruang minoritas. Akibatnya, pengalaman Hindu Indonesia yang resilien, adaptif, dan dialogis kerap hadir sebagai latar budaya, bukan sebagai sumber pemikiran.

Di sinilah tantangan sekaligus peluang itu muncul. Ketika pengalaman hidup umat tidak dikelola secara sadar, ia akan terus berputar sebagai cerita internal. Namun ketika pengalaman tersebut diartikulasikan melalui kerja intelektual dan jejaring lintas negara, Hindu Indonesia memiliki peluang untuk berkontribusi nyata pada wacana global tentang perdamaian, keadilan sosial, kesehatan mental, dan keberlanjutan hidup. Kerja ini menuntut orientasi yang jelas, perencanaan yang terukur, serta kesinambungan yang tidak bergantung pada inisiatif personal semata.

Sektor pendidikan menjadi pintu masuk yang paling strategis untuk mengolah kontribusi tersebut. Melalui pertukaran pelajar, kolaborasi riset, pengembangan kurikulum agama dan budaya, serta dialog akademik lintas tradisi, generasi muda Hindu Indonesia memperoleh ruang untuk hadir di tingkat internasional tanpa harus melepaskan akar lokalnya. Pendidikan memungkinkan sanātana dharma dipahami sebagai etika universal yang relevan dengan tantangan zaman, bukan sekadar ajaran yang diwariskan tanpa dialog.

Pada titik ini, diplomasi Hindu Indonesia tidak lagi cukup dipahami sebagai kegiatan budaya yang bersifat seremonial. Ia menuntut kerja pemikiran yang terorganisir, pengelolaan jejaring internasional yang berkelanjutan, serta keberanian generasi muda untuk berbicara sebagai subjek dalam percakapan global. Tanpa kerangka kerja yang jelas, potensi besar ini akan terus tersebar dan sulit dikonsolidasikan secara kolektif.

Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan apakah Hindu Indonesia memiliki modal untuk berkiprah di tingkat internasional, melainkan apakah telah tumbuh kesadaran bersama untuk mengelola modal tersebut secara strategis.

Sanātana dharma mengajarkan tanggung jawab, bukan hanya kesalehan personal. Dan tanggung jawab itu hari ini menuntut kehadiran yang lebih terarah di ruang global melalui kerja hubungan internasional yang berbasis nilai, pengetahuan, dan pengalaman hidup umat.

Ketika kerja ini dijalankan secara serius dan berkelanjutan, Hindu Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai simbol harmoni, tetapi juga sebagai sumber pemikiran dan rujukan etika global. Di situlah Hindu Indonesia menemukan relevansi abadinya, yakni hadir sebagai tradisi hidup yang berdialog, bertumbuh, dan memberi arah di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

*) Lingga Dharmananda Siana, Ketua PD KMHDI Jawa Barat
Banner Bawah

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bali Harus Lebih Serius Tangani Pertanian 

Terpopuler

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Penny, Kita dan Sang Waktu

Penny, Kita dan Sang Waktu

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem