Banner Bawah

Nyepi, Tahun Baru Saka; Kajian Tattwa, Susila dan Acara

Admin 2 - atnews

2026-01-11
Bagikan :
Dokumentasi dari - Nyepi, Tahun Baru Saka; Kajian Tattwa, Susila dan Acara
Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag (ist/Atnews)

Oleh Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag
 
Perayaan Nyepi menjadi perdebatan, karena sekelompok umat mengkritisinya yang jatuh pada awal Tahun Saka. Mereka mengusulkan Nyepi jatuh pada Tilem mengacu pada beberapa lontar diantaranya Sundarigama. Perdebatan ini menyita waktu, sebab penentuan Nyepi awal tahun juga mengacu pada Lontar Jayakusunu.

Perbedaan rujukan lontar dan tafsirnya ini mengundang berbagai perdebatan di media sosial dan media massa. Bagaimanakah seharusnya jatuhnya Nyepi ditinjau dari Tiga Kerangka Agama Hindu yaitu Tattwa, Susila, dan Acara?
 
Tattwa

Secara tattwa, Nyepi adalah tradisi untuk mengosongkan diri dan alam dari berbagai aktivitas manusia. Kekosongan ini berkaitan dengan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru ini berkaitan dengan pembangunan kesadaran baru untuk menuju kehidupan abadi. Kesadaran baru ini tercermin dari Mahamantra Tryambakam, yang menyatakan pembangkitan mata ketiga yaitu kesadaran baru untuk kehidupan baru yang penuh kebahagiaan. Mantra Rig Veda 7.59.12 itu lengkapnya berbunyi seperti ini:
 
oṃ tryàmbakaṃ yajāmahe sugándhiṃ puṣṭi-várdhanam । urvārukám iva bándhanān mṛtyór mukṣīya mā́ 'mṛ́tāt ।।
 
Artinya:
"We sacrifice to Tryambaka the fragrant, increaser of prosperity. Like a cucumber from its stem, might I be freed from death, not from deathlessness." (Jamison, Stephanie; Brereton, Joel, 2014).
 
Mantra ini mengajarkan pembukaan mata ketiga (kesadaran baru) untuk mencapai kehidupan baru yang penuh kebebasan. Kesadaran baru ini lahir dari mata ketiga yaitu mata yang lepas dari keterikatan panca indrya. Mata yang bukan lahir dari Panca Mahabhuta. Karena itu, untuk mencapai mata ketiga ini, manusia harus melepaskan diri dari kungkungan keinginan ini.

Hal itu yang disebut dengan kesadaran baru (Tryambakam) yang akan meningkatkan kemakmuran dan kebebasan. Mantra ini merupakan sumber tattwa dari pemujaan terhadap kelahiran kesadaran baru.

Kesadaran baru ini diharapkan terus meneruskan dilahirkan, sebab manusia perlu terus diingatkan. Mahatma Gandhi menyatakan, setiap hari merupakan kelahiran kesadaran baru. Kelahiran kesadaran baru ini melewati malam hari, sehingga pagi harinya segar membangun kesadaran baru.

Kesadaran baru juga melewati sepanjang tahun, karena itu pada setiap tahun baru harus lahir kesadaran baru. Dengan demikian, mantra kesadaran baru ini juga menginspirasi kehidupan pada Hindu modern dari Mahatma Gandhi (DAN, 2021).

Berdasarkan pemikiran seperti itu, umat Hindu memperingati setiap moment sebagai kesadaran baru. Kesadaran baru ini diperingati dengan melakukan perenungan sehingga menemukan tujuan yang terang melalui penglihatan mata ketiga. Karena itu, peringatan ini dilakukan setelah matinya segala kegelapan pada malam atau tilem, sehingga muncul pagi yang cerah yang merupakan harapan baru.

Harapan baru ini adalah terwujudnya Satyam, Siwam, Sundaram, yaitu kebenaran, kesucian dan keharmonisan yang menjadi tujuan-tujuan dari Upanisad yaitu Moksha. Perwujudan dari penjabaran Moksha dalam kehidupan ini menjadi tujuan dari kesadaran baru yang dimunculkan. Karena itu, Nyepi didasari filsafat Wedanta yang bertumpu pada usaha untuk mencapai Moksha.

Susila

Tattwa ini dijelaskan melalui contoh prilaku dalam Markendya Purana di mana Rsi Markendya bebas dari kematian setelah memeluk Lingga dari Dewa Shiwa. Ceritanya bermula dari Rsi Merkandu yang memohon putra kepada Dewa Shiwa. Sang dewa berkenan dengan usaha Merkandu dan mengetahui keinginan sang resi, lalu ia memberikan dua pilihan: seorang anak yang kurang cerdas dan berperilaku buruk tetapi bermur panjang, atau seorang anak yang cerdas dan berbudi pekerti luhur tetapi berumur pendek.

Merkandu memilih yang kedua, sehingga ia memperoleh putra yang bersifat mulia, dikenal sebagai "Markandeya" yang secara harfiah berarti "putra Merkandu".

Markandeya menguasai Weda dan Dharmasastra sejak usia muda. Dari orang tuanya, ia mengetahui bahwa umurnya tidak akan panjang. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengisi sisa umurnya dengan melaksanakan tapa brata memuja Siwa dalam bentuk arca lingga.

Pada hari kematiannya, para Yamaduta atau utusan Yama sang dewa kematian tidak berhasil mencabut nyawa Markandeya karena tubuhnya diselimuti oleh energi perlindungan dari Siwa. Maka dari itu, Yama sendiri memutuskan untuk mencabut nyawanya.

Melihat Yama datang menjemputnya, Markandeya memeluk lingga Siwa erat-erat. Yama melemparkan jerat kematiannya ke tubuh Markandeya, yang secara tidak langsung juga mengenai lingga Siwa. Tiba-tiba Siwa muncul dengan rupa murka, lalu membunuh Yama untuk menyelamatkan Markandeya. Melihat Yama tewas, para dewa memohon agar Siwa menghidupkannya kembali.

Siwa pun memenuhi permohonan para dewa dan bersamaan dengan itu, kondisi fisik Markandeya akan tetap muda selamanya (Mani, 1975). Purana ini mengisahkan seorang putra yang berjuang untuk membebaskan dirinya dari kematian.

Akhirnya dengan bhakti, beliau bisa melewati kematian (tilem) menuju kepada kehidupan baru yang abadi (moksha). Purana ini memiliki makna bahwa dia yang telah mencapai Moksha, tak akan bisa dijemput oleh kematian, karena dia telah menemukan Tuhannya (Shiwa).

Pada konteks sejarah, perayaan Nyepi ini dikaitkan dengan momen penyatuan suku-suku di India pada zaman Kaniskha pada 78 Masehi. Peristiwa sejarah ini yang menyebabkan Nyepi diperingati sebagai perayaan dari kebangkitan, kerukunan, dan toleransi (Pendit, 2001). Sejarah ini sesuai dengan konteks Nusantara yang merayakan kebangkitan, kerukunan dan toleransi pada era Majapahit, sehingga berdasarkan Nagarakertagama, Majapahit juga merayakan Tahun Baru Saka yang disebut perayaan Bulan Caitra.

Perayaan bulan Caitra ini dilakukan dengan melakukan keramaian 3-4 hari (Erwhintiana, I., & Milal, M. S., 2022), karena itu berbeda dengan Nyepi dari segi pelaksanaan perayaan, tetapi dari segi makna sama merayakan tahun baru Saka.
 
Acara

Berdasarkan tattwa dan susila seperti itu, maka Nyepi jatuh pada pananggal 1 Sasih Kadasa. Hal itu ditetapkan melalui Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu pada 13 Januari 1983. Pada kesatuan tafsir tersebut jelas disebutkan Nyepi adalah perayaan tahun baru Saka. Hal ini berlandaskan purana yang membentuk acara bahwa pemujaan terhadap Shiva akan memberikan kehidupan baru, sebab Shiva akan membantu membuka mata ketiga.

Kehidupan baru ini diperoleh setelah mengalahkan kematian. Kematian tersebut adalah malam atau tilem, sehingga setelah tilem merupakan kehidupan baru yang harus disambut dengan badan dan jiwa yang suci. Karena itu, acara Nyepi pada Suklapaksa 1 Kadasa mendapatkan landasan tattwa dan susila.

Landasan Tattwa dan Susila itu sesuai dengan tulisan-tulisan dalam Lontar Sri Jayakusunu yang berbunyi:
Gagelaran pemayuhaning buana agung miwah alit : ring telenging sasih Kesanga, patut mepare kerti Caru, tawur wastannya, sadulur panyepian awengi (Tilem kesanga ngaturang di perapatan agung).

Benjangné penanggal apisan (1), sasih sasih kedasa, sejana padané patut sinamian regan ngelaksanayang semadi mapukukuh ngeningang adnyane, mengastiti Ida Sang Hyang meraga Sawetur, mateges : Sang Yogia nyewecanang urip langgeng (Aryawangsa, 2025).

Artinya upacara penyucian dunia dilakukan pada Sasih Kasanga, melakukan caru, tawur namanya. Besoknya penanggal 1, sasih kadasa harus melakukan semadi mengheningkan pikiran.

Hal ini sesuai dengan tradisi yang dilakukan di Bali, bahwa upacara caru dilakukan pada Kajeng Kliwon menuju Tilem (Kajeng Kliwon Uwudan) atau pada Tilem, sehingga Tawur Agung dilaksanakan pada Tilem Kasanga dan besoknya pada Pananggal 1 Sasih Kadasa adalah perayaan Nyepi. Penentuan Nyepi ini diterjemahkan melalui perhitungan Pangalantaka dan Panampih Sasih.

Pangalantaka adalah perhitungan untuk menentukan jatuhnya Purnama-Tilem, sedangkan Panampih Sasih adalah perhitungan untuk menentukan jatuhnya bulan-bulan Tahun Saka. Pangalantaka dan Panampih Sasih yang digunakan saat ini menggunakan landasan tradisi upacara di Bali, sehingga ditentukan Pangalantaka Eka Sungsang Ka Pahing dan Panampih Sasih Desta-Sadha.

Pangalantaka Eka Sungsang Ka Pahing dipilih karena jatuhnya pengalihan 1 hari dalam dua tithi) akan jatuh pada setiap selasa (anggara). Anggara adalah hari yang dihindari untuk menentukan dewasa, kecuali untuk bhuta yadnya. Desta dan Sadha dijadikan bulan penampih (dua kali) karena bulan-bulan itu juga dihindari untuk pemilihan dewasa. Karena itu, perhitungan tahun Saka di Bali juga berlandaskan pada tradisi upacara.

Penentuan tahun baru di Bali sesuai dengan jiwa Hindu yang keanekaragaman. Hindu memiliki berbagai perayaan tahun baru yang dianut berbagai tradisi di India. Gagasan tahun baru Hindu itu adalah awal kehidupan baru, makna spiritual sebagai awal penciptaan, musim tertentu, dan identitas kebudayaan.

Gagasan ini menimbulkan berbagai tahun baru pada tradisi Hindu seperati yang berdasarkan solar sistem misalnya Vaisaki di Punjab yang dirayakan 13/14 April, dan yang berdasarkan luni sistem misalnya Chaitra pada Maret/April. Hindu memadukan Luni dan Solar Sistem yang disesuai dengan tradisi Nusantara. Hal itu biasa dalam tradisi Hindu, sebab Hindu menghargai keragaman.
 
Simpulan
Penjelasan tersebut menunjukkan penentuan Nyepi, Tahun Baru Saka telah melalui kajian-kajian mendalam dengan memeriksa semua lontar dengan berbagai versinya, tetapi landasan-landasannya belum disosialisasikan secara baik di tengah-tengah masyarakat, sehingga memberikan ruang bagi perdebatan-perdebatan di tengah masyarakat. Karena itu, parisada harus lebih sering melakukan sosialisasi tentang perayaan-perayaan Hindu pada masyarakat Hindu sehingga memperdalam keyakinan umat Hindu.
 
Disampaikan pada Paruman Sabha Pandita PHDI Pusat di UNHI Denpasar pada 11 Januari 2026

*)Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag, Guru Besar Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar yang juga merupakan praktisi penyusun Kalander Hindu-Bali
Banner Bawah

Baca Artikel Menarik Lainnya : Lusia Ineke: Perjuangkan Perempuan dan Anak demi Masa Depan

Terpopuler

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2026

Selamat Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2026

Penny, Kita dan Sang Waktu

Penny, Kita dan Sang Waktu

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem