Ari Dwipayana Sepakat Tawur Bertepatan Tilem Kesanga dan Nyepi - Penanggal Apisan, Sisi Tattwa, Wariga Saka Bali, Dresta
Admin 2 - atnews
2026-01-11
Bagikan :
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana mengatakan Tawur Kesanga sangat tepat di Tilem Kesanga, Nyepi juga sangat tepat di Penanggal Apisan Sasih Kadasa, sesuai dengan Kajian Tattwa, Wariga dan Dresta.
Hal itu kesimpulan dari 5 Narawakya yang diundang pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat di UNHI Denpasar, Minggu (11/1).
Lima Narawakya itu yakni Prof Dr. Sutarya (Akademisi UHN I GB Sugriwa), Ida Bagus Budayoga (Praktisi Wariga dan Pembuat Kalender), I Made Suatjana (Penekun Wariga Senior), Dr. Dr. I Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H., M.A (Akademisi IAHN Mpu Kuturan Singaraja) dan Drs. Ida Kade Suarioka, M.Si.(Akademisi UNHI Denpasar).
Kelima narasumber menyampaikan paparan yang lengkap dan terang benderang.
Ia pun juga diminta memberikan tanggapan bersama Penglingsir Puri Agung Klungkung Ida Dalem Semaraputra, Kakanwil Kemenag Bali I Gusti Sunartha dan Ida Bagus Wisnu (Unit Lontar FIB UNUD).
"Saya sependapat dengan para narasumber terkait pilihan Tawur pada Tilem Kesanga dan Nyepi pada penanggal apisan baik sisi Tattwa ( filosofis-Kosmologi Hindu), dari kajian wariga Saka Bali dan juga Dresta yang berjalan berabad-abad," imbuhnya.
Wariga Saka Bali bukan semata - mata penanggalan biasa tapi juga memiliki makna magis-religius. Energi negatif kosmis diyakini mulai muncul mulai sasih kanem (bulan enam) sehingga di berbagai wilayah di Bali, pada Tilem Kanem diselenggarakan upacara Nangluk Merana.
Puncaknya adalah pada Tilem sasih Kesanga adalah tilem paling “berat” secara kosmik karena berada pada akhir tahun Saka dan Matahari tepat di garis khatulistiwa (Equinox).
Karena itu, kekuatan energi negatif kosmis/ bhuta diyakini berada pada intensitas tertinggi.
Kerena itu Tawur dilakukan ketika energi negatif kosmis mencapai puncaknya. Tawur adalah ritual penyomia (harmonisasi) kekuatan bhuta kala (energi negative kosmis) menjadi Dewa dan naik ke Sunia. Upaya transformasi dari Tamas menjadi Satwam.
Setelah energi negatif disuniakan maka esok harinya, ada ritual pengendapan kosmik, yaitu penghentian aktivitas jagat dalam bentuk tapa brata (Catur Brata Penyepian).
Tawur berfungsi sebagai pembersihan dan penataan bhuwana agung, sedangkan Nyepi sebagai penyucian dan penyadaran eksistensial bhuwana alit. "Itu jagra winungu untuk para wiku & para wikan," imbuhnya.
Sebelumnya, Ari Dwipayana juga menyampaikan materi saat Seminar Pramanam Eva Paddhatih (Ritual Berdasarkan Ajaran Pustaka Suci) yang diselenggarakan PHDI Bali, Jumat (9/1).
Tawur Kesanga dan Nyepi merupakan satu sistem Kosmologis, Filosofis dan Teologis yang utuh. Tawur Kesanga dilaksanakan pada Tilem Kesanga sebagai puncak penyomia bhuta kala (bhuwana agung), sedangkan Nyepi dilaksanakan pada penanggal apisan sasih Kedasa sebagai awal tahun Caka dan kelahiran kesadaran kosmik baru (bhuwana alit).
Pemisahan atau perubahan penetapan ini tidak hanya bertentangan dengan dresta, tetapi juga dengan struktur tattwa dan wariga Bali. Jadi tidak benar narasi yang diangkat pada saat Paruman Agung SKHDN yang menyatakan bahwa perubahan tegak Nyepi adalah upaya mengembalikan ke tradisi kuno (kuna-dresta).
Dari penelitian yang dilakukan oleh I Ketut Budiasa pada arsip kalender Saka Bali di Gedong Kertya memperjelas bahwa Tawur Kesanga pada saat Tilem Kesanga bukan hasil Keputusan baru di tahun 1981, melainkan sudah ditemui jejaknya pada arsip kalender Saka Bali pada Tahun 1935-1936, Tawur dilakukan saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya. Pada kurun waktu, 1937 - 1945 arsip kalender tidak ditemukan. Tapi, tahun 1945, 1947 dan 1948 Tawur dilakukan saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya.
Kalender 1949 dan 1950 ditemukan tapi keterangan Nyepi tidak ditemukan. Tahun 1951 dan 1955 (kalender tahun di antaranya tidak ditemukan) juga sama, Tawur dilakukan saat Tilem dan Nyepi sehari setelahnya.
Perubahan terjadi dari tahun 1960 dan seterusnya selama 7 tahun, sampai 1966, dimana pada periode ini Tawur dilakukan sebelum Tilem, dan Nyepi bersamaan dengan Tilem.
Selanjutnya dari tahun 1967 sampai sekarang (catatan: kalender 1969, 1970 dan 1974 tidak ditemukan) sudah seperti yang kita warisi sekarang: Tawur saat Tilem Kesanga dan Nyepi sehari setelahnya (Penanggal Apisan Kadasa).
Selain hasil penelusuran Ida Bagus Budayoga, penekun Wariga, terkait Upacara Tawur Kasanga pada Tilem sasih Kasanga dan Nyepi ppada Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa sudah sejak lama di diskusikan/ dibahas, ditulis dan dipublikasikan oleh tokoh-tokoh Hindu Dharma di Bali:
3 | P a g e 1. 2. 3. 4. I Gusti Bagus Sugriwa (alm) pada tahun 1953 menuliskan hasil pembahasan tentang pelaksanaan Nyepi yang ditulis dalam artikelnya berjudul Hari Raya Nyepi yang dimuat dalam Majalah Indonesia no. 4, April 1953, menyebutkan upacara Macaru (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem sasih Kasanga dan besoknya setelah matahari terbit dilaksanakan Nyepi (Sipeng).
Kini artikel tersebut diterbitkan oleh Yayasan Dharma Sastra tahun 2008 dalam buku berjudul Karya Tercecer I Gusti Bagus Sugriwa. Dalam buku tersebut berisi 2 tulisan dari I Gusti Bagus Sugriwa (alm) yaitu Hari Raya Nyepi dan Siwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika.
Pada buku Upadesa yang disusun th 1964, disebutkan pada Tileming Kasanga adalah hari Pangerupukan diadakan upacara Bhuta Yadnya dan Nyepi jatuh sehari setelah Tileming Kasanga yaitu pada Pananggal 1 sasih Kadasa.
Perlu diketahui, bahwa buku Upadesa disusun pada tahun 1964 oleh 7 orang tokoh Hindu yaitu: Ida Pedanda Gede Wayahan Sidemen, Ida Bagus Mantra, Ida Bagus Oka Punia Atmaja, Ida Bagus Dosther, Cokorda Rai Sudharta, Ida Bagus Alit dan Nyoman Merta (beberapa diantaranya menjadi sulinggih dan kini semuanya sudah almarhum).
Buku Upadesa tersebut diterbitkan oleh Parisada Hindu Dharma (PHD) Pusat pada tahun 1967.
Pada tahun 1972, I Gusti Agung Gede Putra (Cudamani) menyebutkan upacara Macaru dilaksanakan pada Tilem Kasanga dan besok harinya setelah Pangerupukan atau Macaru adalah hari Nyepi (Sipeng). Perihal ini beliau tulis dlm buku berjudul Pengertian Hari Raya Nyepi yg diterbitkan oleh Perwakilan Agama Propinsi Bali tahun1974.
Berikutnya pada tahun 1973, Dinas Agama Hindu dan Buddha Kab. Buleleng mengeluarkan padoman Hari Raya Nyepi bulan Maret 1973. Pada pedoman tersebut disebutkan Pacaruan (Bhuta Yadnya) dan Pangerupukan dilakukan pada Tileming sasih Kasanga dan keesokan harinya, pada Pananggal 1 (apisan) sasih Kadasa adalah Nyepi (Sipeng). Turut memberi restu pada pedoman Hari Raya Nyepi tersebut adalah Parisada Hindu Dharma (PHD) Kab. Buleleng, Ida Pedanda Putra Kemenuh.
Selanjutnya, setelah Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 1983, banyak tokoh-tokoh Hindu yg menulis mengenai Hari Raya Nyepi yang semuanya menyebutkan upacara Macaru/Tawur Kasanga (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem Kasanga (Caitra/Cetra) dan Nyepi pada Pananggal 1 sasih Kadasa (Waisaka/Wesaka).
Tulisan tersebut ada dlm bentuk buku dan ada juga dimuat dlm surat kabar. Tokoh-tokoh atau penulis-penulis tersebut, seperti: Nyoman S. Pendit, Tjok. Rai Sudharta, Ngurah Oka Supartha, I Gusti Ketut Widana, I Made Titib, K. Kebek Sukarsa, dan banyak lagi yg lainnya (kini beberapa diantaranya sudah almarhum).
Dengan demikian, penetapan Tawur Kesanga pada Tilem Kesanga dan Nyepi pada penanggal apisan sasih Kedasa merupakan hasil integrasi mendalam antara tattwa, wariga, sastra, dan dresta Bali.
Para Lingsirlingsir terdahulu telah menyadari bahwa penetapan Tawur pada Tilem Kesanga dan Nyepi pada penanggal Apisan Sasih Kedasa berada dalam sistem kosmologis, filosofis dan teologis yang utuh dan konsisten.
"Oleh karena itu, menjaga penetapan yang digariskan oleh para lingsir kita terdahulu ini sama artinya dengan menjaga supremasi tattwa, ketertiban jagat, dan kewibawaan tradisi Hindu Bali dan juga Hindu di Nusantara. Lokāḥ samastāḥ sukhino bhavantu," pungkasnya. (GAB/ART/002)