Kita kaget bagaimana heroiknya pasukan AS menculik Presiden Venezuela Maduro dengan istrinya Flores dengan begitu cepat. Itu sebagian orang sebut karena hebatnya Amerika tetapi banyak juga sebut karena mental pengawal Maduro yang mata duitan.
Di sisi lain, yang menarik disimak sebenarnya apa yang terjadi di Iran belakangan ini. Sejak Garda Republik dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini tumbangkan kekuasaan Shah Pahlevi di tahun 1979 lalu, relatif AS kehilangan kendali karena Iran lebih dekat ke Russia dan Cina walau bangun politiknya agamais Muslim Syiah.
Embargo AS dan Barat benar benar membuat Iran terpuruk diawal 1980 an. Anehnya, dalam posisi diembargo di berbagai lini justru Iran tampil makin kuat dan diperhitungkan di Timur Tengah. Bahkan Israel paling gentar dengan Iran dibandingkan yang lainnya.
Houti di Yamman, Hizbullah di Lebanon maupun Hamas di Palestina berada satu frekwensi dengan Iran. Terlepas dari vap teroris ke mereka, tetapi jiwa petarungnya yang luar biasa.
Di tingkat pendidikan begitu mencengangkan Iran kualitas pendidikan nya sangat bagus. Riset riset berkembang sehingga teknologi mereka maju pesat. Iran anomali negara agama yang biasanya sibuk urusan sorga neraka malah maju di bidang pendidikan.
Keilmuan mereka tumbuh di tengah embargo yang mengurungnya. Ditambah aturan ketat keagamaan membelenggu pesona kecantikan wanita dengan wajah persia Iran yang diyakini masuk ras Arya menjadi sebuah anomali.
Karena negaranya di embargo dan rawan peperangan, secara alamiah teknologi persenjataannya Iran maju pesat. Bahkan Drone tempur Iran begitu menakutkan. Russia pernah pakai untuk serang Ukraina dan Israel dengan pertahanan serangan udara begitu canggih pernah merasakan balasan Iran hingga tembus Tel Aviv. Yang ditakutkan adalah rudal balistik nuklir yang diyakini dimiliki Iran. Ya Iran punya nuklir yang membuat segan semua negara.
Kini gejolak masyarakat di Iran meledak. Demo terus menerus...Itu terjadi karena AS Israel termasuk pesaing di Timteng Arab Saudi tidak lagi fokus di urusan pertahanan senjata tetapi ubah strategi serang Iran dengan membidik isi perut rakyat. Air listrik makanan dan ekonomi diserang membuat Iran bergejolak rakyatnya. Daya tahan rakyat adalah ekonomi yaitu kebutuhan dasarnya.
Israel AS begitu bersemangat menyiramkan minyak bara agar kekuasaan Ayatollah Ali Khameini bisa tumbang. Sayangnya Iran bukan Venezuela. Hingga saat ini penguasa Iran masih terlalu tangguh untuk dijatuhkan.
Rakyat yang lapar memang terus bergejolak tetapi kekuasaan yang menguasai teknologi dan persenjataan kuat tidak mudah dirobohkan sekelas AS dan Israel. Tampilan agamis Ayatollah Ali Khameini seakan membungkus dan menyamarkan kemajuan keilmuan dan teknologi yang dimiliki Iran.
Bahkan ketika Teheran membuat blackout dan menutup internet untuk meredam aksi unjukrasa, AS lewan Ellon Musk gratiskan Starlink di langit Iran untuk bisa menggerakkan perlawanan rakyat Iran kepada penguasanya.
Namun Iran tidak gentar. Dibantu Russia satelit Starlink pun dilumpuhkan dengan pengacak sinyal raksasa. Sehingga Starlink tidak bisa berfungsi maksimal. Perang langit sebenarnya telah dimulai dan jauh dari makna perang konvensional.
Dunia terhenyak, mata uang Iran yang sdh nyaris 0 nilainya dengan mata uang USD alias tidak berarti belum juga mampu menjatuhkan kekuasaannya. Kini dunia malah diberikan pertunjukan adu teknologi.
AS yang mengancam masuk ke Iran atas nama HAM menyelamatkan para demonstran yang banyak tewas malah diancam balik akan diserang semua pangkalan militernya AS di seluruh Timur Tengah.
Teheran juga melakukan blackout listrik dan kemudian terjadi pergerakan senjata dan pasukan rahasia ke arah antisipasi serangan AS dan tentu juga musuhnya Israel. Perang sinyal, internet, frekwensi dan alat pelacak teknologi tinggi sedang terjadi. Iran dikeroryok dan daya tahan bertahannya luar biasa.
AS belum berani heroik seperti di Venezuela. Donald Trump tampaknya berhitung juga dengan kenekatan Iran. Hingga sekarang ditengah aksi demo, pemerintah Iran sudah siaga untuk menyambut setiap gerak pasukan AS dan Israel. Perang pesawat tanpa awak berpeluru kendali dalam sekejap bisa terjadi dan menyerang kapal induk maupun pangkalan militer AS.
Tarik menarik, gertak menggertak masih terjadi ..ledakan besar belum terjadi tetapi sejatinya perang teknologi telah berjalan. Dan itu juga membuat Iran menjadi misteri. Negara diembargo tidak terlacak kekuatan militernya.
Dari Iran kita belajar selain jiwa perang, pengembangan riset pendidikan ditengah keterpurukan bisa memberikan kontribusi untuk memperkuat daya tahan sebuah bangsa. SDM kuat lebih penting dari SDA melimpah. Dari Iran dan Venezuela kita belajar daya tahan suatu bangsa.
Sampai berapa lama Iran bertahan dari rongrongan di dalam oleh rakyat yang korban krisis ekonomi dan ancaman terkaman negara asing yng siap masuk menunggu peluang. Pelanjut Pahlevi di pengasingan sudah kebelet mau kembali berkuasa tapi Ali Khameini belum tumbang juga.
Arab Saudi dengan cerdik gangguin karib Iran yaitu pemberontak Houti di Yamman. Power game Timur Tengah masih menarik secara geopolitik.
Apa yang bisa dipelajari untuk kita? Bagaimana generasi kita bisa dilatih dengan mental petarung untuk memajukan riset dan teknologi. Dunia pendidikan harus dikedepankan. Sayangnya anggaran pendidikan terkuras ke MBG, dunia riset begitu minim.
Sementara mental siswa sekarang selain mentalnya lemah, juga attitude nya kropos terhadap etika. Kemudian budaya riset sejak dini tidak pernah dikembangkan. Sekolah hanya untuk ditarget semuanya bisa lulus tanpa memikirkan kualitas.
Jika ini tidak dibenahi maka daya tahan bangsa akan makin lemah dan rentan. Mari bangkit dan benahi pendidikan untuk memperkuat daya tahan negara. Kemandirian teknologi adalah kunci bisa lebih bertahan di masa depan. SDA dikelola asing dan SDM disiapkan dengan lemah. Ini alarm bagi Indonesia.
#DahGituAja
*) Gede Pasek Suardika, Advokat, Ketua Majelis Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Gede Pasek Suardika (GPS) yang Mantan DPR dan DPD RI Dapil