Banner Bawah

Memaknai Sivaratri di Zaman Kali Yuga

Admin 2 - atnews

2026-01-17
Bagikan :
Dokumentasi dari - Memaknai Sivaratri di Zaman Kali Yuga
Gambar Deva Siva (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Intelektual Hindu Jro Gde Sudibya yang juga Penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali mengatakan, tanggal 17 Januari 2025 raina Sivaratri, penanggal panglong ping 14 nuju Tilem Kepitu.

Merujuk karya sastra Sivaratri Kalpa oleh Mpu Tanakung, malam "terbaik" untuk memuja Tuhan Siva. Sastra ini ada yang menafsirkannya sebagai "dogma", ada pula sebagai tambahan sastra yang memperkaya untuk memperkuat spirit diri dalam melakukan pendakian rohani menuju Pembebasan (Jiva Mukthi).

Timbul pertanyaan reflektif, bagaimana sebaiknya kita memaknai Perayaan Sivaratri ini zaman Kaliyuga, yang secara teologi bisa dijelaskan, sebuah zaman dimana pusat kesadaran manusia tidak lagi di kepala, tetapi di kaki, sehingga kesadaran ini semakin menjauh dari Kesadaran Murni manusia, baca Kesadaran Atman.

Akibatnya, prilaku umumnya manusia sangat didominasi oleh rajah, tamah, keserakahan, ketamakan, kebodohan, kemasa-bodoan dan kemalasan yang semakin mengotori pikiran, rasa, batin dan jiwa umumnya manusia. 

Pikiran fokus: Dhyana, Dharma, Samadhi menjadi semakin sulit karena sudah "disesaki" oleh: keakuan, keinginan dan, keserakahan.

Wacana di permukaan bisa saja tentang spiritualitas, tetapi realitas diri sudah "terpenjara" oleh keakuan.

Manusia nyaris total ditundukkan oleh oleh "ornamen"keinginan dan keserahan, uang, harta benda, jabatan dan banyak lagi atribut kekuasaan. 

Per teori memuja Tuhan, dalam realitasnya "memuja" benda ekonomi.

Konsekuensinya, kemunafikan, bagian dari ke seharian kehidupan, "dipertontonkan" dan "dirayakan". 

Hal itu merupakan fenomena umum di Zaman Kali Yuga. Namun demikian pihaknya bisa juga menemukan dengan mudah mereka yang jujur terhadap diri sendiri, sadar, "jagra" tidak ikut "gila" dan atau dilindas oleh kegilaan zaman, Zaman Edan.

Realitas ekologi, sosial kultural di Zaman Edan, alam rusak parah, nilai sosial kultural merosot, terjadi anomali, kekacauan peran. Banyak orang tidak lagi menjalankan perannya, pemimpin tidak lagi menjadi panutan, guru tidak lagi "digugu dan ditiru", rokhaniwan tidak sedikit yang melanggar sesana/dhamakriya nya.

Perayaan Sivaratri semestinya dimulai dengan pengakuan jujur dari fenomena di atas, dan menentukan sendiri dimana sebenarnya kualitas batin dan rohani.

Pengakuan jujur (self integrity) sebagai "modal" batin untuk melakukan koreksi diri, "nyiksik bulu", dalam proses melihat diri ke dalam (inner sight procesess).

Proses melihat diri ke dalam, menuju lapisan diri yang semakin dalam: wijnana maya kosha, kebijaksanaan hidup menuju Ananda Maya Kosa, samudra final kebahagian.

Jagra, sadar diri, bukan sebagai pengetahuan di luar diri, tetapi membatin (embodied), "menyinari" diri sepanjang hayat dibanding badan, dan kemudian "bekel mulih ke jati mula".

Menurut kitab suci Hindu, perang besar Kurukshetra, Mahabharat, menandai berakhirnya Dwapar Yuga. 

Sampai hari ke sembilan Mahabharata, belum ada pembunuhan pun terhadap orang yang tidak bersalah dalam perang dan itu adalah hari ketika Dwapara Yuga berakhir dan Kali Yuga dimulai. Dan, karena yang terakhir diharapkan membawa kehancuran ke mana-mana, begitu pula perang Kurukshetra.

Karena kehadiran Shri Krishna, Kali Yuga tidak bisa menyebar ke seluruh dunia dan hanya terbatas pada medan perang. Dan, penghancuran klan Kuru dan pembunuhan Parikshit, putra Abimanyu dab cucu Arjuna menandai awal dari itu.

Raja Parikshit terbunuh dalam rahim ibunya Uttara, setelah Ashwatrama membidik Brahmastra kepadanya, untuk menghancurkan keturunan Pandawa. 

Tetapi, Shri Krishna masuk ke dalam rahim dan menyelamatkan janin dari panasnya senjata dan karenanya, Parikshit dihidupkan kembali.

Beberapa waktu setelah perang, ketika Pandawa mendengar kembalinya Shri Krishna ke dunia rohani, pada tanggal 18 Februari 3102 SM (menurut perhitungan Julian), atau 23 Januari 3102 SM (Gregorian).

Mereka bersama dengan Draupadi, menyerahkan tahta dan membuat satu-satunya cucu mereka yang masih hidup Parikshit, yang bertanggung jawab atas Kerajaan dan penduduknya.

Raja Parikshit diberi tahu tentang kedatangan kejahatan Kali Yuga oleh kakeknya, jadi dia mempersiapkan Kerajaan untuk menghadapinya. 

Ketika Kali Yuga mencapai batas-batas Kerajaan bersama dengan senjata pengkhianatan, nafsu, keserakahan dan kejahatan, Parikshit memutuskan untuk menghentikannya.

Raja memburu iblis, sampai yang terakhir menyerah dan menjelaskan kepadanya aturan Brahma.

Dia berkata, “O raja! Brahma menciptakan 4 era yaitu Satya, Treta, Dwapar dan Kali Yuga. Satya Yuga memerintah selama 17.28.000 tahun, Treta Yuga menikmati pemerintahannya selama 12.96.000 tahun dan Dwapar Yuga selama 8,64.000 tahun.

Sekarang aku telah datang untuk memerintah (4,32.000 tahun) dan kau memintaku untuk keluar dari kerajaanmu? "

Lima tempat di mana Kali Yuga tinggal. Melepaskan bahwa pada akhirnya ia harus menghormati rencana Brahma untuk umat manusia, Parikshit melepaskan Kali Yuga memperingatkannya untuk tidak menghancurkan umat manusia sebelum waktunya berakhir.

Dia berkata, “Kamu hanya akan tinggal di 5 tempat ini dan tidak pernah melewati batasmu. Orang yang rela datang ke tempat-tempat ini akan menjadi korban iblis Kali Yuga. "

1) Tempat di mana minuman keras disajikan (senjata racun), 2) Rumah bordil (senjata nafsu), 3) Rumah pembantaian (enjata iblis), 4. Area perjudian (senjata pengkhianatan), 5. Emas (senjata ketamakan). 

Mendengar itu, Kali Yuga berkata “O raja, semua yang datang ke 5 tempat ini adalah orang jahat, tetapi bagaimana aku harus menghancurkan yang baik, karena senjata Kesakahaku akan tetap tidak terpakai.

Raja Parikshit kemudian memberinya satu tempat di mana ia bisa menggunakan senjata Kesakah dan itu adalah Emas.

Kali Yuga tahu bahwa dia telah memperoleh seluruh dunia tetapi Kerajaan Parikshit dan sampai dia hidup, ini tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, untuk melakukannya, ia harus memasuki mahkotanya yang terbuat dari emas.

Begitu berada di dalam mahkota, Kali Yuga memanipulasi kewarasan Parikshit cukup untuk menghina seorang bijak, yang menjadi alasan kematiannya.

Pada tahun 2026 Masehi, sekitar 5.127 tahun Kaliyuga telah berlalu, dan masih tersisa sekitar 426.873 tahun lagi hingga berakhirnya zaman ini, menurut perhitungan tradisional.(Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Sempurnakan Sistem Jaminan Kesehatan Bali

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif