Oleh Acharya Vedananda
“Atyantadhika ning bratanya taya kajar denikang rat kabeh, manggeh ling nikang adisastra Shivaratri punya tan popama” (Shivaratrikalpa. 12.1.)
(Sangat utama Brata Shivaratri telah diajarkan kepada dunia dan sastra-sastra utama selalu menekankan keutamaan Shivaratri tiada bandingnya).
Pendahuluan
Dalam artikel Menuju Maha Shivaratri Prambanan 2026 (Jakarta, 31 Juli 2025) Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “One Upon a Time in Lifetime Shiva Temple of Prambanan” Kegiatan ini digelar di Gedung Ditjen Bimas Hindu, Jakarta, Kamis.
Ketua Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, Nyoman Ariawan, menyampaikan bahwa program besar Prambanan Shiva Festival akan digelar pada Januari–Februari 2026, melibatkan 12 kegiatan utama selama satu bulan penuh.
“Kami ingin menyusun formulasi kegiatan yang tidak hanya sakral secara spiritual, tapi juga berdampak ekonomi, budaya, dan sosial bagi masyarakat sekitar,” ujar Nyoman Ariawan.
Sebagai informasi kegiatan ini dihadiri langsung oleh Dirjen Bimas Hindu, Sekretaris Jenderal Bimas Hindu, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, Pengurus Harian PHDI Pusat, Ida Rsi Putra Manuaba, Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi, Sugi Lanus, Sabha Walaka PHDI Pusat, WHDI Pusat, PSN Pusat, PP KMHDI, DPP ICHI, DPP Prajaniti Hindu Indonesia, DPN Peradah Indonesia, TIK GDHDI, DPP Majapahid Nusantara, Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta dan Putu Sedana (TMII), BDDN Pusat, dan Badan Penyiaran Hindu.
FGD ini menjadi ajang strategis menyamakan visi seluruh elemen Hindu, termasuk PHDI Pusat, yang menegaskan bahwa Candi Prambanan harus diperlakukan sebagai tempat suci.
“Ketua Umum PHDI menekankan bahwa ritual di candi harus berlandaskan keputusan Sabha Pandita 2017, berakar pada budaya lokal Jawa, dan dikelola secara modern melalui sistem digital,” ujar Ketut Budiawan Perwakilan PHDI Pusat dalam membacakan pesan kunci dari Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat.
Sementara itu, Sekretaris Dirjen Bimas Hindu menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Maha Shivaratri di Prambanan. “Kami harap Candi Prambanan bisa menjadi pusat spiritual umat Hindu Indonesia dan dunia, sekaligus pusat ekonomi berbasis spiritual,” tegasnya.
FGD ditutup oleh Dirjen Bimas Hindu dengan semangat kolaborasi dan kesadaran kolektif bahwa momentum Maha Shivaratri 2026 harus menjadi titik balik pemuliaan Candi Prambanan sebagai pusat ibadah umat Hindu Nusantara dan dunia.
“Sudah saatnya kita tunjukkan bahwa umat Hindu siap menjadikan Candi Prambanan bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai gerbang kebangkitan spiritual dan ekonomi umat,” tutupnya. Diimformasikan pula pada peryaan ini akan dihadiri oleh dua Wakil Menteri yang beragama Hindu.
Prambanan Shiva Festivals 2026 akan dimulai pada hari Shivaratri tanggal 17 Januari 2026 dan berakhir pada tanggal 15 Februari 2026 bertepatan dengan hari Mahashivaratri di India.
Apa beda Shivaratri dengan Mahashivaratri, menurut informasi Shivaratri berlangsung setiap bulan, yakni setiap panglong (paro petang) ke 14 atau catur dasa krsna paksa setiap bulan menurut perhitungan tahun Saka, sedang Mahashivaratri berlangsung setiap tahun sekali yakni pada catur dasa krsna paksa Phalguna masa, yakni untuk tahun 2026 jatuh pada tanggal 15 Februari 2026.
Mengapa terjadi perbedaan bulan perayaan Mahashivaratri akan diuraikan dalam tulisan berikut.
Sumber ajaran Shivaratri.
Sumber ajaran Shivaratri di Indonesia adalah sama dengan di India, yakni kitab-kitab Purana. Pemujaan kepada Shiva sebagai dewata tertinggi memang mulai dan mengalami masa kejayaan pada jaman dituliskannya kitab-kitab Purana.
Sebagai dimaklumi pada kitab suci Veda pemujaan kepada dewa Shiva belum begitu menonjol atau menjadi satu dewa Istadevata yang dominan.
Pada kitab-kitab Purana, kedudukan dewa-dewa yang dominan dalam Veda seperti: Agni, Indra, Vayu dan Surya digantikan oleh Brahma, Visnu dan Shiva (Wilkin, 1975 : 92, Bhattacharji, l988 : 3).
Usaha untuk menemukan sumber asli dari kitab Shivaratrikalpa, satu-satu kakawin yang secara gamblang memberikan keterangan tentang Shivaratri di Indonensia, telah dilakukan oleh Teeuw dan kawan-kawan (l969) dan menyatakan bahwa kakawin ini sangat dekat dengan kitab Padmapurana dibandingkan dengan Purana yang lain (l969:186) seperti Skandapurana, Shivapurana, Agnipurana atau Garudapurana.
Untuk menambah luasnya wawasan kita tentang sumber-sumber ajaran Shivaratri atau Shivaratrivrata yang di dalam Shiva Purana disebut juga dengan nama Shivacaturdashi (Shastri, Vol.2, Part II, p.1063), ada baiknya kita bahas secara sepintas sumber-sumber tersebut, sebagai berikut :
1) Shivapurana
Pada topik Vidyasvarasamhita, Shiva menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan menganugrahkan Brata Shivaratri yang sangat utama (Shastri, Vol.1, Part I, p.60), selanjutnya pada topik Rudrasamhita (XVIII, 1-50), dijelaskan bahwa Gunanidhi, putra Diksita Yajñadatta telah melakukan dosa, yakni tidak kuasa menahan laparnya, mereka mengunjungi sebuah pura Shiva, pada saat itu kebetulan upacara perayaan Shivaratri sedang berlangsung.
Gunanidhi sempat melihat dari luar perayaan yang berlangsung meriah itu dan tidak disadari air liurnya menetes menyaksikan berbagai jenis makanan yang dipersembahkan.
Selesai upacara ternyata lampu mulai gelap, suasana pura sangat sepi karena umat yang habis melaksanakan persembahyangan, kelelahan dan langsung tertidur di halam dalam pura.
Dengan langkah pelan-pelan sambil mengamati orang yang sedang tidur ia mencuri makanan yang baru dipersembahkan.
Ternyata perbuatannya diketahui oleh beberapa orang umat yang tidak sengaja sempat diinjak oleh Gunanidhi, mengakibatkan orang berteriak dan lampu dinyalakan dengan terang dan Gunanidhi sempat melarikan diri.
Ketika ia meninggal rohnya dijemput oleh Yamabala (tentara dewa Yama) dan bersamaan pula para Gana (tentara dewa Shiva) menjemput yang bersangkutan, terjadi tarik-menarik dan perkelahian yang berimbang dan pada saat yang bersamaan dewa Yama dan Shiva muncul di tempat itu.
Pertempuran dihentikan dan dewa Shiva menjelaskan, sekalipun Gunanidhi seorang pencuri, karena pada saat itu dilakukan pada hari Shivaratri, berjasa pula membangunkan orang-orang dari tidurnya dan lampu yang tadinya tidak menyala dihidupkan kembali (Ibid, Vol.1, Part I, p.261).
Dalam Rudrasamhita pula (LVIII, dibunuhnya Dundubhi Nirhrada) dijelaskan bahwa seorang bhakta yang melakskanakan kebaktian dengan kesujudan hati kepada Shiva, akan mampu melihat Dewa Shiva, selanjutnya Dewa Shiva menyatakan : “Bila seseorang mampu melihat wujudk-Ku begini dengan SHraddha (keyakinan yang mantap/keimanan) dengan hati yang tulus akan dibebaskan dari penderitaan dan kesalahan (Ibid, Vol.2, Part II, p.1064).
Dalam Kotirudrasamhita ( XII.26-28 ) dijelaskan seseorang yang bernama Sudarshana melakukan hubungan sex dengan istrinya dan setelahnya tanpa mandi terlebih dahulu kemudian melakukan persembahyangan (memuja Shiva) pada waktu Shivaratri, Dewa Shiva sangat murka kepadanya : “Kurang ajar, engkau melakukan hubungan sex saat Shivaratri, tanpa mandi terlebih dahulu engkau memuja Aku. Kamu penyembah bodoh”.
Karena dosa tersebut, ayah dari Sudarshanapun mendapat celaka. Walaupun demikian dosanya, bila sepenuh hati memuja dewi Parvatì. Karena penyesalan dan ketekunannya memuja Parvatì, akhirnya sakti dewa Shiva menganugrahkan Shivagayatrì, yang terdiri dari 16 suku kata yakni “Vamadevaya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat” (Ibid, p.1304).
Dijelaskan pula dalam Kotirudrasamhita tentang keutamaan dari brata Shivaratri ini melebihi brata-brata yang lain (XXXVIII, 1-88, Ibid.,p.1422) dan dalam bagian selanjutnya (XL) dijelaskan tentang ceritra Gurudruha, yang di dalam penelitiannya A. Teeuw dan kawan-kawan (1969) disebut Rurudruha (p.1431).
Adapun cerita singkatnya sebagai berikut: Pada hari Shivaratri, Gurudruha berangkat ke tengah hutan untuk melaksanakan tugas rutinnya melakukan perburuan terhadap berbagai binatang untuk menyambung hidup keluarganya. Sayang dari pagi sampai sore, tidak seekor binatangpun yang diperolehnya.
Untuk mengindari bahaya dan mencari tempat yang aman ia pergi menuju mata air dengan maksud sambil mengintip binatang-binatang yang ke luar pada malam hari untuk meminum air. Tidak disadari ia menaiki sebatang pohon Bilva yang kebetulan di bawahnya terdapat sebuah Liṅga.
Ketika menjelang malam, seekor induk kijang menuju mata air dan pada saat itu Gurudruha bersiap membentangkan anak panahnya dan tanpa disadari pula, beberapa lembar daun Bilva jatuh mengenai bagian atas Liṅga.
Melihat daun jatuh, induk kijang pun menoleh keatas, terkejut seorang pemburu telah siap melepaskan anak panahnya. Induk kijang itupun segera berbicara.
“Maaf jangan dulu saya dibunuh, saya masih mempunyai bayi, kasian kalau saya tidak memberi tahu suami dan anak-anak saya yang lain. Saya senang dapat mengabdikan tubuh saya ini untuk kepentingan kehidupan anda dan keluarga.
Sebentar saya datang kembali”. Pemburu itupun pada mulanya tidak percaya dan sangat terkejut terhadap kijang yang mampu berbicara seperti manusia.
Pemburu sebelum mengijinkan kijang itu meminum dan meninggalkan tempat minta kepada kijang itu untuk bersumpah guna menepati janjinya. Kijang itu ternyata bersumpah dan menyatakan bahwa dirinya akan selalu menepati janji yang telah diucapkan.
Pemburu itu agak lama menunggu, kira-kira menjelang tengah malam datanglah induk kijang yang jantan diikuti oleh beberapa ekor anak-anaknya.
“Saat itu induknya yang betina menyerahkan diri untuk dibunuh, jantan dan anak-anaknyapun ingin ikut menyerahkan dirinya untuk dibunuh supaya dapat mengabdikan dirinya kepada mereka yang sangat kelaparan.
Terjadi dialog, satu persatu induk dan anak-anak kijang itu menyerahkan dirinya untuk dibunuh, tidak disadari oleh Gurudruha, daun-daun Bilva jatuh di atas Liṅga.
Mendengar ucapan kijang-kijang yang sangat tulus itu, hati Gurudruha menjadi luluh dan saat yang bersamaan dewa Shiva muncul dihadapan Gurudruha yang langsung saja turun untuk bersujud. Saat itu juga kereta kadewataan turun dan ternyata kawanan kijang itu berubah menjadi dewa-dewa dan diterbangkan oleh kendaraan kadewataan itu.
Setelah lenyap dari pandangannya, dewa Shiva kemudian bersabda :“Wahai Gurudruha, sejak saat ini aku beri nama Guha dan pergilah kamu ke Shringgaverapura dan nikmatilah kabahagiaan yang sejati di sana.
Pada saatnya Shri Rama akan mampir di rumahmu, jadilah abdinya dan engkau pada saatnya nanti akan memperoleh kalepasan” (Ibid,Vol. 3, Part III, p.1438).
Demikian beberapa informasi tentang Shivaratri yang termuat dalam kitab Shivapurana.
2) Garudapurana
Di dalam acarakhanda dari Purvakhanda, Adhyaya 124 (1-23) kitab Garuda Purana dijelaskan tentang Brata (Vrata) Shivaratri sebagai berikut :
“Pada hari ke 14 paro petang (bulan gelap) di antara bulan Magha dan Phalguna adalah hari yang sangat tepat untuk melaksanakan Brata Shivaratri. Seorang Bhakta (devotee) hendaknya melek semalam suntuk dan memuja Sang Hyang Rudra. Bhakta ini akan memperoleh kesejahteraan di dunia dan keselamatan (2)”
“Hyang Shiva hendaknya dipuja diikuti pemujaan kepada Dewa KameSHvara, seperti halnya Kesava (Krisna) yang dipuja pada hari DvadaSHi. Setelah melakukan pemujaan kepada-Nya, seorang Bhakta akan dapat menyebrangi neraka (3)” (Shastri, Garuda Purana,1990, Vol.1, Part I, p.373).
Selanjutnya pada bagian ini juga dijumpai penggambaran seseorang yang sangat berdosa, bernama Sundara Senaka (sering disebut Sundarasena) raja Nisada berburu ke tengah hutan, sampai kelelahan kemudian ia beristirahat di tebing sebuah danau di lereng gunung, sayang tidak seekor binatangpun yang diperoleh, kondisinya yang kelelahan dan matanya mulai mengantuk.
Untuk menjaga keseimbangan dan supaya jangan tertidur, tidak sengaja ia memetik-metik daun dan melemparkannya ke bawah yang tanpa disadari pula di bawah pohon itu terdapat sebuah Lingga. Tidak berapa lama tiba-tiba anak panahnya jatuh dari busurnya dan begegaslah Sundara Senaka turun dari pohon untuk mengambilnya dan tidak disadari pula tangannya dapat menyentuh Lingga yang penuh dengan debu.
Untuk membersihkan panahnya, iapun mengambil air dan tetesan ujung panahnya juga menetes di atas Lingga. Di sana ia secara tidak sengaja sebenarnya telah melakukan kegiatan persembahyangan memuja Lingga, demikian ia tidak tidur semalam suntuk.
Ketika fajar menyingsing ia kembali pulang dan tidak berapa lama tinggal di rumahnya, iapun meninggal. Karena perbuatannya yang tidak sengaja bersama dengan anjingnya yang setia, akhirnya oleh Dewa Shiva ia dijadikan salah seorang pengiring dewa Shiva (Ibid, p.376, juga Teeuw, p.168).
3) Skanda Purana
Di dalam Skanda Purana, bagian Kedarakhanda, pada bab Mahesvarakhanda, muncul perhitungan lain dari Shivaratri dalam bentuk percakapan antara para Rsi dengan Maharsi Lomasa. Dalam percakapan itu, Maharsi Lomasa menjelaskan keutamaan Shivaratri dengan sebuah ceritra seorang pemburu Kirata (Puskara) yang bernama Canða (73,96-106).
Ia dan istrinya adalah orang jahat, pada suatu hari pada paro petang ke-14 bulan Magha mereka berburu ke hutan dan saat menjelang malam, ia melompat ke sebuah pohon Bilva. Lapar dan haus sangat mengganggunya, di atas pohon ia berusaha tidak memejamkan mata dengan jalan melemparkan daun-daun Bilva yang dipetiknya dan kebetulan di bawah terdapat sebuah Lingga.
Ia sempat berkumur dan tidak sengaja air kumurannya itu dikeluarkan (disemprotkan melalui mulutnya) dan juga mengenai Lingga itu. Dengan demikian secara tidak sengaja ia sebenarnya telah melakukan pemujaan kepada Dewa Shiva melalui Linga itu. Pagi keesokan harinya, ia turun dari pohon dan pergi memancing di tepi sungai (33, l0-15).
Karena suaminya tidak kembali pulang pada malam hari (ketika suaminya) bermalam di hutan, istrinya sangat gelisah, mungkin suaminya telah diterkam harimau atau diseruduk oleh gajah atau dipagut ular berbisa. Istrinya sangat khawatir semalam suntuk juga tidak bisa tidur. Karena sangat khawatir, iapun tidak makan dan tidak minnum sepanjang siang dan malam menunggu penuh kecemasan (33,16-24).
Saking tidak sabarnya, sang istripun pergi ke tengah hutan untuk mencari suaminya dan ditemukan suaminya itu sedang memancing di seberang sungai. Ditinggalkannya bekal yang ia bawa, istrinya langsung saja menyebrangi sungai untuk menemui suaminya, demikian pula suaminya melakukan hal yang sama karena takut istrinya hanyut.
Keduanya selamat menuju ke tepi sungai dan melakukan pemujaan bersama (sebagai rasa syukur). Setelah dilihat bekal makanan yang ditinggalkan, ternyata bekalnya itu telah dimakan habis oleh anjing buruannya. istrinya sangat marah, namun Canda tenang sekali menghadapi peristiwa itu, dan menasehati istrinya untuk tenang dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memberi tahukan tentang Kebenaran (33,25-27).
Saat suami istri itu terpekur, memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa, datanglah utusan Dewa Shiva dari sorga. Virabhadra, komandan pasukan Dewa Shiva tidak mengerti mengapa ia diperintahkan untuk menjemput suami istri pemburu ini.
Dewa Shiva menjelaskan bahwa pada saat itu adalah hari yang sangat mulia, yaitu Shivaratri dan beliau sangat senang terhadap pemujaan kepada Linga itu, walaupun tidak sengaja dan tidak terpikirkan oleh kedua orang itu. Kemudian Canda dan istrinya diperintahkan untuk naik kendaraan dewata yang telah disiapkan diikuti oleh para Apsara, Gandharva dan Vidyadhara dan iringan gamelan sorga (33.38-64).
Maharsi Lomasa menjelaskan pula tentang asal terjadinya hari Shivaratri pada awal penciptaan dahulu dengan perputaran Roda Waktu, yang berakhir dengan Tithi (hari-hari bulan) dan Tuhan Yang Maha Esa (Shiva) menganugrahkan brata utama itu.
Lomasa juga menjelaskan tentang raja-raja pemabuk dan jahat seperti Vicitravirya, Mandhatri, Dhundhunmari, Harishcandradaya yang semuanya juga melakukan brata Shivaratri, mereka memperoleh keselamatan (33,65-101, Teeuw, l969 : 168).
4) Agni Purana
Di dalam Agni Purana, Adhyaya 193, dinyatakan tentang pelaksanaan Shivaratri Vrata yang merupakan wejangan suci dari Sang Hyang Agni, sebagai berikut :
“Dengarlah ! Saya akan menjelaskan brata dari Hyang Shiva yang menganugrahkan kebahagiaan dan kebebasan.
Hari ke-14 pada paro petang di bulan Magha (Januari-Februari) atau Phalguna (Februari-Maret), hari yang sangat diberkahi untuk kebahagiaan. Seseorang yang ingin mengikuti brata ini hendaknya melakukan puasa dan melek semalam suntuk dengan ketetapan hati menyatakan :“Saya akan melakukan brata Shivaratri pada hari ini”, dan memuja Sang Hyang Shiva pada akhir brata.
“Saya memuja Sang Hyang Shiva (Sambhu), yang akan menganugrahkan kebahagiaan dan kebebasan dan dengan perahu berkah-Nya menyelamatkan kami dari neraka, hamba senantiasa memuja-Mu, Om Sang Hyang Shiva,Tuhan Yang Maha Esa, Engkau Yang Maha damai menganugrahkan keberuntungan, kesehatan, pengetahuan, kesejahteraan material dan jalan menuju sorga.Ya Tuhan Yang Maha Esa, anugrahkanlah kepada kami kegembiraan dan kebahagiaan yang sejati dan kemashuran. Anugrahkan pula sorga dan moksa”.
Dengan melakukan brata yang utama ini seorang penjahat bernama SunadaraSHena memperoleh kebahagiaan yang tiada taranya (Gangadharan, Vol.28,Part II, 1985 : 517).
5) Padma Purana
Di dalam Uttarakandha,Padma Purana diceritrakan Maharsi Vasisþha sedang menjelaskan tentang keutamaan Brata Shivaratri kepada Maharaja Dilipa, dengan menceritrakan tentang seorang yang hina (Candala) bernama Nisada, yang ceritranya sangat dekat dengan kisah Lubhdaka dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno Shivaratrikalpa, karya Mpu Tanakung. Mengingat ceritranya sangat dekat, penulis tidak menyampaikan hal tersebut lebih jauh (Teeuw, 169).
Demikian sepintas sumber-sumber kitab-kitab Purana tentang Shivaratri yang dapat kami jumpai, namun demikian sumber-sumber lainnya yang bersifat Tantrik, Shivaratri adalah Kalaratri, di samping juga Maharatri dan Moharatri (Shastri, Shiva Purana, Vol.1, Part I, p.261).
Sumber lainnya adalah Rajataramgini (Monier, 1993: 1075), KannaSHSHa Ramayana (Vettam Mani,1989: 731), Mahābhārata/Śāntiparva (Shivananda, 1991 : 142) dan lain-lain.
Perbedaan bulan hari Shivaratri
Memperhatikan sumber-sumber ajaran Brata Shivaratri tersebut di atas dan juga pelaksanaannya di India dan di Indonesia terdapat perbedaan bulan jatuhnya hari Shivaratri itu, yakni pada hari yang sama, yaitu Caturdasi Krisnapaksa (paro petang ke-l4) bulan Magha (ke-VII) dan Phalguna (ke-VIII). Bila kita telusuri perbedaan itu, justru secara tegas dinyatakan dalam sumber-sumber berikut:
1) Garuda Purana, kitab ini secara tegas menyatakan Shivaratri dilaksanakan pada paro petang ke-14 (Caturdasi Krisnapaksa), Maghamasa atau Phagunamasa, yakni bulan ke-VII (kapitu) dan ke-VIII (kaulu)
2) Agni Purana, kitab ini juga secara tegas menyatakan adanya perbedaan bulan, yakni Magha (ke-VII) atau Phalguna (ke-VIII).
3) Padma Purana, kitab ini tegas pula menyatakan adanya dua bulan yang sama untuk melaksanakan Shivaratri seperti tersebut di atas.
4) Shivaratrikalpa, satu-satunya sumber di Indonesia, berbahasa Jawa Kuno tegas pula menyebutkan hanya pada bulan Magha (Caturdasa hireng, Maghamasa). paro petang ke-14.
Selanjutnya berdasarkan pengamatan kami pelaksanaan hari suci Shivaratri di India dilaksanakan pada bulan Phalguna Mahashivaratri, sedang di Indonesia (Bali) sesuai sumber Kakawin Shivaratri tersebut di atas dan untuk tahun ini jatuh pada tanggal 17 Januari 2026.
Mengapa terdapat perbedaan hari Shivaratri itu? Bila kembali pada sumber, memang kitab-kitab Purana tersebut tegas menyatakan hal itu, namun demikian penulis mencoba mengkajinya melalui pendekatan geografis, karena untuk melakukan suatu kegiatan tidak dapat melepaskan diri dengan keadaan atau lingkungan alam kita.
Mengingat kedudukan bumi India (Bharata Varsa), yakni membujur jauh dari arah Utara katuistiwa, Himalaya ke Selatan sampai Kanya Kumari (Tanjung Comorin) demikian panjang dan luasnya, maka kedudukan bulan pada saat itu antara di daerah Utara dengan Selatanpun berbeda.
Kiranya atas dasar geografis ini dibenarkan pelaksanaan Shivaratri berbeda satu bulan, walaupun kini umat Hindu di India hampir seluruhnya melaksanakannya pada bulan Phalguna.
Berbeda dengan umat Hindu di India, umat Hindu di Nusantara (Bali) melaksanakan Shivaratri sesuai sumber kakawin berbahasa Jawa Kuno di atas, dan pada bulan Magha (ke-VII) ini, situasinya sangat cocok dengan penggambaran seseorang pemburu yang kelaparan dan kehujanan di tengah hutan.
Bagi umat Hindu di Indonesia yang kebetulan letak geografisnya di daerah katulistiwa yang membentang dari Timur ke Barat, maka bulan Magha ini adalah kiranya sangat tepat, dan bulan mati (Tilem/Amavasya) paling gelap di antara dua belas Tilem dalam setahun.
Keutamaan Brata Shivaratri
Walaupun sudah setiap tahun, pada hari suci Shivaratri, umat Hindu selalu merayakan hari suci ini dengan berbagai kegiatan agama seperti puasa, melakukan sambang samdhi (tidak tidur) semalam suntuk dan menyucikan diri, diskusi-diskusi atau Dharmatula tentang Shivaratri selalu dilaksanakan. Namun demikian, dalam tulisan ini dicoba pula untuk mengetengahkan keutamaan Shivaratri sebagai berikut:
Kitab Shiva Purana menyatakan bahwa seorang bernama Bhilla yang pekerjaan-nya sebagai pemburu (suka membunuh binatang) mendapatkan anugrah dari Sang Hyang Shiva, tidak hanya berupa sorga, tetapi juga Moksa dalam tingkatan Sayujya, yakni bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya kitab Shiva Purana menyatakan:
“Di antara berbagai Brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa (pertapaan) dan melakukan berbagai kegiatan Japa (mengucapkan berulang-ulang nama-nama-Nya atau mantra untuk memuja keagungan-Nya), semuanya itu tidak ada yang melebihi keutamaan brata Shivaratri ini.”
Demikian keutamaan Brata Shivaratri, hendaknya Brata ini selalu dilaksanakan oleh mereka yang menginginkan keselamatan dan keberutungan. Brata Shivaratri adalah Brata yang sangat mulia, agung yang dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan bathin (Shastri, Shiva Purana, Kotirudrasamhita, XL. 99-101,Vol.3, Part III, p. 1438).
Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Shivaratrikalpa menyatakan keutamaan Brata Shivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Shiva sebagai berikut :
“Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat tempat suci (patirthan), pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Shivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.
“Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Shivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Shivaratri ) yang Aku sabdakan ini” (Shivaratrikalpa, 37, 7-8).
Lebih jauh tentang sayujya moksa yang diperoleh oleh Lubhdaka diuraikan pada wirama 29.4-6 berikut:
lawan toh tariman têkapta panganugraha mami ri kita ndtan salah astwanêmwa Sharira mukhya sahaneng Shivapada saha ratnapuspaka mukhyang asþagunanimadi paða kasraha ri kta lawan trilocana salwir ning warabhusanarja makabhusana mami ya ta kakwate kita (29.4).
kantênanya tanora bheda ni hawakta lawan iki Sharira ni nghulun sasing ramya niking Shivalaya kiteka wihikana mamuktya tar waneh, yawat pañca mahadibhuta salawasnyan inajarakên ing jagatraya tawat mangkana tekihên lawasanta tumêmu sukha ring Shivalaya (29.5).
mangkanugraha sang hyang Ishvara sinêmbahakên ikang anama Lubdhaka atyanteki mengên-mengênya têkaping paramawara paweh hyang Ishvara tusþambêknyan amisra dewa tuwi tan papahi lawan awak Jagatguru manggêh karana ning sang mangkana sakeng brata Shivarajani ndatan kalen (29.6).
Terjemahan:
“Sekarang anda (Wahai Lubhdaka) datang menerima anugrah-Ku anda tidak ada yang keliru, segera mendapatkan badan yang yang utama (astral) di alam Shiva beserta kereta kencana, juga segala kemuliaan dari asþaguna-anima-adi (delapan sifat yang menjadi kecil sekecilnya dan ringan-seringannya dan yang lain-lain) semua kekuasaan-Ku, Aku serahkan kepada anda oleh-Ku (Dewa Shiva), segala jenis busana yang indah dan mulia yang Aku kenakan, anda akan kenakan juga” (29.4).
“Sangat menggembirakan tampaknya tidak ada perbedaaan antara badan anda (Lubhdaka) dengan badan-Ku ini” (badan Dewa Shiva) segala keindahan di alam sorga (istana Dewa Shiva) semua dapat dinikmati sepenuhnya tidak ada yang lain, demikian pula pañca mahadibhuta (lima unsur jagat raya dan yang lain) yang besar dapat dinikmati selamanya”, demikian dijelaskan oleh Dewa Shiva, demikian pula anda (Lubhdaka) akan selamanya menemukan kebahagiaan di alam Shiva (29.5).
DEMIKIAN ANUGRAH SANG HYANG SHIVA DISEMBAH OLEH ROH BERNAMA LUBDHAKA, SANGAT UTAMA ANUGRAH SANG HYANG SHIVA KEPADANYA, BERBAHAGIALAH DAN MENYATU DIRINYA (LUBHDAKA) DENGAN DEWATA AGUNG DAN TIDAK BERBEDA (KARENA MENYATU) MENJADI DEWA SHIVA, DEMIKIAN YANG MENYEBABKANNYA MENGAPA LUBHAKA MEMPEROLEH KEUTAMAAN KARENA MELAKSANAKAN BRATA DEWA SHIVA (PADA HARI SHIVARATRI) (29.6).
Demikian betapa keutamaan Brata Shivaratri yang di antara berbagai Brata dalam agama Hindu merupakan Brata yang tertinggi dan telah diikuti dari jaman ke jaman sejak ribuan tahun yang silam.
Pelaksanaan Brata Shivaratri di India dan di Indonesia
Pelaksanaan Brata Shivaratri di India pada paro petang ke-14 bulan Phalguna masa (Februari-Maret) hampir sama dengan di Indonesia yang dilakukan pada paro petang ke-14 bulan Magha (Januari-Februari), yakni mereka tidak tidur selama 36 jam, sembahyang ke pura-pura Sang Hyang Shiva dan pura-pura ini para Pujari (semacam pandita atau pemangku di Bali) melakukan upacara Abhiseka Linga.
Mempersembahkan Naivedya (sesajen yang umumnya terbuat dari tepung gandum, susu, buah-buah dan sari buah), dilanjutkan dengan mengucapkan/membaca doa-mantra seperti Shiva Samhita, Shivamahimastotra, Shivasahasranama (seribu nama Sang Hyang Shiva) dan umat pada umumnya mengucapkan Japa
Pañcaksara Shiva (Shiva Pañcaksari/Shivamahamantra): Om Nama SHivaya sejak pagi hingga keesokan harinya menjelang mata hari terbenam.
Umat Hindu di samping melakukan Upavasa (puasa) juga melakukan Bhajan (mengidungkan lagu-lagu suci memuji keagungan Tuhan Yang Maha Esa sepanjang siang dan malam hari. Bhajan yang tiada hentinya dilakukan oleh banyak orang secara serempak dan atau bergiliran disebut Akhandabhajan dan keesokan harinya umat Hindu berduyun-duyun mandi di sungai suci seperti Ganga, Yamuna atau Patirthan-Patirthan terdekat.
Sebagai informasi yang akurat, kami kutipkan di sini pelaksanaan Shivaratri yang dilaksanakan di Shivananda Asram, Rishikesh, Uttar Pradesh, sebagai berikut:
1) Seluruh siswa dan Sanyasin melakukan puasa sepanjang siang dan malam hari tanpaminum setetes airpun.
2) Sebuah Havan (Agnihotra) yang besar dilaksanakan untuk memohon kedamaian dan kesejahteraan seluruh umat manusia.
3) Sepanjang hari dan malam, semua siswa dan Sanyasin melakukan Japa mengucapkan Shivamahamantra Om Nama Shivaya.
4) Sepanjang malam semua berkumpul di pura milik Asram dan melakukan Japa tersebut diiringi dengan Bhajan atau meditasi.
5) Setiap tiga perempat malam dilaksanakan pemujaan (Abhiseka) Linga secara khusuk (Semalam 4 kali pemujaan).
6) Diksa kepada Sanyasin baru, juga diberikan oleh Sanyasin Guru pada hari yang suci ini.
Terdapat sedikit variasi dalam perayaan Shivaratri di India adalah hal yang wajar karena kondisi umat Hindu yang berbeda-beda. Di Indonesia, dalam rangka standardisasi Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat telah menetapkan keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Apek Agama Hindu (1989/Pemda Bali) yang pada tahun 1991 ditetapkan menjadi Keputusan Mahasabha PHDI tentang Shivaratri yang pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
l. Brata Shivaratri, terdiri dari :
a. Uttama, dengan melaksanakan :
1). Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
2). Upavasa (tidak makan dan minum).
3). Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).
b. Madhyama (menengah) dengan melaksanakan :
1). Upavasa (tidak makan dan minum).
2). Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).
c. Kanistama (sederhana) dengan melaksanakan : Hanya Jagra (berjaga/melek,tidak tidur).
2. Tatacara melaksanakan Upacara Shivaratri :
a. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan Dharmaning Kawikon.
b. Untuk Valaka (umat pada umumnya) didahului dengan asuci laksana (menyucikan diri). Upacara dimulai dengan urutan sebagai berikut :
1). Maprayascitta, sebagai penyucian pikiran.
2). Mapajati, mempersembahkan sesajen ke Sanggar Surya untuk memohon persaksian kehadapan sang Hyang Surya.
3). Sembahyang kehadapan leluhur yang telah mencapai SHiddhadevata, untuk memohon bantuan dan tuntunanya.
4). Mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Shiva.
Banten ditempatkan pada palinggih, padmasana atau dapat pula pada piyasan di Sanggah Pamarajan. Bila semua palinggih tidak tersedia (misalnya di halam atau ruangan terbuka) dapat membuat semacam altar, yang dipandang wajar untuk melakukan sembahyang yang ditujukan kepada Sang Hyang Shiva dan dewata Samoddhaya. Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas Tirtha sebagai biasa.
5).Sementara melakukan sembahyang Brata, baik Mona (Mauna), Upavasa dan Jagra tetap dilaksanakan.
Demikian antara lain brata dan pelaksanaan Shivaratri baik yang dilakukan di India maupun di Indonesia, semoga hikmah pelaksanaan brata yang utama ini dapat lebih meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Aktualisasi makna Shivaratri dewasa ini
Nilai-nilai moralitas, etika dan spirtual semestinya diamalkan dalam prilaku manusia, namun kenyataan yang dapat kita amati adalah tidak sedikit perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai moralitas, etika dan spiritual seperti mendapatkan tempat dalam kehidupan sehari-hari misalnya: pelacuran, kehidupan seks bebas, hidup bersama tanpa nikah, judian, mabuk-mabukan dan sebagainya, walaupun semua orang menyadari hal itu bertentangan, namun masyarakat nampaknya sulit melepaskan diri dari hal-hal tersebut.
Kondisi masyarakat dewasa ini di era globalisasi walaupun tidak sepenuhnya benar, nampaknya hampir sama dengan penggambaran Visnu Purana, yang orientasinya pada material dan kesenangan (peleasure & material oriented) sebagai berikut :
“atha eva bhijana hetuh, dhanam eva asesadharma hetuh abhirucir eva dampatyasambandha hetuh, anrtam eva vyavahjayah stritvam eva’pabhoga hetuh.....brahma sutram eva vipratve hetuh lingga dharanam eva ashrama hetuh” (Visnu Purana IV. 24. 21-22).
(Masyarakat hancur karena harta benda hanya berfungsi meningkatkan status sosial/kemewahan bagi seseorang, materi menjadi dasar kehidupan kepuasan hidup hanyalah kenikmatan seks antara laki-laki dan wanita, dusta menjadi sumber kesuksesan hidup. Seks merupakan satu-satunya sumber kenikmatan dan kesalahan merupakan hiasan bagi kehidupan spiritual)
Demikian pula di dalam kitab Vanaparva, Mahabharata keterangan serupa dapat kita jumpai sebagai berikut :
“Kelaparan membinasakan kehidupan manusia, jalan-jalan raya dipenuhi oleh wanita yang reputasinya jelek. Setiap perempuan bertengkar/bermusuhan dengan suaminya dan tidak memiliki sopan santun (42)”
“Para Brahmana diliputi oleh dosa dengan membunuh para dwijati dan menerima sedekah dari para pemimpin yang tidak jujur (43)”
“Pada jaman itu orang-orang bertentangan hidupnya dengan nilai-nilai moralitas, mereka kecanduan dengan minuman keras, mereka melakukan penyiksaan walaupun di tempat tidur gurunya. Mereka sangat terikat oleh keduniawian. Mereka hanya mencari kepuasan duniawi terutama daging dan darah (48)”
“Pada jaman itu ashram-ashram para pertapa dipenuhi oleh orang-orang berdosa dan orang-orang angkara murka yang malang yang selalu mengabdikan hidupnya pada ketergantungan duniawi (49)”
“Pada jaman itu orang-orang tidak suci baik dalam pikiran dan perbuatannya karena mereka iri hati dan dengki. Bumi ini dipenuhi oleh orang-orang yang penuh dosa dan tidak bermoral (51)”.
“Pada jaman Kaliyuga para pedagang melakukan berbagai bentuk penipuan, menjual barang-barangnya dengan ukuran dan timbangan yang tidak benar (53)”.
“Pada jaman Kaliyuga orang-orang budiman hidupnya miskin dan umurnya pendek. Orang-orang yang penuh dosa menjadi kaya raya dan memiliki umur panjang (55)”.
“Gadis-gadis berumur 7 dan 8 tahun sudah melahirkan anak-anak dan anak-anak laki berumur 10 atau 12 tahun telah menjadi ayah (60)”.
“Orang-orang ketika berumur 16 tahun sudah jompo dan segera setelah itu ajalpun menjemput (61)”
“Para wanita mudah celaka, melakukan perbuatan yang tidak pantas dan melakukan perbuatan yang tidak terpuji, menipu suami-suami mereka yang berbudi pekerti luhur, melupakan mereka bahkan berhubungan dengan pelayannya dan atau dengan binatang sekalipun (63)” (Vanaparva, CLXXXVIII.42-63).
Lebih jauh di dalam kakawin berbahasa Jawa Kuno, Nitisastra yang rupanya merupakan saduran dari Canakya Nitisastra dalam bahasa Sanskerta dinyatakan sebagai berikut :
“Singgih yan tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana tan waktan guna Shura pandita widagdha pada mangayapiing dhaneshwara sakwehning rinahasya sang wiku hilang kula ratu pada hina kasyasih putradwe pita ninda ring bapa si SHudra banija wara wirya pandita”(Nitisastra IV.7
(Sesungguhnya bila jaman Kali datang pada akhir yuga, hanya kekayaan/harta benda yang sangat dihargai.Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa orang yang saleh,orang-orang yang pandai akan mengabdi kepada orang orang yang kaya.
Semua ajaran rahasia kepanditaan lenyap, keluarga-
keluarga dan para pemimpin yang bijaksana menjadi hina papa. Anak- anak menipu dan mengumpat orang tuanya. Orang - orang hina akan menjadi saudagar kaya, mendapat kemuliaan dan kepandaian).
Bila nilai-nilai moralitas, etika dan spiritual tidak diindahkan lagi oleh orang-perorangan (individu) maupun oleh masyarakat, maka ciri-ciri yang digambarkan pada jaman Kaliyuga itu merupakan kebenaran.
Nilai-nilai moralitas, etika dan spiritual semestinya menjadi pegangan hidup setiap orang, namun karena trend jaman Kali lebih menekankan pleasure and material oriented, maka hal itu akan mudah ditinggalkan.
Tantangan hidup sebagai individu maupun dalam sosial kemasyarakatan semakin berat pada era globalisasi karena pada kehidupan modern dewasa ini berkembang pesat kehidupan yang individualitis dengan kurang memedulikan keserasian dan keharmonisan antara sesama umat manusia.
Keserakahan manusia individualistis yang berorientasi hanya memburu kehidupan duniawi mengancam pelestarian lingkungan baik sosial maupun alam. Ajaran Trihita Karana yang menuntut adanya keserasian hidup antar sesama dan umat manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta beserta segala isinya itu sekaligus pula mengancam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Kehidupan individualistis yang memburu harta benda duniawi belaka sangat mengancam harkat dan martabat manusia, artinya demi kepentingan diri pribadi tidak segan-segan menyengsarakan sesama manusia di lingkungannya. Kehidupan individualistis digambarkan sebagai hukum rimba dengan free fight sebagai Matsya Nyaya, hukum ikan di laut. Ikan yang kecil akan selalu menjadi santapan bagi ikan yang lebih besar.
Bila kepentingan individualistis ini tidak dikendalikan oleh “morality force” yang bersumber pada ajaran agama, maka kehidupan sosial kemasyarakatan akan runtuh. Masyarakat yang permisif, serba membolehkan hal-hal yang mestinya tabu mengancam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tantangan pada bidang sosial kemasyarakatan tidak terlepas dari keserakahan umat manuysia.
Untuk mantapnya seseorang mengamalkan ajaran agama khususnya nilai-nilai mortalitas, etika dan spirtual yang merupakan pancaran pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai makhluk pribadi maupun dalam hidup bersama.
Sebagai anggota masyarakat, seseorang hendaknya memahami ajaran agama secara mantap, di antaranya: mecermati makna penjelmaan, untuk apa menjelma serta tujuan dari penjelmaan maupun tujuan tertinggi sebagai upaya mengentaskan umat manusia dari belenggu lahir, hidup dan mati yang disebut Moksa.
Moksa tidak hanya dapat diwujudkan ketika meninggal nanti (Videhamukti) tetapi juga pada waktu hidup ini, yakni pada saat seseorang mencapai tingkatan Samadhi/Jivanmukti (bersatunya jiwa dengan jiwa alam semesta berupa the ocean of the bliss) dan untuk itu landasan untuk mencapainya haruslah kokoh berupa pengamalan nilai-nilai moralitas terutama yang disebut dengan Yama-Niyama Brata sebagai landasan utama dalam ajaran Yoga Marga (Taimini, 1986 : 205).
Ajaran agama Hindu tidaklah semata-mata menekankan usaha untuk mencapai Moksa sebagai tujuan tertinggi ajaran agama Hindu (Purusartha), tetapi juga adalah untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan bahagia di dunia ini (Jagadhita).
Tanpa Jagahita, seseorang tidak akan mencapai Moksa. Menyadari dan dengan mencermati makna penjelmaan serta untuk apa menjelma, seseorang akan tekun melaksanakan atau mengamalkan ajaran agama, khususnya nilai-nilai moralitas sebagai usaha untuk memberi makna terhadap penjelmaan ini.
Kitab Sarasamuccaya, karya maharsi Vararuci atau Katyayana, menjelaskan bahwa kesempatan untuk menjelma sebagai manusia sangat sulit untuk diperoleh, oleh karena memanfaatkan penjelmaan ini untuk merealisasikan ajaran Dharma (Dharmasadhana) dalam hidup ini adalah mutlak :
“Sebab hanyalah manusia yang mampu mengentaskan dan memperbaiki dirinya dengan jalan berbuat baik (shubhakarma). Amat sulit memperoleh kesempatan untuk menjelma (lahir) sebagai manusia, oleh karena itu setiap orang hendaknya dapat mensyukurinya.
Orang yang tidak memanfaatkan penjelmaan ini dengan baik keadaannyaseperti orang yang sakit pergi ke suatu tempat yang tidak memberikan pertolongan atau obat. Penjelmaan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas hidup seperti halnya meniti tangga menuju sorga.
Penjelmaan ini walaupun singkat, bagaikan kerdipan petir, hendaknya dimanfaatkan untuk melaksanakan Dharmasadhana, yakni merealisasikan (mewujudkan pengamalan Dharma) yang akan memberikan pahala berupa kebahagiaan yang sejati dan kalepasan (Moksa).
Orang yang tidak melaksanakan Dharmasadhana, akan jatuh ke lembah neraka.Orang yang tidak berusaha melepaskan diri dari ikatan penjelmaan di dunia ini dinyatakan tetap dalam penderitaan (Sarasamuccaya, 2-12).
Dengan menyadari makna penjelmaan ini serta kesadaran Sang Hyang Atma (Sang Diri) yang terbelenggu oleh badan, maka seseorang akan berusaha menyucikan hidupnya, yang senantiasa akan berpegang teguh kepada nilai-nilai moralitas. Di dalam kitab suci Veda dinyatakan bahwa tubuh manusia adalah pura atau bangunan suci sedang jiwa (Sang Diri) adalah Tuhan Yang Maha Esa yang bersthana pada tubuh manusia.
Kesadaran ini pula mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat jujur, benar, ramah dan mengembangkan sifat prema atau cinta kasih yang mendalam terhadap semua makhluk :
“Seseorang yang menyalakan kewaspadaan batin memperoleh cahaya yang sebenarnya. Dengan memusatkan pikiran dan memandang ke dalam, batin menjadi terang. Kegem
*) Acharya Vedananda, Griya Taman Ganapati Muncan, Karangasem