Oleh Gede Pasek Suardika
Kisah beberapa kota mendadak terjadi blackout listrik dan internet di Eropa, kisah perang dengan operasi blackout listrik dan internet di Iran, hingga kebijakan Pemerintah Belanda yang menyiapkan warganya untuk bertahan hidup 7 hari (survival bag), dan tanpa keduanya itu (listrik dan internet) membuat kita semua harus ikut memikirkan apa yang bisa terjadi ke depan.
Semakin tingginya ketergantungan akan listrik dan internet selain bermanfaat sangat positif juga sangat rentan di lockdown kekuatan elit global. Sebab kedua sektor itu sudah menjadi jiwa dari gerak ekonomi. Keduanya blackout maka langsung efek dominonya seketika.
Suka tidak suka semua dari kita harus bersiap. Tidak terkecuali kita di Indonesia. Jujur saya semakin ngeri ketika anak ketiga Rian Narayana yang sedang memperdalam ilmu Cyber Security di University of Warwick UK saat diskusi dengan Saya pernah menyampaikan kalau dosen pembimbingnya pernah bilang, jika Indonesia itu di dunia digital ibarat sebuah rumah tanpa jendela dan pintu. Sehingga sangat mudah bagi siapa saja berselancar secara digital baik untuk maksud baik maupun maksud jahat.
Melihat hal ini, Saya berpikir, daripada uang pendidikan lebih Rp 200 triliun dialihkan anggarannya ke MBG dari anggaran MBG lebih Rp 350 triliun, mending untuk membangun dunia science sejak dini. Daripada mengangkat P3K pegawai SPPG, mending kesejahteraan guru diutamakan, apalagi yang honorer. Sejak TK SD SMP hingga perguruan tinggi.
Kita terhenyak bagaimana di Cina ada anak SD sudah bisa buat roket air dan dijadikan dunia science sebagai dunia bermain anak-anak. Sementara anak-anak kita masih sebatas penikmat Tik Tok buatan Cina.
Jujur sangat ngeri nasib negara ini dengan kualitas anak didik yang main keroyok guru, berhitung tidak bisa, dan lebih dini mengenal arak, tuak dan sejenisnya. Apa yang bisa diharapkan dari generasi dengan dunia pendidikan seperti itu?
Kita menjadi pasar dan limbah digital. Bukan menjadi pemain utama ikut mengatur lakon. Penduduk yang besar dengan lemah literasi, cara berpikir science dan lainnya sangat memerlukan kebijakan yang memiliki pondasi kuat di masa depan.
*) Gede Pasek Suardika, Advokat, Ketua Majelis Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Gede Pasek Suardika (GPS) yang Mantan DPR dan DPD RI Dapil Bali