Banner Bawah

Greenland, Titik Saraf Arktik yang Menguji Aliansi Barat

Admin 2 - atnews

2026-01-19
Bagikan :
Dokumentasi dari - Greenland, Titik Saraf Arktik yang Menguji Aliansi Barat
Abhiram Singh Yadav (ist/Atnews)

Jakarta (Atnews) - Isu Greenland kembali mencuat dalam percakapan geopolitik global. Di permukaan, isu ini tampak seperti drama diplomatik: retorika keras, tekanan ekonomi, hingga wacana kepemilikan wilayah. Namun menurut Abhiram Singh Yadav, Dosen di LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta, persoalan Greenland sebenarnya jauh lebih struktural dan strategis.

“Greenland adalah contoh paling jelas untuk membaca geopolitik modern dengan pendekatan yang rapi,” ujar Abhiram di Jakarta, Senin (19/1).

Ia menekankan bahwa yang terjadi hari ini bukan hanya soal siapa yang paling vokal atau siapa yang terlihat paling dominan, melainkan tentang perubahan cara negara besar membangun sistem keamanan.

Abhiram menjelaskan, banyak orang mengira Greenland hanya menjadi panggung persaingan Amerika Serikat melawan Rusia dan China. Padahal, yang lebih penting adalah fungsi Greenland dalam arsitektur pertahanan modern.

Letaknya di Arktik menjadikan wilayah ini sangat krusial untuk sistem peringatan dini (early warning), pelacakan ancaman jarak jauh (tracking architecture), dan kredibilitas pencegahan Amerika–NATO (deterrence credibility).

“Dalam logika strategis, Greenland bukan sekadar pulau. Ia titik saraf yang menentukan kerja sistem pertahanan global, terutama karena pertahanan modern tidak hanya bergantung pada pangkalan militer, tetapi pada sensor, ruang angkasa, dan jalur ancaman lintas kutub,” tambah Abhiram.

Ia menilai bahwa retorika agresif dari Washington bisa saja dibaca sebagai drama politik. Namun, di saat yang sama, retorika tersebut dapat berfungsi sebagai alat percepatan: mendorong modernisasi pertahanan Arktik, memperluas fleksibilitas operasi, serta memperketat kontrol terhadap infrastruktur strategis agar tidak jatuh ke kepentingan lawan.

Di sisi lain, respons Eropa tidak bisa dipahami sekadar sebagai sikap defensif. Abhiram menekankan ada dua hal yang dipertaruhkan: kedaulatan (sovereignty) dan preseden. Jika tekanan ekonomi digunakan untuk memaksa kehendak terhadap sekutu, maka sifat aliansi pun berisiko berubah, dari model konsensus menjadi lebih transaksional.

Karena itu, Abhiram menilai skenario paling realistis bukanlah perang antar sekutu, melainkan negosiasi keras yang berujung kompromi: kedaulatan tetap dijaga secara formal, tetapi sistem keamanan Arktik dipercepat secara substantif.

“Greenland memberi pelajaran penting. Geopolitik hari ini bukan hanya soal wilayah. Ia adalah soal siapa yang mengendalikan mesin keamanan global melalui geografi, teknologi, ekonomi, dan legitimasi,” pungkasnya. (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Undwi Ikut Siapkan Generasi Emas Indonesia

Terpopuler

Sambut Nyepi, BTID Gelar Safari Ogoh-Ogoh, Perkuat Sinergi Budaya di Desa Serangan

Sambut Nyepi, BTID Gelar Safari Ogoh-Ogoh, Perkuat Sinergi Budaya di Desa Serangan

Refleksi Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1948

Refleksi Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1948

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Jelang Nyepi dan Lebaran, Menpar Intensifkan Visitasi 165 Destinasi Wisata Nasional

Jelang Nyepi dan Lebaran, Menpar Intensifkan Visitasi 165 Destinasi Wisata Nasional

Menteri PKP Siapkan Rusun Khusus Seniman di Denpasar, Hunian Bernuansa Lokal

Menteri PKP Siapkan Rusun Khusus Seniman di Denpasar, Hunian Bernuansa Lokal

MUDIK dengan sehat

MUDIK dengan sehat