Banner Bawah

Belajar dari India: Kerapian di Balik Keramaian Pelajaran Global dari Negeri Vrindavana

Admin 2 - atnews

2026-02-02
Bagikan :
Dokumentasi dari - Belajar dari India: Kerapian di Balik Keramaian Pelajaran Global dari Negeri Vrindavana
Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., MOS., CIRR. (ist/Atnews)

Oleh Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., MOS., CIRR.

India sering kali dipersepsikan sebagai negeri yang padat, penuh warna, dan serba kontras. Dari jalanannya yang ramai dan penuh suara klakson, hingga perbincangan akademik yang sarat pemikiran mendalam di ruang-ruang kuliah, India menunjukkan paradoks yang memukau: nampak berantakan dari luar, namun sangat rapi di dalam.

Kunjungan akademik ke negeri Vrindavana ini menyingkap sisi lain dunia pendidikan tinggi yang tidak hanya keras dari sisi kompetisi, tetapi juga lembut dalam semangat kolaborasi.

Di sanalah makna sesungguhnya dari “kuliah bukan untuk bekerja, tetapi untuk bekal hidup” menjadi nyata.
 
Pengalaman di Negeri Kontras (23-29 Januari 2026): Chennai dan Sekitarnya: Perjalanan akademik ke beberapa kampus ternama di India, khususnya di Chennai, Tamil Nadu, memberikan pengalaman yang berkesan dan menggugah banyak refleksi.

Salah satu agenda penting adalah guest lecture di Vellore Institute of Technology (VIT) di mana Rektor Universitas Dhyana Pura Bali, Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, menjadi pembicara tamu dengan topik Tourism Marketing Management.

Sesi perkuliahan yang berlangsung di Aula VIT itu menggambarkan dinamika akademik kelas dunia.

Mahasiswa dari berbagai program studi menunjukkan antusiasme luar biasa, tidak sekadar mendengarkan, tetapi bertanya dengan cara yang reflektif dan kritis. Diskusi yang muncul menandai cara berpikir khas India tajam, analitis, dan terbuka terhadap pandangan luar.

Mereka tertarik untuk memahami strategi pemasaran pariwisata dari negara berkembang seperti Indonesia, seraya mengaitkannya dengan konteks globalisasi dan digitalisasi destinasi.

Melalui forum tersebut, kolaborasi akademik global terasa nyata. “Pariwisata adalah sektor strategis yang memerlukan pendekatan multidisipliner dan kolaboratif lintas negara,” ujar Prof. Rai Utama dalam sesi itu.

Pernyataan ini menemukan relevansinya di India, negara yang tidak hanya besar secara geografis, tetapi juga kaya dalam ide dan energi muda. Keterlibatan pimpinan universitas seperti Prof.

Rai Utama memperlihatkan bagaimana diplomasi akademik kini menjadi wujud nyata dari internasionalisasi pendidikan, memperkuat jejaring riset, dan membuka peluang pertukaran mahasiswa, dosen, serta program bersama antara Universitas Dhyana Pura dan VIT India.

Di kota lain, pengalaman mengunjungi Kings International Medical Academy (KIMA), memberikan kesan yang sangat berbeda namun sama kuatnya.

Kampus megah di Mamallapuram itu berdiri kokoh dan modern bak istana putih yang memancarkan kemegahan disiplin ilmu kedokteran. Di sana, sistem pendidikan dan fasilitasnya menggambarkan profesionalisme yang berpadu dengan semangat pelayanan kemanusiaan.

Tidak ada keharusan berseragam formal seperti di banyak kampus Indonesia, namun niat yang sama untuk menjadi insan yang berilmu dan bermanfaat terasa di setiap sudutnya.
 
Kunjungan ke Saveetha University (Saveetha Medical College Hospital) juga meninggalkan catatan penting. Institusi ini menampilkan integrasi nyata antara praktik dan teori, antara dunia industri medis dan dunia penelitian.

Di sinilah terlihat bahwa India tidak hanya memelihara warisan nilai-nilai “old school” dalam sains dan teknologi, tetapi juga mampu mendorong inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat.

Sementara itu, R.B. Gothi Jain College for Women (RGJCW) menjadi contoh nyata emansipasi dalam dunia pendidikan tinggi.

Dengan fokus pada pengembangan perempuan di bidang sains, seni, perdagangan, dan manajemen, kampus ini melatih mahasiswa-mahasiswa muda untuk menjadi pemimpin dengan pandangan kritis dan jiwa wirausaha.
 
Sistem Pendidikan Tinggi India: Antara Tradisi dan Revolusi Pikiran: Salah satu aspek paling menarik dari India adalah arah baru dalam sistem pendidikan tingginya.

Melalui National Education Policy (NEP) 2020, pemerintah India melakukan reformasi besar-besaran terhadap orientasi pendidikan nasional.

Kebijakan ini mengguncang paradigma lama yang selama puluhan tahun menekankan rote learning atau hafalan menuju sistem yang menonjolkan critical thinking, kreativitas, dan pembelajaran berbasis pengalaman nyata (experiential learning).

Pendekatan baru itu menegaskan bahwa pendidikan bukanlah sekadar sarana untuk mencari pekerjaan, melainkan cara untuk menumbuhkan daya pikir, empati, dan kematangan pribadi.

Semangat “kuliah bukan untuk bekerja, tetapi untuk bekal hidup” dengan demikian menjadi prinsip nyata di banyak kampus di India.

Mahasiswa tidak sekadar mengejar gelar, tetapi berjuang untuk memahami esensi ilmu, menyelami persoalan sosial, dan mencari solusi yang berakar pada moralitas dan tanggung jawab publik. Di bawah NEP 2020, sistem pendidikan India kini lebih terbuka terhadap pendekatan multidisipliner.

Seorang mahasiswa teknik bisa mempelajari filsafat, seni, atau ekonomi; begitu pula mahasiswa kedokteran bisa menekuni bidang teknologi informasi atau psikologi. Kebijakan ini melahirkan generasi pembelajar yang holistic pemikir, bukan sekadar pekerja.

Namun, meskipun kebijakan ini sangat visioner, India tetap menghadapi tantangan besar dalam implementasinya. Budaya hafalan masih mengakar kuat di sebagian lembaga pendidikan.

Tekanan ujian nasional sering kali mengekang kreativitas dan inovasi mahasiswa. Disparitas infrastruktur antara universitas perkotaan dan pedesaan menimbulkan kesenjangan mutu yang signifikan.

Meski begitu, semangat reformasi tetap kuat. Pemerintah dan lembaga pendidikan menyadari bahwa membangun peradaban intelektual tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh budaya baru yang menempatkan logika di atas hafalan, dan dialog di atas dominasi.
 
Pelajaran dan Pesan dari Negeri Vrindavana: Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari India, terutama bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

1) Pertama, India memberi contoh bahwa keteraturan tidak selalu harus berarti keseragaman. Kampus-kampus besar di sana tampak padat dan penuh dinamika, namun berjalan pada sistem yang sangat tertib di bagian dalam. Tidak ada seragam yang seragam, tetapi ada niat bersama yang seragam untuk maju.

Pelajaran ini mengingatkan bahwa dalam membangun universitas tidak cukup dengan aturan dan prosedur, tetapi juga perlu menanamkan budaya tanggung jawab individual dan semangat bersama untuk berkembang.

2) Kedua, sistem pendidikan India mengajarkan pentingnya stabilitas kebijakan. Mereka “tidak suka ganti-ganti sistem”, karena memahami bahwa fondasi pendidikan memerlukan kesinambungan.

Meskipun struktur sistemnya terus disesuaikan dengan zaman, arah dasarnya tidak berubah: mencetak manusia berpikir kritis dan berkarakter. Ini menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia yang sering kali terjebak dalam pergantian kebijakan pendidikan setiap kali terjadi perubahan kepemimpinan.

3) Ketiga, kunjungan ke kampus-kampus di India menunjukkan bahwa globalisasi akademik hanya akan berhasil jika ada hubungan yang sejati antara universitas didasarkan pada rasa saling percaya dan keinginan tulus untuk berbagi ilmu.

Kolaborasi antara Universitas Dhyana Pura dan VIT India, misalnya, menjadi langkah strategis dalam memperkuat diplomasi pendidikan dan riset lintas negara.
 
Refleksi: pesan moral yang paling kuat dari India adalah tentang integritas dalam belajar. Di tengah segala kontrasnya antara tradisi dan teknologi, kemiskinan dan kemajuan India tetap menjaga semangat ilmiah yang hidup.

Di negeri itu, perbedaan dipandang sebagai kekayaan, bukan penghalang. Mereka tidak sibuk memperdebatkan bentuk luar, tetapi terus memperdalam isi.

Sebuah refleksi yang sangat layak ditiru dalam upaya membangun kampus Indonesia yang berkelas dunia: berani belajar dari keramaian, namun tetap rapi dalam berpikir dan bersikap. India menunjukkan bahwa sistem pendidikan tinggi yang kuat tidak harus seragam di permukaan, tetapi kokoh dalam nilai, tujuan, dan budaya akademik.

Kunjungan ke VIT, KIMA, Saveetha University, dan RGJCW menegaskan bahwa kualitas kampus tidak diukur dari kemegahan fisik semata, melainkan dari ekosistem ilmiah yang kritis, kolaboratif, dan humanis.

Melalui NEP 2020, India berani berpindah dari hafalan menuju critical thinking, multidisiplin, dan pembelajaran berbasis pengalaman, dengan orientasi “kuliah sebagai bekal hidup”, bukan sekadar tiket kerja.

Bagi Indonesia, ada tiga refleksi penting: perlunya keteraturan tanpa memaksakan keseragaman, pentingnya stabilitas kebijakan lintas rezim, dan urgensi membangun kolaborasi internasional yang tulus.

Di atas semuanya, integritas dalam belajar dan keberanian menempatkan isi di atas bentuk adalah prasyarat bila kampus Indonesia ingin benar-benar berkelas dunia.


*) Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., MOS., CIRR., Rektor Universitas Dhyana Pura (UNDHIRA) Guru Besar Manajemen Bisnis Pariwisata

Baca Artikel Menarik Lainnya : Presiden Agar Batalkan Remisi kepada Otak Pembunuh Wartawan Bali

Terpopuler

Konsumsi Listrik Nasional Terus Meningkat, Penjualan PLN Capai 317,69 TWh Sepanjang 2025

Konsumsi Listrik Nasional Terus Meningkat, Penjualan PLN Capai 317,69 TWh Sepanjang 2025

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Belajar dari India: Kerapian di Balik Keramaian Pelajaran Global dari Negeri Vrindavana

Belajar dari India: Kerapian di Balik Keramaian Pelajaran Global dari Negeri Vrindavana

Pujawali Purnama Kawulu Pura Catur Lawa Ratu Pasek, Wagub Giri Prasta: Momentum Penyucian Sekala-Niskala dan Eling Leluhur

Pujawali Purnama Kawulu Pura Catur Lawa Ratu Pasek, Wagub Giri Prasta: Momentum Penyucian Sekala-Niskala dan Eling Leluhur

Buka Bulan Bahasa Bali VIII, Gubernur Koster: Aksara Bali harus Tampil di Semua Ruang

Buka Bulan Bahasa Bali VIII, Gubernur Koster: Aksara Bali harus Tampil di Semua Ruang