Oleh Dr Wayan Sayoga
Palemahan di dalam pilosofi Tri Hita Karana tidak hanya menyangkut tanah, namun dalam pengertian alam lingkungan yang lebih luas. Alam merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi keseimbangan diri dan kebahagiaan seseorang. Karena itu relasi yang harmonis dengan alam lingkungan sangat penting dijaga dan dilestarikan.
Sejak lahir badan fisik kita bertumbuh dan bisa bertahan karena adanya dukungan dari alam. Kebutuhan akan udara, air, cahaya dan makanan semuanya kita dapatkan dari alam.
Sampai sekarang saya belum pernah melihat atau membaca ada orang yang mampu menciptakan satu biji padi atau sebutir nasi yang asli.
Tanah atau ekosistem ini hendaknya diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri.
Jangan hanya karena ia tidak bisa berbicara secara fisik lalu kita berbuat seenaknya. Dibilang tidak bisa bicara, tidak betul juga.
Alam sesungguhnya berbicara bahkan sering, namun karena saking tumpulnya kepekaan kita, maka kita tidak mampu mendengar dan merasakannya.
Dari mana datangnya ketumpulan rasa dan hilangnya kepekaan ini? Coba periksa dengan niat tulus dan jujur bagaimana hidup yang kita jalani selama ini. Semoga nanti ketemu simpul nya.
Jurang keharmonisan yang semakin berjarak dengan alam mengakibatkan berbagai gangguan penyakit, baik secara fisik maupun mental. Orang bisa dengan mudah stress, depresi dan jatuh sakit secara fisik hingga bunuh diri.
Berbagai persoalan kehidupan kedepan akan semakin banyak seiring semakin jauhnya kita dari pola hidup alami.
Banyak orang memiliki rumah mewah, dan mobil bagus, namun begitu keluar halaman rumahnya mereka bisa melempar sampah dengan enteng dari dalam mobilnya.
Mereka sama sekali tidak peduli dengan kondisi di luar mobilnya atau pekarangannya. Barangkali mereka pun tidak hirau dengan situasi di dalam rumahnya sendiri karena semua urusan sudah dibereskan oleh para pembantu. Mungkin suatu saat jika rumahnya diterjang banjir, baru mereka teriak teriak.
Beberapa hari belakangan anggota dewan dan satpol PP cukup serius memerika berbagai pelanggaran pembangunan yang terjadi dilapangan. Pelanggaran ini telah menciptakan permasalahan sosial dan kesehatan. Banjir tiba tiba menerjang suatu desa akibat proyek egois, yang tidak lagi mengindahkan tata lingkungan.
Ternyata banyak pengusaha yang datang ke Bali konon mencaplok hutan, pantai, danau, sungai, tebing, dan lain lainnya. Bahkan belakangan ini ramai dimedia ada yang mencaplok hutan mangrove hingga puluhan hektar.
Katanya untuk kawasan khusus.
Khusus buat apa dan untuk siapa? Nelayan yang biasa mencari ikan dan umat yang mau tangkil ke pura sakenan, konon juga dipersulit. Lalu apa khususnya ? Khusus untuk memanjakan orang berduit dan dipihak lain menyingkirkan dan menghabisi kehidupan warga lokal.?
Apa sebetulnya manfaat yang didapatkan Bali atas proyek proyek besar tersebut?
Jika sudah jelas ditemukan pelanggaran maka Bali harus bersuara keras dan bersikap tegas. Kita mesti mengambil kembali hutan, bukit, gunung, sungai, pantai, sawah, lembah, danau dan lain lainnya dari para serakah yang berkedok investasi.
Atas nama investasi, para investor - lebih tepat disebut pedagang - menerjang semua sudut dan setiap jengkal palemahan Bali. Sudah tidak waktunya Bali berdiam diri.
Jangan biarkan Bali semakin hancur. Kita tidak mau mewarisi Bali yang rusak dan hancur kepada anak cucu.
Nelson Mandela, pejuang kemerdekaan dan presiden Afrika Selatan pernah mengatakan; "para pengusaha tidak pernah membangun negara. Mereka hanya mengambil dan menambah kerusakan negara".
Semoga para investor atau pedagang apapun, dan dari manapun mereka datang di Bali, bisa membuktikan pernyataan Tuan Mandela tersebut tidak benar.
Siapapun anda dan apapun profesi anda, jadilah tamu yang sopan di Bali. Kita sebagai orang Bali yang selama ini dikenal polos, ramah dan terbuka, akan tetap menjaga dan mempertahankan sikap tersebut.
Namun pada saat yang sama kita akan bersuara lantang, dan bersikap tegas jika ada praktek usaha yang kurang ajar dan merusak alam Bali.
Untuk orang Bali sendiri, hentikanlah sikap yang sopan manis namun penuh kemunafikan. Bali sudah kebanyakan pengecut munafik. Bali saat ini membutuhkan para peberani dan Karmayogi.
Kita jangan hanya mengandalkan pemerintah untuk menyelamatkan pulau ini dari kehancuran. Setiap dari kita bisa, kita semua musti terlibat dan berperan bersama didalamnya.
Bali mesti menunjukkan jati dirinya. Dan kita harus berani tunjukkan sikap apa adanya.
Hidup Kita tidak akan tenang dan damai jika kualitas alam lingkungan tidak sehat. Pikiran dan tindakan yang selaras dengan alam merupakan kunci untuk meraih ketenangan dan kebahagiaan.
Ingatlah selalu, Bali akan senantiasa memberi tanpa mengharapkan secuil imbalan. Mari kita rawat bersama pulau ini agar kita tetap bisa berlindung dan memperoleh kehidupan darinya.
*) Dr Wayan Sayoga, Ketua DPD Prajaniti Bali