Banner Bawah

Sejarah Baru; Mahashivaratri 2026, Prambanan, Pusat Hindu Nusantara

Admin 2 - atnews

2026-02-15
Bagikan :
Dokumentasi dari - Sejarah Baru; Mahashivaratri 2026, Prambanan, Pusat Hindu Nusantara
Budayawan Putu Suasta (ist/atnews)

Yogyakarta (Atnews) - Budayawan Putu Suasta yang juga Pendiri Peradah dan KMHDI menyambut baik Mahashivaratri Prambanan Shiva Festival 2026 di Yogyakarta, Sabtu (14/2).

Perayaan Mahashivaratri 2026 sebagai sejarah baru bagi tanah air, pertama kali diadakan di Indonesia ini akan menghadirkan penyalaan 1008 dipa (pelita) serta mengumandangkan damaru (alat musik). 

Mahashivaratri 2026 akan menghadirkan parade budaya dari Candi Kedulan sampai ke Candi Prambanan. Dengan menampilkan asap suci, panji-panji, tombak, benda sakral dan shivalingga. Sekaligus kirab juga membawa air suci dari 36 provinsi dan 9 candi Nusantara yang telah disakralisasi oleh 35 Sulinggih dari seluruh Indonesia.

Memariknya lagi, prosesi Maha Gangga Tirta Gamana, di mana air dipersatukan sebagai simbol pemurnian diri dan harmoni semesta tersimpan makna tentang keterhubungan manusia, alam dan spiritualitas. 

Pada inti ritual, umat akan mengikuti persembahyangan Abhisekam atau upacara penyucian candi yang terdiri dari Abhisekam Mahashivaratri sebagai ritual persembahan puncak serta dilanjutkan dengan Abhisekam 4 dan Abhisekam 5 yang merupakan persembahyangan hingga fajar menyingsing.

Sulinggih pemuput karya Maha Gangga Tirta Gamana yakni Ida Shri Bhagawan Dalem Acharya Mahakerthi Wira Jagat Manik, Ida Pandita Mpu Acarya Pramadaksa Jayananda, Ida Pandita Mpu Daksa Putra Yaska Tegal Manuaba, Ida Pandita Mpu Nabe Dwijaksari Parama Daksa Yogi, Ida Pandita Mpu Satya Sandhi Daksa Darmita, Ida Pandita Mpu Wibawa Acarya Daksa Manuaba, Ida Pandita Mpu Putra Bhirudaksa Yaksa Acharya Manuaba, Ida Pandita Mpu Swi Reksodamarjati Dipayana, Shrii Mpu Brahma Vidyananda Raksita, Ida Pandita Mpu Dharma Bhavana Mundi Daksa Manuaba, Ida Pedanda Gede Rai Putra Bang Buruan Manuaba, Ida Rsi Agung Wasita Suta Dharma Wijaya, Ida Pandita Mpu Wajra Wirya Kusuma Ananda. Ida Pedanda Istri Bang Keniten, Ida Pandita Mpu Nabe Agni Satyawadi Dwi Natha Daksa, Ida Pedanda Gede Putra Kemenuh Manuaba, Ida Sri Bagawan Ratnashantana Sebali.

Selain itu, ada pula Internasional Conference ditayangkan Youtube PHDI Pusat menghadirkan Prof. Dr. Drs I Nengah Duija, M.Si, Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, I Nyoman Ariawan Atmaja, Dr. Rajesh Kumar Mishra, Prof. Dr. Chirapat Prapandyavidya, Dr. Inder Jeet Sharma, Dr Qingkan Ge, Sugi Lanus, Dr. I Made Darmayasa yang dipandu oleh I Made Andi Arsana Ph.d

Tampil hiburan religi (Tari Bedhaya Majakirana dan Tari Shiva Tandava Stotram). Acara itu disusun persembahan untuk umat Hindu dibawah kepemimpinan Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan I Nyoman Ariawan Atmaja.

Mahashivaratri merupakan salah satu hari suci terpenting bagi umat Hindu di seluruh dunia. Maha Shivaratri sebagai festival Hindu yang dirayakan setiap tahun didedikasikan untuk Dewa Siwa dan Dewi Parvati. 

Hari itu juga melambangkan tarian kosmik Siwa (Tandava), kemenangan atas kegelapan, kebangkitan spiritual, kekuatan batin, dan penyatuan Siwa dan Shakti.

Perayaan Shivaratri di setiap bulan luni-solar di kalender Hindu, pada malam ke-13/14 hari, tetapi setahun sekali di akhir musim dingin (Februari/Maret, atau Phalgun) dan sebelum kedatangan Musim Panas, menandai Maha Shivaratri yang berarti "Malam Kehebatan Siwa".

Setiap bulan lunar pada hari ke-13 atau ke-14 dari paruh gelap fase bulan, ada Shivaratri, tetapi pada bulan Phalgun (Februari-Maret) dalam kalender Weda ada Maha Shivaratri.

Upacara itu berlangsung terutama pada malam hari, yang dirayakan untuk menghormati Dewa Siwa, yang menikah dengan Parvati (Ibu Durga) pada hari ini.

Para pemuja Dewa Siwa umumnya menjalankan puasa ketat pada hari ini dan beberapa di antaranya melakukan puasa nirjal yakni tidak minum air sedikit pun.

Mereka terjaga sepanjang malam. Lingam Siwa disembah sepanjang malam dengan mencucinya setiap tiga jam dengan susu, yogurt, ghee, madu, dan sebagainya, sambil terus melantunkan mantra “Om Namah Shivaya”. 

Persembahan daun bael diberikan kepada Lingam. Daun bael sangat sakral (seperti Tulsi untuk Shri Wisnu dan dhar untuk Devi Durga yang sangat menyenangkan bagi Mereka) dan Dewa Siwa menjadi senang dengan persembahan itu. 

Disebutkan pula dalam literatur Veda, Barangsiapa mengucapkan nama-nama Dewa Siwa selama Shivaratri dengan penuh pengabdian dan konsentrasi, maka ia akan terbebas dari segala dosa yang telah diperbuatnya. Ia akan mencapai tempat tinggal Dewa Siwa dan tinggal di sana dengan sangat bahagia.
            
Perayaan Mahashivaratri 2026 seluruh dunia jatuh pada tanggal 15 Februari di Negara India dan Negara Indonesia pada tanggal 16 Februari 2025.

Mahashivaratri 2026 itu sebagai rangkaian penutupan Prambanan Shiva Festival 2026 di Lapangan Wisnu kompleks Candi Prambanan, selama dua hari, Minggu (15/2) hingga Senin (16/2). 

Diamana Perayaan Hari Suci Shivaratri pada Sabtu 17 Januari sebagai Prambanan Shiva Festival 2026.

Sebelumnya, Ketua Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, Nyoman Ariawan Atmaja, menegaskan bahwa pelaksanaan Shivaratri di Prambanan memiliki landasan historis yang kuat. Menurutnya, kegiatan ini selaras dengan bukti sejarah yang tercatat dalam Prasasti Wantil tahun 778 Śaka atau 856 Masehi.

“Prasasti Wantil tahun 778 Śaka (856 Masehi) menyebutkan kelompok candi agung yang dipersembahkan untuk Dewa Shiva atau disebut Shivagrha. Jadi Shivagrha adalah nama asli dari Candi Prambanan sebagai pusat pengagungan Dewa Shiva. Itulah salah satu alasan mendasar mengapa puja Shiva kita lakukan malam ini di Candi Prambanan,” jelas Nyoman.

Ia menekankan bahwa perayaan ini bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum spiritual untuk melakukan perenungan mendalam. “Ini menjadi momentum yang tepat untuk melakukan kontemplasi dan perenungan diri dengan melepaskan semua ikatan dunia dan fokus memuliakan nama Shiva,” tambahnya.

Dengan demikian, Candi Prambanan di Indonesia sebagai salah satu tempat pemujaan (kuil) Dewa Siwa terbesar di dunia.

Candi Prambanan cocok bagi para pemuja Dewa Siwa, pada Maha Shivratri merayakan malam dengan berpuasa, melantunkan mantra sepanjang malam, bermeditasi, dan mempersembahkan sesaji kepada Siwa, memohon berkah untuk pertumbuhan spiritual, penyucian, dan penaklukkan iblis batin. 

Dewa Siwa juga dipuja di beberapa kuil megah di seluruh dunia, dan para pemuja mengunjungi kuil-kuil tersebut untuk memohon berkah. 

Selain Candi Prambanan, kuil besar lainnya yakni Kailashnath Temple, Maharashtra (India), Brihadeeswarar Temple, Tamil Nadu (India), Murudeshwar Temple, Karnataka (India), Kotilingeshwara Temple, Karnataka (India), Pashupatinath Temple (Nepal), Gangaikonda Cholapuram Temple, Tamil Nadu (India), Vadakkunnathan Temple, Kerala (India).

Suasta juga menjelaskan, Candi Prambanan sebagai karunia bagi Indonesia. Dimana kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO. 

Terletak di perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, tepatnya sekitar 17 kilometer timur laut dari Kota Yogyakarta.

Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9, tepatnya sekitar tahun 850 Masehi. Candi ini didirikan oleh Rakai Pikatan, seorang raja dari Wangsa Sanjaya (dinasti Hindu) yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno.

Nama asli dalam bahasa Sanskerta yaitu Siwagrha, yang berarti "Rumah Siwa". Candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan bagi Trimurti, tiga dewa utama dalam agama Hindu yakni Candi Siwa (di tengah, yang tertinggi), Candi Wisnu (di selatan), Candi Brahma (di utara).

Dengan menjadikan Siwa sebagai dewa utama di candi tertinggi (47 meter), Prambanan menjadi episentrum spiritual bagi umat Hindu di wilayah Kerajaan Mataram Kuno. Para pendeta, bangsawan, dan rakyat dari berbagai penjuru kerajaan datang ke sini untuk melakukan upacara keagamaan besar, seperti upacara Siwaratri atau hari suci keagamaan lainnya.

Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti Siwagrha yang berangka tahun 856 M, yang menyebutkan tentang pembangunan tempat pemujaan Siwa.

Candi Prambanan sebagai Pusat Hindu Nusantara merujuk pada peran penting kompleks candi ini sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-9 hingga ke-10 Masehi). 

Kompleks Candi Prambanan dirancang untuk menjadi tiruan Gunung Meru, tempat bersemayam para dewa dalam kosmologi Hindu.

Saat ini, Candi Prambanan menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia.

Pembangunan Candi Prambanan oleh Raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya (Hindu) tidak lepas dari konteks politik. Pada masa itu, Wangsa Syailendra yang beragama Buddha telah membangun Candi Borobudur dan candi-candi Buddha lainnya. 

Pembangunan Prambanan bertujuan untuk meneguhkan kembali agama Hindu sebagai kekuatan utama di Jawa Tengah setelah periode dominasi Buddha.

Menjadi simbol persatuan dan legitimasi kekuasaan raja yang dianggap sebagai titisan dewa.

Oleh karena itu, Prambanan menjadi pusat gravitasi kekuasaan religius-politik kerajaan.

Relief-relief yang dipahatkan pada dinding pagar langkan Candi Prambanan bukan sekadar hiasan, melainkan media pendidikan dan penyebaran ajaran Hindu. Relief ini mengisahkan dua epik besar Hindu, itihasa (Veda) yakni Ramayana dan Bharatayuddha (Mahabharata).

Para seniman, pujangga, dan pendeta menggunakan relief ini untuk mengajarkan nilai-nilai dharma (kebenaran) dan tata cara kehidupan ideal kepada masyarakat yang mayoritas masih buta huruf. Dengan kata lain, Prambanan berfungsi sebagai perpustakaan batu dan pusat pembelajaran agama.

Keindahan arsitekturnya yang menjulang tinggi serta reliefnya yang menceritakan kisah Ramayana menjadikannya mahakarya arsitektur masa lampau. Setiap malam, di kompleks candi ini dipentaskan Sendratari Ramayana.

Arsitektur Candi Prambanan yang menjulang tinggi dan ramping (sesuai ciri arsitektur Hindu) menjadi prototipe atau acuan bagi pembangunan candi-candi Hindu di kemudian hari, baik di Jawa Timur maupun kemungkinan memengaruhi gaya arsitektur di kerajaan Hindu lain di Asia Tenggara. 

Kemegahannya mencerminkan bahwa Mataram Kuno adalah pusat peradaban Hindu yang maju dan disegani.

Maka dari itu, Candi Prambanan merupakan warisan Sanatana Dharma. Bahkan Candi Prambanan di Indonesia, Angkor Wat di Kamboja, dan Ayutthaya di Thailand memiliki 

Candi Prambanan di Indonesia, Ellora Caves di India, Angkor Wat di Kamboja, dan Ayutthaya di Thailand yang memiliki kemiripan.

"Semuanya merupakan bukti luar biasa pengaruh Hindu kuno di seluruh Asia Tenggara," bebernya. 

Ellora Cave kompleks situs warisan dunia UNESCO di Maharashtra, India, yang terdiri dari 34 gua-kuil (Hindu, Buddha, Jain) yang dipahat langsung dari tebing basal. Dibangun antara abad ke-6 hingga ke-12, situs ini terkenal dengan arsitektur menakjubkan, terutama Kuil Kailasa (Gua 16) yang merupakan struktur monolitik terbesar di dunia. 

Angkor Wat, yang awalnya dibangun pada awal abad ke-12 sebagai candi Hindu untuk Wisnu, berdiri sebagai monumen keagamaan terbesar di dunia. Relief-reliefnya yang rumit menggambarkan sejarah Weda, mencerminkan pengaruh budaya dan spiritual Hindu yang mendalam dalam peradaban Khmer sebelum menjadi situs Buddha.

Ayutthaya di Thailand, meskipun sebagian besar beragama Buddha saat ini, sangat dipengaruhi oleh Hindu. Arsitektur dan ikonografi kota ini, termasuk banyak penggambaran dewa-dewa Hindu, menunjukkan bagaimana kepercayaan dan tradisi artistik Hindu meresap ke dalam Thailand kuno. Situs-situs ini merupakan simbol abadi dari warisan budaya Hindu yang tersebar luas.

Ditekankan kembali, kehadiran Candi Prambanan sebagai pusat spiritual, pendidikan, dan kebudayaan Hindu yang paling penting di Nusantara. 

Meskipun setelah perpindahan kekuasaan ke Jawa Timur pada abad ke-10 peran Prambanan sebagai pusat aktif perlahan meredup dan candi ini akhirnya ditinggalkan, tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa kejayaannya.

Warisannya terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya, bahkan hingga saat ini, Prambanan masih digunakan untuk perayaan keagamaan umat Hindu seperti Tawur Agung dan Shivaratri.

"Intinya Prambanan dipertegas menjadi Pusat Hindu Nusantara, meningkatkan kesadaran umat terhadap Tri Hita Karana, pluralisme juga sebagai bagian yang terpenting dari mision Hindu Nusantara yang menghormati kebudayaan dan karakter Hindu dari berbagai daerah, seperti Hindu ke Kaharingan, Hindu Karo  Hindu Wiwitan, Hindu Jawa, Hindu dengan warna kebudayaan Bali," ujarnya.

Dengan mendatangkan pembicara dari berbagai negara. Hindu Nusantara diperluas persepsinya menjadi Hindu yang lebih humanis. "Saya perlu hadir untuk melihat secara langsung apa yang terjadi dari lintas pemikirannya. Saya Hindu lebih moderen, humanis, plural dengan tanpa menghilangkan warna lokal," imbuhnya.

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi memberikan apresiasi peresmian Maha Kumbabhishegam Shri Sanathana Dharma Aalayam (SSDA) atau Murugan Temple di Jakarta, Minggu (2/2/2025).
            
Modi menekankan bahwa ikatan antara kedua negara didasarkan pada warisan, ilmu pengetahuan, keyakinan, kepercayaan bersama, dan spiritualitas. 

Hubungan ini mencakup Dewa Murugan, Sri Ram, dan Dewa Buddha. Ia menyoroti bahwa ketika seseorang dari India mengunjungi Candi Prambanan di India, mereka mengalami perasaan spiritual yang sama seperti di Kashi dan Kedarnath.

Ia pun mencatat bahwa kisah-kisah Kakawin dan Serat Ramayana membangkitkan emosi yang sama seperti Valmiki Ramayana, Kamba Ramayana, dan Ramcharitmanas di India.

 Ia menyebutkan bahwa Ramleela Indonesia juga dipentaskan di Ayodhya, India. 

Shri Modi menyatakan bahwa mendengar "Om Swasti-Astu" di Bali mengingatkan orang India akan berkah para cendekiawan Veda di India. 

Ia menunjukkan bahwa Stupa Borobudur di Indonesia mencerminkan ajaran Dewa Buddha yang sama seperti yang terlihat di Sarnath dan Bodh Gaya di India. 

Perdana Menteri menyebutkan bahwa festival Bali Jatra di Odisha merayakan pelayaran maritim kuno yang pernah menghubungkan India dan Indonesia secara budaya dan komersial. 

Ia menambahkan bahwa bahkan saat ini, ketika orang India bepergian dengan Garuda Indonesia Airlines, mereka melihat warisan budaya bersama.

Perdana Menteri mengatakan bahwa hubungan antara India dan Indonesia terjalin dengan banyak benang merah yang kuat. 

Ia menyebutkan bahwa selama kunjungan Presiden Prabowo baru-baru ini ke India, mereka menghargai banyak aspek dari warisan bersama ini. Ia menyoroti bahwa Candi Murugan yang baru dan megah di Jakarta menambah babak baru yang gemilang bagi warisan yang telah berusia berabad-abad. (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Mendes PDTT Pastikan Gaji PLD 2019 Meningkat

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng