Banner Bawah

Hindu Plural; Petik Manfaat dari Prambanan Shiva Festival, Menuju Indonesia Emas 2045

Admin 2 - atnews

2026-02-20
Bagikan :
Dokumentasi dari - Hindu Plural; Petik Manfaat dari Prambanan Shiva Festival, Menuju Indonesia Emas 2045
Prambanan Shiva Festival (ist/atnews)

Yogyakarta (Atnews) - Mahashivaratri Prambanan Shiva Festival 2026 menutup Shiva Festival di di Candi Prambanan, Minggu (15/2/2026). 

Dengan berbagai rangkaian kegiatan ibadah sudah usai. Para peserta dari berbagai daerah kembali pulang membawa kesan dan kenangan spiritualitas Hindu.

Sebagai rangkaian utama Prambanan Shiva Festival, Maha Gangga Tirta Gamana kemudian dilaksanakan dengan prosesi penglukatan massal dengan tirta dari 33 Provinsi dipimpin langsung oleh 33 Sulinggih dari seluruh Nusantara. Prosesi ini menegaskan posisi Candi Prambanan tidak hanya sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga sebagai ruang hidup spiritual yang menyatukan nilai ketuhanan, kebudayaan, dan kebangsaan.

Prambanan Shiva Festival diselenggarakan oleh PHDI Pusat bekerja sama dengan Tim Kerja Candi Prambanan, dengan tujuan menghadirkan perayaan Mahasivaratri yang khidmat, inklusif, serta berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara. 

Rangkaian acara dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayan RI Giring Ganesha, dan Wakil Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana RI Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka,Duta Besar India untuk Indonesia. Petahana Shri Sandeep Chakravorty. Hadir Pula Dharma Adhayksa PHDI Pusat Ida Pedanda Gde Bang Buruan Manuaba, Ketua Sabha Walaka Kol Inf (Purn) I Nengah Dana, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Tim Kerja Candi Prambanan I Nyoman Ariawan Atmaja, Ketua Panitia Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 Marsda (Purn) I Made Susila dan tokoh-tokoh lainnya.

Paling tidak terdapat dua hal penting yang dapat dipetik dari festival tersebut, yaitu; pentingnya mengelola perbedaan mazhab atau aliran (sampradaya/guru-parampara) di internal Hindu (Sanatana Dharma) secara lebih positif dan meningkatkan perhatian dan perlunya merawat kesadaran masyarakat untuk terus menjaga lingkungan dan alam, terutama air sebagai sumber kehidupan manusia.

Demikian disampaikan Budayawan Putu Suasta, tokoh pendiri Peradah dan KMHD, di kawasan Prambanan, Minggu (15/2).

Kegiatan Shiva Festival di Prambanan menghadirkan umat Hindu dari berbagai daerah di nusantara, seperti Bali, Lombok, Kalimantan Tengah, Lampung, Palu hingga Sumatra Utara.

Salah satu kegiatan utamanya adalah melakukan ruwat alam, dengan menyatukan dan menyucikan air yang bersumber dari 35 mata air dari seluruh nusantara. 

Setelah disatukan, sebagai perlambang dan harapan lestarinya NKRI, air tersebut didoakan untuk kemudian diperciki di sekitar candi Prambanan.

Selain lambang air, festival di akhiri dengan doa dan parade lilin, api, oleh para peserta mengelilingi pelataran candi.

Prambanan Shiva Festival juga diisi dengan Internasional Conference yang menghadirkan pembicara dari berbagai negara, diantaranya Ahli Sejarah Hindu Prof. Dr. R. Prabhu (India), Ahli Budaya Cina, Dr. Li Wei (China), Ahli Agama Buddha Dr. Somchai Wongwises (Thailand), Ahli Sejarah Prambanan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Suryawan (Indonesia), Ahli Teologi Hindu Dr. Prabudarmayasa (Indonesia), Pakar Lontar dari Leiden Dr. Sugilanus serta  berperan sebagai pemantik adalah Dr. Andi Arsana dari UGM.

Diskusi antara lain menghasilkan pemikiran tentang perlunya peningkatan kesadaran umat Hindu dalam menjaga hubungan dan harmoni antara manusia dengan alam dan sang pencipta.

Pencemaran lingkungan telah menyebabkan berbagai bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, sehingga manusia perlu kembali ke alam dan melakukan instrospeksi dan aksi pembangunan yang ramah ekologis.

Juga muncul pemikiran dan aksi tentang pentingnya menjaga air sebagai sumber hidup dan kehidupan manusia, sebagaimana ditunjukkan dalam serat Weda dan lingkungan ekologis Prambanan.

Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari Shiva Festival ini diantaranya; 1) Mengembalikan kesadaran masyarakat akan peran dan posisi Candi Prambanan sebagai episentrum Hindu nusantara yang telah berlangsung sejak tahun 770 Masehi; 2) Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan alam; 3) Memperkuat hubungan antara umat Hindu dari berbagai aliran dan negara; 4) Meningkatkan pariwisata dan ekonomi lokal; 5) Menampilkan keindahan budaya dan spiritualitas Hindu kepada dunia; 6) Memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk belajar dan memahami lebih dalam tentang agama Hindu

Putu Suasta melanjutkan bahwa penyelenggaraan Prambanan Mahashiva Festival menjadi momentum penting untuk menyikapi perbedaan mazhab dan aliran di internal Hindu nusantara secara dewasa dan positif.

Sikap demikian memungkinkan umat Hindu untuk memberikan kontribusi dan sumbangsihnya secara lebih optimal dalam merajut persatuan nasional menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

Prambanan Shiva Festival bukan hanya sebuah acara ritual keagamaan. "Kegiatan Prambanan Shiva Festival adalah juga sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran dan harmoni di tengah masyarakat yang plural," ujarnya. 

Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mendorong Prambanan Shiva Festival berkembang sebagai agenda unggulan pariwisata nasional yang memperkuat posisi Candi Prambanan sebagai destinasi wisata budaya dan spiritual kelas dunia.

Menurut Wamenpar, festival yang berpuncak pada perayaan Mahashivaratri ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna sekaligus menggerakkan ekosistem ekonomi masyarakat sekitar.

Event budaya seperti ini, turut menggerakkan pelaku UMKM, pekerja seni, perhotelan, dan sektor jasa pariwisata di kawasan sekitar.

“Dari sisi kepariwisataan, Prambanan Shiva Festival diharapkan menjadi program unggulan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara,” ujar Ni Luh Puspa saat menghadiri upacara Mahashivaratri di Kompleks Candi Prambanan, Sleman.

Mahashivaratri menjadi puncak rangkaian Prambanan Shiva Festival yang telah berlangsung sejak 17 Januari 2026. Hari suci terpenting bagi umat Hindu ini diperingati melalui berbagai ritual sakral dan kegiatan budaya yang merefleksikan nilai spiritual, harmoni, serta toleransi.

Salah satu rangkaian utama adalah Festival Dipa dengan penyalaan ribuan dipa yang diiringi bunyi alat musik damaru, menciptakan suasana magis dan khusyuk di kawasan candi. Momen ini melambangkan persatuan umat dalam doa serta harapan akan kedamaian dan kesejahteraan dunia.

Atraksi video mapping yang membalut Candi Prambanan turut menghadirkan pengalaman visual yang memperkuat pesan spiritual dan kebersamaan.

“Ini menjadi simbol kebersamaan dalam harmoni spiritual dan toleransi antarumat beragama,” kata Ni Luh Puspa.

Wamenpar menambahkan, tren pariwisata global kini bergerak menuju pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari hiburan, tetapi pengalaman yang memberi kedekatan dengan lingkungan, budaya, dan masyarakat lokal.

Sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak 1991 dan mahakarya arsitektur Hindu abad ke-9 Masehi, Candi Prambanan memiliki potensi besar untuk menghadirkan pengalaman spiritual tourism dan pilgrimage tourism yang semakin relevan secara global.

Data menunjukkan jumlah umat Hindu dunia meningkat sekitar 12 persen dalam satu dekade terakhir, dengan 99 persen berada di kawasan Asia-Pasifik. Hal ini menegaskan pentingnya pengelolaan situs suci dan warisan budaya seperti Prambanan, bukan hanya sebagai daya tarik wisata, tetapi juga sebagai ruang spiritual yang dihormati masyarakat dunia.

“Kita harapkan agenda seperti Prambanan Shiva Festival ini mampu menghidupkan Candi Prambanan, bukan sekadar sebagai monumen, tetapi sebagai living monument yang kita jaga bersama kesakralannya,” ujar Ni Luh Puspa.

Selain upacara Mahashivaratri, rangkaian puncak festival juga diisi kegiatan MICE melalui International Conference – Prambanan Shiva Festival yang berlangsung di Wisnu Mandala, Kompleks Candi Prambanan, dan menghadirkan narasumber dari berbagai negara.

Turut mendampingi Wamenpar, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini serta Asisten Deputi Event Nasional Ni Komang Ayu Astiti.

Sedangkan, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menyampaikan bahwa Maha Gangga Tirta Gamana tidak hanya menjadi prosesi keagamaan, tetapi juga merupakan manifestasi filosofi kesucian air sebagai sumber kehidupan dan pemersatu bangsa.

“Maha Gangga Tirta Gamana adalah simbol penyucian lahir dan batin, sekaligus pesan ekologis bahwa air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

“Arak-arakan tirta dari 33 provinsi ini merupakan wujud nyata harmoni antara spiritualitas, budaya, dan nasionalisme,” demikian Wisnu Bawa Tenaya.

Acara dimulai dari Candi Kedulan dimana 33 kendi yang berisi tirta dari 33 Provinsi disimpan. 33 kendi ini kemudian diarak dengan parade sejauh kurang lebih 5 km menuju Candi Prambanan, diikuti ribuan umat Hindu dari berbagai daerah. Prosesi berlangsung khidmat dengan diiringi pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter sebagai lambang persatuan bangsa.

Sebagai rangkaian utama Prambanan Shiva Festival, Maha Gangga Tirta Gamana kemudian dilaksanakan dengan prosesi penglukatan massal dengan tirta dari 33 Provinsi dipimpin langsung oleh 33 Sulinggih dari seluruh Nusantara. Prosesi ini menegaskan posisi Candi Prambanan tidak hanya sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga sebagai ruang hidup spiritual yang menyatukan nilai ketuhanan, kebudayaan, dan kebangsaan.

Prambanan Shiva Festival diselenggarakan oleh PHDI Pusat bekerja sama dengan Tim Kerja Candi Prambanan, dengan tujuan menghadirkan perayaan Mahasivaratri yang khidmat, inklusif, serta berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara.(Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Koster Dukung Pelestarian Bahasa Bali Melalui Teknologi Digital BASAbali Wiki

Terpopuler

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia