Banner Bawah

Pasca Parta Sidak Mangrove Mati, Ketua GASOS Bali Nilai Rencana Penanaman Pipa Proyek FSRU LNG Berpotensi Rusak Tahura Ngurah Rai

Admin 2 - atnews

2026-02-22
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pasca Parta Sidak Mangrove Mati, Ketua GASOS Bali Nilai Rencana Penanaman Pipa Proyek FSRU LNG Berpotensi Rusak Tahura Ngurah Rai
Ketua GASOS Bali, Lanang Sudira (ist/atnews)

Denpasar (Atnews) - Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Solidaritas Sosial (GASOS) Bali, Lanang Sudira menolak tegas rencana pembangunan Floating Storage and Regasification Unit Liquefied Natural Gas (FSRU LNG) atau Terminal Apung LNG di Perairan Serangan, Denpasar, Bali.

Mengingat proyek tersebut akan memanfaatkan lahan Kawasan Mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai sekitar 1,7 Hektare.

Pemanfaatan lahan mangrove, Tahura Ngurah Rai, kurang lebih seluas  1,7 Hektare untuk dijadikan jalur pipa LNG tersebut dibenarkan oleh Kepala Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD) Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan.

Hal tersebut dilaksanakan berdasarkan adanya PKS (Perjanjian Kerja Sama) atau Memorandum of Understanding (MoU) antara PT DEB dengan Kepala Tahura Ngurah Rai terdahulu (periode 2022-2025), I Ketut Subandi, menjadi sebuah kesepakatan yang mengikat antar pihak, juga mengatur hak dan kewajiban PT DEB dalam melakukan pembangunan proyek jalur pipa gas raksasa FSRU LNG di lahan tersebut, menurut infomasinya (pipa) akan di bangun di bawah tanah dengan ketentuan sesuai batas-batas administratif Desa Sidakarya dan Desa Sanur Kauh.

Maka dari itu, penolakan terhadap proyek LNG tersebut muncul di tengah temuan ratusan pohon mangrove mati di kawasan di depan pintu gerbang Tol Bali Mandara, Sabtu (21/2). 

Lanang Sudira menilai rencana penanaman pipa proyek FSRU LNG di areal konservasi Mangrove Tahura Ngurah Rai berpotensi memperparah kerusakan lingkungan. 

Terlebih, kawasan tersebut memiliki peran penting sebagai benteng alami pesisir Bali Selatan dari abrasi dan banjir rob.

Lanang Sudira pun turun langsung mengecek kondisi mangrove yang mati di kawasan tersebut. Pasca Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta melalukan sidak pada Jumat (20/2).

"Kami penggiat Mangrove di Bali kembali berduka, karena matinya pohon Mangrove hampir ratusan pohon jenis Sonneratia  Alba atau di Bali disebut Prapat, Rhizophora Apiculata (bakau) dan Avicennia Marina (api-api). Entah apa yang menyebabkan pohon Mangrove ini mati, kami masih mengadakan penelitian lebih lanjut," kata Lanang Sudira.

Menurutnya, persoalan keberadaan pipa di sekitar kawasan mangrove sudah lebih dulu menimbulkan dampak lingkungan.

Bahkan, Lanang Sudira mengingatkan ancaman yang bisa terjadi, jika hutan mangrove Bali Selatan terus mengalami kerusakan.

"Kalau pohon mangrove di Bali Selatan ini sampai mati, akibatnya akan terjadi Banjir Rob," kata Lanang Sudira.

Sebagai penggiat mangrove, Lanang menyatakan komitmen, untuk mempertahankan keberadaan hutan mangrove seluas 1.373,5 hektar di kawasan Tahura Ngurah Rai, Bali Selatan.

Sebelumnya, hasil sidak Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta menemukan ratusan mangrove mati secara mendadak di areal kawasan Pelindo Benoa, persisnya di barat jalan pintu masuk Tol Bali Mandara Benoa, Denpasar Selatan. 

Mirisnya, Nyoman Parta melihat banyaknya pohon mangrove mati, saat pulang dari Jakarta melewati jalur tol. Kemudian, Nyoman Parta memutuskan untuk meninjau ulang dan mencari jukung untuk meninjau dari laut. 

"Datang dari Jakarta, saya lihat kok banyak Mangrove yang mati. Ini kematian yang bukan karena umur, tapi faktor luar. Kita akan minta pihak Tahura, Pelindo dan Jasa Marga (Jalan Tol) kenapa ratusan Mangrove ini mati," kata Nyoman Parta. 

Saat meninjau dari laut, Nyoman Parta meminta ditemani oleh Komunitas pecinta Mangrove yang sangat memahami persoalan mangrove yaitu Mangrove Ranger dan kelompok nelayan Simbar Segara. 

Mereka menjelaskan bahwa fenomena kematian mangrove tersebut memang bukan karena faktor umur melainkan ada penyebab eksternal. Dugaan sementara penyebabnya adalah bocornya pipa BBM milik pertamina. 

Dugaan ini menjadi kuat, karena pada sekitar November 2025 ada pemeliharaan pipa BBM di jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa ke Pangkalan Pertamina Pesanggaran. 

Ditambah lagi, adanya pengakuan para pecinta mangrove bahwa pohon-pohon mangrove tersebut mulai layu di bulan itu. 

"Saya curiga ini matinya tidak faktor alami. Memang perlu dibuktikan tapi berdasarkan informasi awal ada kebocoran pipa milik pertamina atau perusahaan yang ada di sini," kata Nyoman Parta. 

Kemudian, Nyoman Parta meminta pihak Tahura, Pelindo, Pertamina, Jasa Marga dan Indonesia Power untuk memberikan penjelasan terkait ratusan pohon mangrove yang mati mendadak tersebut.

Selain itu, Nyoman Parta meminta pihak penegakan hukum untuk mengusut tuntas siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas matinya ratusan pohon mangrove tersebut. 

"Saya mohon kepada pihak Polda Bali, Kejati Bali untuk mengusut siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Ini pohon mangrove di pinggir jalan yang bisa dilihat oleh semua orang, masa dibuat mati tanpa pertanggung jawaban," kata Nyoman Parta.

Selanjutnya, hasil temuan tersebut terungkap dalam rapat pembahasan kerusakan tanaman mangrove di Jalan Raya Pelabuhan Benoa dengan koordinat (8°43’51.89”S, 115°12’43.35”E) dengan luasan kurang lebih 6 are, Sabtu, 21 Februari 2026.

Dalam rapat tersebut, turut hadir, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, General Manager Pelabuhan Indonesia, Manager PT PLN Indonesia Power, Manager PT Pertamina Patra Niaga, KSOP Benoa, LNG, UPTD Tahura, serta Komunitas Mangrove Ranger.

Fakta rapat menyebutkan terdapat pipa di sekitar lokasi mangrove milik PT Pertamina Patra Niaga dan PT PLN Indonesia Power. Diketahui tanaman mangrove mulai mati sejak September 2025.

Hasil inspeksi pada 12 Desember 2025 terhadap pipa milik PT PLN Indonesia Power tidak menemukan kerusakan atau kebocoran. Namun, ditemukan pipa berkarat yang diduga milik PT Pertamina Patra Niaga.

Pada September 2025, terdapat pekerjaan pipa dari PT Pertamina Patra Niaga yang mengalami rembesan dan telah dilakukan perbaikan langsung. Meski demikian, tidak dilakukan pembersihan bekas rembesan BBM. 

Dalam temuan lapangan terkait tanaman mangrove yang mati seluas 6 are di sekitar Jalan Raya Pelabuhan Benoa patut diduga bahwa kerusakan tanaman mangrove yang terjadi saat ini adalah dampak dari rembesan pipa milik PT. Pertamina Patra Niaga.

Untuk itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali memerintahkan PT Pertamina Patra Niaga untuk segera melakukan pemulihan tanaman mangrove yang mati dengan luas sekitar 6 are.

Selain itu, PT Pertamina Patra Niaga diminta membuat surat kronologis pekerjaan atas perbaikan pipa yang merembes pada periode September 2025 dan menyampaikan kepada Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, KSOP Kelas II Benoa, dan instansi terkait lainnya.

Tak hanya itu, PT Pertamina Patra Niaga juga diminta menyusun rencana aksi pemulihan tanaman mangrove yang mati dan menyampaikannya kepada Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali.

Isu mangrove mati dan polemik pembangunan FSRU LNG di Perairan Serangan kini menjadi perhatian serius publik Bali, mengingat kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai merupakan ekosistem penting yang berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan dan melindungi wilayah pesisir dari dampak perubahan iklim. 

Sementara, Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan mengaku telah melakukan rapat. "Tadi kita rapat dan hasilnya mangrove yang mengering itu akan dipulihkan dengan cara ditanami kembali," ujarnya.

Agus juga menegaskan, mangrove tersebut bukan masuk Kawasan Tahura Ngurah Rai. "Itu di arealnya Pelindo, di luar Kawasan Hutan Tahura," ungkapnya.

Sedangkan, GM Pelindo Cabang Benoa Anak Agung Gde Agung Mataram menanggapi pemberitaan terkait mangrove yang beredar matinya pohon kawasan Pelindo Benoa, persis di pinggir barat jalan pintu masuk Tol Bali Mandara, Benoa, Bali.

Pelindo Pelabuhan Benoa telah dilakukan koordinasi antara stakeholder di Pelabuhan Benoa untuk dilakukan upaya-upaya untuk menjaga kelestarian mangrove di Benoa.

Upaya tersebut akan dilaksanakan dan menjadi tanggung jawab pemilik aset pipa BBM.

"Pelindo dan pihak-pihak terkait lainnya akan mendukung upaya yang akan dilaksnakan pemilik pipa guna keberlanjutan ekosistem mangrove di Benoa," kata Gung Mataram di Denpasar, Sabtu (21/2). (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Smartdesa C@shless No.1

Terpopuler

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

Nilai Tukar Petani (NTP) Menaik: Indikasi Perwujudan Ekonomi Kerthi Bali

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

BPOLBF Gandeng Investor Kembangkan Wellness dan Agrowisata Berkelanjutan di Parapuar Labuan Bajo

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

Perpaduan Budaya di Tepi Pantai: Kecak dan Barongsai Meriahkan Imlek di The Nusa Dua

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

GPS Minta Cabut Status Tersangka Kepala BPN Bali, Tim Hukum Soroti Asas Legalitas

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia

Tandatangani Traktat Keamanan Bersama, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Australia