Oleh Gede Pasek Suardika
Belakangan ini ada sesuatu yang menurut saya bisa jadi bom sosial di bidang transportasi publik di Bali. Entah ini diantisipasi atau tidak oleh pemerintahan di Bali.
Hal itu adalah akan hadirnya sekitar 6 ribu unit taxi SM Green kalau tidak salah produk Vinfast yang konon menggandeng Komotra yang dulu pernah juga mengelola taxi di Bali. Sebelumnya aplikasi tranportasi online juga menghadirkan seribu mobil listrik juga yang mengakibatkan tergesernya secara digital para mitra aplikasi online tersebut secara diam diam. Saya lihat sekilas, Taxi SM Green Vinfast ini di Jakarta cukup bagus pertumbuhannya.
Datangnya kekuatan kapitalis besar, itu artinya, akan ada yang dikalahkan dan itu menyangkut urusan perut. Dalam ilmu politik, jika urusan perut rakyat terganggu maka konflik sosial berpotensi muncul. Pertanyaan mendasar yang harus diketahui publik adalah apakah armada baru itu bentuk penambahan atau bagian dari peremajaan unit transportasi. Kenapa pertanyaan mendasar ini ditanyakan? Karena menyangkut daya dukung jalan yang ada di Bali khususnya di daerah pariwisata.
Saat ini yang kondisi sudah macet saja akan makin parah dengan hadirnya sedikitnya 7 ribu sampai 10 ribu kendaraan roda empat baru transportasi umum yang akan tumpek blek di daerah daerah ramai. Mereka tidak mungkin beroperasi di daerah sepi.
Jika peremajaan, maka logikanya kendaraan lama tentu tidak beroperasi lagi. Bagaimana memastikannya? Ini baru masalah untuk daya dukung fasilitas jalan, dan itu diluar masalah sosial rebutan kue transportasi.
Pemerintah jangan hanya mengejar pajak kendaraan bermotornya saja tanpa antisipasi risiko sosial lainnya. Saat ini saja urusan konvensional dan online belum ketemu formula penyelesaian yang ideal.
Ini belum lagi kendaraan travel maupun aplikasi yang dijalankan secara pribadi.
Intinya, semua perlu diatur agar ekosistem transportasi publik berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat dan juga kenyamanan berkendara semua warga masyarakat.
Atur, tata, hitung kuota sehatnya berapa kendaraan dan lainnya. Diatur yang tegas, awasi dengan konsisten dan pastikan demua berjalan dengan baik untuk peningkatan kualitas layanan transportasi publik di satu sisi dan distribusi kesejahteraan di sisi lainnya. Jangan sampai semua dihisap oleh kapitalis yang tidak ikut bertanggungjawab dan berperan membuat Bali menjadi diminati orang seluruh dunia untuk datang.
Ya itu sekadar pemikiran yang semoga bisa membangun diskursus publik...Bagaimana menurut pendapat semeton? (*)