Oleh Gede Pasek Suardika
Dari perang Anerika Serikat (AS) Israel dan sekutunya melawan Iran kita melihat fenomena yang makin nyata bahwa dunia peperangan saat ini bukan lagi soal otot, jago beladiri atau punya kemampuan sebagai sniper. Kisah Rambo di film - film perang sudah tidak lagi terpakai.
Perang kali ini bicara soal penguasaan frekwensi, sinyal, jaringan, intersep, gelombang, teknologi, internet , artificial intelegensia, algoritma, satelit dan sejenisnya. Manusia yang terlibat langsung sangat sedikit. Semua serba jarak jauh dengan kemampuan the power by remote controle.
Oleh karenanya, untuk menyerang dengan rudal bisa gunakan drone yang bisa dikirim ratusan hingga ribuan kilometer, rudal balistik ditembakkan bisa melewati beberapa negara sebelum mengenai sasaran dengan presisi. Fungsi tentara fisik berubah menjadi tentara teknokrat. Tentara yang bisa secara intelektual mengoperasionalkan drone dari depan layar komputer menuju sasaran yang dituju.
Kekuatan intelijen modern menjadi kunci kemana serangan diarahkan. Mereka membangun dunia intelijen dengan begitu maksimal diikuti peralatan yang super canggih. Dan untuk bisa menjalankan skema peperangan era ini memerlukan sumber daya intelektual yang kelas tinggi. SDM yang tidak hanya terlatih tetapi juga cerdas dan menguasai berbagai disiplin ilmu science.
Dari perang saat ini, sudah seharusnya kita mengambil hikmah dan mengubah orientasi pertahanan negara kita kepada penyiapan teknologi canggih dan SDM tentara teknokrat. Perubahan paradigma ini sangat penting dan mendesak. Sebab perubahan dan perkembangan teknologi begitu cepat.
Kita harus introspeksi diri untuk segera membenahi kebijakan pertahanan negara kita dengan memberikan ruang yag lebih besar dunia tentara diisi para teknokrat dan peneliti teknologi dan informasi. Kita dengan daerah kepulauan harus mampu membuat drone lintas pulau, rudal balistik dan lainnya.
Tentara tidak hanya mahir pegang senjata di tangan tetapi juga mengutak atik drone dengan jarak ratusan sampai ribuan kilometer menuju sasaran yang presisi. Mengelola satelit, radar, roket dan lainnya.
Era pertahanan negara sudah berubah jauh. Sudah saatnya kita berbenah. Jangan terlalu lama tentara kita ditugasi mengurusi tanam padi dan singkong atau jagung maupun mengurus pembangunan koperasi merah putih atau sibuk urusan MBG. Saatnya kembali ke barak yang isinya dunia riset dan pembuatan alat alat canggih pembuatan drone berpeluru kendali, teknologi intersep anti serangan drone atau serangan rudal, teknologi pelacakan senjata lawan, rudal penembus bunker dan lainnya.
Mari jaga negara yang besar ini dengan mengikuti perkembangan zaman yang berubah begitu cepat. Tantangan berat memang tetapi belum terlambat. Peperangan nanti bukan peperangan manusia berhadapan langsung tetapi teknologi perang yang berhadapan langsung sementara manusianya berada ratusan bahkan ribuan kilometer jaraknya.
Saat ini kemampuan drone kita baru sebatas silang sengketa pengambilan gambar drone dengan adanya pungli atau biaya di lokasi wisata yang masih kontroversial. Jarak kemampuannya masih jauh dengan kondisi peperangan saat ini.
Tentara teknokrat bukan dengan otot yang kekar tetapi dengan otak yang jenius lahirkan persenjataan canggih nir awak jarak jauh. Bisa jadi bukan lagi tinggi badan, kacamata dan lainnya jadi syarat utama sebagai tentara, tetapi bagaimana ilmu fisika, kimia, matematika, komputer dan lainnya yang diutamakan.
Kondisi bangsa kita sangat disayangkan literasi lemah. Gemar membaca kategori sangat rendah di dunia tetapi budaya komentar sangat tinggi akibat kultur suka gunjing. Diajak debat suka, diajak diskusi malas. Dunia riset kurang berkembang, dunia pendidikan juga kurang membangun minat penelitian sejak dini.
Sepertinya itu tantangan kita ke depan.
Salam Kebangkitan Nusantara. (*)