Jakarta (Atnews) - Konflik perang Israel/Amerika Serikat (AS) dengan Iran masih memanas yang dimulai pada 28 Februari 2026, telah berlangsung selama lebih dari satu minggu.
Perang tersebut menimbulkan gangguan transportasi internasional di Timur Tengah dinilai dapat mempengaruhi rute perdagangan, energi hingga arus wisatawan global, termasuk yang menuju Indonesia, khususnya Bali.
Dimana Bali yang bertumpu pada sektor pariwisata, khususnya mengandalkan wisatawan internasional yang menggunakan rute penerbanban di Timur Tengah.
Salah satu akademisi Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pertahanan RI Prof. Drs. Anak Agung Banyu Perwita, M.A., Ph.D. memberikan pandangan terhadap kondisi tersebut.
Menurutnya, konflik itu kemungkinan dampaknya pada ketersedian dan harga energi fosil.
"Sangat tinggi sekali kemungkinan dampaknya pada ketersedian dan harga energi fosil. Stok nasional akan menipis karwna pasokan mulai terbatas dan harga diperkirakan akan naik," kata Prof Banyu di Jakarta, Selasa (10/3).
Hal itu tentunya akan semakin membebani APBN dan mengganggu keamanan ekonomi nasional, khususnya untuk rakyat kebanyakan.
Selain itu, pariwisata akan sangat berdampak karena penerbangan internasional akan berkurang akibat dari ekonomi dunia yang semakin melemah. Sektor itu akan mempengaruhi Bali, dimana sebagai daerah pintu gerbang pariwisata tanah air.
Maka dari itu, efisiensin anggaran, mencari sumber minyak baru termasuk oil refinery dan mencari produsen baru minyak, serta peningkatan diplomasi. (Z/002)