Banner Bawah

Kriya Cakra Beej – Cakra Mooladhar

Admin 2 - atnews

2026-03-14
Bagikan :
Dokumentasi dari - Kriya Cakra Beej – Cakra Mooladhar
Yoga (ist/atnews)

oleh Ashwini Guru Ji dari Dhyan Ashram
 
Kita lebih dari sekadar apa yang terlihat oleh mata. Tubuh hanyalah satu lapisan dari keberadaan kita yang secara langsung dikendalikan oleh lapisan eterik. Sebagian orang mengenalnya sebagai aura, dan para resi weda menyebutnya sebagai pranamaya kosha. Kriya (Praktik) cakra beej, yang praktik awalnya telah diperkenalkan sebelumnya, menyentuh lapisan ini melalui suara dan asana untuk mengaktifkan cakra-cakra.
 
Tubuh memiliki enam cakra utama yang masing-masing berperan mengatur fungsi, kebutuhan, dan keinginan tertentu. Seiring kita mendalami asana cakra beej, kita bergerak dari cakra yang lebih padat menuju yang lebih halus, sambil memahami dan menyeimbangkannya secara bertahap.
 
Setelah melakukan gerakan rotasi dasar dan asana tulang belakang, kita lanjutkan ke kriya untuk cakra Mooladhar. Cakra ini terletak di dasar tulang belakang. Di cakra inilah kekuatan dahsyat energi kundalini bersemayam. Mooladhar merupakan cakra dasar pada manusia, namun pada hewan ia adalah cakra tertinggi. Cakra ini mengendalikan naluri untuk bertahan hidup. Dikuasai oleh elemen bumi, ia mengatur sistem rangka dan otot dalam tubuh. Mantra beej untuk cakra ini adalah LAM.
 
Arahkan kesadaran Anda pada napas di ujung lubang hidung. Amati irama napas di titik tersebut, dan dengan setiap tarikan berikutnya, panjangkan serta perdalam napas Anda. Dengan tetap mempertahankan kesadaran pada cakra Mooladhar, mulailah melantunkan mantra LAM. Untuk pelafalan yang tepat, silakan kunjungi www.dhyanfoundation.com. Lanjutkan pelantunan mantra tersebut saat kita beranjak ke asana untuk Mooladhar.
 
Vrikshasana (Postur Pohon):
1. Berdirilah tegak dengan kedua lengan di sisi tubuh. Tekuk lutut kanan, lalu angkat kaki kanan hingga menempel tinggi pada paha kiri, sehingga telapak kaki bertumpu kuat di dekat pangkal paha.

2. Temukan posisi yang tepat agar kaki dapat bertumpu dengan kuat dan seimbang. Pastikan kaki kiri tetap lurus dan tidak tertekuk. Setelah tubuh dapat berdiri seimbang, angkat kedua lengan perlahan ke atas kepala dan satukan kedua telapak tangan dalam posisi Namaskar.

3. Pertahankan kesadaran pada cakra Mooladhar sambil melantunkan mantra LAM. Dengan setiap hembusan napas, rilekskan tubuh Anda. Turunkan kedua tangan dan kaki kanan secara perlahan. Ulangi postur ini dengan kaki yang satunya.

4. Asana ini tidak dianjurkan bagi mereka yang memiliki masalah pada lutut atau mengalami skiatika.
 
Utthanasana:
1. Turunkan kaki kiri sambil kedua tangan tetap terangkat di atas kepala.

2. Rentangkan kedua kaki dengan ujung jari kaki mengarah ke luar. Pastikan punggung dan leher tetap lurus serta bokong sedikit dikencangkan, tekuk lutut dan turunkan tubuh sekitar sepuluh inci (sekitar 25 cm). Pertahankan napas Ujjai dan lantunan mantra LAM.

3. Tahan posisi ini sampi hitungan tujuh, lalu turunkan tubuh sekitar sepuluh inci lagi. Tahan kembali sampai hitungan tujuh, kemudian lanjutkan turun hingga posisi jongkok. Tumit tetap menapak di lantai dan punggung tidak membungkuk. Bertahanlah sampai hitungan tujuh.

4. Asana ini tidak boleh dipraktikkan oleh penderita prolaps rahim dan ibu hamil dengan  usia kehamilan di atas tiga bulan.
 
Naukasana:
1. Selanjutnya, berbaringlah telentang. Buang napas, lalu angkat kedua kaki (rapatkan keduanya) hingga membentuk sudut sekitar dua puluh lima derajat.

2. Angkat pula tubuh bagian atas dan kedua lengan (lengan mengarah lurus ke depan) hingga sekitar dua puluh lima derajat. Pertahankan posisi ini selama yang Anda mampu.

3. Pastikan punggung tetap lurus dan lutut tidak menekuk. Tarik napas, lalu kembali ke posisi awal.
 
Semakin Anda mendalami asana dan mantra ini, pancaran tubuh akan meningkat, dan napas menjadi lebih lambat serta lembut. Manfaat semua asana ini akan optimal jika dipraktikkan di bawah bimbingan Guru yang menyalurkan energi ke dalam setiap asana. Disarankan untuk mengunjungi pusat Dhyan Foundation terdekat guna mempelajari praktik ini secara langsung.
 
Ashwini Guruji adalah Cahaya Penuntun Dhyan Foundation dan pakar ilmu-ilmu Weda. Bukunya, 'Sanatan Kriya, The Ageless Dimension' adalah sebuah karya tentang anti-penuaan yang telah diakui secara luas. Kunjungi www.dhyanfoundation.com atau kirim email ke dhyan@dhyanfoundation.com  untuk informasi lebih lanjut.

*) Ashwini Guruji dari Dhyan Ashram merupakan sosok yang langka di zaman sekarang ini. Beliau adalah energi dan inspirasi di balik berbagai inisiatif Dhyan Foundation. Beliau meyakini pentingnya tindakan nyata dan pengalaman langsung, dan ia telah membimbing ribuan orang di seluruh dunia untuk menapaki jalan pengabdian kepada sesama, dengan memimpin melalui teladan pribadinya. Dengan latar belakang gelar Sarjana Ekonomi dan Magister Manajemen, serta puluhan tahun menghabiskan waktu bersama para Resi Himalaya untuk menyerap ilmu-ilmu Weda kuno dan seni penyembuhan esoterik, beliau merupakan perpaduan yang sempurna antara kebijaksanaan kuno dan pemikiran modern.
 
Beliau merupakan pakar ilmu-ilmu Weda kuno seperti Yoga, Ayurveda, mantra, seni bela diri Weda, penyembuhan spiritual, dan yajna. Para dokter terkemuka di seluruh duniya memberikan kesaksian atas kemampuannya serta efektivitas Sanatan Kriya yang diajarkannya. Beliau barangkali satu-satunya guru yoga yang secara meyakinkan membuktikan ilmu kewaskitaan di hadapan penonton langsung yang terdiri dari 200 dokter anggota IMA, dan menerima sertifikat atas hal tersebut. Pelafalan mantranya dikatakan mampu mengubah suasana secara menyeluruh; para sadhak melaporkan bahwa matahari muncul secara tiba-tiba dan hujan berhenti atas perintahnya. Menteri AYUSH saat itu, Shri Sripad Naik, mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar pelafalan mantra seperti itu di tempat lain.
 
Jurnalis terkemuka, birokrat, menteri, dokter, akademisi, dan seniman telah hadir di platform “Gyan Ganga” untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan mereka darinya. Beliau juga telah mengungkap rahasia-rahasia terdalam mengenai Weda beserta penjelasan ilmiahnya melalui serial daring “Itehaas ke Panne”.
 
Guru Ji percaya bahwa, “Dharma setiap manusia adalah melindungi dan membantu mereka yang lebih lemah.” Pemikiran dan inspirasi dari Ashwini Guru Ji inilah yang mewujudkan pendirian lebih dari 45 tempat penampungan, pemberdayaan lebih dari 2.000 perempuan, penyediaan pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu, dukungan berbagai pembangunan wilayah pedesaan dan praktik-praktik keberlanjutan, penyelamatan serta perawatan lebih dari 70.000 hewan tak berdaya, serta pelaksanaan program distribusi makanan gratis bagi mereka yang kelaparan di berbagai penjuru dunia. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi www.dhyanfoundation.com

Baca Artikel Menarik Lainnya : Pariwisata Bali Dilandasi Konsep “Padma Bhuwana"

Terpopuler

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Perang Meletus, Tantangan Ekonomi Pemerintahan Presiden Prabowo

Perang Meletus, Tantangan Ekonomi Pemerintahan Presiden Prabowo

Faisol Nurofiq Ungkap TPA Suwung Overloaded dan Tengah Penyidikan Kementerian LH

Faisol Nurofiq Ungkap TPA Suwung Overloaded dan Tengah Penyidikan Kementerian LH

Gubernur Koster Tegaskan Kemasan Produk Arak Bali harus Tertib Gunakan Aksara Bali

Gubernur Koster Tegaskan Kemasan Produk Arak Bali harus Tertib Gunakan Aksara Bali