Banner Bawah

Belajar dari Perang AS-Israel vs Iran: Energi Terbarukan Kekuatan Masa Depan

Admin 2 - atnews

2026-03-15
Bagikan :
Dokumentasi dari - Belajar dari Perang AS-Israel vs Iran: Energi Terbarukan Kekuatan Masa Depan
Gede Pasek Suardika (ist/atnews)

Oleh: Gede Pasek Suardika 

Perang AS Israel vs Iran kali ini memberikan banyak pelajaran bagi semua negara di dunia. 

Dari bagaimana perang asimetris agresif, teknologi perang udara yang meliputi satelit, radar, drone, rudal balistik, ketangguhan intelijen, intersep dan lainnya, kemudian perang narasi di media sosial hingga penggunaan AI maupun AI cyber security dan lainnya. 

Selain itu, ada catatan menarik tentang bagaimana sebuah negara dikelola agar memiliki daya tahan lebih kuat jika terjadi perang di berbagai belahan dunia khususnya di pusat pensuplai sumber energi dunia. Apapun dalih perang, ujung utamanya adalah perebutan sumber energi. Paling tidak mereka yang rakus dengan sumber energi pasti terlibat didalamnya. 

Sebagai contoh, begitu Selat Hormuz diblokir Iran, sedikitnya 150 kapal tanker maupun logistik terhenti dan perusahaan pelayaran Maersk, MSK, Hapag Lloyd, dan CMA CGM tidak beroperasi disana lagi. Akibatnya, suplai minyak dan LNG menjadi langka dan harganya pun melambung tinggi. Beberapa kali harga minyak mentah Brent tembus USD 100. 

Kuncian satu Selat Hormuz yang mengatur lebih 20 persen kebutuhan minyak dunia tersebut sudah mampu membuat semua negara di dunia merasakan dampaknya. Belum lagi kuncian kuncian yang lainnya, bisa membuat banyak negara yang energinya tergantung minyak bisa kolaps.

Tulisan ini fokus pada bagaimana negara-negara didunia yang kehidupan energinya masih bergantung pada energi fossil begitu tersiksa dengan adanya perang kali ini. Beberapa negara sudah menerapkan 4 hari kerja dalam seminggu, bahkan WFH juga sudah mulai diterapkan bukan karena wabah Covid-19 tetapi untuk menghemat cadangan energi khususnya minyak. 

Dua negara yang relatif agak tenang di tengah kepanikan dunia terlihat Denmark dan Uruguay serta mungkin Norwegia yang cukup banyak energi yang digunakan adalah energi terbarukan. 

Sebenarnya Indonesia memerlukan reorientasi kebijakan yang radikal dan agresif untuk melakukan perubahan ketergantungan dari energi fossil ke energi terbarukan. Indonesia memiliki semua sumber daya itu semua, tetapi saat ini tidak ada keseriusan kearah sana. 

Momentum kali ini membuat titik tekan ketergantungan energi dari energi  fossil harus dipercepat untuk bisa lepas secara maksimal. Selain bisa mencegah banyaknya devisa negara keluar juga membuat negara ini punya daya tahan yang kuat hadapi krisis. 

Energi angin, energi air, arus bawah laut, geothermal, biodiesel, sampah, surya/matahari, dan lainnya. Riset negara dan proyek pusat wnwegi harus mulai difokuskan dengan serius kearah energi terbarukan ini. Jangan ditunda tunda lagi. Sehingga perekonomian dan kehidupan masyarakat bisa terjaga kestabilan nya di tengah krisis dunia seperti saat ini. 

Misalnya, daripada gentengisasi biasa, lebih baik dikenalkan ganteng panel surya untuk listrik rumah tangga. Pemerintah sungguh sungguh menyiapkan ekosistem genteng panel surya dari hulu ke hilir. Dan ini membuka industrialisasi dan lapangan kerja yang besar. Bahkan di Denmark banyak gedung gedung pencakar langit menggunakan kaca - kaca gedungnya dari kaca panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik gedung tersebut. Itu bisa diadopsi di Indonesia yang negara tropis dimana sinar matahari begitu melimpah. 

Kali ini jangan lagi berpikir bagaimana nasib BUMN PLN jika kemandirian energi di tingkat rakyat terjadi. Toh juga selama ini diberikan monopoli selalu rugi terus. Bila perlu PLN di regional-kan saja pengelolaannya agar bisa menekan KKN akut yang ada. 

Selain itu, banyaknya selat selat dengan arus bawah laut deras bisa juga dijadikan sumber energi dan yang paling kuat sebagai salah satu negara yang memiliki gugusan vulkanik terbesar di dunia memaksimalkan geothermal sebagai sumber energi utama di setiap daerah yang memiliki gunung berapi. 

Belum lagi energi angin maupun memanfaatkan tumbuh tumbuhan untuk menjadi penghasil biodiesel. 

Energi terbarukan saat ini sudah bukan slogan lagi tetapi sudah jadi kebutuhan mendesak demi kemandirian energi. Sebab energi adalah jantung dan darah masyarakat dan industri. 

Pemerintah harus membuat ekosistemnya, dari aturan, kebijakan, anggaran, program dan melaksanakannya secara serius dan sungguh sungguh. Dunia riset juga diberikan porsi khusus untuk bisa melakukan. Penelitian dan temuan temuan terbaru yang bisa lebih efisien dan efektif dalam pengelolaan energi terbarukan.

Dua pendidikan tinggi maupun pemberian beasiswa diarahkan agar tercukupi para ahli disektor ini secara maksimal dan bisa tersebar di seluruh Indonesia. 

Sudah saatnya energi terbarukan bukan hanya untuk slogan slogan tanpa gerakan nyata. Kebutuhan kemandirian energi makin mendesak untuk.dilakukan  demi daya tahan bangsa ke depannya.

*) Gede Pasek Suardika (Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bupati Eka; Doa Cegah Bencana Alam

Terpopuler

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Perang Meletus, Tantangan Ekonomi Pemerintahan Presiden Prabowo

Perang Meletus, Tantangan Ekonomi Pemerintahan Presiden Prabowo

Faisol Nurofiq Ungkap TPA Suwung Overloaded dan Tengah Penyidikan Kementerian LH

Faisol Nurofiq Ungkap TPA Suwung Overloaded dan Tengah Penyidikan Kementerian LH

Gubernur Koster Tegaskan Kemasan Produk Arak Bali harus Tertib Gunakan Aksara Bali

Gubernur Koster Tegaskan Kemasan Produk Arak Bali harus Tertib Gunakan Aksara Bali