Denpasar (Atnews) - Marsekal Muda (Marsda) TNI (Purn.) I Made Susila Adnyana bolak-balik tiga kota Jakarta-Yogyakarta-Denpasar untuk menangani rangkaian kegiatan keagamaan besar umat Hindu bukanlah perkara mudah.
Selain membutuhkan fisik yang kuat, juga memerlukan strategi dan olah pikiran. Itulah yang dilakoni sebagai Ketua Umum (Ketum) Dharma Santi Nasional 2026.
Dharma Santi Nasional merupakan acara puncak penutup rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi yang diselenggarakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pusat maupun daerah.
Pria kelahiran Tabanan pada 1 Juli 1967 ini harus menjaga stamina mengingat rangkaian kegiatan Dharma Santi Nasional beragam dan panjang. Selain ada perayaan Siwaratri, juga ada Maha Siwaratri, bakti sosial pelayanan kesehatan di Aceh, Saka Boga Sevanam, donor darah, Mapakerti Ayuning Danu, melasti, tawur agung kesanga, seminar nasional, sakayoga, dan puncaknya Dharma Santi Nasional di Bali yang rencananya diadakan di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, pada 17 April 2026.
Untuk mensukseskan rangkaian acara itu, Made Susila mesti bolak-balik Jakarta-Yogyakarta-Denpasar.
Hal itu dia lakukan karena acaranya menyebar dan dalam waktu berbeda-beda. Dia mesti mengatur strategi agar bisa hadir di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Syukurlah dia punya tenaga ekstra berkat gemblengan saat bertugas di kesatuan TNI AU di seluruh tanah air, bahkan sampai luar negeri.
Keikutsertaan Komandan Sekolah Komando Angkatan Udara (Danseskoau) Lembang, Bandung, periode 2024-2025 ini dalam kegiatan Dharma Santi Nasional bukanlah kali ini saja. Tahun 2025, misalnya, dia juga menjadi panitia Dharma Santi Nasional di GOR A.Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.
Berkat pengalaman tersebut, Made Susila bertekad mensukseskan rangkaian Dharma Santi Nasional tahun 2026 ini bersama panitia dan komponen masyarakat Hindu di tanah air. ‘’Dari sekian rangkaian acara yang telah berlangsung, astungkara semuanya berjalan lancar, aman dan sukses,’’ tegas pria yang juga Ketua Umum Indonesia Beladiri Campuran Amatir (IBCA) MMA ini.
Ditanya mengenai kendala yang dihadapi selama mengkoordinasikan semua rangkaian acara Dharma Santi, Made Susila mengaku hampir tidak ada sama sekali. Hal tersebut karena panitia bekerja profesional, sagilik-saguluk sabayantaka dengan mengedepankan tema ‘’Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga. Nusantara Harmoni, Indonesia Maju’’.
Tema ini merepresentasikan pandangan universal mengenai kesatuan umat manusia dalam satu tatanan kehidupan bersama.
Made Susila berharap melalui Dharma Santi Nasional, komponen Hindu di tanah air meningkatkan persatuan, persaudaraan dan toleransi. Berbagai bentuk perbedaan yang terjadi selama ini hendaknya dieliminasi, dicarikan solusi terbaik, sebab perbedaan tersebut bisa dipecahkan dengan kepala dingin dan menanggalkan ego masing-masing.
Selain itu, Made Susila berharap agar umat Hindu ikut berpartisipasi mensukseskan rangkaian Dharma Santi Nasional, baik melalui sumbangan tenaga, pikiran, dan medana punia. Bagaimana pun acara ini sangat penting untuk mempersatukan umat Hindu Nusantara demi kejayaan nusa dan bangsa.
Khusus untuk menangani rangkaian Dharma Santi Nyepi di Bali, Made Susila menemui para pejabat, tokoh masyarakat dan komponen Hindu.
Walau sempat bertugas selama 35 tahun di luar Bali, dia tetap merasakan bahwa persaudaraan krama Bali hingga sekarang tidak sampai luntur di tengah perkembangan zaman. Kerukunan dan saling bantu-membantu ini mesti dijaga dan dipertahankan selamanya, sebab krama Bali selama ini dikenal punya sikap mental yang bagus dan tekun menjalankan tugas.
Khusus mengenai generasi muda Hindu di mana pun berada, Made Susila berharap agar bersikap atau bertindak sesuai norma-norma dan ajaran Hindu. ‘’Pertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang kita selama ini sehingga kita mampu menghadapi tantangan zaman, dan menjauhi tindakan tidak terpuji,’’ tandas tamatan AAU tahun 1990 yang berasal dari kecabangan Korps Penerbang Tempur Hawk ini. (Z/002)