Buleleng (Atnews) - Komitmen Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam menjaga warisan budaya, warisan leluhur sekaligus mendorong kreativitas generasi muda kembali ditegaskan Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, melalui pelaksanaan Pangrupukan Festival II Tahun 2026. Festival yang mencapai puncaknya lewat parade ogoh-ogoh antar banjar adat se-Desa Adat Buleleng ini menjadi bagian penting dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948.
Kegiatan dipusatkan di kawasan Catus Pata, kawasan Puri, dan pasar Buleleng ini di gelar, Rabu (18/3/2026) sore. Acara disaksikan ribuan masyarakat yang sangat tertib penuh antusias menyaksikan jalannya parade ogoh-ogoh.
Tidak sekadar seremoni budaya, kegiatan ini tampil sebagai ruang strategis yang difasilitasi pemerintah daerah untuk merawat tradisi, memperkuat nilai spiritual, sekaligus menggerakkan partisipasi generasi muda. Tercatat sebanyak 27 ogoh-ogoh dari 14 Banjar Adat ikut ambil bagian, dengan menampilkan karya penuh makna filosofis yang mencerminkan perlawanan terhadap sifat-sifat negatif dalam kehidupan manusia.
Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, didampingi Ny Wardhany Sutjidra, hadir membuka parade ogoh-ogog dengan dimeriahkan tradisi khas Buleleng, yakni ngoncang. Dalam kesempatan tersebut, Bupati menegaskan bahwa kehadiran pemerintah tidak hanya sebagai penyelenggara, tetapi juga sebagai penggerak utama agar tradisi tetap hidup, adaptif, dan memiliki daya tarik ke depan.
“Kegiatan ini bukan hanya serangkaian menyambut Hari Raya Nyepi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pelestarian nilai budaya bagi generasi muda. Kita ingin mereka tidak hanya berkarya, tetapi juga memahami makna di balik ogoh-ogoh itu sendiri,” tegasnya.
Orang nomor satu di Buleleng ini, Sutjidra menekankan bahwa festival ini merupakan wujud nyata implementasi nilai Tri Hita Karana yang mengharmoniskan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Menurutnya, ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni, melainkan simbol pengendalian diri dan upaya menekan sifat-sifat negatif dalam kehidupan.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin memperkuat jati diri budaya Buleleng sekaligus membangun karakter generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal,” tambahnya.
Di tengah arus modernisasi, Pemerintah Kabupaten Buleleng juga mengambil langkah progresif dengan menjadikan Pangrupukan Festival sebagai bagian dari Kalender Event Buleleng (KEB). Bahkan, ke depan kegiatan ini direncanakan akan digelar di titik nol Kota Singaraja sebagai ikon baru event budaya daerah.
“Tahun depan kita rencanakan bisa digelar di titik nol Kota Singaraja. Ini sudah masuk Kalender Event Buleleng, sehingga harus kita kemas lebih baik lagi sebagai agenda unggulan daerah,” ungkapnya.
Bupati Sutjidra mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang menjadi kekuatan utama terselenggaranya festival. Ia menilai, sinergi antara pemerintah, panitia, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga eksistensi budaya di tengah perkembangan zaman.
Melalui Pangrupukan Festival II ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng tidak hanya menghadirkan tontonan budaya, tetapi juga menegaskan perannya sebagai motor penggerak pelestarian tradisi, pembinaan generasi muda, serta pengembangan event daerah yang berdaya saing.
Tampak juga hadir dalam Festival ogoh-ogoh, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, Kapolres Buleleng Ruzi Gusman, Dandim 1609 Buleleng Achmad Setyawan Syah dan Sekda Buleleng Gede Suyasa. (WAN)