Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
24 Maret 2026 hari ini adalah Hari TB Sedunia. Karena masih dalam suasana libur Iedul Fitri maka memang tidak banyak kegiatan lapangan hari ini. Saya saja baru akan presentasi di Hari TB Sedunia Jakarta Timur pada 16 April 2026.
Indonesia kini tergabung dalam WHO kawasan regional Pasifik Barat (“Western Pacific Regional Office – WPRO”). 24 Maret hari ini WHO WPRO mengeluarkan pernyataan bahwa di kawasan kita ini diperkirakan ada 2,9 juta pasien TB di seluruh negara WPRO, dan disebutkan bahwa negara kita Indonesia, Filipina dan China adalah tiga negara yang tergolong dalam lima besar penyumbang kasus TB di dunia. Disebutkan juga bahwa tuberkulosis adalah satu dari penyebab kematian akibat penyakit menukar di kawasan kita.
WHO WPRO menyebutkan tiga pendekatan utama untuk menangani TB di kawasan kita.
Pertama adalah mendekatkan pelayanan langsung ke masyarakat, melalui pelayanan kesehatan primer, jadi bukan dengan rumah sakit canggih. Dengan ini maka penemuan kasus dapat lebih cepat dilakukan, pengobatan dapat segera diberikan sehingga tidak terlambat dan penularan di masyarakat dapat dicegah.
Ke dua, WHO WPRO mendorong negara-negara (termasuk kita tentunya) untuk segera menggunakan tes diagnostik molekuler yang direkomendasi WHO (“near-point-of-care NPOC molecular tests”) yang akan mendeteksi TB lebih cepat dan lebih akurat. WHO memang pada 9 Maret 2026 mengeluarkan rekomendasi NPOC ini, yang baiknya kita ikuti juga di negara kita.
Ke tiga, WHO WPRO menegaskan bahwa cap stigma buruk tentang TB harus dihilangkan dan pelayanan harus diberikan dengan berorientasi ke yang memerlukan (“people-centred care”).
WHO juga menegaskan bahwa mengakhiri TB di suatu negara adalah kebijakan politik yang strategik dan keputusan ekonomi yang tepat pula. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa setiap investasi 1 dolar Amerika untuk program pengendalian TB akan memberi manfaat balik 43 dolar Amerika bagi kesehatan dan ekonomi di negara itu.
Sebagai penutup saya kutipkan pernyataan Dr Saia Ma’u Piukala, Direktur WHO WPRO yang menegaskan bahwa kita akan dapat mengakhiri TB di kawasan kita, asal kita melakukan transformasi pelayanan, melakukan desentralisasi pelayanan kesehatan dan dengan sangat segera (“greater urgency”) melakukan tindakan yang tepat.
Selamat Hari TB Sedunia, semoga negara kita dapat sukses dalam pengendalian tuberkulosis.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Badan Pengawas, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)
Dewan Penasehat, Stop TB Partnership Indonesia (STPI) Pendiri, Yayasan Free Tuberculosis Indonesia