Oleh Jro Gde Sudbya
Kehidupan di dunia yang maya (sementara) ini sarat dengan suka dan duka, dan kalau insan manusia tidak mewaspadai bisa ditimpa krisis dan bahkan krisis berkepanjangan.
Karena kegelapan Jiwa, "awan" keakuan menyelimuti Sang Diri, keutamaan manusia dengan mudah dirontokkan oleh keinginan, keinginan yang tidak terbatas dan bahkan keserakahan yang tidak terkendali.
Akibatnya, manusia yang pada galibnya utama menjadi jatuh ke prilaku hina dina, karena kesombongan, iri hati dan dasa muka sikap "nyapa kadi aku". Sikap yang mau menang sendiri, merasa paling pintar, sok pintar, mengklaim kebenaran yang mudah melekat pada prilaku penguasa.
Masyarakat, bahkan negara bangsa dibuat menderita oleh penguasa korup, yang pada akhirnya karena hukum karma, mereka akan memetik hasil dari karma buruknya, sesuai hukum waktu.
Raina Saraswati, Sabtu, 4 April 2026, yang semestinya dimaknai sebagai aliran pengetahuan rokhani yang abadi yang mampu diraih, "diraup" oleh insan manusia yang berupaya menjadi Jagra (sadar diri) "melarapan antuk" berbekal: kejujuran, memegang teguh etika -manut ring sesana-, pengendalian diri -ngeret indria-, tidak sombong -nyapa kadi aku-, berbagi kasih sayang -ngelimbang tresna asih-, melahirkan kecerdasan diri dan menstimulasi spirit untuk kemulyaan hidup sebagai manusia.
Pernik-pernik kemerahan upakara boleh-boleh saja sebagai ekspresi dari kebudayaan, tetapi substansi dari pengetahuan rohani Saraswati yang mentransformasi pikiran, batin dan hati manusia menuju ketercerahan diri melawan "gelap pekatnya" kekuatan tarikan ke bawah Kali Yuga tetap menjadi fokus yang utama. Untuk melawan sebut saja "jebakan" zaman, upakara semarak dan meriah, tetapi kualitas rohani "stagnan" jalan di tempat.
Refleksi Raina Saraswati bermakna penting dalam meningkatkan kualitas rokhani dalam memaknai kehidupan.
Rahajeng nyanggra raina Saraswati.
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.