Panti Resmi Kosong, ‘Ketika Ibu Kandung Kasih Sayangnya Dikalahkan Ibu Asuh
Admin 2 - atnews
2026-04-05
Bagikan :
anak-anak Panti Asuhan Ganesha (ist/atnews)
Oleh Gede Pasek Suardika
Secara resmi siang ini Panti Asuhan Ganesha Sevanam resmi kosong sebagai kelanjutan pembekuan sementara ijin panti asuhan oleh Bupati Buleleng.
Berdasarkan informasi rekan yang mendampingi disana, ternyata upaya relokasi anak-anak tersebut ternyata hanya mau diikuti 5 anak saja, termasuk 3 anak kandung Pelapor. Yang lainnya menolak dan memilih kembali dengan keluarganya daripada dipindahkan. Semua ingin tetap disana.
Momen yang paling mengharukan adalah ketika ketiga anak kandung dari Pelapor menolak dipindahkan dan ingin tetap disana. Bahkan yang paling keras adalah Abi, anak yang terkecil yang terus menangis dan tidak mau lepas dari ibu asuhnya walau sudah dirayu oleh ibu kandung dan psikolog serta staf staf Dinsos lainnya.
Upaya pemisahan paksa pun dilakukan dari pelukan Ibu Asuhnya dan meronta dipegang Ibu Kandungnya. Bahkan sudah didalam kendaraan tetapi menangis ingin mencari ibu asuhnya yang dipanggil Mama Ayu dan meninggalkan ibu kandungnya yang sebagai Pelapor.
Dari 18 anak, tadi tinggal 17 karena yang 1 sudah lebuh memilih kembali ke keluarganya karena tidak mau dipindah. Dari 17 anak tersebut, semua anak mengaku betah dan nyaman di Panti dan menolak relokasi serta akhirnya memilih kembali ke keluarga besarnya dengan isak tangis. Bahkan dua anak tetap ingin bertahan bersikeras ingin tetap di Panti sehingga hingga sekarang Dinsos mengalah dengan menitipkan dulu disana.
Mereka betah karena memang aman dan nyaman. Disana mereka dididik, dibina dan dilatih banyak hal. Bahkan banyak dari mereka juara karate hingga nasional. Tentu mereka yang merasakan bukan kita yang ada fimouar tetapi sok mengerti.
Dari peristiwa ini, dapat diketahui narasi yang diciptakan di Panti sebagai tempat yang menyeramkan, traumatik, dan negatif lainnya gugur oleh kepolosan, keluguan dan ketulusan anak binaan.
Suasana dramatis dan anomali adalah ketika anak kandung menolak dibawa Ibu Kandungnya sendiri dan ini telah memberikan perspektif psikologis ada sesuatu yang janggal telah terjadi dalam rangkaian perjalanan di Panti antara relasi Pelapor, Tersangka, dan Sang Anak.
5 anak yang berhasil dibawa pun dengan suasana memaksa walau sudah didampingi psikolog dan lainnya.
Sementara mayoritas yang lainnya memilih menolak. Dari gambaran manusiawi ini publik bisa menilai bagaimana sebenarnya ini terjadi.
Pendekatan Birokrasi beda dengan relasi manusiawi. Padahal di pagi hari telah dimulai dengan sentuhan uang Rp 100 ribu per anak dari Camat Sawan dengan Ibunya untuk membangun relasi memudahkan kepindahan.
Walau mereka memang kekurangan tetapi sentuhan Rp 100 ribu tidak serta merta menggoyahkan kecintaan mereka terhadap Panti.
Sekali lagi, Saya bersyukur mendampingi kasus ini sehingga mendapatkan potret yang lebih dalam dan lengkap tentang sisi sisi yang tidak terungkap di publik selama ini. Dengan kehadiran bentuk visual akan lebih terang daripada narasi tanpa dokumentasi yang kuat sehingga lebih kuat imajinasi daripada kenyataan.