Puncak Dharma Santhi Nyepi Undang Presiden Prabowo, Semnas Bahas Ketahanan Generasi Muda Hindu - UMR Bali Rendah
Admin 2 - atnews
2026-04-06
Bagikan :
Seminar Nasional Dharma Santhi (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Seminar Nasional Dharma Santhi Nyepi Tahun Saka 1948/2026 mengusung tema "Mewujudkan Ketahanan Generasi Muda Hindu: Antara Kebutuhan Ekonomi, Identitas, dan Pendidikan" di Auditorium Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, Senin, 6 April 2026.
Acara itu dilaksanakan secara daring dan luring. Dihadiri Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (WBT), Ketua Panitia Dharma Santi Nasional 2026 Marsda TNI (Purn.) Made Susila Adnyana didampingi Wakil Ketua Umum Panitia Dharma Santi Nasional Nyepi Tahun Baru Caka 1948 (2026) I Nyoman Kenak, S.H yang juga Ketua PHDI Bali, Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Dr Cokorda Gde Bayu Putra SE M.Si (Cok Bayu), Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi Kolonel Purn. Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil.H.
Dengan Pemateri yakni Dosen UNHI Dr Ni Nyoman Adityarini Abiyoga Veba Swara SE MM, Dirut BPR Kanti Made Arya Amitaba SE MM, Dosen UHN IGB Sugriwa Prof Dr I Gede Sutarya SST. Par., M.Ag., Dosen dan Peneliti I Made Andi Arsana, ST.,ME., Ph.D.
Ketum PHDI WBT mengharapkan, kegiatan itu dapat membantu menyiapkan generasi muda Hindu dalam mewujudkan Indonesia Raya.
Dengan mencetak ketahanan generasi muda Hindu terhadap berbagai Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG).
"Pentingnya Bantu Ayah Lindungi Ibu (BALI), Bali Maju maka Indonesia Maju, terwujudlah Indonesia Raya," kata WBT.
Momentum perayaan Hari Suci Saraswati mampu mengasah dan membekali pengetahuan umat Hindu, khususnya generasi muda pengetahuan sebagai bekal kehidupan masa depan.
Setelah Saraswati, esoknya Banyu Pinaruh dengan melukat (mandi suci) 11 pancoran, lima pancoran untuk membersihkan Panca Indria dan 6 pancoran untuk Sad Ripu.
Dua hari setelah Hari Raya Saraswati, umat Hindu khususnya di Bali merayakan hari Soma Ribek. Hari Soma Ribek jatuh pada Soma atau Senin Pon, Wuku Sinta. Hari Soma Ribek dimaknai sebagai ungkapan syukur umat Hindu serta Hari raya Sabuh Mas jatuh pada Anggara Wage Wuku Sinta. Rahina Sabuh Mas adalah Pesucian Sang Hyang Mahadewa.
Berikutnya Hari Raya Pagerwesi, hari suci umat Hindu yang dirayakan setiap Rabu Kliwon Wuku Sinta (210 hari sekali) untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sanghyang Pramesti Guru.
Diharapkan perayaan tersebut mampu memperkuat daya tempur (dapur) generasi muda Hindu Bali dalam melestarikan budaya maupun menghadapi globalisasi.
Selain itu, banyak perayaan suci dalam mengingatkan umat Hindu agar selalu melakukan Tri Kaya Parisuda, Tri Hita Karana serta merawat kasih sayang.
Termasuk perayaan Tumpek, setiap enam hari suci berdasarkan penanggalan Bali (setiap 210 hari) untuk memuliakan Ida Sang Hyang Widhi dalam berbagai manifestasi-Nya, fokus pada rasa syukur, pelestarian alam, dan penyucian benda. Keenam Tumpek tersebut meliputi Tumpek Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Kandang, dan Wayang. Ajaran lainnya dalam mencetak pemimpin Hindu masa depan yakni Asta Brata. Delapan ajaran kepemimpinan luhur dalam agama Hindu yang berdasarkan sifat-sifat dewa dan alam semesta, yang disampaikan Sri Rama kepada Wibisana.
Delapan prinsip ini (Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, Agni Brata) bertujuan membentuk pemimpin yang adil, mengayomi, dan menyejahterakan rakyat.
Sedangkan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah menetapkan delapan misi utama, dikenal sebagai Asta Cita, sebagai landasan untuk mencapai visi "Bersama Menuju Indonesia Emas 2045."
"Maka saya sering bertanya Punapi Gatra? Umat Hindu punya Asta Brata, Presiden RI Bapak Prabowo punya Asta Cita," bebernya.
WBT juga berpesan kepada generasi muda Hindu agar mengimplementasikan Panca Satya, ajaran lima jenis kesetiaan dan kejujuran dalam agama Hindu yang berakar dari konsep Satya (kebenaran). Diantaranya; 1) Satya Wacana: Kesetiaan dalam berkata-kata, jujur, dan tidak berbohong; 2) Satya Hredaya: Kesetiaan terhadap kebenaran dan kejujuran kata hati, berpendirian teguh; 3) Satya Laksana: Kesetiaan dan jujur pada perbuatan, bertanggung jawab atas apa yang dilakukan; 4) Satya Mitra: Kesetiaan kepada teman, sahabat, atau rekan, serta tidak mengkhianati; 5) Satya Samaya: Kesetiaan pada janji atau kesepakatan yang telah dibuat.
Penerapan Panca Satya sangat penting bagi pemimpin, siswa, dan remaja Hindu sebagai pedoman etika dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak lupa pula, Bali dihadapkan dengan persoalan lingkungan, salah satunya sampah. Masalah tersebut tentu menjadi perhatian dalam penerapan Tri Hita Karana.
Sementara itu, Ketua Panitia Dharma Santi Nasional 2026 Marsda TNI (Purn.) Made Susila Adnyana mengatakan, acara itu sebagai salah satu rangkaian Dharma Santi Nasional 2026.
Puncak Dharma Santi Nasional 2026 akan diselenggarakan di Bali pada Jumat, 17 April 2026, bertempat di Taman Budaya-Art Center Denpasar. Acara ini merupakan penutup rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Saka 1948, yang rencananya mengundang Presiden Prabowo Subianto dengan 5.000 perserta dari berbagai kalangan termasuk melibatkan TNI/Polri.
Tema yang diusung tema ‘’Vasudhaiva Kutumbakam: Nusantara Harmoni, Indonesia Maju’’. Maknanya merepresentasikan pandangan universal mengenai kesatuan umat, manusia dalam dalam satu tatanan kehidupan bersama. Dalam perspektif kebangsaan, gagasan tersebut sejalan dengan prinsip kebhinekaan dan persatuan nasional, serta menegaskan pentingnya pendekatan inklusif dalam membangun harmoni sosial di tengah keberagaman.
Selain itu, ada pula acara Penanaman Pohon Serentak, Bakti Sosial Lintas Agama ke Aceh, Saka Bhoga Sevanam seluruh provinsi se-Indonesia, Upacara Makerti Ayuning Danu, Saka Yoga di Jakarta.
Dalam acara Dharma Santi Nasional 2026 akan didukung oleh Pemda Bali baik dekorasi dan konsumsi.
Sedangkan, Rektor UNHI Cok Bayu mengaku acara itu sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi UNHI. Semnas dapat menjadi ruang diskusi yang menarik. Apalagi momen perkualihan, mahasiswa mendapatkan banyak informasi.
Pembicara Dirut BPR Kanti Made Arya Amitaba menceritakan pengalaman dalam membesarkan BPR Kanti. Ia pun berpesan agar anak muda Hindu jangan takut dengan lembaga keuangan. Dengan catatan jangan konsumtif. Pemuda Hindu ke depan juga mampu jadi pemimpin sebagai orkestrasi meramu segala sumber daya yang ada.
Pada kesempatan itu, Dosen UHN IGB Sugriwa Prof I Gede Sutarya menyoroti generasi muda Hindu mengalami persoalan serius secara ekonomi. UMR dalam negeri rendah (Rp3 juta), sehingga pergi bekerja ke luar negeri, sekitar 9 – 10 ribu orang pemuda Bali bekerja ke luar negeri setiap tahun. Hal ini berdampak pada ketahanan ekonomi, pendidikan dan budaya.
Padahal, dalam negeri (Bali) mengalami lonjakan kunjungan wisnus(7 juta) dan wisman mencapai 10 juta per tahun. Pekerjaan yang diciptakan dari budaya dan alam Bali bocor ke pekerja luar Bali.
Persaingan kerja yang semakin kompetitif Ketergantungan ekonomi daerah pada sektor tertentu (pariwisata). Kurangnya keterampilan kewirausahaan generasi muda. Ditmbah perubahan menuju ekonomi digital
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Angkatan kerja Bali pada Agustus 2025 sekitar 2,74 juta orang. Sebanyak 2,70 juta orang sudah bekerja. Sekitar 40 ribu orang masih menganggur. Tingkat pengangguran terbuka hanya 1,49%, lebih rendah dibanding rata-rata nasional.
Data dari Dinas Ketenagakerjaan Bali menunjukkan 2022 (8.343 PMI), 2023 (9.244 PMI), 2024 (9.599 PMI), Jan–Jun 2025 (5.631 PMI) bekerja di luar negeri.
Pengaruh budaya global melalui media digital, Berkurangnya keterlibatan generasi muda dalam tradisi karena bekerja di luar negeri. Pergeseran nilai dan gaya hidup modern. Pentingnya penguatan identitas Hindu dan budaya lokal.
Sisi tantangan pendidikan yakni ketimpangan kualitas pendidikan, kurangnya integrasi nilai agama dalam pendidikan modern, kebutuhan keterampilan abad ke-21. Adaptasi terhadap pembelajaran digital.
Ia juga memeparkan ketahanan generasi muda Hindu di dunia. Mencontohkan India. Terjadi penguatan identitas melalui Hindutva, Penguatan budaya melalui festival contoh perayaan Holi yang melibatkan tokoh dan artis. Sekolah-sekolah Hindu (Ashram, Gurukula) meningkat.
Sutarya menyikapi umat Hindu hanya sekitar ±8–9% populasi Bangladesh, sehingga berada dalam posisi minoritas. Generasi muda tumbuh dalam diskriminasi sosial dan ekonomi. Termasuk representasi yang rendah di politik, pendidikan, dan media. "Maka anak Hindu agar semakin banyak masuk anggota dewan (DPR/DPD/DPRD) sehingga ada menyuarakan di parlemen," ungkapnya.
Belum lagi, soal kurikulum yang kurang mengakomodasi identitas Hindu.
Bentuk ketahanan (resilience) generasi muda Hindu. Meski menghadapi tekanan, ketahanan tetap terlihat dalam beberapa bentuk; a) Ketahanan kultural; tetap mempertahankan: ritual keagamaan festival Hindu (meski lebih terbatas), Komunitas lokal menjadi pusat penguatan identitas; b) Pendidikan sebagai Strategi Bertahan. Banyak keluarga Hindu menekankan pendidikan tinggi. Generasi muda menggunakan pendidikan untuk: mobilitas sosial, migrasi ke luar negeri; c) Diaspora dan Jaringan Global Migrasi ke India dan negara lain menciptakan: jaringan dukungan global transfer pengetahuan dan ekonomi.
Ketahanan generasi muda Hindu penting dalam menghadapi perubahan global. Pada posisi mayoritas, ketahanan generasi muda Hindu baik melalui pendidikan Hindu, dan identitas budaya, tetapi pada posisi minoritas mengalami tantangan pada kasus-kasus diskriminasi ekonomi, pendidikan dan identitas budaya.
"Ketahanan bisa dibangun melalui jaringan Hindu dunia untuk saling mendukung dalam pembangunan pendidikan, ekonomi dan identitas budaya," pungkasnya. (GAB/ART/002)