Denpasar (Atnews) - Seminar Nasional Dharma Shanti Nyepi 2026 mengangkat tema “Membangun Ketahanan Generasi Muda Hindu: Antara Kebutuhan Ekonomi, Identitas, dan Pendidikan” digelar di Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Senin (6/4/2026).
Kegiatan ini menghadirkan empat pembicara utama, yakni Akademisi UNHI Nyoman Aditya Rini Abioga Vena, Dirut Utama BPR Kanti Made Arya Amittaba, Akademisi UGM I Made Andi Arsana, serta Akademisi UHN Denpasar Prof. I Gede Sutarya.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Hindu Indonesia Cokorda Gede Bayu Putra menekankan tiga pilar utama dalam membangun ketahanan generasi muda Hindu, yakni solidaritas, kreativitas, dan identitas.
Ia menyebutkan bahwa penguatan ekonomi, pengetahuan, serta keterampilan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Sementara itu, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Wisnu Bawa Tenaya menegaskan bahwa generasi muda Hindu saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Di satu sisi, mereka dituntut mampu memenuhi kebutuhan ekonomi di tengah dinamika global yang kompetitif, namun di sisi lain tetap memikul tanggung jawab menjaga adat, tradisi, dan nilai-nilai spiritual.
Menurutnya, keseimbangan tersebut hanya dapat dicapai apabila generasi muda memiliki kecakapan intelektual yang kuat, dibarengi kedalaman spiritual.
Hal senada disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang menyoroti kompleksitas tantangan yang dihadapi generasi muda Hindu, khususnya di daerah destinasi wisata seperti Bali.
Ia menyebutkan bahwa tekanan ekonomi dari sektor pariwisata seringkali berjalan beriringan dengan risiko tergerusnya nilai budaya dan spiritual.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun model pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Generasi muda harus mampu mengambil peran dalam pariwisata berbasis budaya, sehingga kebutuhan ekonomi dapat terpenuhi tanpa harus mengorbankan adat dan tradisi,” katanya.
Ia menambahkan, tren global seperti pariwisata berkelanjutan, perendaman budaya, dan ekowisata justru membuka peluang bagi generasi muda Hindu untuk berkembang, selama tetap berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal.
Dalam seminar tersebut, Nyoman Aditya Rini Abioga Vena menjelaskan bahwa era disrupsi ditandai dengan perubahan yang cepat dan radikal, menggeser cara kerja, bisnis, hingga gaya hidup ke arah sistem berbasis teknologi. Kondisi ini, menurutnya, memunculkan tiga krisis utama pada generasi muda Hindu.
“Pertama krisis ekonomi, di mana banyak anak muda sulit mandiri, cenderung konsumtif, dan takut memulai usaha. Kedua krisis identitas, yaitu mudah mengikuti tren namun melupakan akar budaya. Ketiga krisis kompetensi, terutama dalam hal literasi digital dan kepercayaan diri,” paparnya.
Sementara itu, I Made Andi Arsana menekankan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), membuat mesin semakin cerdas. Karena itu, manusia tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan teknis.
Untuk itu, ia mengajak generasi muda Hindu harus berfokus pada kebijaksanaan (wisdom) dan pencarian makna. Menurutnya kebijakansanaan dan makna tidak tidak bisa digantikan oleh mesin
Dari perspektif praktis, Made Arya Amittaba menyoroti pentingnya jejaring (networking) dalam meraih kesuksesan, tidak hanya mengandalkan kecerdasan akademik.
Ia membagikan pengalamannya yang mampu menjadi direktur utama meski tanpa pengalaman kerja formal sebelumnya.
Ia juga mengangkat konsep Catur Purusartha dalam ekonomi Hindu yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksa yang menekankan bahwa pencapaian ekonomi harus dilandasi nilai kejujuran dan kebenaran.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini antara lain gaya hidup konsumtif, ketergantungan pada pinjaman online, keinginan untuk sukses secara instan, serta rendahnya literasi keuangan.
“Banyak yang masih berpikir mencari kerja, bukan menciptakan peluang,” katanya.
Ia mendorong generasi muda untuk berani memulai usaha dari hal kecil, tidak menunggu sempurna, serta jeli melihat peluang di lingkungan sekitar.
Di sisi lain, Prof. Gede Sutarya menyoroti persoalan struktural, termasuk fenomena tenaga ahli Bali yang memilih bekerja di luar negeri akibat rendahnya upah di daerah sendiri.
Ia juga mengkritisi praktik investasi yang kerap menekan upah tenaga kerja lokal. Untuk itu, ia mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, seperti culinary tourism, experience tourism, dan spiritual tourism sebagai solusi berkelanjutan.
Selain itu, ia menyinggung kondisi umat Hindu di negara minoritas seperti Bangladesh yang masih menghadapi diskriminasi sosial dan ekonomi serta rendahnya representasi di bidang politik dan pendidikan.
Sebagai solusi, ia mendorong penguatan identitas melalui festival budaya, peningkatan kualitas pendidikan berbasis Hindu, serta pemberdayaan desa adat. (Z/002)