Banner Bawah

Sampah dan Pralina: Menjaga Keseimbangan dalam Tri Hita Karana

Admin 2 - atnews

2026-04-07
Bagikan :
Dokumentasi dari - Sampah dan Pralina: Menjaga Keseimbangan dalam Tri Hita Karana
Isu lingkungan (ist/atnews)

Oleh GN Mahardika

Dalam pandangan kosmologi Bali, kehidupan tidak berdiri sebagai sesuatu yang statis, melainkan bergerak dalam siklus yang terus berulang: utpatti (penciptaan), sthiti (pemeliharaan), dan pralina (peleburan atau penghancuran). 

Dalam siklus ini, pralina bukanlah sesuatu yang negatif, melainkan bagian penting dari keseimbangan semesta. Segala sesuatu yang tidak lagi selaras, tidak lagi memberi manfaat, atau bahkan membawa kerusakan, pada akhirnya harus kembali dilebur agar harmoni dapat dipulihkan.

Sampah, dalam konteks modern, adalah manifestasi nyata dari sesuatu yang telah kehilangan nilai gunanya. Ia bukan sekadar benda buangan, tetapi simbol dari ketidakseimbangan antara manusia dan lingkungannya. Dalam perspektif ini, sampah dapat dipahami sebagai entitas yang telah memasuki fase pralina, menunggu untuk dikembalikan ke asalnya baik melalui proses alami maupun intervensi manusia yang bijaksana.

Konsep ini sejalan erat dengan ajaran Tri Hita Karana, yang menekankan tiga sumber keharmonisan: hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), dengan sesama manusia (pawongan), dan dengan alam (palemahan). 

Ketika sampah tidak dikelola dengan benar, ketiga aspek ini terganggu. Lingkungan tercemar (palemahan), kesehatan dan kenyamanan masyarakat terganggu (pawongan), dan pada akhirnya manusia kehilangan kesadaran spiritual akan kesucian alam sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi (parhyangan).

Namun, bagaimana melakukan pralina terhadap sampah agar tetap sejalan dengan Tri Hita Karana?

Pertama, pada aspek palemahan, proses peleburan sampah harus mengikuti hukum alam, bukan melawannya. Sampah organik dapat dikembalikan ke tanah melalui komposting, sehingga menjadi bagian dari siklus kehidupan baru. Ini adalah bentuk pralina yang selaras, di mana kehancuran menjadi awal dari penciptaan kembali.

Kedua, pada aspek pawongan, pengelolaan sampah harus melibatkan kesadaran kolektif. Sampah bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi tanggung jawab bersama. Sistem pengelolaan berbasis komunitas seperti bank sampah atau gotong royong kebersihan menjadi wujud nyata bahwa manusia hidup dalam jaringan sosial yang saling bergantung.

Ketiga, pada aspek parhyangan, kesadaran spiritual perlu dihidupkan kembali. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi ruang suci tempat manusia berinteraksi dengan kekuatan ilahi. Dalam konteks ini, tindakan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dapat dimaknai sebagai bentuk yadnya persembahan kecil untuk menjaga kesucian alam.

Namun, tidak semua sampah dapat dengan mudah “dipralina” secara alami. Sampah plastik, limbah kimia, dan residu industri adalah tantangan besar dalam konteks modern. Di sinilah diperlukan kebijaksanaan manusia untuk menciptakan teknologi dan sistem yang mampu melakukan pralina buatan tanpa menimbulkan kerusakan baru. Prinsipnya tetap sama: peleburan harus mengembalikan keseimbangan, bukan menciptakan ketidakseimbangan baru.

Pada akhirnya, pralina bukan sekadar tindakan menghancurkan, tetapi proses transformasi menuju harmoni. Sampah mengajarkan bahwa setiap kelebihan, setiap konsumsi yang tidak terkendali, akan berujung pada akumulasi yang harus dihadapi. Dengan memahami dan menerapkan konsep pralina dalam pengelolaan sampah, manusia tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga membersihkan cara berpikir dan cara hidupnya.

Dalam terang Tri Hita Karana, pengelolaan sampah bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan praktik spiritual. Ia adalah jalan untuk kembali menata hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan menuju keseimbangan yang lestari dan bermakna.

*) GN Mahardika, Banjar Kertasari Panjer Denpasar

Baca Artikel Menarik Lainnya : BKD Ajak Pers Lakukan Pengawasan

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali