Banner Bawah

Refleksi Raina Pagerwesi, Kepemimpinan yang tidak Kompeten, Malapetaka buat Masyarakatnya

Admin 2 - atnews

2026-04-08
Bagikan :
Dokumentasi dari - Refleksi Raina Pagerwesi, Kepemimpinan yang tidak Kompeten, Malapetaka buat Masyarakatnya
Jro Gde Sudibya (ist/atnews)

Oleh Jro Gde Sudibya 

Raina Pagerwesi, Hari Rabu, 8 April 2026, sebuah momentum untuk berefleksi, mengingatkan raina Pagerwesi enam bulan yang lalu, 10 September 2025 sebagian Bali diterjang banjir bandang, membuka kotak pandora Bali mengalami darurat dan krisis lingkungan dengan kerusakan lingkungan yang nyaris tak terpulihkan. 

Hari-hari ini, sampah sedang "menyerbu" Denpasar dan Badung, ibukota provinsi dan kabupaten yang merupakan destinasi wisata dunia. Krisis sampah yang betul-betul memalukan di daerah tujuan wisata dunia, yang masyarakatnya menggunakan rujukan Tri Hita Karana dalam etika prilakunya.

Sudah tentu ada yang salah di sini, kepemimpinan yang tidak kompeten, sistem pengawasan yang rapuh, sehingga tidak ada sistem yang mengingatkan "mepewungu" terhadap kepemimpinan yang salah guna, inkompeten. 

Secara filosofi sering dikatakan, inkompetensi merupakan bentuk kejahatan. Fenomena ini sedang menimpa Bali dewasa ini, dan juga Indonesia.

Inkompetensi kepemimpinan ini menjadi sangat kontras dengan kearifan sastra kepemimpinan yang begitu banyak tersebar dalam ratusan sloka kakawin Ramayana dan Mahabaratha yang umumnya berbahasa Jawa Kuno yang menjadi rujukan sastra di Bali dalam kurun waktu ratusan tahun.

Nasehat Rama kepada adiknya Bhatara tentang etika kepemimpinan "sesana ya gegen", etika kepemimpinan yang mesti dipegang teguh. 

Pemimpin yang berbasis Tri Warga, Dharma, Artha, Kama dalam uncaran kakawin : "Dewa kosala-sala, Muang Dharma eka pahayun, Masya ta paha wredin, Byaya ring ayu kekesan, Bukti sakeharapta, Dwehing bala kasukhan, Dharma kelawan Artha ya Kama ta ngaran nike".

Nasehat Rama kepada Wibisana pasca Rahwana gugur, tentang kepemimpinan Asta Bratha yang terkenal itu. 

Pemimpin semestinya punya karakter seperti delapan para Dewa: Indra, Yama, Surya, Chandra, Nila, Kuwera, Agni, dalam uncaran kakawin: Hyang Indra, Yama, Surya, Chandra, Nila, Kuwera, Baruna, Agni nahan welu, Sira ta mekeangga sang Bupati, Nahan nian inisti Asta Bratha". 

Pemimpin yang memberikan kesejahteraan, sikap tegas, berlaku adil dan sejumlah kualifikasi yang meniru sifat para Dewa.

Masyarakat yang menggunakan rujukan sastra kepemimpinan berbasis rohani di atas, menjadi terkejut dan kemudian kecewa dengan inkompetensi kepemimpinan yang sekarang berlangsung.

*) Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sehari Menjelang Nyepi, Minimarket Kebanjiran Pembeli

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali

Dorong Sport Tourism, Melalui Fun Rally Jelajah Alam Buleleng, Diikuti 198 Peserta Se-Bali