Banner Bawah

Dari Sampah Menuju Pulau Organik

Admin 2 - atnews

2026-04-14
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dari Sampah Menuju Pulau Organik
Gede Pasek Suardika (ist/atnews)

Oleh Gede Pasek Suardika

Semua daerah punya sampah, yang berbeda cara penanganannya. Di Bali ada dua arah argumentasi besar yang sedang berpolemik di medsos. Satu kekecewaan masyarakat dengan kacau balaunya penanganan sampah, yang satunya apresiasi atas keberanian Gubernur Koster menutup TPA Suwung sebagai tindakan heroik setelah selama ini gagal ditutup.

Kedua narasi itu beradu, yang satu ekspresi spontan atas masalah nyata yang dialami dalam berbagai bentuk yag beragam dan yang satu narasi nya seragam sebagai bentuk peredaman atas narasi pertama. Semuanya memeriahkan ruang publik seiring makin meriahnya tumpukan bungkusan plastik sampah di trotoar trotoar maupun asap asap pembakaran yang berlangsung di berbagai tempat. Semua meriah. 

Tetapi ada hal yang menarik dan positif menurut saya yang ini sedang dilakukan pemerintah, yaitu mulai dilakukan program komposing dimana sampah organik dicacah lalu dikumpulkan untuk diubah menjadi kompos secara massal. 

Ide ini sebenarnya sangat bagus diterapkan secara totalitas dan komprehensif. Sebab itu bisa memproduksi pupuk organik dalam jumlah yang besar. Ini bisa digarap serius dengan ekosistem penanganan yang terpadu. Tetapi membuat kompos tidak cukup dengan dicacah saja, ada hal-hal lain yang harus disiapkan agar proses penguraian bisa lebih efektif. Hal ini tampaknya belum terlihat dari penanganannya. Sehingga ada kesan ide ini dadakan tanpa perencanaan. Padahal ini ide sangat bagus.

Program ini bisa disiapkan secara maksimal sehingga Bali akan memiliki pupuk organik yang melimpah dan bisa dijadikan bantuan sosial kepada petani, dipakai untuk menyuburkan lahan lahan kritis di seluruh Bali, pemupukan taman taman kota seluruh Bali maupun pohon pohon penghijauan sepanjang jalan. 

Saran saya, pemerintah perlu menseriuskan hal ini karena ini bisa mengurangi sebagian masalah sampah jika digarap secara serius. Akan lahir siklus yang sehat dengan penanganan seperti ini. 

Sementara untuk bahan non organik atau unorganik tetap pilihan terbaik adalah daur ulang dan yang paling banyak bisa diserap adalah dijadikan paving atau bahan baku jalan mengingat saat ini banyak jalan-jalan di Bali yang rusak. Tentu juga untuk daur ulang lainnya juga bisa dilakukan. 

Diantara dua arus besar antara yang kecewa dan memuji, sebenarnya ada solusi efektif yang perlu diseriuskan untuk dijadikan solusi. Fokuskan dulu anggaran, infrastruktur, SDM, mekanisme dan sistem alur penanganan program komposing secara integral di seluruh Bali dari hulu sampai ke hilir.

Semoga segera Bali tuntas urus sampah dan Bali bisa menjadi Pulau Organik tanpa pupuk kimia. 

*) Gede Pasek Suardika, Advokat 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Transaksi Non Tunai di Bali Ada Diperingkat Dua

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit

Kemenpar Perkuat Tata Kelola Akomodasi Bali, Dorong Pariwisata Lebih Tertib dan Berkelanjutan

Kemenpar Perkuat Tata Kelola Akomodasi Bali, Dorong Pariwisata Lebih Tertib dan Berkelanjutan

Hadiri Puncak Pujawali Pura Luhur Batulumbung, Gubernur Koster Serahkan Punia Rp 25 Juta

Hadiri Puncak Pujawali Pura Luhur Batulumbung, Gubernur Koster Serahkan Punia Rp 25 Juta