Banner Bawah

Vasudhaiva Kutumbakam dan Sanatana Dharma

Admin - atnews

2026-04-20
Bagikan :
Dokumentasi dari - Vasudhaiva Kutumbakam dan Sanatana Dharma
Pengelana Global Putu Suasta (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta yang juga Alumnus UGM dan Cornell University menilai tema Dharma Santi Nasional 2026 mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju" relevan dengan upaya mencapai perdamian dunia.

Acara itu sebagai puncak rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tingkat nasional bagi umat Hindu di Indonesia. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya (Art Center), Denpasar, Jumat (17/4/2026).

Umat Hindu semakin merasa spesial dengan pesan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dalam perayaan Dharma Santi Nasional Nyepi Tahun Saka 1948/2026 melalui tayangan video yang diputar pada acara puncak.

Acara itu dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, serta Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Isyana Bagoes Oka. 

Turut hadir Dharma Adhyaksa Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba, Gubernur Bali Wayan Koster, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih alias Demer, Anggota DPD RI Arya Wedakarna (AWK), Ni Luh Djelantik, dan I Komang Merta Jiwa, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Prof. Dr. Drs I Nengah Duija, M.Si, DPRD Bali, serta tokoh adat dan agama. Hadir pula Letjen TNI I Nyoman Cantiasa menjabat sebagai Staf Khusus KSAD, sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BIN, Ketua Panitia Pelaksana Dharma Santi Nasional, Marsda TNI (Purn) I Made Susila.

Tema tersebut menegaskan filosofi universal bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar yang hidup dalam satu bumi yang sama. Nilai ini relevan dalam konteks kebangsaan Indonesia yang majemuk, sekaligus menjadi pijakan untuk memperkuat harmoni sosial dan toleransi antarumat beragama.

Menurut Suasta, tema tersebut warisan Sanatana Dharma yang patut dipahami semua kalangan dalam membangun masyarakat shanti dan jagadhita secara material dan rohani.

Dijelaskan pula, Vasudhaiva Kutumbakam adalah frasa bahasa Sansekerta yang berarti “Dunia adalah satu keluarga”. 

Konsep "Vasudhaiva Kutumbakam" berakar pada filsafat dan teks-teks Sansekerta India kuno, khususnya dalam Maha Upanishad dan Hitopadesha. Teks-teks ini merupakan bagian dari warisan budaya dan filsafat India yang kaya, dan sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Upanishad ini merupakan bagian dari Atharva Veda, salah satu dari empat Veda dalam agama Hindu. Maha Upanishad menekankan kesatuan semua makhluk hidup dan keterhubungan antar manusia.

Berasal dari Maha Upanishad, ungkapan “Vasudhaiva Kutumbakam” adalah bagian dari Shloka ini.
"Udaara charitaanaam tu vasudhaiva kutumbhakam"

Artinya:
Bagi mereka yang berpikiran terbuka, seluruh planet hanyalah sebuah keluarga

Vasudaiva Kutumbakam disebutkan dalam beberapa kitab suci Hindu, seperti dalam Maha Upanisad dan Hitopadesh

“Ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām, Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam”

Artinya: “Pemikiran bahwa hanya dialah saudara saya, selain dia bukan saudara saya – adalah pemikiran dari orang yang berpikiran sempit. Bagi mereka yang berwawasan luas, atau orang mulia, mereka mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga besar. ” ( Maha Upanisad 6.72 : ).

Sedangkan, Vasudhaiva Kutumbakam juga ditemukan dalam Hitopadesha, yang merupakan kumpulan cerita dan dongeng India kuno. 

“Ayam nijah paroveti gananā laghuchetasām, Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam”

“Ini adalah tempat saya dan orang yang berada di luar adalah orang asing, merupakan pemikiran sempit. gunakanlah hati nurani karena bagaimanapun, seluruh bumi adalah sebuah keluarga”. (H itopadesh 1.3.71 : )

Teks itu menggunakan cerita dan pelajaran moral untuk menanamkan kebijaksanaan dan nilai-nilai etika. Frasa tersebut muncul dalam konteks mengajarkan kasih sayang dan gagasan bahwa seseorang harus memperlakukan orang lain sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri.

Pepatah India kuno ini menyampaikan gagasan bahwa seluruh dunia saling terhubung dan semua orang adalah bagian dari satu keluarga global. 

Pepatah itu mempromosikan nilai-nilai persatuan, kerja sama, dan gagasan bahwa kita harus memperlakukan semua orang dengan kebaikan dan empati, terlepas dari kebangsaan, ras, atau agama mereka. 

Pepatah itu sering digunakan untuk menekankan pentingnya perdamaian global dan pengertian di antara berbagai budaya dan bangsa.

Konsep keluarga global dan keterhubungan semua orang merupakan tema yang berulang dalam filsafat dan spiritualitas India. Hal ini mencerminkan penekanan tradisi filsafat India yang lebih luas pada kasih sayang (karuna) dan kepercayaan bahwa semua makhluk hidup saling terhubung (prinsip “Vasudhaiva Kutumbakam”).

Seiring berjalannya waktu, konsep ini telah mendapatkan pengakuan di luar India dan telah diterima sebagai pesan universal tentang persatuan, toleransi, dan perdamaian global. 

Konsep itu terus dikutip dan dirujuk dalam diskusi kontemporer tentang hubungan internasional, pemahaman antarbudaya, dan hak asasi manusia, yang menekankan relevansi abadi dari pesannya.

Begitu juga, ketika India sebagai tuan rumah G20 tahun 2023 setelah Indonesia tahun 2022, tema Kepresidenan G20 India, “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi, Satu Keluarga, Satu Masa Depan”.

Tema dan logo untuk Presidensi G20 India dari 1 Desember 2022 hingga 30 November 2023 menyebutkan “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi-Satu Keluarga-Satu Masa Depan”. Logo tersebut dipilih setelah peninjauan terhadap 2.400 kiriman dari seluruh India yang diundang melalui kontes desain logo. 

Tema tersebut menegaskan nilai semua kehidupan, manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme serta keterkaitan mereka di Planet Bumi dan di alam semesta yang lebih luas.

Perdana Menteri India Narendra Modi menggunakan frasa ini dalam pidatonya di Festival Budaya Dunia, yang diselenggarakan oleh Art of Living, seraya menambahkan bahwa "Budaya India sangat kaya dan telah menanamkan nilai-nilai luhur dalam diri kita masing-masing, kita adalah manusia yang datang dari Aham Brahmasmi ke Vasudhaiva Kutumbakam, kita adalah manusia yang datang dari Upanishad ke Upgraha (Satelit)." 

Logo itu digunakan dalam Olimpiade Sains Bumi Internasional ke-7 yang diselenggarakan di Mysore, India pada tahun 2013. Logo ini dirancang untuk menekankan integrasi subsistem Bumi dalam kurikulum sekolah. Logo ini dirancang oleh R. Shankar dan Shwetha B. Shetty dari Universitas Mangalore. 

Hal itu pula dipertegas dalam Bhgavadgita.

sarva-yoniṣu kaunteya
mūrtayaḥ sambhavānti yāḥ
tāsāḿ brahma mahad yonir
ahaḿ bīja-pradaḥ pitā

Hendaknya dimengerti bahwa segala jenis kehidupan dimungkinkan oleh kelahiran di alam material ini, dan bahwa Akulah ayah yang memberi benih, wahai putera Kuntī. (Bhagavad Gita 14.4 )

"Maka dari itu, pandangan Veda tentang Vasudhaiva Kutumbakam adalah bahwa setiap orang di planet ini tentu saja merupakan bagian dari keluarga kita. Tuhan tidak membuat diskriminasi atau memisahkan orang dengan batas-batas, ras atau warna kulit mereka," ungkapnya.

Mengingat, Planet Bumi ini sebelumnya dikenal sebagai Ajanabha, mengacu pada masa pemerintahan Raja Nabhi, namun setelah Bharata Maharaja memerintah planet ini, planet ini kemudian dirayakan sebagai Bharata-varsa. 

Rsabhadeva adalah putra Raja Nabhi dan cucu Raja Agnidhra, dan dia adalah ayah dari Raja Bharata, yang kemudian namanya planet bumi ini disebut Bharata-varsa. 

Sebagaimana dikisahkan Raja Bharata sebagai kaisar dunia. Berdasarkan namanya, planet ini pun dikenal sebagai Bhārata-varṣa.

Sebenarnya, Bhārata-varṣa adalah nama untuk seluruh planet baik pada Pemerintahan Mahārāja Yudhiṣṭhira hingga Mahārāja Parīkṣit memerintah bumi.

Maka lima ribu tahun yang lalu, raja-raja atau kaisar-kaisar Hastināpura memerintah seluruh dunia. Planet ini disebut Bhārata-varṣa , seluruh planet . Tidak seperti sekarang, sebidang tanah kecil. Seluruh dunia disebut Bhārata-varṣa.

Jadi, Pandawa atau Kuru, mereka adalah penguasa dunia. Karena itu, ketika terjadi pertikaian antara dua golongan saudara sepupu (Perang Kurukshetra), dari seluruh belahan dunia, ada yang bergabung dengan pihak ini, ada yang bergabung dengan pihak itu.

Dalam Mahabharata disebutkan bahwa enam puluh empat juta orang terbunuh, dan banyak yang hilang. Tidak seorang pun tahu tentang keberadaan mereka. 

Bahkan saat ini India, sejak menjadi tuan rumah KTT G20 nama Bharat (India) semakin populer di dunia dibawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. 

Suasta yang juga Budayawan mengatakan, perselisihan di seluruh dunia tidak berhenti dan perang terus berlanjut sebagai pertanda Kali Yuga. Hal itu menandakan orang lupa kasih sayang pikiran dan lupa kenyataan bahwa manusia terlihat berbeda tetapi kita semua satu (Vasudhaiava Kutumbakam).

Sejarah telat mencatat, era moderen telah terjadi Perang Dunia (PD) Pertama, sehingga "Liga Bangsa" didirikan. Tetapi dia tidak berjalan. Sekali lagi Perang Dunia (PD) Kedua terjadi. Ini seharusnya tidak terjadi lagi sehingga PBB didirikan. Namun sekarang melihat bagaimana situasinya. Dia di tempatnya, tidak efektif. Perang yang sedang terjadi tidak berhenti.

Pada zaman Dvapara Yuga juga telah terjadi perang besar selama 18 hari dikenal Mahābhārata. Mahābhārata memiliki arti sebenarnya adalah "Sejarah India." Mahā berarti agung, dan sejarah agung India. Bhārata berarti India.

Nama asli India adalah Bhārata-varṣa. Seluruh planet ini pada awalnya dikenal sebagai Ilāvṛta-varṣa. Kemudian ada seorang raja, Mahārāja Bharata. Jadi sesuai dengan namanya, seluruh planet menjadi Bhārata-varṣa. Seluruh planet ini disebut Bhārata-varṣa menurut literatur Veda. Tetapi sekarang planet ini terbagi.

Ada sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat manusia tersebar di seluruh planet Bumi. Menurut Mahābhārata, orang Amerika atau Eropa, berasal dari India (Bharatavarsa).

Peradaban Turki dan peradaban Yunani awalnya berasal dari India. Dua putra Mahārāja Yayāti diberi kerajaan Turki dan Yunani, dan dari Turki dan Yunani peradaban atau populasi Eropa berkembang, dan dari Eropa, orang Amerika, mereka datang ke sini. Tentu saja, itu adalah poin sejarah.

Dalam kitab Veda, bahwa bangsa – bangsa di seluruh di dunia pernah digolongkan bukan berdasarkan ras atau suku, tetapi berdasarkan spiritualitas. 

Jika dilihat dari kesadaran dan spiritual, bangsa-bangsa pada zaman Veda dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Golongan Arya dan Mlecca.

Golongan Arya memiliki peradaban spiritual yang tinggi. Bangsa Arya tidak dibedakan atas ras ataupun keturunan, namun ras atau keturunan mana pun yang menjalankan prinsip – prinsip agama maka disebut Bangsa Arya. 

Ciri utama golongan arya adalah adanya brahmana dan pemuka agama lainnya. Golongan Mlecca merupakan golongan yang tidak memiliki prinsip – prinsip agama. Tidak mengikuti orang suci dan melarang upacara korban suci. Kebanyakan raja – raja golongan Mlecca sudah dihabisi oleh Avatara.

Menurut ciri – ciri fisik dan tempat tinggal bangsa – bangsa, menurut kitab Veda (Mahabharata Purana dan Srimad Bhagavatam Skanda 11), bangsa – bangsa di dunia berawal dari Zaman Treta Yuga. 

Diawali dari Raja Pururawa yang merupakan asal muasal dari Dinasti Chandra. Raja Pururawa berputra yang terkenal bernama Raja Ayu.

Raja Ayu memiliki 5 putra. Putra yang terkenal bernama Nahusa. Raja Nahusa memiliki putra, yang terkenal bernama Yayati. 

Keturunan Yayati banyak melahirkan golongan ksatria. Begitu juga banyak keturunan Yayati menjadi Mlecca (bukan Arya), yang merupakan golongan (bukan ras) yang tidak mengikuti orang suci dan tidak beragama. Ksatria tersebut banyak dibunuh oleh Parasurama dan sisanya melarikan diri ke berbagai penjuru dunia, sehingga menjadi cikal – bakal berbagai bangsa di seluruh dunia saat ini.

Ksatria tersebut disucikan di bawah dinasti Maharaja Sagara bersama Rsi Aurwa. Raja Sagara melakukan Aswamedha yang juga diikuti oleh Maharaja Yudustira pada masa Dwapara Yuga mulai berakhir.

Dikatakan juga, "Wahai Vyāsadeva, engkau telah menyusun sebuah sastra agung, Mahābhārata. Dan di dalam Mahābhārata itu engkau telah memperkenalkan segala sesuatu yang dapat diketahui untuk dipahami." Mahābhārata awalnya ditulis untuk kaum wanita dan strī-śūdra-dvija-bandhūnām (SB 1.4.25).

(Karena rasa welas asih, sang bijak agung menganggap bijaksana bahwa hal ini akan memungkinkan manusia untuk mencapai tujuan akhir kehidupan. Maka beliau menyusun narasi sejarah agung yang disebut Mahābhārata untuk kaum wanita, buruh, dan sahabat kaum dwifag.

Dahulu hanya ada satu bendera, Bhāratavarṣa, dan ibu kotanya adalah Hastināpura. Lambat laun kendali Pāṇḍava menurun. Hingga Mahārāja Parīkṣit, seluruh dunia adalah Bhāratavarṣa. Sekarang telah menjadi tanah kecil, semenanjung.

Ketika Mahārāja Yudhiṣṭhira melakukan yajña pengorbanan kuda, penduduk negara-negara ini juga hadir untuk mengambil bagian dalam perayaan tersebut, dan mereka memberikan penghormatan kepada Kaisar. 

Bagian dunia ini disebut Kimpuruṣa-varṣa, atau terkadang disebut provinsi-provinsi Himalaya (Himavatī). Konon, Śukadeva Gosvāmī lahir di provinsi-provinsi Himalaya ini dan bahwa ia datang ke Bhārata-varṣa setelah melintasi negara-negara Himalaya.

Dengan kata lain, Mahārāja Parīkṣit menaklukkan seluruh dunia. Ia menaklukkan semua benua yang berbatasan dengan semua lautan dan samudra di segala penjuru, yaitu bagian timur, barat, utara, dan selatan dunia.

Sebagaimana dijelaskan dalam SB 1.9.41. Pada upacara Rājasūya-yajña (kurban suci) yang diselenggarakan oleh Mahārāja Yudhiṣṭhira, di sana ada pertemuan seluruh petinggi dunia, golongan raja dan cendekiawan. Dalam pertemuan itu, Śrī Kṛṣṇa dipuja oleh semua hadirin.
Sesudah Mahārāja Yudhiṣṭhira mencapai kejayaan, selaku Mahārāja penguasa dunia, beliau melaksanakan upacara kurban suci Rājasūya. 

Pada masa itu, pada waktu seorang Mahārāja naik takhta, mengirim sekor kuda sebagai tanda tantangan ke seluruh pelosok dunia untuk memaklumkan supremasinya, dan setiap pangeran atau raja bebas dalam menanggapi tantangan ini tanpa bicara dengan cara memperlihatkan kerelaannya untuk mematuhi atau tidak mematuhi supremasi Mahārāja yang sedang berkuasa. 

Raja yang menerima tantangan ini harus berperang melawan Mahārāja dan membuktikan keunggulannya sendiri melalui kejayaan. Penantang yang kalah terpaksa mengorbankan nyawanya sendiri, dan memberi kesempatan dan mempersilakan raja atau penguasa yang lain. 

Jadi, Mahārāja Yudhiṣṭhira juga mengirimkan kuda-kuda seperti itu sebagai tantangan ke seluruh pelosok dunia, dan setiap pangeran dan raja di seluruh dunia menerima kepemimpinan Mahārāja Yudhiṣṭhira sebagai Mahārāja penguasa dunia. 

Sesudah ini, semua pemimpin dunia yang berada di bawah kekuasaan Mahārāja Yudhiṣṭhira diundang untuk menghadiri upacara kurban suci agung bernama Rājasūya. 

Upacara semacam itu membutuhkan dana ratusan juta dollar (ukuran sekarang-red), sehingga bukan pekerjaan gampang bagi sebuah kerajaan kecil. Oleh karena upacara kurban suci seperti itu terlalu mahal dan terlalu sulit untuk keadaan sekarang ini, upacara jenis itu tidak mungkin dapat dilaksanakan di zaman Kali ini. 

Orang juga tidak akan bisa menemukan pendeta-pendeta yang kompeten untuk melaksanakan upacara ini.

Jadi, setelah raja dan resi mulia yang berpengetahuan tinggi di dunia diundang, mereka berkumpul di ibukota kerajaan Mahārāja Yudhiṣṭhira. 

Para cendekiawan, termasuk para filosof, pemuka agama, ahli kesehatan, ilmuwan dan semua resi yang mulia juga telah diundang. Para brāhmaṇa dan kṣatriya sebagai tokoh-tokoh masyarakat pun semuanya diundang untuk menghadiri sidang ini. 

Sedangkan dalam SB 1.9.49 disebutkan. Raja mulia yang religius itu, Mahārāja Yudhiṣṭhira, menjalankan kekuasaan seorang raja di kerajaannya dengan tegas menurut berbagai peraturan dan prinsip kerajaan yang disetujui oleh pamannya dan dibenarkan oleh Śrī Kṛṣṇa.

Mahārāja Yudhiṣṭhira bukanlah hanya sebagi pemungut pajak semata. Ia selalu menyadari kewajibannya sebagai seorang raja. Kewajiban raja tidak kurang dari kewajiban seorang ayah atau guru spiritual. Raja harus menjaga kesejahteraan para warganya dari segala segi, baik sosial, politik, ekonomi maupun kemajuan spiritual. 

Raja harus mengetahui bahwa kehidupan manusia dimaksudkan untuk membebaskan roh yang terkurung dari ikatan keadaan material. Karena itu, kewajiban raja adalah mengatur agar kesejahteraan para warganya dijaga supaya mereka mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi tersebut.

Mahārāja Yudhiṣṭhira mengikuti prinsip-prinsip tersebut secara tegas. Hal ini akan terlihat jelas dalam bab selanjutnya. Mahārāja Yudhiṣṭhira tidak hanya mengikuti prinsip-prinsip, tetapi Yudhiṣṭhira juga mendapat persetujuan dari pamannya yang sudah lanjut usia dan berpengalaman dalam urusan politik, dan itu pun dibenarkan oleh Śrī Kṛṣṇa, yang telah menyabdakan Bhagavad-gītā.

Mahārāja Yudhiṣṭhira adalah raja teladan. Sistem kerajaan di bawah raja yang terdidik seperti Mahārāja Yudhiṣṭhira adalah jenis pemerintahan yang terbaik. 

Memang pada masa Maharaja Yudistira atau Sri Ramacandra, manusia terbebas dari segala kekhawatiran. Bahkan tidak ada suhu dingin atau panas ekstrem. 

Dengan demikian, pemaparan tersebut yang menguatkan filosofi Vasudhaiva Kutumbakam: "seluruh bumi adalah satu keluarga" memiliki jejak - jejak dan warisan yang bisa ditelusuri.

Apalagi leluhur umat manusia dikenal dengan Manu. "Manu adalah manusia pertama dan leluhur semua umat manusia," ujarnya.

Kata manava yang artinya "manusia" secara harfiah berarti "keturunan Manu".

Di Manusmriti 1.61 disebut: "Svayambhuvasya asya manoh..." — Manu Swayambhuva yang menciptakan keturunannya. Jadi seluruh umat manusia dianggap satu garis keturunan dari Manu.

"Satu leluhur, satu keluarga dunia. Manu sebagai leluhur bersama, semua manusia bersaudara, dunia adalah satu keluarga (Vasudhaiva Kutumbakam-red)," ujarnya.

Hukum yang diajarkan Manu juga disebut Manava Dharma, dharma untuk seluruh umat manusia, bukan cuma untuk satu kelompok.

"Jadi Manu memberi dasar genealogis, kita semua satu keturunan. Vasudhaiva Kutumbakam memberi sikap etisnya karena satu keturunan, perlakukan semua seperti keluarga," imbuhnya.


Selain itu, dalam Sloka Śrīmad-Bhāgavatam 2.7.20; 

cakraṁ ca dikṣv avihataṁ daśasu sva-tejo 
manvantareṣu manu-vaṁśa-dharo bibharti 
duṣṭeṣu rājasu damaṁ vyadadhāt sva-kīrtiṁ 
satye tri-pṛṣṭha uśatīṁ prathayaṁś caritraiḥ

Artinya: 
Sebagai inkarnasi Manu, Sang Dewa menjadi keturunan dinasti Manu dan memerintah atas kerajaan-kerajaan jahat, menaklukkan mereka dengan senjata roda-Nya yang kuat. Tak gentar dalam segala situasi, pemerintahan-Nya ditandai oleh kemasyhuran-Nya yang agung, yang menyebar ke tiga loka, dan di atasnya lagi ke sistem planet Satyaloka, yang tertinggi di alam semesta.

Dijelaskan, membahas inkarnasi Manu. Dalam satu hari Brahmā ada empat belas Manu, yang berganti satu demi satu. Dengan demikian, ada 420 Manu dalam satu bulan Brahmā dan 5.040 Manu dalam satu tahun Brahmā. Brahmā hidup selama seratus tahun menurut perhitungannya, dan dengan demikian, ada 504.000 Manu dalam yurisdiksi satu Brahmā. 

Ada Brahmā yang tak terhitung banyaknya, dan semuanya hidup hanya selama satu periode napas Mahā-Viṣṇu. Jadi, dapat membayangkan bagaimana inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa bekerja di seluruh dunia material, yang hanya mencakup seperempat dari total energi Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.

Inkarnasi manvantara menghukum semua penguasa jahat di berbagai planet dengan kekuatan yang sama besarnya dengan kekuatan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang menghukum para penjahat dengan senjata roda-Nya. Inkarnasi manvantara menyebarkan kemuliaan transendental Tuhan.

Dharma Santi Nasional 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat kolektif bahwa persatuan adalah fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan harmonis.

Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Provinsi Bali, Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Agama RI, serta organisasi keumatan Hindu se-Indonesia. Sejumlah pihak juga turut menjadi sponsor, antara lain Semeton Bali Golf Community (SBGC), Baznas Provinsi Bali, BPJS Ketenagakerjaan, Bank BPD Bali, BKS LPD, Krisna Oleh-Oleh, LPD Provinsi Bali, dan Monalisa Longtorso.

Adapun rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi Launching Perayaan Dharma Santi 2026 dan Perayaan Siwaratri di Prambanan (Sabtu, 17 Januari 2026), Perayaan Maha Siwaratri dan Penanaman Pohon Serentak se-Indonesia (Minggu, 15 Februari 2026), Bhakti Sosial dan Pelayanan Kesehatan di Aceh (25–27 Februari 2026), Saka Boga Sevaman Serentak (1 Maret 2026), Makerti Ayuning Danu (8 Maret 2026), Melasti Serentak (15 Maret 2026), Donor Darah Serentak (1 Maret 2026), Tawur Agung Kesanga di Prambanan (18 Maret 2026), Perayaan Hari Suci Nyepi Serentak (19 Maret 2026), Seminar Nasional di Bali (6 April 2026), serta Saka Yoga Festival di Jakarta (11 April 2026.

Menariknya lagi, pelaksanaan Dharma Santi Nasional 2026 berdekatan dengan Hari Tumpek Landep (18/4). Bahkan Akshaya Tritiya pada tanggal 19 April 2026 (Indonesia merayakan pada 20 April) dikenal sebagai Akti atau Akha Teej, adalah festival musim semi Hindu dan Jainisme tahunan.

Perayaan Akshaya Tritiya jatuh pada tithi ketiga (hari lunar) dari setengah cerah (Shukla Paksha) bulan Vaisakha. Hari suci itu sebagai keberuntungan oleh umat Hindu dan Jain di India dan Nepal.

Dijelaskan pula, Akṣaya Tṛtīyā. Secara harfiah, Akṣaya berarti "sesuatu yang tidak akan pernah musnah" dan Tṛtīyā adalah "hari ketiga". Ini adalah waktu di mana alam semesta memancarkan energi keberuntungan yang murni, bebas dari segala pengaruh buruk.

Akshay Tritiya, hari istimewa dalam setahun ketika Matahari dan Bulan sama-sama berada pada posisi tertinggi di zodiak, Matahari pada 10 derajat Aries dan Bulan pada 3 derajat Taurus. Menunjukkan betapa jelasnya pandangan para astrolog Vedik terhadap langit, Matahari, Bulan, dan planet-planet.

Hari itu menjadi sangat sakral karena menandai berbagai peristiwa suci, seperti (1) Dewa Parashurama muncul, (2) Sungai Gangga turun ke Bumi, (3) Hari ini menandai awal Treta-yuga, (4) Sudama mengunjungi Shri Krishna di Dwaraka, (5) Para Pandawa menerima Akshaya Patra dari Dewa Matahari, (6) Vyasadeva mulai menyusun Mahabharata, (7) Adi Shankaracharya menyusun Kanakadhara Stotram, (8) Kubera menerima kekayaan dan kedudukannya sebagai penjaga kekayaan, dan (9) Dewi Annapoorna Devi muncul.

Untuk itu, Akṣaya Tṛtīyā adalah kesempatan yg sangat baik untuk "memberikan persembahan terbaik kita" baik secara materiil maupun imateriil kepada Tuhan yang adalah sumber dan pemilik segalanya.
 
Dalam waktu dekat, umat Hindu akan merayakan Perayaan Nṛsiṁha Caturdasi (30 April), kemunculan Sri Nrsimhadeva. (GAB/DEV/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Koruptor asal Lampung Diduga Miliki Tanah di Bali

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Sampah Menumpuk, De Gadjah Tegaskan Presiden Prabowo Turun Tangan Hadirkan PSEL ke Bali

Sampah Menumpuk, De Gadjah Tegaskan Presiden Prabowo Turun Tangan Hadirkan PSEL ke Bali

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit