Banner Bawah

Vasudhaiva Kutumbakam: Perjuangkan Keadilan, Dharma, dan Umat Hindu Tak Berpangku Tangan

Admin 2 - atnews

2026-04-20
Bagikan :
Dokumentasi dari - Vasudhaiva Kutumbakam: Perjuangkan Keadilan, Dharma, dan Umat Hindu Tak Berpangku Tangan
Dharma Santi Nasional 2026 (ist/atnews)

Denpasar (Atnews) - Intelektual Hindu Jro Gde Sudibya mengapresiasi tema Dharma Santi Nasional 2026 mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju" relevan dengan upaya mencapai perdamian dunia.

Acara itu sebagai puncak rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi tingkat nasional bagi umat Hindu di Indonesia. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya (Art Center), Denpasar, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, Intelektual ternama India Sarvelli Radhakrishnan. profesor filsafat Timur di Oxford University  pengarang buku ternama  "Indian Philosophi" menerjemahkan sloka Upanisad Vaishudewa Kutumbukam sebagai manusia datang dari Ayah dan Ibu yang sama yakni Tuhan sehingga mereka bersaudara. 

Pesan kemanusiaan dengan nilai teo-filosofi tinggi yang semestinya menjadi rujukan manusia dalam membangun relasi antar manusia dalam memulyakan manusia dan kemanusiaan.

Tetapi Intelektual itu memberikan catatan, rasa persaudaraan yang melahirkan perdamain dan kemudian kedamaian di hati  mempersyaratkan stabilitas sosial, stabilitas sosial yang pondasinya adalah keadilan. 

Bagi penulis buku Indian Philosophi ini, keadilan adalah persyaratan dasar dan bahkan jangkar bagi Pesan filosofi Vaisudhewa Kutumbakam.

"Tanpa keadilan, keadilan sosial yang lahir dari struktur ekonomi politik yang berkeadilan, sloka ini sebatas slogan dan bahkan bisa menjadi ilusi," ujar Jro Gde Sudibya yang juga Alumni UI.

Dituntut perjuangan untuk membangun struktur kehidupan yang lebih berkeadilan, bebas dari eksploitasi  kekuasaan yang korup.

Filosofi Vaishudewa Kutumbakam, merupakan pesan moral politik dimana keadilan (dharma) mesti diperjuangkan, dan umat Hindu tidak bisa berpangku tangan membiarkan kejahatan dan prilaku tidak adil berlangsung. 

Oleh karena persaudaraan tanpa keadilan, persaudaraan semu, yang bisa " meledak" kemudian sebagaimana dalam Itihasa Mahabharata, perang Pandava dengan Kaurava.

Apalagi zalam zaman Kaliyuga, kemakmuran dan kekuasaan material menjadi tujuan utama, sementara kebenaran dan keadilan memudar, dan kebohongan, keserakahan, serta kekerasan merajalela. 

Karakteristik utamanya adalah kebohongan, kemunafikan, keserakahan, dan penurunan etika spiritual. 

Sedangkan, Ahimsa parodharma sebagai dharma tertinggi adalah filosofi hidup non-kekerasan di dalam Veda. Filosofi ini sering disalahpahami oleh para pengikut ajaran Veda sendiri, yang disebut penganut agama Hindu. 

Ajaran ahimsa sering dipahami setengahnya saja, setengah saja, pantang melakukan kekerasan. Akibatnya, penganut Hindu banyak yang jadi generasi lembek, penakut, termasuk takut dalam menegakkan kebenaran. Ahimsa bukanlah tidak adanya kekerasan; filosofi ini juga mengajarkan kekerasan untuk mencegah ataupun melawan kekerasan demi melindungi Dharma (Kebenaran/kebajikan). 

Pesan lengkap Mahabharata, yang intisarinya dijadikan pustaka suci terindah di dunia Bhagavadgītā: “Ahimsa paramo dharma, Dharma himsa tathaiva cha”,  artinya: Non-kekerasan adalah dharma tertinggi, demikian juga kekerasan untuk menegakkan Dharma.

Acara tahun itu mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju.”

Tema tersebut menegaskan filosofi universal bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar yang hidup dalam satu bumi yang sama. Nilai ini relevan dalam konteks kebangsaan Indonesia yang majemuk, sekaligus menjadi pijakan untuk memperkuat harmoni sosial dan toleransi antarumat beragama.

Ketua Panitia Pelaksana Dharma Santi Nasional, Marsda TNI (Purn) I Made Susila, melaporkan bahwa rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi 2026 telah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan sosial, spiritual, dan budaya di seluruh Indonesia.

“Rangkaian kegiatan Nyepi tahun ini tidak hanya berpusat pada perayaan keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata seperti bakti sosial, pelayanan kesehatan, yoga massal, kegiatan keagamaan, hingga parade budaya yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas di berbagai daerah,” ujarnya.

"Kami sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung rangkaian acara dan seluruh umat yang ikut berpartisipasi mensukseskan acara," tambahnya.

Acara ini dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)  Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, serta Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Isyana Bagoes Oka. 

Turut hadir Dharma Adhyaksa Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba, Gubernur Bali Wayan Koster, Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPR RI Gde Sumarjaya Linggih alias Demer, Anggota DPD RI Arya Wedakarna (AWK), Ni Luh Djelantik, dan I Komang Merta Jiwa, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Prof. Dr. Drs I Nengah Duija, M.Si, DPRD Bali, serta tokoh adat dan agama.

Hadir pula Letjen TNI I Nyoman Cantiasa menjabat sebagai Staf Khusus KSAD, sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BIN, Ketua Panitia Pelaksana Dharma Santi Nasional, Marsda TNI (Purn) I Made Susila.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, atau yang akrab disapa WBT, menegaskan pentingnya persatuan dalam keberagaman melalui semangat Vasudhaiva Kutumbakam. Dia menyebut kegiatan melibatkan berbagai elemen sebagai simbol persatuan.

“Kegiatan hari ini luar biasa. Melibatkan lintas komponen, umat dan lintas umat beragama.” jelasnya.

Purnawirawan TNI tersebut juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan momentum Nyepi sebagai refleksi bersama dalam memperkuat persatuan nasional.

“Kita semua umat sedharma, lintas iman lintas agama menyatukan kekuatan untuk menuntaskan berbagai masalah bangsa,” tambah mantan Danjen Kopassus tersebut.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha dalam sambutannya menyebut Nyepi memberi pelajaran berarti. Giring menyebut nilai Karma Yoga (bertindak tanpa keterikatan), Dhyana Yoga (pengendalian diri), dan Bhakti Yoga (berserah diri). sebagai salah satu ekspresi kebudayaan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga sarat makna filosofis dan nilai universal.

“Nilai-nilai yang kita refleksikan ini sesungguhnya tidak hanya hidup dalam satu tradisi, tetapi hadir dalam berbagai kebudayaan dengan nama yang berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Nyepi, menjadi contoh bagi dunia dalam mengembalikan keseimbangan alam dan lingkungan. 

“Di saat banyak negara masih berupaya mendorong kesadaran lingkungan melalui gerakan seperti Earth Hour, masyarakat Bali telah lama memberikan contoh nyata luar biasa.” kata Giring.

Menko PMK Pratikno dalam sambutannya menilai Hari Raya Nyepi memiliki pesan yang sangat penting, bukan hanya untuk umat Hindu, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Di tengah dunia yang penuh hiruk pikuk dan percepatan perubahan, Pratikno menilai manusia perlu mengambil jeda untuk hening, merenung, dan menemukan kembali arah hidupnya.

"Nyepi itu sangat relevan dalam dunia yang penuh kebisingan.  Karena dengan keheningan kita belajar mengendalikan diri di tengah ributnya dunia," jelasnya.

Ia menekankan nilai-nilai Catur Brata Penyepian Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelaungan merupakan bentuk konkret pengendalian diri, introspeksi, serta kesadaran terhadap hubungan manusia dengan alam semesta. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan di era sekarang, di mana dunia bergerak cepat tanpa henti

“Banyak nilai luhur yang diajarkan sangat penting untuk kita laksanakan. Meskipun dengan berbagai tantangan yang ada,” ujar Pratikno.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melalui siaran video menyampaikan ucapan selamat perayaan Dharma Santi Nasional Nyepi tahun Saka 1948/2026. Presiden menegaskan bahwa Dharma Santi merupakan momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai persaudaraan, saling memaafkan, serta meneguhkan ajaran dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk melangkah bersama dalam semangat harmoni, persatuan, dan toleransi di tengah keberagaman.

“Dharma Santi adalah momentum untuk saling memaafkan, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari. Setelah Nyepi, kita melangkah bersama dalam semangat harmoni dan persatuan. Nilai Tat Twam Asi, saling menghormati, dan hidup seimbang adalah kekuatan bangsa kita,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden juga menekankan bahwa Indonesia sebagai bangsa besar memiliki kekuatan dalam keberagaman yang dijaga melalui sikap rukun dan toleransi. Ia turut mengapresiasi peran umat Hindu dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat persatuan nasional.

“Kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang rukun dalam keberagaman, bangsa yang menjunjung tinggi toleransi dan perbedaan. Saya percaya bahwa umat Hindu Indonesia telah dan akan terus menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat persatuan, dan membangun Indonesia yang adil dan makmur, berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.

Acara Dharma Santi Nasional ini turut dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya, mulai dari bondres (lawakan khas Bali), alunan musik seruling, penampilan grup musik, hingga sendratari kolosal.

Dharma Santi Nasional 2026 diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi pengingat kolektif bahwa persatuan adalah fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan harmonis.

Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Provinsi Bali, Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Agama RI, serta organisasi keumatan Hindu se-Indonesia. Sejumlah pihak juga turut menjadi sponsor, antara lain Semeton Bali Golf Community (SBGC), Baznas Provinsi Bali, BPJS Ketenagakerjaan, Bank BPD Bali, BKS LPD, Krisna Oleh-Oleh, LPD Provinsi Bali, dan Monalisa Longtorso.

Adapun rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi Launching Perayaan Dharma Santi 2026 dan Perayaan Siwaratri di Prambanan (Sabtu, 17 Januari 2026), Perayaan Maha Siwaratri dan Penanaman Pohon Serentak se-Indonesia (Minggu, 15 Februari 2026), Bhakti Sosial dan Pelayanan Kesehatan di Aceh (25–27 Februari 2026), Saka Boga Sevaman Serentak (1 Maret 2026), Makerti Ayuning Danu (8 Maret 2026), Melasti Serentak (15 Maret 2026), Donor Darah Serentak (1 Maret 2026), Tawur Agung Kesanga di Prambanan (18 Maret 2026), Perayaan Hari Suci Nyepi Serentak (19 Maret 2026), Seminar Nasional di Bali (6 April 2026), serta Saka Yoga Festival di Jakarta (11 April 2026. (GAB/DEV/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Jajaran Polda Bali Hadiri Mediasi Pakudui Kawan dengan Pakudui Kangin

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Sampah Menumpuk, De Gadjah Tegaskan Presiden Prabowo Turun Tangan Hadirkan PSEL ke Bali

Sampah Menumpuk, De Gadjah Tegaskan Presiden Prabowo Turun Tangan Hadirkan PSEL ke Bali

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit

Carut - Marut Kelola Sampah, Pemerintah dapat Digugat Citizen Lawsuit