Banner Bawah

Api Kartini Belum Padam: Dari Surat ke Medan Juang Generasi Penerus

Admin 2 - atnews

2026-04-20
Bagikan :
Dokumentasi dari - Api Kartini Belum Padam: Dari Surat ke Medan Juang Generasi Penerus
Hari Kartini 2026 (ist/atnews)

Badung ( Atnews) - 121 tahun sejak Kartini wafat, namanya tidak tinggal di buku sejarah. Apinya masih menyala di tangan perempuan Bali yang hari ini memanggul dua beban sekaligus: menjaga keluarga dan menjaga bangsa.

Dua srikandi beda generasi tapi satu napas juang bicara lantang: Dra. Kusumawati Sumantra, Koordinator Ikatan Alumni Menwa Seroja Timor-Timur Wilayah Bali sekaligus pengurus Monumen Resimen Mahasiswa UGRASENA di kawasan Monumen Perjuangan Bangsal, dan Dr. Cantiari, Ketua Pemuda Panca Marga Buleleng, pengurus DHD Angkatan 45 Provinsi Bali, serta Ketua 1 FBN Forum Bela Negara yang dikenal getol menularkan nilai-nilai 45.

Keduanya dihubungi secara terpisah saat ditemui menjelang Pelantikan Pengurus DHC Angkatan 45 se-Bali, Rakerda, dan HUT DHD Angkatan 45 Provinsi Bali yang akan dilaksanakan 22 April 2026. Dr. Cantiari menjelaskan pandangannya seusai acara Halal Bi Halal IKAWANGI di Monumen Perjuangan Bangsal.

Rekam Jejak: Kartini Masa Kini

Dr. Cantiari bukan nama baru di gelanggang perjuangan. Perempuan Bali ini tercatat sebagai Tokoh Perempuan Bali dan Keluarga Sukinah Juara 1 Provinsi Bali, Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, Peserta Terinspiratif Lemhannas RI, Gender Champion Tingkat Nasional, hingga Tokoh Pemimpin Perempuan Tingkat Nasional. Deretan prestasi itu ia pakai bukan untuk dipajang, tapi untuk menyalakan perempuan lain.

Dari Pingitan ke Medan Tugas

“Kalau Kartini dulu mendobrak pingitan dengan pena, kami hari ini mendobrak keraguan dengan seragam loreng,” tegas Kusumawati. Bagi mantan Menwa Seroja Tim-Tim itu, Kartini bukan sekadar emansipasi. Kartini adalah keberanian mengambil peran saat negara memanggil.

Ia mengingatkan, putra tunggal Kartini, RM Soesalit Djojoadhiningrat, memilih jalan berbeda dari ibunya. Bukan dengan buku, tapi dengan senjata. Soesalit masuk PETA, jadi Daidancho Banyumas, lalu Panglima Divisi I Diponegoro. “Itu Kartini versi laki-laki. Sama-sama berjuang, beda medan. Artinya, semangat Kartini itu genderless. Siapapun bisa nyalakan,” ujar Kusumawati.

Nilai 45: Kartini Zaman Kemerdekaan

Dr. Cantiari menambahkan, semangat Kartini hari ini hidup dalam Nilai 45: rela berkorban, pantang menyerah, dan cinta tanah air tanpa pamrih. Sebagai Ketua Pemuda Panca Marga Buleleng, pengurus DHD 45 Bali, dan Ketua 1 FBN, ia melihat banyak anak muda bingung memaknai “pejuang” di era digital.

“Kartini tidak nunggu merdeka untuk bergerak. Dari kamar Jepara, dia kirim surat ke Belanda. Sekarang kamar itu HP kalian. Pertanyaannya: surat apa yang kalian kirim untuk Indonesia?” tantang Cantiari.

Menurutnya, Kartini wafat muda, 25 tahun, 4 hari setelah melahirkan Soesalit. Tapi dalam usia pendek itu, ia sudah menulis jalan panjang buat perempuan Indonesia. “Jadi jangan bilang umurmu terlalu muda untuk berbuat. Kartini membuktikan: 25 tahun cukup untuk mengubah sejarah.”

Soesalit: Bukti Didikan Kartini Tidak Mati

Kisah Soesalit jadi pengingat bahwa Kartini mendidik bukan dengan khotbah, tapi dengan teladan. Ditinggal ibu sejak bayi, Soesalit tumbuh jadi perwira militer. Ia memilih PETA di zaman Jepang, naik jadi Daidancho, lalu memimpin Divisi Diponegoro setelah merdeka.

“Anak Kartini tidak manja. Tidak hidup di bawah bayang nama ibu. Dia bikin nama sendiri di medan perang,” kata Kusumawati. “Itu pesan buat generasi penerus: boleh bangga jadi anak bangsa, tapi jangan minta dikasihani. Merebut kehormatan itu tugas kalian sendiri.”

Tiga Api Kartini untuk Generasi Sekarang

Dari dialog dengan dua tokoh ini, ada tiga warisan Kartini yang relevan buat anak muda Bali dan Indonesia:

1. Berani Belajar, Berani Mengajar
Kartini menuntut ilmu di tengah larangan. Hari ini akses terbuka, tapi banyak yang malas buka buku. “Malu sama Kartini kalau ijazah tinggi tapi logika kosong,” sindir Dr. Cantiari.

2. Setia Pada Proses, Bukan Panggung
Surat-surat Kartini baru dibukukan jadi Habis Gelap Terbitlah Terang setelah ia wafat. “Dia tidak cari panggung. Dia kirim gagasan. Generasi sekarang harus berani berproses tanpa harus viral dulu,” kata Kusumawati.

3. Kasih Sayang Tidak Memanjakan
Soesalit diasuh nenek dan ayahnya, tidak dimanja meski anak bupati. Hasilnya: jadi perwira. “Cinta ibu terbaik adalah menyiapkan anak untuk beratnya hidup, bukan menghindarkan dari hidup,” tegas Cantiari.

Kartini Tidak Minta Dikenang, Minta Dilanjutkan

21 April bukan hari kebaya. Itu hari evaluasi. Sudah sejauh mana kita keluar dari “pingitan” baru: pingitan mental, pingitan keberanian, pingitan kepedulian.

Kusumawati menutup: “Kami alumni Menwa Seroja Tim-Tim, kami pengurus Monumen UGRASENA di Bangsal, kami berdiri karena ibu-ibu seperti Kartini dulu tidak diam. Sekarang giliran adik-adik. Jangan cuma upload foto Kartini. Jadilah Kartini.”

Dr. Cantiari menambahkan, “Kalau Kartini hidup hari ini, dia tidak akan nanya kamu pakai kebaya atau tidak. Dia akan nanya: kamu sudah nyalakan lampu untuk siapa?”

Api itu sudah di tanganmu. Gelap atau terang, kita yang pilih (KRS/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gunung Ibu Meletus, Status Tetap Waspada

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Sampah Menumpuk, De Gadjah Tegaskan Presiden Prabowo Turun Tangan Hadirkan PSEL ke Bali

Sampah Menumpuk, De Gadjah Tegaskan Presiden Prabowo Turun Tangan Hadirkan PSEL ke Bali

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal