KEK, Fokus Pariwisata Spiritual untuk Masyarakat Lokal
Banner Bawah

KEK, Fokus Pariwisata Spiritual untuk Masyarakat Lokal

Admin 2 - atnews

2026-05-24
Bagikan :
Dokumentasi dari - KEK, Fokus Pariwisata Spiritual untuk Masyarakat Lokal
I Gede Sutarya (ist/atnews)
Oleh I Gede Sutarya

Bali, saat ini sedang berada dalam isu pembangunan kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Serangan, Denpasar. Kawasan ini akan memanjakan investor dengan insentif pajak, fasilitas kepabeanan dan kemudahan perizinan.

KEK Serangan (Kura Kura Bali) dan KEK Sanur fokus pada pengembangan medical dan wellness, tetapi perkembangan baru akan menjadi pusat keuangan dunia. Fokus ini, mengembangkan KEK dengan kemudahan investasi asing, sehingga pola pembangunannya mirip dengan pengembangan Kawasan Nusa Dua. Hal ini menyebabkan isu ini bergulir panas di Bali.

Pembangunan Bali seperti dikutip dalam berbagai peraturan daerah bertumpu pada falsafah Tri Hita Karana yaitu harmoni dengan Parahyangan (kawasan keagamaan), Pawongan (kawasan pemukiman) dan Palemahan (lingkungan). 

Harmoni ini hanya bisa dibangun bila pembangunan berfokus kepada masyarakat lokal, sebab masyarakat lokal adalah kunci harmoni hubungan tersebut.

Hal itu terjadi karena lingkungan dan spiritual adalah penyangga kebutuhan masyarakat lokal secara fisik (lingkungan) dan spiritual (keagamaan). Karena itu, Tri Hita Karana seharusnya menjadi landasan setiap pembangunan di Bali.

Pengembangan KEK berfokus pada kemudahan investasi, sebab pemerintah memerlukan pembukaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. 

Akan tetapi, apakah pembangunan tersebut akan menguntungkan masyarakat lokal? Pembangunan pariwisata selama 40 tahun (1970 - 2026), belum dirasakan manfaat besarnya bagi masyarakat lokal.

Bahkan pada perkembangan pariwisata mencapai puncaknya dengan pertumbuhan kunjungan 7 juta wisman pada tahun 2025, masyarakat lokal hanya mendapatkan UMR Rp.3,2 juta dan bayang-bayang konflik angkutan lokal.

Hal ini memunculkan pertanyaan kritis tentang apakah investasi asing memang memberikan kesejahteraan kepada masyarakat lokal.

Investasi terlalu dimanjakan pemerintah, sebab di tengah modal pertumbuhan wisatawan yang besar, investasi tetap diberikan fasilitas. Tahun 1971, semua paham bahwa fasilitas untuk investasi itu diperlukan karena pariwisata Bali baru bertumbuh, tetapi 40 tahun kemudian, apakah hal itu masih diperlukan? Jika diperlukan, artinya investasi tidak berkontribusi bagi pembangunan nasional, padahal kemudahan sudah terus diberikan.

Selama 40 tahun ini, Bali telah mendapatkan pengalaman bahwa pengorbanan masyarakat lokal untuk investasi, tidak sebanding dengan kontribusi yang didapatkannya. Bali telah mengalami kerusakan lingkungan, gunungan sampah, kemacetan dan kemarjinalan, tetapi kontribusi untuk menangani masalah-masalah itu hampir tidak ada.

Artinya, keuntungan investasi tersendat pada tempat yang tak mengalir ke bawah. Hal ini sudah dikritisi dari awal melalui teori-teori pertumbuhan bahwa harapan pertumbuhan yang menetes dari atas ke bawah, seringkali hanya janji kosong investasi.

Hal ini yang menyebabkan munculnya konsep-konsep pembangunan baru yang disebut pembangunan berkelanjutan, dan pembangunan yang berbasis komunitas. Apabila teori pertumbuhan dengan memanjakan investasi telah terbukti gagal, sebaiknya pemerintah mencoba konsep-konsep baru pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Konsep ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana yang bertumpu pada masyarakat lokal, ekonomi lokal, dan konservasi lingkungan. Masyarakat lokal adalah elemen Parahyangan (menyangkut nilai), ekonomi lokal menyangkut Pawongan dan konservasi lingkungan menyangkut Palemahan.

Oleh karena itu, KEK sebaiknya diberikan kepada masyarakat lokal untuk mengelolanya, dengan bantuan perencanaan dari pemerintah. Sejalan dengan pengembangan medical dan wellness pada KEK tersebut, maka pengembangan pariwisata spiritual bisa menjadi alternatif bagi pengembangan KEK.

Pariwisata spiritual mengembangkan nilai-nilai lokal seperti kesucian, mengembangkan ekonomi lokal karena menggunakan aset-aset lokal dan mendorong konservasi lingkungan karena menjadikan lingkungan sebagai pendukung utama spiritual.

Pariwisata spiritual ini merupakan trend baru dalam pariwisata dunia yang berbasis pengalaman dan pencarian individu. Hal ini ditandai dengan perkembangan kelompok-kelompok spiritual dunia. UNWTO mencatat 300 Juta sampai dengan 330 Juta wisatawan yang melakukan perjalanan spiritual.

Perjalanan ini menghasilkan sekitar 3080 Milliar US Dollar per tahun, dengan pertumbuhan 8,1 persen sampai 14,2 persen per tahun. Angka-angka telah menunjukkan trend baru pariwisata dunia yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

Trend baru ini bisa didapatkan dengan memberikan kesempatan besar kepada masyarakat lokal untuk mengembangkan daerahnya menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Spiritual. Pada KEK ini bisa dibangun pusat-pusat yoga dunia, ashrama-ashrama spiritual dan pusat-pusat spiritual healing. KEK Sanur dijadikan Pusat Spiritual Healing dan KEK Serangan untuk Yoga dan lain-lannya.

Pembangunan ini akan memberikan kesempatan besar bagi masyarakat lokal karena hal itu berbasis potensi masyarakat lokal. Pengembangan potensi ini juga akan menjamin kawasan-kawasan suci dan konservasi lingkungan.

Pemerintah tinggal membuat perencanaan bersama masyarakat lokal. Masyarakat lokal kemudian diberikan kemudahan untuk melakukan pembangunan. Pemasaran dan promosi bisa dilakukan melalui kolaborasi masyarakat dengan pemerintah.

Hal ini akan mudah bila pemerintah berkomitmen memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal, tetapi hal ini memang memerlukan kerja keras pemerintah. Berbeda dengan metode-metode menjual kawasan, terus dapat uang, tetapi hal ini penting dilakukan pemerintah sebab pemerintah adalah agen pembangunan, bukan makelar investor.

*)Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag adalah Guru Besar Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Spiritual dan Religious UHN IGB Sugriwa Denpasar)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sinergi Pemda dan BPOM Pastikan Obat dan Makanan Beredar Aman Sehat

Terpopuler

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas