Jakarta (Atnews) – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Bali bergerak cepat memanfaatkan momentum implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).
Menyusul adanya kesepakatan pemotongan tarif komoditas lintas batas yang kini menyisakan rata-rata 2%, KADIN Bali secara strategis membidik Belarusia sebagai mitra utama. Langkah ini diambil untuk mendorong diversifikasi ekonomi daerah agar tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata konvensional.
Ketua Umum KADIN Bali, Made Ariandi, menegaskan bahwa eratnya hubungan bilateral yang tertuang dalam Roadmap Kerja Sama Ekonomi 2026–2030 harus direspons secara taktis oleh para pelaku usaha di Bali. Menurutnya, Bali kini siap berprogres dari sekadar destinasi liburan pasif menjadi pusat inovasi kolaboratif berskala global.
"Kerja sama ini adalah momentum penting bagi Bali untuk melakukan Ecosystem Reengineering pada struktur ekonomi daerah. Kita harus mampu menangkap peluang investasi dan transfer teknologi tinggi dari Belarusia, lalu mengonversinya menjadi pertumbuhan yang konkret di Bali dengan berlandaskan prinsip Quadruple Bottom Line—di mana kemajuan ekonomi digital wajib berjalan harmonis dengan kelestarian alam, kesejahteraan sosial, dan nilai luhur budaya Bali," ungkap Ariandi.
Untuk mewujudkan visi tersebut, KADIN Bali telah mengidentifikasi tiga sektor hilir utama yang akan menerima dampak positif langsung dari penguatan hubungan ekonomi ini. Pertama, Bali Sebagai Green & Tech Sandbox (Laboratorium Inovasi Digital).
Belarusia telah diakui secara global memiliki ekosistem rekayasa perangkat lunak (software engineering) yang kuat, salah satunya lewat keberadaan Hi-Tech Park di Minsk.
Mengacu pada potensi tersebut, KADIN Bali akan mendorong pembentukan living lab di Bali melalui bidang Telekomunikasi, Teknologi, Informasi, dan Digitalisasi.
Tempat ini dirancang khusus untuk mempertemukan talenta teknologi Belarusia dengan kreator digital lokal demi mengembangkan solusi teknologi industri hijau (green industry), manajemen lingkungan berbasis AI, hingga sistem pemantauan maritim.
Kedua, Akselerasi Ekspor Komoditas Premium Melalui Digitalisasi Rantai Pasok. Pemangkasan tarif impor ke kawasan Eurasia membuat komoditas unggulan Bali, seperti specialty coffee (Kopi Kintamani) dan kakao organik, kini memiliki daya saing harga yang sangat tinggi di pasar Eropa Timur.
Menangkap peluang ini, KADIN Bali tengah menyiapkan skema rantai pasok digital yang terintegrasi langsung dari hulu (petani) hingga ke pasar ritel Belarusia. Sistem ini diharapkan mampu memastikan transparansi, menjaga kualitas premium, serta meningkatkan kesejahteraan langsung di tingkat petani lokal.
Ketiga, Pengembangan Ekosistem Regenerative Wellness Hub. Karakteristik wisatawan serta profesional teknologi asal Belarusia didominasi oleh segmen high-yield dengan masa tinggal yang lama (long-stay). KADIN Bali melihat hal ini sebagai peluang besar untuk menawarkan ekosistem kebugaran premium.
Sektor ini mengintegrasikan kearifan lokal seperti Usadha Bali dengan fasilitas medis preventif modern, yang diproyeksikan menjadi motor baru bagi pariwisata berkualitas, ramah lingkungan, dan bernilai belanja tinggi (wellness tourism).
Sebagai langkah konkret jangka pendek, KADIN Bali akan segera memfasilitasi forum bisnis Business-to-Business (B2B) serta penjajakan kemitraan strategis.
Forum ini akan mempertemukan asosiasi digital, pelaku industri kreatif, dan koperasi komoditas lokal dengan kamar dagang sekutu di Belarusia.
Melalui sinergi yang terstruktur ini, KADIN Bali berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa pelaku usaha daerah tidak hanya menjadi penonton, melainkan bertindak sebagai arsitek utama yang memetik keuntungan dari terbukanya pasar baru di kawasan Eurasia Timur. (SUK/002)